Meski sehari-hari lebih banyak di rumah karena memang nggak kerja kantoran, tapi sejujurnya disuruh ndekem di rumah aja tanpa pergi ke mana-mana itu berat juga. Ini sudah hampir sebulan lebih beberapa hari sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia.

Selama ini pula saya sekeluarga nggak pergi ke mana-mana, kecuali palingan ke tukang sayur atau minimarket. Padahal ada banyak planning kegiatan bersama keluarga yang ingin kita laksanakan. Ternyata harus tertunda dulu huhuhu.

Event saya bersama teman-teman, silaturrahmi ke rumah orangtua, melakukan wawancara dengan beberapa narasumber untuk konten halounda, atau sekadar mengajak Akmal main ke pantai pun terpaksa ditunda entah sampai kapan.

Seminggu pertama saya masih merasa biasa saja. Pasalnya, ya hari-hari memang banyakan di rumah.

Mulai mengalami stress yang di ubun-ubun adalah minggu kedua atau ketiga. Selama beberapa hari sakit kepala migrain saya kumat. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depan. Memikirkan nasib masyarakat yang berjuang di luar sana melawan virus corona, dan tentu memikirkan keluarga saya sendiri bagaimana nasib ke depannya.

Rasanya, semua jadi terasa serba tidak pasti. Hampir setiap hari saya bertanya-tanya dalam hati,

“Kapan ini semua akan berakhir? Kapan aku bisa bisa berkumpul sama keluarga besarku? Aku rindu jalan-jalan. Aku kangen teman-teman,”

Rasa cemas saya pun bertambah dua kali lipat. Terlebih sejak diumumkannya ada yang positif terinfeksi virus covid19 di daerah saya, kota Malang.

Hampir setiap bangun tidur saya buka HP, update berita terbaru sudah berapa korban jiwa, sudah melakukan langkah apa saja sih pemerintah, dan segala hal tentang virus corona. Rasanya, hampir separuh isi kepala isinya soal virus yang sudah memakan banyak korban jiwa itu 🙁

Selain memengaruhi kesehatan yang menyebabkan migrain kumat, saya jadi gampang emosi. Dalam hal ini tentu Akmal dan suami kebagian getahnya huhu. Akmal pun beberapa minggu terakhir mulai merasakan jenuh. Hampir setiap hari dia minta main ke luar, ke taman atau ke lapangan. Bahkan merengek terus sampai kepala saya mau pecah rasanya.

Hingga suatu hari saya mendengarkan kajian online. Dari situ ustadnya mengutip sebuah hadis yang menyentil saya,

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya. -HR.Tirmidzi-

Saya termenung mendengar kutipan hadis tersebut. Selama pandemi ini alhamdulillah anak dan suami sehat, makan sehari-hari pun masih tercukupi. Seharusnya itu saja lebih dari cukup kan. Bahkan di luar sana masih banyak yang kebingungan memikirkan bagaimana untuk makan sehari-hari.

Masih ada banyak hal yang perlu disyukuri meski kita berada di masa-masa sulit ini. Toh, ini semua ketetapan dan kehendak Allah. Ya kita nggak bisa mengendalikan selain cuman bisa ikhtiar, berdoa dan pasrah.

Jadinya saya mulai berpikir legowo. Mulai berhenti bertanya kapan sih pandemi ini akan berakhir. Mulai menerka-nerka seperti apa nasib kita ke depan. Karena semua itu ya masih bayang-bayang.

Kata suami, yang penting berusaha apa yang bisa kita lakukan saat ini yawes dilakoni aja.

Hikmahnya, dengan situasi yang serba tidak pasti ini ada banyak hal baru yang keluarga saya rasakan.

Lebih Sadar akan Kesehatan dan Kebersihan

Kami jadi protect sama diri dan anak untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Setiap kali dari luar, suami segera melakukan penyemprotan desinfektan. Doi juga jadi rajin mandi hahaha. Setiap memegang apapun sebelum makan pasti langsung cuci tangan. Dan setiap pagi kami bertiga menyempatkan untuk berjemur. Meski hanya di sekitar komplek rumah.

berjemur
yuk berjemur

Saya yang dulunya mager banget bebikinan minuman ala-ala jurus sehat Rasulullah, jadi suka bikin wedang jahe dan sejenisnya. Ya meski nggak setiap hari sih hihi.

Lebih Dekat Sama Keluarga

Ya gimana ya setiap hari ketemunya sama anak, sama suami. Lo lagi lo lagi hahaha. Tapi kerasa banget sih bonding jadi lebih dekat. Bahkan suami yang akhirnya harus bekerja dari rumah menyempatkan bebikinan mainan buat Akmal.

Bikin mainannya pun yang bahan-bahannya mudah didapat di sekitar rumah. Mulai dari mobil-mobilan dari kardus, topeng dari karton atau yang modal ngeprin aja pakai kertas.

Meski bikin mainan yang sederhana tentu saja Akmal senang. Sesekali dia ikutan menempel kertas, ikut coret-coret seolah dia bikin sktesa gambar atau sekadar jadi supporter ayahnya yang sibuk motong kardus hahaha.

Masak Terus!

Di rumah aja itu membuat hasrat ingin makan terus meningkat. Sekarang hampir setiap hari saya masak. Kadang-kadang bikin camilan. Yang simpel-simpel aja sih seperti bakwan sayur, siomay ayam, cilok, bola-bola coklat, puding, kolak pisang, kentang goreng..eh kok jadi laper hehe.

foodprep

Meski capek tapi kalau dihitung-hitung memang sih lebih hemat masak sendiri. Kalaupun mager masak ya paling beli lauk aja, nasinya masak sendiri.

Kreatif untuk Survive

Pandemi ini juga sangat berpengaruh pada ekonomi. Hampir semua lini terkena dampaknya. Termasuk pada bisnis suami. Job blogger pun pada sepi hehe. Hal ini menjadikan kami untuk berpikir kreatif agar bisa survive dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Mencoba berbisnis di tengah pandemi adalah keputusan yang sangat besar. Saya dan suami pun memutuskan untuk berdagang dalam bidang penyediaan bahan pangan, yakni ayam broiler dan ayam kampung. Ya, ini keputusan yang amat menantang buat saya.

Sesuatu yang amat baru, pengalaman baru, semuanya serba unpredictable. Saya nggak tahu ke depan seperti apa, yang penting optimis dulu bisa bertahan dalam situasi seperti ini, meski entah sampai kapan.

Saya jadi belajar banyak hal dari berbisnis ini. Mulai dari bagaimana memilih bahan yang berkualitas, strategi marketing hingga soal accounting. Ya gimana sih anak lulusan sastra pada akhirnya kini harus dihadapkan sama urusan pembukuan keuangan, strategi dagang dan tetek bengek semacam itu. Berdebar-debar tapi somehow bikin nagih kalau banyak yang beli hahaha.

Semua rutinitas baru ini pada akhirnya hanya perlu pembiasaan. Bisa ya karena biasa kan. Saya mulai berhenti buka berita setiap hari, hanya sesekali. Saya mulai berhenti menyangkal bahwa keadaan akan kembali normal. Tidak, bukan saya pesimis, tapi berusaha legowo aja sama the new normal ini.

Berusaha merasa cukup sama apa yang Allah beri saat ini. Meski kita harus #DiRumahAja untuk batas waktu yang tidak menentu.

Semoga kita senantiasa diberi sehat selalu ya 🙂

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here