Meja Biwara Sakti Pracihara penuh dengan merchandise. Di atasnya perintilan seperti mug, gantungan kunci, tempat tisu, kaos, sumpit hingga maket rombong berwarna oranye cerah dengan merek D’Kafe tertata rapi. “Ini karya-karya siswa saya. Kemarin saat ke Jakarta saya tunjukkan ke juri,” tutur Praci, saat ditemui di rumahnya di daerah Gunung Anyar, Surabaya Sabtu (20/8) lalu.

Praci, sapaan akrab guru desain di SMKN 12 tersebut adalah salah seorang yang lolos dalam ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Dia menjadi juara ke III kategori guru SMK. Karya-karya siswa yang dia tunjukkan menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dia tanamkan ke para siswanya. Berwirausaha.

Guru yang mengajar di jurusan desain komunikasi visual tersebut membuat buku tutorial. Yakni Pengembangan Pembelajaran Desain Grafis Berbasis Entrepreneurial pada Keahlian Desain Komunikasi Visual. Buku tersebut menjadi pegangan bagi para siswa khususnya untuk jurusan desain komunikasi visual (DKV). Buku setebal 160 halaman itu memberikan ke siswa bagaimana cara berwirausaha yang asyik. Dengan detail, Praci memberikan ilmunya berwirausaha di masa kini. Dia tidak pelit menuangkan idenya dalam berwirausaha, mulai dari pembuatan desain, branding sebuah produk yang dianggap tidak penting hingga menjadi nilai jual, dan mencari relasi yang pas dalam berwirausaha.

Selama ini, sepengamatan pria kelahiran Trenggalek, 31 Juli 1963 tersebut, belum ada buku yang spesifik untuk membimbing siswanya di jurusan DKV. Dia menuturkan, pembekalan wirausaha di sekolah khususnya SMK masih bersifat umum. “Porsinya juga minim sekali. Padahal, prinsipnya SMK kan BMW, yakni Bekerja Melanjutkan Wirausaha,” ujarnya. Keprihatinannya terhadap minimnya materi tersebut untuk siswa, membuat Praci membuat pedoman yang dekat dengan siswa.

Munculnya buku itu juga fenomena yang terjadi di sekolahnya. Lulusan magister seni budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut mengamati, setiap pameran wirausaha di sekolah, siswa selalu menjual makanan. Dari 12 jurusan seni, mayoritas mereka pasti menjual makanan. “Padahal kan banyak sekali potensi yang bisa dijual dari masing-masing jurusan,” katanya. Dia mencontohkan, jurusan kriya kayu yang menonjolkan kesenian produk kayu. “Jika didesain dengan apik pasti bernilai jual,” tuturnya.

Setiap pelajaran, Praci membebaskan siswanya untuk berpikir ‘liar’. Dia juga tak jarang mengajak para siswa turun langsung ke lapangan. Misalnya, langsung diajak ke pasar, kafe, toko maupun mall. “Saya ajak siswa mengamati orang-orang yang berjualan apapun untuk wirausaha mereka,” tutur suami Dian Anggraini tersebut. Tujuannya, untuk mengamati desain produk yang sudah bertebaran di pasaran. Dengan begitu, siswa dapat menghasilkan produk yang berbeda. Kreativitas selalu ditekankan pada para siswanya. Katanya kepada para murid berpikir kreatif adalah ‘roh’ nya jurusan desain. “Saya bilang ke mereka, kowe lek gak kreatif metu o ae,” tegasnya.

Setiap tahun pula, dia mendorong siswanya membuat sebuah proyek besar. Misalnya, pameran wirausaha untuk hasil karya para siswa. Siswa dibagi berdasarkan tugas masing-masing. Ada kelompok dekorasi, desain produk, dan pembagian stan-stan. “Biasanya kami adakan di Balai Pemuda. Mereka harus membuat produk dan memasarkan ke masyarakat,” ujar guru yang telah mengajar selama 31 tahun tersebut. Tema yang diusung pun bebas. “Yang penting membawa konsep kebaruan dan unsur kreatif,” katanya.

Pedoman dalam bukunya dianggap menarik oleh para juri dalam ajang Guru Berprestasi 2016. selama tiga kali berturut-turut dia ikut dalam ajang tersebut. Namun, di tahun ini kali pertamanya lolos hingga tingkat nasional. Dia juara pertama pada tingkat Jawa Timur. Dua tahun sebelumnya, Praci hanya juara ketiga tingkat kota Surabaya. Belum adanya guru kejuruan dari Surabaya yang lolos hingga tingkat nasional mendorongnya untuk terus berpartisipasi dalam ajang tersebut. “Ini jadi motivasi saya, masa tidak ada yang bisa guru kejuruan,” katanya lantas tertawa.

Dengan bukunya, dia berharap siswa dapat membuat proyek wirausaha sungguhan. “Minimal ada penanaman pola pikir bahwa setelah lulus mereka bisa mandiri. Yakni dengan berwirausaha. Tidak hanya melulu mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here