Seminggu sebelum pemerintah melakukan pembatasan internet, saya sudah melakukan ‘pembatasan diri’ akan pemakaian media sosial. Terutama Instagram. Sungguh sebuah keputusan yang sulit dijalani.

Setahun terakhir ini buat saya Instagram jadi ‘tempat main’ yang amat menyenangkan. Terlebih sejak menjalani peran baru sebagai Ibu. Menjadi ibu baru ternyata menyedot perhatian saya terfokus pada dunia perbayian. Perhatian saya seolah tercurah hanya untuk si kecil. Saya semacam tidak bisa ke mana-mana. Semua keinginannya dan kebutuhannya harus dipenuhi saat itu juga. Jika tidak maka pecahlah tangisan yang menggelegar itu.

Sehingga Instagram menjadi sebuah hiburan yang amat masuk akal (saat itu). Di tengah kesuntukan dan lelahnya mengurus bayi baru, Instagram seolah menjadi oase di tengah gurun pasir. Mata saya seolah disegarkan dengan foto-foto travelling dari para blogger maupun influencer yang sedang melalang buana entah ke mana saja. Sembari berdoa dalam hati semoga kelak saya juga bisa nyusul ke sana.

Atau merasa relate dengan kehidupan para ibu baru yang menjalani peran sebagai mahmud alias mamah muda. Curhat di Instagram betapa bahagia sekaligus rempongnya mengurus newborn. Dari situ saya merasa ada temannya, tidak sendiri, meski belum pernah bertemu mereka.

Saya dulu bersikeras pada diri sendiri bahwa tidak akan memposting foto anak di Instagram. Namun nyatanya aturan itu saya langgar juga. Saya terlanjur ikut arus. Dan itu (terasa) menyenangkan. So sad actually. Sembari meyakinkan pada diri sendiri bahwa saya ini bertujuan untuk sharing, berbagi sesuatu yang bermanfaat soal pengasuhan (hey! anak baru satu saja pede banget kau!).

Hingga suatu hari ada sebuah brand produk bayi yang menghubungi saya lewat direct message (DM) Instagram. Dia menawarkan kerjasama untuk mengulas produknya lewat postingan di Instagram saya. Siapa yang tidak senang? Saya girang bukan main. Padahal hanya dijanjikan seperangkat produk dari mereka, bukan berupa fee. Segitu noraknya saya. Tapi tetap saja saya terima. Toh ini rezeki tidak boleh ditolak kan?

Saya kira (saat itu) yang bisa kerjasama sponsored post hanya blog atau Youtube, ternyata lewat Instagram ya bisa. Dari situ saya jadi keranjingan nyari-nyari peluang kerjasama endorse untuk Instagram. Saya getol tanya sana sini ke teman-teman blogger. Ada yang nyangkut ada juga yang lewat tanpa kabar. Yang jelas sejak itu saya jadi sangat aktif di Instagram.

Tapi lama kelamaan saya kebablasan!

Saya jadi terobsesi sama angka follower, engagement follower, impression follower terutama untuk postingan yang sponsored post. Karena ya itu juga salah satu tuntutan dari klien saat ditanya progress postingan kita. Jelas mereka nggak mau rugi kalau sudah kerjasama tapi nyatanya nggak ada yang tertarik.

Setiap kali mau upload foto saya jadi merasa harus mempersiapkan lebih panjang dan sempurna. Ya masak fotonya asal. Foto saya edit sedemikian rupa, yang tadinya gelap saya cerahkan. Yang blur saya buang. Foto lagi. Lalu memikirkan caption yang ciamik. Kalau dirasa captionnya membosankan saya ganti. Begitu seterusnya sampai saya yakin ini layak untuk diposting.

Tak hanya itu. Waktu saya jadi banyak terbuang percuma hanya untuk Instagram. Saya scroll, scroll, dan terus scroll sampai mata saya capek. Hampir setiap beberapa menit tangan saya gatal memencet icon Instagram di HP, lalu scrolling tanpa henti hingga anak saya berteriak, menjerit menangis merebut perhatian.

Jika dia tidur, saya malah lebih lama berdiam diri menekuri HP, memandang takzim kehidupan orang lain hanya dari Instagram. Sebagian diri sebenarnya ‘menegur’ agar segera menyudahi aktivitas itu, tapi sebagian diri yang lain malas beranjak dari tempat duduk dan terus saja scrolling! Hingga satu jam berlalu, hanya tekun melihat Instagram.

Belakangan makin terasa menjerat. Saya merasa jadi paling nelangsa kalau melihat teman-teman lain bisa jalan-jalan, keliling Indonesia atau negara lain. Kadang-kadang saya secara tak sadar membandingkan kehidupan keluarga lain dengan saya. Membandingkan anak saya dengan anak orang lain. Satu waktu saya menampar diri bahwa jalan hidup setiap orang kan beda-beda, tapi itu kalau saya sedang waras. Kalau tidak saya kembali membanding-bandingkan. Sungguh setan  ini pandai sekali menghasut. Huh!

Saya jadi ikut-ikutan nggak mau ketinggalan berita. Padahal ya berita apasih di IG tu, kebanyakan urusan hidup orang, kalaupun berita yang bertebaran pun sebenarnya hanya sebuah potongan-potongan video, tidak utuh. Dari sini saya seolah ingin dianggap selalu update. Jangan-jangan saya sudah mengidap FOMO alias Fear of Missing Out. Nggak mau ketinggalan topik yang sedang hits dibicarakan karena takut dianggap kudet.

Terlebih masa selama dan pascca pilpres ini, Instagram menjadi media yang tidak lagi menyenangkan. Membuat dada sesak dan pikiran kusut. Memang sih kita bisa saja memilih akun yang sesuai minat kita tapi tetap saja bertebaran akun-akun yang menebarkan kebencian dan menyebar hoaks.

Lama-lama LELAH juga.

Waktu saya jadi tersita banyak hanya untuk ini. Padahal ya urusan saya banyak. Tulisan untuk blog dan website halobunda numpuk. Urusan rumah belum juga beres. Saya juga merasa tidak utuh saat bersama Akmal. Bermain dengannya hanya jadi sebatas formalitas.

Maka pada hari itu, tepat tanggal 18 Mei saya memutuskan untuk puasa Instagram.

Awalnya hari pertama saya hanya logout akun pribadi dan akun halobundacom. Saya menanamkan tajam-tajam dalam pikiran bahwa saya tidak boleh sedikit pun membuka IG. Hingga malam hari berlalu saya berhasil melewatinya.

Hari kedua tangan saya mulai gatal. Saya kembali membuka IG bahkan sempat log in! Tapi hanya berlangsung beberapa menit. Setelahnya saya log out dan saya HAPUS saja sekalian. Saya UNINSTALL!.

Hari-hari setelahnya saya mulai terbiasa tanpa membuka Instagram. Hari-hari setelahnya saya merasa lebih tenang dan produktif.

Bangun tidur tidak lagi mengecek HP dulu tapi bergegas ke kamar mandi untuk wudhu lalu salat. Saya jadi lebih banyak membaca buku dengan fokus, sesuatu yang lama sekali tidak saya lakukan. Waktu bersama Akmal jadi lebih intim dan menyenangkan. Saya jadi suka bebikinan mainan untuknya.

Bahkan dalam sehari saya bisa bikin makanan tiga menu! Sebuah hal yang langka buat saya yang pemalas ini. Kemarin sempat bikin spaghetti, siomay ayam dan balado tempe dalam sehari. WOW! Ini sebuah pencapaian yang patut saya apresiasi, ya minimal diri sendiri lah. Sebenarnya tangan mulai gatal untuk update stories di Instagram. Tapi saya pikir lagi, ya buat apasih gitu aja diposting? Oke nggak jadi deh.

Hingga hari ini saya masih menjalankan puasa Instagram. Belum tahu sih sampai kapan. Yang jelas jika saya kembali main Instagram saya akan lebih bijak menggunakannya. Tidak tersedot penuh ke sana, lebih menguranginya.

Saya nggak memungkiri kok kalau Instagram itu juga punya sisi manfaat. Terutama buat mereka yang punya usaha online. Instagram menjadi lahan basah untuk menjaring pembeli. Begitu pula buat saya sebagai blogger, Instagram menjadi salah satu perpanjangan blog, buat promosi tulisan-tulisan kita misalnya, juga untuk kerjasama dengan beberapa brand. Dari Instagram juga saya dapat banyaaaakkk sekali informasi soal parenting. 

Tapi persoalannya berapa persen saya habiskan waktu buat scrolling atau update yang sebenarnya tidak perlu? Ketimbang sharing hal-hal yang bermanfaat? Toh kenyataannya saya lebih banyak menggerutu dan mengeluh dan nyinyir di Instagram. Ya Tuhan ini tentu sudah kelewatan (buat saya).

Bagi sebagian orang mungkin sikap saya ini berlebihan. Tidak apa. Tulisan ini bukan untuk (sok) nasihatin pembaca. Lebih kepada untuk diri sendiri. Saya yang punya masalah dengan membagi waktu ini harus segera melakukan perubahan.

Lewat puasa Instagram ini saya mau banyakin waktu buat diri sendiri, buat keluarga tanpa harus cekrek…cekrekk buat diupdate di stories. Saya mau lebih banyak nulis, baca buku, diskusi dengan suami atau teman, liputan untuk website halobunda, menghadiri majelis-majelis ilmu dan fokus ibadah. Dan tentunya akan lebih selektif posting saat nanti kembali aktif Instagram.

Sekian dulu deh.

Btw, ini tulisan panjang juga ya. Hehe. Terimakasih sudah sudi mampir 🙂

33 COMMENTS

  1. Betul bgt mbaa.. Malahan urusan yg wajib jd keteteran. Tp sy sesekali aja sih …gak begitu maniak bgt ama IG.. Lgian kl mo curhat jg malu ahh.. Takutnya di cuekin 😁 sy pling pk Fb buat sekedar update artikel ajaa.. Jrng bgt update status….

  2. Btl bgt mba.. Urusan yg wajib mlhan jd keteteran.. Sy sih gak maniak amat ama ig.. Swsekali aja.. Kl fb buat update artikel aja di grup. Sy jg jrg update status di fb.. Malu tkt dicuekin 😁 kl di Ig sesekali aja update status.

  3. wah saya juga suka upload foto di instagram tp gak sperti itu , gak terlalu terpaku dan juga aku gak peduli dengan banayk yg like atau gak atau banayak follower atau gak. kebanyakan kalau aku sih hanya untuk berbagi manfaat dari kegiatan aku

  4. Iya juga ya.

    Kadang rasanya jadi terobsesi sekali untuk tampil luar biasa di platform media sosial.

    Saya pun mulai terpikir untuk puasa dari beberapa medsos belakangan ini. Sayangnya kadang terpikir, saya kan dapat penghasilan tambahan dari medsos. Serba salah rasanya.

  5. Iya, tulisannya panjang. Tapi worth to read. Saya termasuk yang sudah nggak aktif lagi ngutak atik Instagram sejak…emm, mulai kapan ya, lupa.

    Awalnya saya berusaha mengatasi kecanduan scrolling itu dengan uninstal aplikasi dan hanya menggunakan browser. Pikir saya, kan cuma posting foto dan tengok foto-foto orang sambil kasih komen. Jadi nggak perlu lah instal aplikasi.

    Nyatanya, tak semudah itu ferguso.

    Setelah nggak ada aplikasi, saya malah ‘makin rajin’ ngecek notifikasi. Udah berapa like/comment di postingan terbaru saya ya.

    Akhirnya, saya mutusin buat log out sekalian dan sampai sekarang nggak buka IG lagi.

    Ada yang hilang memang, tapi along the way ya sudah biasa.

    Pelajarannya, untuk berubah awalnya harus dipaksa, sampai akhirnya bisa, dan lama-lama terbiasa.

    • iyasih memang nggak bisa dipungkiri ya kalau sosmed sekarang jadi ladang rejeki. sya juga alhamdulillah sesekali dapat job dari IG hanya saya radak kebablasan sih jadi mantengin hal2 yg gak penting dan jadi kurang produktif hehe

      • Memang repot jika kita sudah bertingkah berlebihan di Instagram.

        Saya sendiri hampir-hampir nggak ada waktu untuk scrolling Instagram dan membaca caption orang-orang. Tapi saya tetap harus ber-Instagram, karena tanpa Instagram, dapur saya nggak mengepul.

        Jadi saya cuman buka Instagram untuk membalas komen. Atau mau posting job proyekan. Atau mau bikin posting filler untuk menjaga feed supaya feednya tetap enak dipandang oleh agensi.

        Untuk menghindari scrolling-scrolling tidak penting, saya mengorganisasi siapa-siapa yang saya follow. Kalau akunnya nggak penting, saya Mute. Tapi kalau akunnya penting, ya tidak saya Mute. Alhasil yang nongol di timeline saya hanya akun-akun yang saya anggap bermanfaat bagi saya aja. Dengan cara begini, waktu yang saya hamburkan bagi Instagram pun tetap bermanfaat dan menghasilkan inspirasi.

        Akun-akun lainnya yang nggak penting pun tetap saya follow, tapi hanya karena alasan “menjaga silaturahmi angka”.

  6. jujurnya pas IG dan fb kmrn dibuat down, aku seneng :p. itu masa2 di mana aku beneran fokus utk ibadah mba. ga mikirin ada apa di IG, update apa di fb dll. biasanya liatin itu bisa samoe ngantuk, dan lupain ngaji. secandu itu yaaa…

    pgn sih coba utk mengurangi, tp ntahlah, aku ga yakin kalo sampe hrs uninstall :D. apa bisa…

  7. Iya bun, saya juga ikutan puasa posting makanan di instagram @wisataseruku soalnya sudah lama gak jalan wisata seru sama traveling selama bulan puasa jadi gatel tangan mau posting makanan lagi

  8. Saya tetep update blog 😀
    Terus bewe ke sana ke mari hahaha
    IG dan FB ga apdet, lumayan pusing, soalnya ada job yang harus di publish.
    ALhamdulillah sih udah bisa sehari sebelum job release 😀

    Kalau saya lebih ke blog sih, makanya gak terlalu terbebani ama IG 😀

  9. Keren deh mba udah bisa puasa instagram hehe. Mau nyoba puasa juga tapi selalu nggak bisa. Nggak tau kapan siap nya hehe. Thanks udah berbagi yah mbak 🙂

  10. Sampai saat ini, saya masih ‘main’ instagram, Mbak hehehe.
    Kalau dari saya yang pekerjaan freelance, media sosial termasuk instagram sangat membantu saya. Baik melebarkan pertemanan, promosi tulisan, sampai sesekali dapat job.
    Tapi tetap, saya selalu berusaha memanfatkan dengan sebijak mungkin.

    • iya betul mas memang nggak bisa dipungkiri itu medsos termasuk IG jadi salah satu perpanjangan promosi blog. tapi sya ni emang kurang kontrol kadang2 jadi malah scroll2 yg kurang berfaedahnya kelamaan hehe

  11. Waaah, selamat mbak bisa melalui puasa instagram. Saya suka gatel pengin update insta story mulu hehe. Harus dicoba juga nih, puasa instagram. Jadi lebih menyenangkan di kehidupan nyata ya mbak 🙂

  12. Mbak, I feel you. Aku kayaknya juga mulai jadi FOMO. Sekarang ini lagi beresin bbrp kerjaan dan bersiap mengurangi kerjaan yg berhubungan dengan IG. Semoga setelah semua tanggungan selesai aku bisa lgs puasa IG juga. AMiin

  13. Enggak berlebihan juga kok, Mbak. Kan, setiap orang punya prioritasnya. Bila memang dirasa IG sudah menjadi beban, memang sebaiknya istirahat sejenak atau tinggalkan. Saya juga sedang berusaha mengimbangi semua 🙂

  14. Ahh Mak jleb mbaa. Kita memang perlu membatasi diri dari dunia sosmed utk waktu waktu tertentu spy kehidupan nyata ga terbaikan yah. Aku pribadi lg mengurangi buka kolom pencarian, hehe takut kebablasan.

  15. Kalau kerajaannya di medsos macam akutu sehari engga buka bisa kehilangan job hehe… Tapi beneran sih jd kyk addict gitu…huhu.. semoga wkt ku selalu bermanfaat..

  16. Instagram menjadi media sosial paling happening saat ini, saya pun akui kadang suka kebablasan dan lupa waktu jika sedang menelusuri berbagai postingan. Dan rasanya ko belum sanggup ya utk puasa medsos 😀

  17. Beberapa waktu lalu, aku jug asempat vacuum dari IG, tapi kadang tetep buka buat cari referensi dan liat akun lucu sbg hiburan.
    Upload foto kayaknya cuma satu deh seminggu, biasanya hampir tiap hari.. hhii
    Lumayan hemat quota dan hemat informasi sih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here