Jangan nangis dong!  Anak laki nggak boleh cengeng!

Pasti nggak asing kan dengan ungkapan tersebut. Saya yang punya anak laki aja kadang masih suka bilang begini. Eh tapi ternyata nggak baik lho mengatakan hal itu kepada anak laki. Menurut para psikolog, sikap melarang emosi negatif, termasuk menangis bisa berdampak buruk pada kesehatan mental anak di masa kelak.

Anak yang nggak bisa mengungkapkan emosinya dan memroses perasaan mereka bisa berujung pada masalah depresi dan kecemasan. Mungkin mengapa banyak lelaki yang kerap kali bersikap kasar dan acuh pada pasangan yang berujung pertengkaran. Ya (mungkin) salah satunya karena nggak terbiasa mengungkapkan emosi atau perasaan mereka. That’s why pentingnya mengenalkan emosi sejak dini.

Salah satu cara efektif (menurut saya) mengenalkan emosi sejak dini adalah lewat story telling. Misalnya, lewat buku dari Rabbit Hole yang berjudul “Hmmm…”

(Baca juga: Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng)

Hmmm…serius amat bos 😆

Saya mengetahui buku ini sejak hamil. Buku ini sering banget bersliweran di timeline Instagram saya. Penasaran, akhirnya saya follow dan baca-baca reviewnya dari beberapa blogger. Ternyata ini buku produk lokal dan ditulis oleh seorang psikolog Indonesia, Devi Raissa. Ah, makin penasaran, yaudah akhirnya beli aja deh. Hehe.

Tentang Apakah?

Buku “Hmmm” diawali dengan cerita seorang anak laki-laki yang sedang mengungkapkan perasaan terkejut. Sebab, ayahnya memberikan kejutan berupa hadiah bola baru padanya. Menariknya, untuk mengekspresikan kata “surprised” (karena saya memilih buku yang berbahasa Inggris) digambarkan dengan hati berwarna merah yang berbahan kain beludru. Anak bisa menyentuh gambar tersebut sambil mendengarkan cerita kita.

Selain ekspresi “surprised” untuk terkejut ada lima jenis emosi lain yang digambarkan dalam buku ini. Diantaranya, “disgusted” untuk jijik, “scared” untuk takut, “angry” untuk marah, “sad” untuk sedih, dan ditutup dengan emosi “happy” senang.

Setiap emosi diceritakan dalam rangkaian peristiwa yang dialami oleh si anak. Misalnya, saat si anak melewati selokan yang kotor dan dikelilingi oleh beberapa tikus, maka digambarkan ekspresi jijik. Ekspresi tersebut diiringi dengan gambar jeruk beserta kulitnya yang berbahan seperti spon berongga (eh gimana sih ya jelasinnya haha).

Ada lagi saat merasa sedih, pada buku ini diekspresikan dengan wajah bercucuran air mata dan ada gambar awan yang berbahan kain flanel berwarna abu-abu. Seolah ingin mewakili perasaan sedih itu. Lalu, di bagian terakhir yakni perasaan senang. Pada bagian ini diungkapkan dengan gambar anak sedang tersenyum dan dikelilingi dengan gambar bunga-bunga yang timbul. Si akmal paling suka bagian ini, dia ikutan senyum-senyum bahkan terkadang tertawa sambil menyentuh bunga-bunganya. Mungkin karena bentuknya yang paling menonjol dari yang lain.

Setiap membacakan buku ini, Akmal selalu tampak antusias. Dia paling suka menyentuh simbol-simbol yang digambarkan dengan bahan-bahan timbul begitu. Meski belum memahami setiap ekspresi dari buku emosi. Misalnya, saat tiba di halaman sedih dan saya membacakannya sambil berekspresi sedih eeehh dia malah tertawa (dikira bundanya lebay haha). Atau saat membuka halaman perasaan marah, dia malah melongo melihat bundanya menunjukkan ekspresi serupa.

Makanya buku ini memang perlu pendampingan apalagi untuk usia bayi. Sebab, menurut saya ada beberapa hal yang agak susah dicerna oleh anak-anak. Misalnya, untuk pemilihan ungkapan kalimat pada setiap perasaan. Misalnya, perasaan terkejut dijelaskan dengan kalimat

“Surprised! It’s like if there was a drum beating on my heart”.

atau perasaan marah dengan kalimat “Like there was a red hot stone wanting to get out of my chest”. 

atau perasaan senang “My heart felt like a garden filled with colorful flowers”.

Pemilihan kata yang puitis. Hehe. Jadi mikir nanti kalau Akmal agak besar lalu bertanya saat membacakan buku ini, Kok bisa ya bunda ada drum di dalam hati kita? Memangnya batu bisa ya bunda nyangkut di dada kita? Bunga-bunganya ada di hati kita? 

Gimana njelasinnya dah tuh! Hahaha. Sungguh boleh abaikan imajinasi yang nggak jelas ini 😀

(Baca juga: Fun Learning English in Class)

Tapi dari buku ini saya jadi belajar bahwa emosi itu memang harus dikelola dengan baik. Seringkali salah mengekpresikan emosi malah jadi sebal sendiri. Ini masih kejadian sama saya hehe. Sebab, emosi itu sifatnya abstrak, nah lewat buku ini memudahkan kita sebagai orang tua untuk mengenalkan emosi-emosi dasar manusia. Selain itu bahannya dari boardbook jadi tebal dan aman (digigit dan diemut haha). Setidaknya lebih awet. Intinya, saya suka buku anak buatan Indonesia ini.

Buibu pernah bacain buku ini ke anak? Ada rekomendasi buku anak buatan lokal yang lain? Sharing yuk! 🙂

 

6 COMMENTS

  1. Bukunya sama si adek sama-sama lucu, Mbak. Hihihi.. 😄
    Aku setuju banget Mbak, kalau kita udah punya anak gak haru nunggu dia pra TK buat ngajarin baca. Makin dini justru makin bagus.. 😊

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here