Sebuah Obsesi

Saat ini Akmal memang baru tujuh bulan, tetapi sejak usianya dua minggu saya sudah ‘bernafsu’ membacakannya buku. Iya, ini obsesi sejak hamil. Se-ambisius itu, ya buk. Hehe. Saya bahkan sudah ngintip-ngintip dan nyicil beli buku anak-anak sejak hamil. Sebab, sejak awal sudah bertekad nanti kalau punya anak pengen banget dia cinta dengan membaca. Seperti akung dan ayahnya.

Di rumah bapak ada dua rak yang penuh sama buku-buku. Temanya pun beragam. Mulai dari soal politik, budaya, agama, perternakan, pertanian, dan kesehatan. Selain bapak, ibuk juga senang mengoleksi bacaan. Hanya saja cakupan bacaan ibuk terbatas pada tema agama, pendidikan, parenting dan kesehatan.

Sejak kecil pun saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan buku. Ibuk rajin mengajak kami ke toko buku dan langganan beberapa majalah anak-anak. Majalah Bobo, Mentari dan Anak Sholeh adalah beberapa majalah langganan kami dahulu. Sayangnya sekarang sudah nggak produksi 🙁

Maka dari itu saya juga ingin menularkan budaya itu ke Akmal. Kecintaan pada membaca. Kenapa sih kesannya ‘ngebet’ banget bacain buku sejak bayi? Padahal ngerti huruf aja enggak.

Sebenarnya bukan karena agar si Akmal bisa cepet membaca, tapi lebih kepada menumbuhkan kecintaan budaya membaca. Eh gimana sih ya kok mbulet, haha. Jadi gini, kalau menurut Fauzil Adhim, salah satu pakar parenting muslim dan penulis buku ‘Membuat Anak Gila Membaca’, menyatakan bahwa membaca itu dibagi menjadi dua pemahaman.

  1. Membaca karena ingin memberi pengalaman. Artinya, lebih menekankan pada proses. Di sini anak nggak dituntut harus bisa baca pada usia sekian, harus mengerti huruf dan merangkai kata usia sekian. Enggak. Tapi, memberikan kesan kalau membaca itu menyenangkan lho. Nah, kalau udah begini harapannya kelak dia jadi suka baca. Poinnya, menumbuhkan gairah minat baca pada anak.
  2. Membaca agar bisa merangkai huruf. Kalau yang ini obsesi agar anaknya bisa cepat mengetahui struktur huruf dan merangkai kata. Menurut Fauzil Adhim kalau ini tujuannya malah bisa membuat anak jadi cepat bosan. Karena anak dituntut agar bisa cepat baca. Artinya, ada paksaan. Fokusnya pada hasil bukan proses.

Selain itu dengan membaca kita bisa memiliki wawasan dan pemikiran terbuka. Open minded gituDan nggak mudah percaya akan hoax. Jadi inget sama kata-katanya Zen RS, salah satu editor media online Tirto.id. Dia bilang:

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.

Bener banget ini sih kayaknya udah menjadi budaya netizen Indonesia. Apa-apa dikomentari tanpa dasar yang jelas. Istilahnya asal njeplak gitu.

Oya, alasan lain juga karena saya ingin membatasi pengenalan dan penggunaan gadget sejak dini. Jujur aja saya masih khawatir memberikan Akmal tontonan lewat Youtube meskipun itu tontonan untuk bayi atau anak-anak. Nah, membacakan buku ini sebagai alternatif lain membatasi screen time pada anak.

(Baca juga: Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng)

Proses dan Tantangannya

Lantas apakah Akmal langsung menunjukkan minat suka membaca? YA BELUMLAH. Haha. Pertama kali saya bacain buku, Akmal cuman ngoceh aaa… oooo… eoeoeo… auoauo… Tapi, ya saya anggap itu respon dia, saya anggap ‘oh berarti dia mendengarkan bundanya nih’ haha.

“Hemmm… kayaknya enak nih”

Semakin besar usianya saya makin intens membacakannya buku. Dan jelas semakin rusuh responnya. Yang bukunya langsung disaut lah padahal bacainnya aja belum kelar, lalu diremes-remes lalu dimakan. YA DIMAKAN! Belum tau dia kalau harga buku bayi mahalnya ngalahin harga lipstik bundanya. 😌

Meski begitu saya tetap ((berusaha)) rutin membacakannya buku. Ya memang nggak setiap hari sih, tapi selalu disempatkan terutama kalau dia lagi happy. Kadang-kadang sebelum tidur juga saya ajak baca buku. Kalau pergi pun saya usahakan selain bawa mainan, buku juga hal penting yang wajib dibawa.

Well, sebenarnya saya merasakan manfaat membacakannya buku. Saya jadi punya waktu lebih dekat dengan Akmal. Istilahnya, bonding time! Selain menyusui, aktivitas ini menjadi salah satu bonding time yang seru!

Saya juga merasa Akmal jadi lebih responsif saat dibacakan buku. Misalnya merespon dengan ikutan ngoceh ya meskipun nggak jelas haha. Atau sekadar tertawa dan berteriak. Dan, saya jadi dapat insight baru saat membacakan buku anak. Ada beberapa hal yang membuat saya jadi belajar lagi. Misalnya, saat membacakan kisah nabi-nabi, jadi baca-baca lagi deh karena lupa haha.

Memilih Buku

Karena masih bayi dan belum memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap buku, maka selektif pilih buku bayi itu penting. Misalnya nih;

  1. Buku bantal. Bahannya dari kain dan empuk mirip bantal. Jadi nggak perlu khawatir sobek atau rusak. Selain itu gampang dibawa ke mana-mana dan nggak makan tempat karena bisa dilipat macam baju hehe. Yang penting rajin dicuci aja (padahal saya nggak rajin juga sih haha)
  2. Board book. Buku ini bahannya dari karton tebal. Kelebihannya nggak gampang robek. Jadi sama sih kayak buku bantal, nggak khawatir kalau Akmal remes-remes atau makan nih buku. Biasanya dalam satu halaman hanya terdiri satu atau beberapa kata saja dan satu gambar. Cuman ya gitu harganya mahal bok!
  3. Touch-and-feel book. Bahannya mirip sama board book. Tambahannya, buku jenis ini biasanya ditempeli kain, kapas atau aneka bahan lain sehingga menimbulkan tekstur yang bervariasi. Jadi anak bisa mengekplorasi tekstur di dalamnya apakah halus, empuk atau kasar. Sekalian latihan motorik halus.
  4. Pop-up. Kalau ini gambarnya bisa muncul dari buku. Cuman kurang cocok sih buat bayi, lebih ke anak-anak 4 tahun ke atas. Karena terbuat dari kertas biasa, kalau disodorin ke bayi udahlah wassalam. Haha.
Buku-buku berbahan kertas tebal lebih awet buat bayi. Yang full colour dan banyak gambar akan lebih menarik dia.

Membacakan buku sejak bayi nggak ada ruginya kok. Jadi jangan tunggu nanti-nanti! Meskipun nggak mudah dan dalam perjalanannya membosankan, kita nikmati aja prosesnya. Yang penting menumbuhkan gairah dan minat anak terhadap buku.

Buibu sudah membacakan buku ke anak? Markishare! Mari kita sharing 😀

6 COMMENTS

  1. Senengnya Akmal, bukunya banyaaak <3
    Iyaa, beneran nggak ada ruginya kok mengenalkan buku sedini mungkin. Kalau anak udah cinta baca dan buku, duh nikmat bangeeet. Meski pegel juga sih mulut tiap malem nggak abis-abis mereka minta bacain buku 😀

  2. Wah sama nih sm rayyan suka buku juga. Alhamdulillah aku selalu ajarin buku daripada mainan mba. Jadi skrg anakku, Alhamdulillah klo pegang buku kayak orang baca aja. Ga disobek atau dilempar.

Leave a Reply to Rotun DF Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here