Beberapa teman (yang sudah jadi ibu-ibu) pernah bertanya bagaimana rasanya memutuskan resign  kerja dan jadi full IRT?

Biasanya saya tidak langsung menjawab dengan mengatakan ‘wah keren lah. buruan dah resign sekarang!’ atau pernyataan yang semacam mengglorifikasi bahwa menjadi full IRT itu lebih mulia lho dibandingkan dengan working mom. 

Tidak. Bukan juga bermaksud untuk membandingkan keduanya.

Tapi saya malah akan balik bertanya,

Kamu sudah yakin?

Sudah mempertimbangkan konsekuensinya dan lain-lain? 

Apa niatmu untuk resign?

Setelah resign sudah memiliki rencana apa dan bagaimana?

Alasan resign ibu-ibu juga beragam. Ada yang ingin resign karena nggak tahu harus nitipin anak sama siapa, ada yang karena anak membutuhkan perhatian khusus (special needs), ada yang karena mengikuti suami pindah ke luar kota, ada yang karena pusing drama ART dan berpengaruh pada pola pengasuhan anak atau ya memang karena sudah gemes aja sih sama atasan di kantor atau intrik-intrik kantor yang sudah mulai nggak sehat.

Baca juga ya: Alasan Saya Resign 

Pertanyaan-pertanyaan itu memang nggak bisa langsung dijawab dalam satu waktu. Saya aja butuh berhari-hari.

Beralih profesi dari wartawan menjadi pendidik di rumah butuh proses yang panjang (sekali) untuk bisa berdamai dan menerimanya dengan ikhlas. Dari yang kerjanya mobile seharian, bertemu dengan orang banyak lalu menjadi IRT yang full mengurus keluarga dan waktunya kebanyakan di rumah adalah suatu hal yang (pada awalnya sangat berat).

Baca juga ya: Jadi Wartawan Itu…

Itulah mengapa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk resign dan memilih menjadi full IRT.

1. Luruskan Niat

Seperti yang saya bilang di atas, resign niatnya karena apa?

Kalau karena sudah penat sama drama dan intrik  di kantor tapi menutupi alasan itu dengan ‘ya karena ingin membersamai si anak, supaya bonding sama anak kuat’ mending bener-bener diluruskan lagi deh.

Artinya niat kita ya memang betul-betul karena ingin membersamai anak di rumah. SECARA SADAR PENUH.

Bukan alasan-alasan yang dibungkus dengan pembenaran dan sebagai pelarian. Hal ini kelak bisa memengaruhi pola pikir dan cara kita mengasuh anak.

Kita menyadari secara penuh bahwa membersamai anak di rumah beda jauh saat membersamai karyawan atau rekan kerja di kantor. Sehingga bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik saat menjadi pendidik di rumah.

Saya pernah di awal resign menjalaninya dengan emosional. Bawaannya menyalahkan keadaan, pasangan bahkan anak, pokoknya nggrundel mulu isinya! Jadinya nggak menikmati menjalani peran stay at home mom. 

Bahkan saya sampai pernah ada di titik merasa tidak berharga hanya karena menyandang status sebagi full IRT yang di rumah saja.

Mungkin wajar ya masa transisi itu lha wong suasana dan problem yang dihadapi berbeda. Dari yang bangun tidur ketemu anak sampai mau tidur lagi. 24 jam selama tujuh hari urusannya mulek aja ngurusin, anak, rumah begitu terus sampe menjelang tidur.

Baca juga ya: Mengurus Rumah Tanpa ART

Nah, buibu yang mau resign dan memutuskan stay at home apakah sudah sanggup dengan konsekuensi itu? Mampukah mengelola emosi menghadapi situasi tersebut?

Coba deh ditulis dan dilist plus minus saat memutuskan resign:

  • Apa sih alasan kamu resign? Alasan kamu ingin menjadi pendidik di rumah?
  • Persiapan kamu menjadi pendidik di rumah apa saja?
  • Setelah resign mau apa? Mau bagaimana?
  • Apa pengaruhnya pilihanmu sama keluarga? Sama diri sendiri, orang tua dan teman?
  • Hal positif dan negatif kalau resign apa saja?

Dengan merinci tulisan di atas kita bisa fokus sama pilihan yang mau diambil dan merasa lebih mantap. Jadinya nanti bisa lebih rileks menjalani hari-hari pasca resign.

Kalau masih ragu? Ya saran saya sih tunda dulu deh sampai menemukan timing yang tepat. Jangan sampai emosional mengambil keputusan besar. Jangan lupa minta petunjuk dan mohon dibukakan jalan yang tepat sama Allah biar lebih tentrem aja begitu 🙂

2. Apa Kabar Kondisi Finansial?

Lha ini nih yang suka bikin pusing. Tadinya yang income dari dua pintu sekarang jadi cuman dari satu pintu. Harus menyesuaikan budget keluarga dan tentu saja pengaruh banget ke cash flow pemasukan keluarga.

Tentu ada penyesuaian di sana sini macam lifestyle yang standarnya jadi berubah banget! Tadinya yang bisa bebas beli skincare sepuluh step karena gaji sendiri dari kantor eh sekarang mah kudu ngempet nggak sepuluh step lagi lah ya haha.

Di awal-awal resign penyesuaian soal pendapatan yang hilang ini sempat mengganggu ego banget. Tetiba saya jadi merasa paling ‘miskin’ sedunia (sounds lebay yak).

Belum lagi ‘gengsi’ soal perasaan diberi dan meminta penghasilan dari suami. Makanya soal finansial keluarga nih penting banget diomongin sama pasangan.

Kira-kira udah punya cadangan tabungan darurat belum buat beberapa bulan bahkan tahun berikutnya?

Kalau udah resign kira-kira apa mau mencari pengganti pekerjaan lain yang bisa dikerjakan dari rumah?

Kalau mau jadi freelancer apa aja yang harus dipersiapkan?

Baca juga ya: Hal-hal Yang Wajib Dimiliki Seorang Freelancer

Apa yang bisa jadi pengganti pemasukan sebelumnya untuk menambah pendapatan?

Biaya apa nih yang perlu dikurangi ? Misalnya dulu tiap bulan bisa travelling ke luar kota sekarang mungkin bisa dikurangi jadi enam bulan sekali ?

Memang setidaknya harus siap menunda kepuasan saat ini untuk kepuasan di masa depan. Misalnya menunda staycation di hotel ternama di kotamu untuk biaya modal beli rumah tahun depan.

Siap nggak sama konsekuensi di atas?

3. Kegiatan Pasca Resign?

Kalau udah yakin resign dari kerjaan dan mau memulai ‘karir’ di rumah coba direncanakan ulang mau ngapain aja di rumah. Penting banget sih punya goals meski itu tampak sederhana.

Misalnya membuat mainan edukatif untuk anak seminggu 3 kali. Atau membacakan buku anak setiap malam dan targetnya anak bisa menceritakan ulang. Atau punya program hafalan Al-Qur’an buat anak setiap habis magrib.

Target untuk diri sendiri juga penting.

Misalnya bisa membuat resep kue baru, membuat konten video di Youtube atau tulisan di blog seminggu 2 kali, atau merapikan halaman depan rumah dan menanam tanaman baru, membuat baju untuk anak, suami atau diri sendiri, atau bahkan mau merintis bisnis rumahan? Gooo ahead buibu!

Yang terpenting kita harus pandai-pandai mengapresiasi diri sendiri. Karena di rumah nggak ada yang namanya atasan, bawahan, nggak ada apresiasi reward macam di kantor. Jadi ya syukuri setiap pencapaian meski sekecil apapun.

Baca juga ya: Menjadi IRT dan Krisis Kepercayaan Diri

Berterimakasih pada diri sendiri karena sudah terus berjuang sampai di titik ini 🙂

4. Nggak Usah Membandingkan Hidup Kita Sama Punya Orang Lain!

Ini harus dicatat dan ditulis kapital lalu ditempel di dinding kamar (ngomong ke diri sendiri) hehe. Ya memang ini terdengar klise but it works. 

Kalau masih aja galau resign atau bahkan sudah resign lalu merasa menyesal, bisa jadi sih karena kita terlalu membandingkan kehidupan diri sendiri sama orang lain. Terlebih sekarang kehadiran media sosial semakin membuat kita ‘silau’ sama kisah orang-orang di luar sana yang tampak sempurna. Fokus aja deh sama potensi dan skill yang kita miliki. Asah terus radar kebersyukuran kita terhadap apa yang kita punya sekarang.

Jadi, kalau saya sih sementara mute atau jauhi dulu deh orang-orang yang rese nanya, “Kok resign sih mbak..sayang banget dong ijazahnya?” , “Trus ngapain di rumah nanti? Enak dong leha-leha ya,”. Maaf aja orang begini saya coret dulu sementara dari pertemanan hehehehe. Saya nggak mau hormon kortisol saya berlebih gegara orang-orang macam begini.

Tapi kalau kita bisa merespon komentar-komentar pedas itu sebagai pelecut agar bisa tetap berkarya dan produktif ya nggak masalah. Tiap orang punya respon dan mindset yang beda-beda kan.

5. Asah Skill dan Potensi Diri

Meski sekarang ‘ngantor’ di rumah bukan berarti kita diem-diem bae lho. Belajar, berkembang dan berproses menjadi diri yang lebih baik itu harus terus diasah. Kalau saya tetap meluangkan waktu untuk belajar dan terus mengasah skill yang kita punya.

Misal, meluangkan baca buku minimal satu buku satu bulan. Bergabunglah di komunitas yang kita minati. Ikutan kursus yang dulu saat kerja di perusahaan nggak sempat keambil? Bebaaas! Atau ikutan kuliah Whatsapp dengan tema yang kita sukai, rutin ikut kajian keagamaan untuk merawat kesehatan rohani atau kalau nggak sempat ya bisa belajar dari Youtube or Podcast.

Intinya sih kalau mau resign, resign lah dengan planning yang baik. Jangan asal karena emosi sesaat aja. Supaya pasca resign kita menjalaninya dengan tentram.

Apakah masih galau setelah baca tulisan ini? Tenang, tenang buibu semua akan resign pada waktunya kok. *Eeeeehhhh gimana gimana hahaha.

 

 

 

 

 

39 COMMENTS

  1. hihi aku punya kegalauan yang masih juga berlangsung sampai saat ini ketika memutuskan resgin.Hal paling utama sih untuk kesehatan jangka panjang, karena aku bekerja di industri farmasi dan berada di plant, walaupun aku spv tapi harus berkontak dg produk jg plus kerjanya juga shifting

  2. Memang sih perlu banyak pertimbangan mengenai keputusan resign, walau bagaimana pun yang udah biasa kerja bakal ada perasaan yang berbeda ketika resign dan jadi IRT full time. Semua juga mulia, sih, menurut saya, tidak ingin berpihak ke salah satu kubu. Yang terpenting sebagai ibu kudu happy biar bisa mendampingi anak dengan baik. Ibu yang stress akan berpengaruh ke pola pengasuhan anak soalnya.

  3. Yang paling menjadi pertimbangan buat aku tuh masalah financial biasanya kita punya uang sndiri ini harus mengandakan suami jafi harus bngt punya kegiatan yang menghasilkan uang saat resign nanti

  4. finansial pasti jadi pertimbangan, tapi karena keadaan mendukung untuk resign, jadilah saya mamak IRT.
    Enak nggak jadi IRT?
    KAGAK ENAAAAKKKKKK!!!!!!! hahahaha

    Boong banget kalau saya bilang enak, biasanya bisa kerja dengan asyik, dandan kece, bebas beli ini itu, sekarang bahkan ahh sudahlah.

    Akan tetapi, saya bahagia dengan keputusan tersebut, karena di situlah kelebihannya jadi ibu.
    Seorang ibu adalah yang bisa melakukan apapun demi anaknya, termasuk mengorbankan kesukaannya 🙂

  5. Aku uda lama melewati masa-masa itu. Masa-masa penerimaan diri dengan jati diri yang baru yaitu Ibu Rumah tangga.
    Mungkin karena dari dulu…Ibuku selalu cerita kalau harus nurut suami. Kalau suami bilang “boleh”, coba belajar lagi dari sisi agama.
    Apakah itu yang disyariatkan…?

    Final decision memang ada di diri kita.
    Di kebesaran hati kita yang menerima diri dengan identitas baru plus tanggungjawabnya yang gak mudah.

    Tapi yakin,
    kelak akan indah pada waktunya….in syaa Allaah.

  6. Banyak emang yah Bun pertimbangan nya. Aku pun dulu gitu sebelum resign. Dulu inget pesan ibuku kalau istri harus punya penghasilan sendiri. Semua adalah pilihan . Tapi.lercaya selalu ada hikmah dibalik setiap keputusan kita aamiin 🤗

  7. Saya bahkan sudah jadi IRT pasca menikah . Iya 5 bulan pasca menikah gara-gara LDR dan pengin kumpul. Sekarang sudah hampir 15 tahun Jadi IRT. Hari-hari pasca resign kerjaannya ngemall mulu selama sebulan. Atau nyamperin suami ke kantor buat makan siang bareng . Stress banget saat itu. Apalagi saat itu belum punya anak dan belum punya kegiatan saat itu. Sekarang biasa aja. Menikmati menjadi IRT. Bisa jalan jalan any time tanpa ribet cuti

  8. Memang hal di atas merupakan pertimbangan penting saat memutuskan menjadi full timer IRT, saya juga melakukan hal di atas mbak. Apalagi mengasah skill menjadi blogger untuk tambahan penghasilan.

  9. Kakak daku juga gitu, dimana keputusan dia untuk resign sebagai pengajar agak berat, tapi karena Ponakan nggak da yang jaga dimantapkan aja buat resign. Jadi memang harus dengan keputusan mantap dan ikhlas ya

  10. Aku lagi ada diambang satu kaki ingim resign, satu kaki ingin tetap bekerja. Pengen resign krn ga tega ngeliat drama pagi2 ninggalin anak, pengen tetap kerja krn kerjaan ku itu adalah hobby yg dibayar 😂😂

  11. Teman mpo sesudah resign malah bilang menyesal karena dahulu resign. Memang tidak mudah mengambil keputusan resign tapi jalani aja kondisi yang sekarang, be happy

  12. kalau aku mah lucu, resegin aps anak2 sudah dewasa sudah kerja, tapi aku sudah menyiapkan banyak kegiatan. bikin komunitas anak, bikin pemberdayaan ibu2, ngajar sahabat disabilitas dan bikin craft. kalau aku yang penting bisa ketemu orang banyak

  13. Makasiiihh sharingnyaaa, hihihi…
    Actually dulu resign ya udah resign aja, kepikiran pingin ini itu namun dihempas kenyataan nggak bisa gimana2 akhirnya ya udahlah….jadi IRT full aja dulu nggak ngapa-ngapain.

    Tapi memang nggak mudah jalanin semuanya, even freelancer pun gak se-smooth dan se-glamour kelihatannya.

  14. saya sudah resign lama dan work from home dari berjuta juta tahun yang lalu. hahah nganyal. emang umurku berapa? eh. hehe… intinya semuanya emang harus dr niat dan kesiapan segalanya mbak. pasti bisa kok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here