Friday, August 6, 2021
Home Blog Page 23

Tanamkan Jiwa Entrepreneur, Buat Buku Tutorial

Meja Biwara Sakti Pracihara penuh dengan merchandise. Di atasnya perintilan seperti mug, gantungan kunci, tempat tisu, kaos, sumpit hingga maket rombong berwarna oranye cerah dengan merek D’Kafe tertata rapi. “Ini karya-karya siswa saya. Kemarin saat ke Jakarta saya tunjukkan ke juri,” tutur Praci, saat ditemui di rumahnya di daerah Gunung Anyar, Surabaya Sabtu (20/8) lalu.

Praci, sapaan akrab guru desain di SMKN 12 tersebut adalah salah seorang yang lolos dalam ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Dia menjadi juara ke III kategori guru SMK. Karya-karya siswa yang dia tunjukkan menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dia tanamkan ke para siswanya. Berwirausaha.

Guru yang mengajar di jurusan desain komunikasi visual tersebut membuat buku tutorial. Yakni Pengembangan Pembelajaran Desain Grafis Berbasis Entrepreneurial pada Keahlian Desain Komunikasi Visual. Buku tersebut menjadi pegangan bagi para siswa khususnya untuk jurusan desain komunikasi visual (DKV). Buku setebal 160 halaman itu memberikan ke siswa bagaimana cara berwirausaha yang asyik. Dengan detail, Praci memberikan ilmunya berwirausaha di masa kini. Dia tidak pelit menuangkan idenya dalam berwirausaha, mulai dari pembuatan desain, branding sebuah produk yang dianggap tidak penting hingga menjadi nilai jual, dan mencari relasi yang pas dalam berwirausaha.

Selama ini, sepengamatan pria kelahiran Trenggalek, 31 Juli 1963 tersebut, belum ada buku yang spesifik untuk membimbing siswanya di jurusan DKV. Dia menuturkan, pembekalan wirausaha di sekolah khususnya SMK masih bersifat umum. “Porsinya juga minim sekali. Padahal, prinsipnya SMK kan BMW, yakni Bekerja Melanjutkan Wirausaha,” ujarnya. Keprihatinannya terhadap minimnya materi tersebut untuk siswa, membuat Praci membuat pedoman yang dekat dengan siswa.

Munculnya buku itu juga fenomena yang terjadi di sekolahnya. Lulusan magister seni budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut mengamati, setiap pameran wirausaha di sekolah, siswa selalu menjual makanan. Dari 12 jurusan seni, mayoritas mereka pasti menjual makanan. “Padahal kan banyak sekali potensi yang bisa dijual dari masing-masing jurusan,” katanya. Dia mencontohkan, jurusan kriya kayu yang menonjolkan kesenian produk kayu. “Jika didesain dengan apik pasti bernilai jual,” tuturnya.

Setiap pelajaran, Praci membebaskan siswanya untuk berpikir ‘liar’. Dia juga tak jarang mengajak para siswa turun langsung ke lapangan. Misalnya, langsung diajak ke pasar, kafe, toko maupun mall. “Saya ajak siswa mengamati orang-orang yang berjualan apapun untuk wirausaha mereka,” tutur suami Dian Anggraini tersebut. Tujuannya, untuk mengamati desain produk yang sudah bertebaran di pasaran. Dengan begitu, siswa dapat menghasilkan produk yang berbeda. Kreativitas selalu ditekankan pada para siswanya. Katanya kepada para murid berpikir kreatif adalah ‘roh’ nya jurusan desain. “Saya bilang ke mereka, kowe lek gak kreatif metu o ae,” tegasnya.

Setiap tahun pula, dia mendorong siswanya membuat sebuah proyek besar. Misalnya, pameran wirausaha untuk hasil karya para siswa. Siswa dibagi berdasarkan tugas masing-masing. Ada kelompok dekorasi, desain produk, dan pembagian stan-stan. “Biasanya kami adakan di Balai Pemuda. Mereka harus membuat produk dan memasarkan ke masyarakat,” ujar guru yang telah mengajar selama 31 tahun tersebut. Tema yang diusung pun bebas. “Yang penting membawa konsep kebaruan dan unsur kreatif,” katanya.

Pedoman dalam bukunya dianggap menarik oleh para juri dalam ajang Guru Berprestasi 2016. selama tiga kali berturut-turut dia ikut dalam ajang tersebut. Namun, di tahun ini kali pertamanya lolos hingga tingkat nasional. Dia juara pertama pada tingkat Jawa Timur. Dua tahun sebelumnya, Praci hanya juara ketiga tingkat kota Surabaya. Belum adanya guru kejuruan dari Surabaya yang lolos hingga tingkat nasional mendorongnya untuk terus berpartisipasi dalam ajang tersebut. “Ini jadi motivasi saya, masa tidak ada yang bisa guru kejuruan,” katanya lantas tertawa.

Dengan bukunya, dia berharap siswa dapat membuat proyek wirausaha sungguhan. “Minimal ada penanaman pola pikir bahwa setelah lulus mereka bisa mandiri. Yakni dengan berwirausaha. Tidak hanya melulu mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Pasutri yang Dirikan Sekolah Gratis Khusus Siswa Miskin

peduli sekolah : tampak pasangan suami istri radian jadid dan is

 

Semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk anak dari keluarga miskin. Prinsip itu dipegang teguh oleh Sita dan Jadid. Hanya bermodal nekat, pasangan suami istri tersebut mendirikan sekolah khusus anak-anak kalangan bawah.

BOCAH-bocah berusia dua hingga tiga tahun itu bernyanyi dengan diiringi suara khas marakas yang gemericik. Mereka ditemani Sita Pramesthi dan Radian Jadid. Pasutri itu tampak akrab bercengkerama dengan anak-anak tersebut.

“Mereka ini mayoritas anak-anak yang orang tuanya tidak mampu,” kata Sita saat ditemui di sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) miliknya dan suami. PAUD yang diberi nama Khadijah itu berdiri di lingkungan yang 70 persen masyarakatnya kalangan menengah ke bawah. “Kebanyakan orang tua mereka bekerja sebagai buruh kasar, pemulung, tukang bersih-bersih, pembantu rumah tangga. Bahkan, ada pula yang preman,” ungkap perempuan kelahiran Surabaya, 26 November 1973, itu.
Sita dan suaminya lantas mengisahkan awal mula pendirian sekolah tersebut. Semua berawal saat mereka pindah rumah dari daerah Keputih ke Kejawan pada 2008. Kala itu, Sita mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sering mengobrol dengan tetangga saat belanja di warung-warung. Sita juga berkeliling dari satu gang ke gang lain.

Saat itulah keprihatinannya muncul. Sebab, masih banyak orang tua yang menganggap remeh pendidikan anak usia dini.

“Banyak orang tua yang membiarkan anak mereka tidak sekolah sejak dini. Diumbar begitu saja, tiba-tiba langsung SD,” tutur Sita.

Padahal, pendidikan sejak usia dini sangat penting. Sebab, usia di bawah lima tahun merupakan masa-masa emas seorang anak. ”Itu adalah masa-masa anak tumbuh dan perlu banyak stimulasi. Kalau dibiarkan dan diumbar, sayang sekali,” terangnya.

Ide mendirikan sekolah PAUD pun melintas di benak Sita. Dia lalu menyampaikan ide tersebut kepada sang suami, Jadid. Gayung bersambut, Jadid menyambut baik ide Sita. Mereka pun menyosialisasikan rencana pendirian PAUD itu kepada para tokoh masyarakat, termasuk ketua RT dan RW.

Mereka lalu merangkul lembaga ketahanan masyarakat kelurahan (LKMK) dan beberapa kawan dari kalangan kampus. “Masyarakat yang sevisi dengan kami juga kami gandeng,” katanya.

Namun, realisasi memang tidak selalu semudah harapan. Banyak kendala yang harus dihadapi Jadid dan Sita. Mereka sering berurusan dengan pihak-pihak yang menentang ide pendirian PAUD. ”Banyak yang menganggap kami hanya mencari sensasi. Ada pula yang menuding kami hanya ingin cari keuntungan,” kenang Sita. Maklum, Sita dan Jadid memang pendatang baru di daerah tersebut. Apalagi, sebelumnya tidak pernah ada warga yang bergerak untuk urusan itu. Namun, mereka menghadapi cibiran dan cemoohan dengan tenang. Bagi mereka, silang pendapat adalah hal biasa yang harus dihadapi saat berdiskusi dengan penguasa setempat. “Kami tidak menyerah. Kami ingin semua anak bisa bersekolah. Meski enggak punya uang, mereka tetap harus mengenyam pendidikan,” tegas Sita.

Proses sosialisasi tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Kurang lebih setahun setengah prosesnya,” ujar ibu empat anak yang kesehariannya juga membuka usaha konfeksi tersebut.

Setelah merasa mantap, Sita dan Jadid akhirnya mendirikan PAUD pada 2009. Awalnya,
mereka bingung memilih lokasinya. “Terkait dana juga sih. Akhirnya, kami meminjam masjid di dekat rumah. Beruntung, diperbolehkan dan dipakai sampai sekarang,” tutur Sita.

Siswa yang ingin sekolah di PAUD tersebut tidak dipungut biaya masuk. “Hanya, per bulan ada biaya Rp 12 ribu,” kata Sita. Biaya tersebut digunakan untuk operasional PAUD. “Boleh saja dicicil. Kalau tidak mampu, ya kita biarkan,” kata Sita. Tidak jarang bila kekurangan dana, Sita menggunakan uang pribadi untuk menutupi operasional PAUD.

Mereka juga mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai kegiatan PAUD. Caranya menjadikan warga sebagai guru relawan. “Kami tawarkan kepada ibu-ibu di sekitar sini. Tapi, menegaskan kalau ini tidak dibayar. Alhamdulillah, banyak yang bersedia,” ujarnya. Karena itu, mayoritas guru di PAUD tersebut adalah ibu-ibu rumah tangga. ”Kami didikmereka lewat pelatihan dan diskusi bersama,” kata Sita.

Seiring berjalannya waktu, pasangan tersebut mengurus izin resmi PAUD ke Dinas Pendidikan Surabaya. ”Pemerintah mendukung. Jadi, sekarang dapat bantuan dana dan guru bisa mendapat insentif,” terangnya.

Meski demikian, Sita mengakui, tidak mudah mengajar anak-anak tersebut. Sebab, ada ketidaksinkronan antara sistem pendidikan di sekolah dan di rumah. Di sekolah, siswa ditanamkan untuk berlaku sopan dan bersikap baik. ”Tetapi, nilai-nilai itu tidak ditanamkan di rumah. Susah sekali karena orang tua mereka memang mayoritas tidak tamat sekolah. Jadi, sikap kasar kepada anak sangat berpengaruh,” jelas Sita.

Dia mencontohkan, ada siswa yang bapaknya seorang preman. Di rumah, anak tersebut sering mendapat perlakuan kasar. Mulai dibentak hingga dipukul. Lantas, hal itu berpengaruh pada psikologis anak. Bahkan, perlakuan kasar tersebut dia tunjukkan di kelas. “Anak itu sering membentak, bahkan memukuli teman-temannya. Hal-hal seperti itulah yang menjadi kendala kami,” ujar Sita.

Diskusi sering menjadi jalan tengah untuk menghadapi orang tua yang tidak paham pendidikan anak. “Ya, kita bilang baik-baik bagaimana pendidikan yang baik kepada anak mereka,” tuturnya.

Selain sekolah anak usia dini, pasangan itu mendirikan kelas gratis di rumah mereka. Namanya Sekolah Rakyat. Sekolah tersebut diperuntukkan siswa SD hingga SMA. “Kami tidak memungut biaya sepeser pun,” kata Sita. Kelas tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. “Kami beri tambahan pelajaran selain di sekolah reguler. Seperti kursus,” tuturnya.

Sekolah Rakyat tersebut bersinergi dengan mahasiswa dari kampus-kampus di Surabaya. Di antaranya, ITS, PENS, dan Unair. Sekolah itu berawal dari keinginan mereka untuk membantu anak-anak yang tingkat pendidikannya masih rendah. ”Ada yang sudah kelas III, tapi belum bisa membaca. Ada juga yang sudah kelas segitu enggak bisa hitung-hitungan. Sedih rasanya,” ujar Sita.

Sita dan Jadid yang mantan aktivis kampus lantas mengajak junior mereka untuk bergabung. “Awalnya, kami diskusikan dengan mahasiswa. Banyak yang antusias, lantas kami segera saja buat sekolah ini,” tutur Jadid yang pernah aktif di dunia senat mahasiswa. Jiwa aktivis tersebut mendorongnya untuk menjadikan masyarakat sekitar melek pendidikan. Dia merasa tidak betah melihat lingkungannya sangat pasif soal pendidikan. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu yakin, pendidikan yang baik dapat membangun komunitas masyarakat yang baik pula. “Pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan,” kata alumnus jurusan elektronika tersebut.

Di sekolah tersebut, anak-anak dibekali pelajaran tambahan sesuai kesulitan mereka. Mulai bahasa Inggris, matematika, bahasa Indonesia, bahasa jawa, hingga pembekalan agama. Bahkan, Sita dan Jadid berperan layaknya orang tua mereka. Pada suatu kesempatan, mereka menjadi orang tua yang bertugas mengambil rapor anak-anak tersebut. “Ada beberapa yang yatim piatu. Kasihan, tidak ada yang mengurus sekolah mereka,” ujar Jadid.

Kelas yang dibuka mulai setelah magrib hingga pukul 21.00 itu selalu dipenuhi anak-anak. “Malah ada yang enggak mau pulang ke rumah,” ujar Jadid, lantas tertawa. Mereka berharap sekolah gratis tersebut bisa membantu anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. “Meski latar belakang kami bukan guru, pada dasarnya semua orang adalah guru. Jadi, sekolah ini terbuka bagi semua yang ingin mendidik anak-anak,” katanya.

Anak Muda yang Peduli

Pendidikan belum merata di Surabaya. Setidaknya, inilah yang ditemukan sekelompok orang yang tergabung di Inspiring Youth Educators. Tanpa pernah mengeluh, mereka langsung bergerak ke kampung-kampung.

WAJAH sepuluh anak SD itu terlihat ceria. Meski cuaca terik dan tengah berpuasa, tidak tampak sedikit pun keluh kesah dari bibir mungil mereka. Bahkan, dengan bersemangat, bocah-bocah tersebut bertukar buku satu sama lain. Lalu, mereka bercerita seru. Mereka terus asyik bercerita meski hanya di tempat sederhana yang bertulisan Kantor Balai RT V, Bratang Wetan, Kecamatan Wonokromo.

Mereka ditemani dengan penuh semangat oleh dua mahasiswa. Bahkan, dua mahasiswa tersebut tidak sungkan mengajak bocah-bocah itu bermain setelah keseruan membaca buku. Mereka pun membentuk lingkaran. Lalu, bermain tebak nama. Yang mendapat giliran harus segera menyebutkan nama. Pilihannya kali itu adalah nama-nama nabi. Meski ada beberapa anak yang lupa, keakraban di antara mereka tidak sedikit pun pudar. Mereka bergurau bersama.

Interaksi seru semacam itu tidak hanya terjadi pada hari itu. “Berlangsung sejak 2013,” kata Mustofa Sam, ketua Inspiring Youth Educators. Dia dan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Inspiring Youth Educators meluangkan waktu untuk berbagi kepada anak-anak menengah ke bawah yang kurang mendapatkan pendidikan. Dia dan kawan-kawannya memberikan metode pembelajaran dengan slogan belajar sambil bermain. Salah satunya melalui kegiatan tersebut.

Komunitas Inspiring Youth Educators (IYE) Surabaya berdiri pada 17 Januari 2013. Komunitas tersebut berawal dari ajang silaturahmi sekumpulan mahasiswa yang mengikuti Youth Edu Regional Training. Program itu adalah pelatihan bagi mereka yang memberikan perhatian lebih terhadap dunia pendidikan.

Pelatihan yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai daerah tersebut dilanjutkan di daerah masing-masing.

Lantas, untuk meneruskan cita-cita memberikan kontribusi dalam pendidikan, terbentuklah IYE area Surabaya. Di dalamnya ada mahasiswa dari berbagai kampus. Mereka berasal dari ITS, Unair, UINSA, Unusa, dan Ciputra. Jumlahnya memang belum terlalu banyak. Hingga kini terdapat 30 orang yang tergabung dalam komunitas tersebut. Meski mayoritas diprakarsai mahasiswa, komunitas itu membuka lebar kesempatan bagi mereka yang concern pada pendidikan.

IYE Surabaya memulai langkah pertama dengan mendekati kampung-kampung di Surabaya. Dengan menamai program kampung edukasi, IYE berusaha mengajak anak-anak untuk belajar sembari bermain. “Untuk saat ini, baru dua kampung yang kami asuh, yaitu Kampung Bratang Wetan dan Kampung Keputih Tegal,” ujar Mustofa.

Masing-masing kampung memiliki karakter. Untuk itu, IYE menyiasati dengan pendekatan yang berbeda. Misalnya, di Kampung Bratang Wetan, IYE membentuk gerakan membaca. “Dari hasil assessment kami, minat baca anak-anak di sini rendah,” ungkap pria kelahiran Bangkalan, 2 Mei 1991, itu.

Untuk itu, IYE membuat perpustakaan mini di Balai RT Kampung Bratang Wetan. Dalam setiap pekan, para volunter datang ke kampung tersebut untuk menyediakan stok buku bagi anak-anak. Lalu, masing-masing anak diminta untuk membawa dua buku ketika mereka pulang. Kemudian, minggu berikutnya mereka kembali berkumpul bersama dan mendiskusikannya.

“Bukunya terserah mereka, tetapi tetap kami arahkan,” ucap Mustofa. Program gerakan membaca itu diharapkan dapat meningkatkan gairah membaca di kampung Bratang Wetan. “Targetnya hingga Desember nanti tiap anak dapat menghabiskan 15 buku,” imbuh Mustofa.

Untuk menebarkan gairah membaca di kalangan masyarakat Surabaya, IYE Surabayamembuat taman baca keliling. Sasaran taman baca keliling adalah tempat umum. Misalnya, Taman Bungkul, taman lansia, dan lain-lain. “Jadi, nanti buku-buku yang ada di perpustakaan mini kampung-kampung kami bawa keliling ke tempat-tempat umum,” ujar Mustofa.

Selain itu, IYE Surabaya membuat Taman Baca Prestasi. Kali ini masyarakat umum boleh datang ke perpustakaan mini di masing-masing kampung edukasi, yakni Kampung Bratang Wetan dan Kampung Keputih Tegal. “Kami juga menggalang donasi buku. Bahkan, bekerja sama dengan kawan-kawan dari UI,” terangnya.

Di Kampung Bratang Wetan, Mustofa beserta teman-temannya memiliki visi untuk memajukan prestasi kampung. Selain menggencarkan minat baca anak-anak dan masyarakat setempat, mereka memiliki program bermanfaat lainnya. Misalnya, program advokasi. Program tersebut merupakan program yang dirancang untuk warga yang ingin mengikuti kejar paket.

“Dalam program ini, kami membina dan mengajari warga sampai bisa,” terang Mustofa. Program itu bertujuan untuk membantu warga yang masih pada taraf pendidikan rendah. “Targetnya masih 10 orang. Karena kami juga terkendala SDM,” tambah Mustofa.

Selain itu, ada program bebas buta aksara. Sasaran program tersebut dikhususkan ibu-ibu. Sebab, masih banyak kaum hawa di kampung itu yang belum dapat membaca. “Daripada ngerumpi tidak jelas, lebih baik dialihkan ke hal yang bermanfaat,” tutur pria yang hobi jalan-jalan itu. Komunitas tersebut menargetkan 20 orang minimal yang tergabung dalam kelompok itu.

Berbeda halnya dengan Kampung Keputih Tegal. Di Kampung Keputih Tegal, IYE Surabaya harus ekstrasabar dalam menghadapi anak-anak maupun orang tua mereka. “Karena energi anak-anak di sini sangat luar biasa. Mereka aktif sekali. Tetapi, aktif yang kurang terkendali. Maka, IYE berusaha untuk mengarahkan menjadi lebih baik,” kenang Mustofa.

Oleh karena itu, di Kampung Keputih Tegal diterapkan edukasi belajar sambil bermain dengan menggunakan media. Misalnya, mengenalkan permainan tradisional yang saat ini mulai terkikis arus modern. Rupanya, banyak anak di kampung tersebut yang tidak mengenal permainan tradisional seperti patel lele, engkle, bekel, dan benteng-bentengan. “Ini miris. Sebab, anak-anak itu lebih memilih menyendiri dengan gadget masing-masing,” ungkap Mustofa.

Padahal, dalam permainan tradisional, anak-anak dapat belajar banyak hal. “Seperti kebersamaan, gotong royong, mengasah kreativitas, dan meningkatkan rasa empati terhadap sesama. Sebagai nilai tambahan untuk menjaga kebugaran tubuh,” ujar Mustofa, lantas tersenyum. Di kampung tersebut, IYE memang tidak banyak berkutat pada dunia literasi. “Karena anak-anaknya sangat aktif, jadi kami arahkan ke hal-hal yang banyak bergerak. Namun, tetap menyisipkan unsur pendidikan di dalamnya,” terang pria yang suka sekali dengan anak-anak itu.

Perjalanan merintis komunitas dan mengajak masyarakat kampung turut serta tentu tidak melalui jalan yang mulus-mulus saja. Kesabaran Mustofa dan kawan-kawannya pernah diuji. Hal itu berawal saat IYE ingin meresmikan kampung edukasi di Kampung Keputih Tegal. Tepat pada 8 Februari 2014, tim IYE Surabaya berkumpul di balai RT Kampung Keputih Tegal untuk memperkenalkan komunitas tersebut dan program-programnya.

Jauh-jauh hari tim IYE menyebarkan 50 undangan kepada masyarakat. Tujuannya mengajak anak-anak mereka untuk belajar bersama tim IYE. Namun, kenyataannya di balai RT tidak ada satu pun warga yang datang. Bahkan, tempat tersebut sepi peminat. “Sepertinya, memang kesadaran warga terhadap pendidikan masih sangat kurang. Mereka masih acuh tak acuh dan menganggap remeh. Padahal, niat kami baik,” kenang Mustofa.

Hal tersebut tidak menyurutkan semangat tim IYE untuk tetap menebar inspirasi.Mereka akhirnya mengambil langkah dengan mendatangi satu per satu orang tua melalui sistem door-to-door. Dalam kunjungan tersebut, mereka menjelaskan pentingnya pendidikan bagi anak-anak dan mengajak untuk berpartisipasi dalam program kampung edukasi. “Memang awalnya yang mau hanya 7-8 anak, tetapi pada akhirnya terkumpul sampai 20 orang. Ya, menurut saya, memang susah, tetapi kami akan terus berusaha,” tutur Mustofa.

Dia berharap dengan adanya kampung edukasi itu, seluruh elemen dapat menjadi kampung percontohan. Bukan hanya warga yang bisa mendapatkan pendidikan lebih tinggi, tetapi anak-anaknya juga bisa menjadi pemimpin besar di kemudian hari. “Kami di sini hanya memfasilitasi. Harapannya, adik-adik di kampung edukasi dapat berprestasi dan membanggakan tidak hanya bagi kampungnya, tetapi juga negaranya,” tandasnya.

note: Tulisan features saya yang pertama dimuat di Jawa Pos, 2 Juli 2015