peduli sekolah : tampak pasangan suami istri radian jadid dan is

 

Semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk anak dari keluarga miskin. Prinsip itu dipegang teguh oleh Sita dan Jadid. Hanya bermodal nekat, pasangan suami istri tersebut mendirikan sekolah khusus anak-anak kalangan bawah.

BOCAH-bocah berusia dua hingga tiga tahun itu bernyanyi dengan diiringi suara khas marakas yang gemericik. Mereka ditemani Sita Pramesthi dan Radian Jadid. Pasutri itu tampak akrab bercengkerama dengan anak-anak tersebut.

“Mereka ini mayoritas anak-anak yang orang tuanya tidak mampu,” kata Sita saat ditemui di sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) miliknya dan suami. PAUD yang diberi nama Khadijah itu berdiri di lingkungan yang 70 persen masyarakatnya kalangan menengah ke bawah. “Kebanyakan orang tua mereka bekerja sebagai buruh kasar, pemulung, tukang bersih-bersih, pembantu rumah tangga. Bahkan, ada pula yang preman,” ungkap perempuan kelahiran Surabaya, 26 November 1973, itu.
Sita dan suaminya lantas mengisahkan awal mula pendirian sekolah tersebut. Semua berawal saat mereka pindah rumah dari daerah Keputih ke Kejawan pada 2008. Kala itu, Sita mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sering mengobrol dengan tetangga saat belanja di warung-warung. Sita juga berkeliling dari satu gang ke gang lain.

Saat itulah keprihatinannya muncul. Sebab, masih banyak orang tua yang menganggap remeh pendidikan anak usia dini.

“Banyak orang tua yang membiarkan anak mereka tidak sekolah sejak dini. Diumbar begitu saja, tiba-tiba langsung SD,” tutur Sita.

Padahal, pendidikan sejak usia dini sangat penting. Sebab, usia di bawah lima tahun merupakan masa-masa emas seorang anak. ”Itu adalah masa-masa anak tumbuh dan perlu banyak stimulasi. Kalau dibiarkan dan diumbar, sayang sekali,” terangnya.

Ide mendirikan sekolah PAUD pun melintas di benak Sita. Dia lalu menyampaikan ide tersebut kepada sang suami, Jadid. Gayung bersambut, Jadid menyambut baik ide Sita. Mereka pun menyosialisasikan rencana pendirian PAUD itu kepada para tokoh masyarakat, termasuk ketua RT dan RW.

Mereka lalu merangkul lembaga ketahanan masyarakat kelurahan (LKMK) dan beberapa kawan dari kalangan kampus. “Masyarakat yang sevisi dengan kami juga kami gandeng,” katanya.

Namun, realisasi memang tidak selalu semudah harapan. Banyak kendala yang harus dihadapi Jadid dan Sita. Mereka sering berurusan dengan pihak-pihak yang menentang ide pendirian PAUD. ”Banyak yang menganggap kami hanya mencari sensasi. Ada pula yang menuding kami hanya ingin cari keuntungan,” kenang Sita. Maklum, Sita dan Jadid memang pendatang baru di daerah tersebut. Apalagi, sebelumnya tidak pernah ada warga yang bergerak untuk urusan itu. Namun, mereka menghadapi cibiran dan cemoohan dengan tenang. Bagi mereka, silang pendapat adalah hal biasa yang harus dihadapi saat berdiskusi dengan penguasa setempat. “Kami tidak menyerah. Kami ingin semua anak bisa bersekolah. Meski enggak punya uang, mereka tetap harus mengenyam pendidikan,” tegas Sita.

Proses sosialisasi tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Kurang lebih setahun setengah prosesnya,” ujar ibu empat anak yang kesehariannya juga membuka usaha konfeksi tersebut.

Setelah merasa mantap, Sita dan Jadid akhirnya mendirikan PAUD pada 2009. Awalnya,
mereka bingung memilih lokasinya. “Terkait dana juga sih. Akhirnya, kami meminjam masjid di dekat rumah. Beruntung, diperbolehkan dan dipakai sampai sekarang,” tutur Sita.

Siswa yang ingin sekolah di PAUD tersebut tidak dipungut biaya masuk. “Hanya, per bulan ada biaya Rp 12 ribu,” kata Sita. Biaya tersebut digunakan untuk operasional PAUD. “Boleh saja dicicil. Kalau tidak mampu, ya kita biarkan,” kata Sita. Tidak jarang bila kekurangan dana, Sita menggunakan uang pribadi untuk menutupi operasional PAUD.

Mereka juga mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai kegiatan PAUD. Caranya menjadikan warga sebagai guru relawan. “Kami tawarkan kepada ibu-ibu di sekitar sini. Tapi, menegaskan kalau ini tidak dibayar. Alhamdulillah, banyak yang bersedia,” ujarnya. Karena itu, mayoritas guru di PAUD tersebut adalah ibu-ibu rumah tangga. ”Kami didikmereka lewat pelatihan dan diskusi bersama,” kata Sita.

Seiring berjalannya waktu, pasangan tersebut mengurus izin resmi PAUD ke Dinas Pendidikan Surabaya. ”Pemerintah mendukung. Jadi, sekarang dapat bantuan dana dan guru bisa mendapat insentif,” terangnya.

Meski demikian, Sita mengakui, tidak mudah mengajar anak-anak tersebut. Sebab, ada ketidaksinkronan antara sistem pendidikan di sekolah dan di rumah. Di sekolah, siswa ditanamkan untuk berlaku sopan dan bersikap baik. ”Tetapi, nilai-nilai itu tidak ditanamkan di rumah. Susah sekali karena orang tua mereka memang mayoritas tidak tamat sekolah. Jadi, sikap kasar kepada anak sangat berpengaruh,” jelas Sita.

Dia mencontohkan, ada siswa yang bapaknya seorang preman. Di rumah, anak tersebut sering mendapat perlakuan kasar. Mulai dibentak hingga dipukul. Lantas, hal itu berpengaruh pada psikologis anak. Bahkan, perlakuan kasar tersebut dia tunjukkan di kelas. “Anak itu sering membentak, bahkan memukuli teman-temannya. Hal-hal seperti itulah yang menjadi kendala kami,” ujar Sita.

Diskusi sering menjadi jalan tengah untuk menghadapi orang tua yang tidak paham pendidikan anak. “Ya, kita bilang baik-baik bagaimana pendidikan yang baik kepada anak mereka,” tuturnya.

Selain sekolah anak usia dini, pasangan itu mendirikan kelas gratis di rumah mereka. Namanya Sekolah Rakyat. Sekolah tersebut diperuntukkan siswa SD hingga SMA. “Kami tidak memungut biaya sepeser pun,” kata Sita. Kelas tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. “Kami beri tambahan pelajaran selain di sekolah reguler. Seperti kursus,” tuturnya.

Sekolah Rakyat tersebut bersinergi dengan mahasiswa dari kampus-kampus di Surabaya. Di antaranya, ITS, PENS, dan Unair. Sekolah itu berawal dari keinginan mereka untuk membantu anak-anak yang tingkat pendidikannya masih rendah. ”Ada yang sudah kelas III, tapi belum bisa membaca. Ada juga yang sudah kelas segitu enggak bisa hitung-hitungan. Sedih rasanya,” ujar Sita.

Sita dan Jadid yang mantan aktivis kampus lantas mengajak junior mereka untuk bergabung. “Awalnya, kami diskusikan dengan mahasiswa. Banyak yang antusias, lantas kami segera saja buat sekolah ini,” tutur Jadid yang pernah aktif di dunia senat mahasiswa. Jiwa aktivis tersebut mendorongnya untuk menjadikan masyarakat sekitar melek pendidikan. Dia merasa tidak betah melihat lingkungannya sangat pasif soal pendidikan. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu yakin, pendidikan yang baik dapat membangun komunitas masyarakat yang baik pula. “Pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan,” kata alumnus jurusan elektronika tersebut.

Di sekolah tersebut, anak-anak dibekali pelajaran tambahan sesuai kesulitan mereka. Mulai bahasa Inggris, matematika, bahasa Indonesia, bahasa jawa, hingga pembekalan agama. Bahkan, Sita dan Jadid berperan layaknya orang tua mereka. Pada suatu kesempatan, mereka menjadi orang tua yang bertugas mengambil rapor anak-anak tersebut. “Ada beberapa yang yatim piatu. Kasihan, tidak ada yang mengurus sekolah mereka,” ujar Jadid.

Kelas yang dibuka mulai setelah magrib hingga pukul 21.00 itu selalu dipenuhi anak-anak. “Malah ada yang enggak mau pulang ke rumah,” ujar Jadid, lantas tertawa. Mereka berharap sekolah gratis tersebut bisa membantu anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. “Meski latar belakang kami bukan guru, pada dasarnya semua orang adalah guru. Jadi, sekolah ini terbuka bagi semua yang ingin mendidik anak-anak,” katanya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here