Pernah menemui orang yang ‘masa bodo’ dengan sekitar? Misalnya, membuang sampah lewat kaca mobil saat di perjalanan, atau terus saja merokok padahal di sampingnya ada anak-anak dan ibu hamil, atau sesederhana menyetel musik keras-keras hingga tetangga terbangun tidur siangnya. Hmmmm…saya sendiri pernah mengalaminya.

Saat saya hamil delapan bulan, saya kebetulan ingin pulang ke Sidoarjo, rumah orang tua. Kereta api menjadi pilihan favorit kala saya rindu pulang. Tentu saja sebelumnya harus pesan tiket di tempat sebab saya memilih kelas ekonomi hehe. Suami saya ke mana? Kalau nggak salah ingat waktu itu lagi di luar kota.

Kala itu saya kesiangan datang ke stasiun sekitar jam 10. Dan jam segitu sudah ngantri banget. Saya ambil nomor antrian, mengisi data formulir pemesanan tiket dan menunggu nomor dipanggil. Saya melihat sekeliling ruang tunggu sudah penuh orang. Tempat duduk tak satu pun yang kosong. Saya ingin sekali duduk. Berat dan megap-megap bawa bayi dalam perut. Namun satu pun tak ada yang peduli pada ibu-ibu bergamis dengan perut membuncit ini. Rasanya ingin teriak “misiii dong saya boleh gantian nggak duduknya?”. Tapi enggak, saya diam saja, memilih menepi di dekat pintu masuk, senderan di situ. Hmmm…tetep aja sih belum ada yang nawarin untuk duduk.

Bukannya gila hormat sih. Cuman sedih aja. Ke manakah rasa empati kita? Ke manakah kepekaan kita?

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ada sebuah video viral mengenai seorang ibu hamil yang terpaksa berdiri di dalam commuter line. Tempat duduk dalam KRL tersebut sudah penuh. Tapi apa yang terjadi? Tidak satu pun, SATU PUN bahkan para lelaki tak ada yang peduli. Menawarkan tempat duduknya pun tidak. Namun, akhirnya ada seorang anak kecil yang rela menyerahkan tempat duduknya pada ibu hamil tersebut. Merasa tertampar nggak sih, seorang anak berusia tak kurang dari 12 tahun lebih memiliki empati ketimbang kita yang dewasa, yang ngakunya lebih banyak makan asam garam. Hmmmm….

Kasus tersebut juga mengingatkan saya untuk selalu memunculkan inisiatif sejak dini. Sejak dulu saya dikenal perempuan bertipikal cuek. Sampai menikah saya jadi belajar banyak hal, termasuk sikap kepedulian terhadap orang lain, salah satunya peka terhadap pasangan sendiri. Tentu saja saya masih banyak kurangnya. Ya gimana kayaknya sikap cuek saya sudah mengakar haha. Tapi tentu harus diperbaiki kan, sebab saya akan menjadi contoh buat anak-anak kelak.

Menurut suami, menumbuhkan kepekaan bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Sesederhana bangun tidur segera merapikan tempat tidur, mengecek kebersihan dapur, kebun depan dan belakang rumah, mengecek apakah masih tersedia bahan-bahan pokok sembako, membuat dan mengatur anggaran keluarga secara detail, dan lain-lain.

Sesederhana membereskan kembali mainan anak (yang terkadang saya sering mengacuhkan sebab berpikir ah nanti juga berantakan lagi, capek lah beresin lagi!).

Sesederhana mengucapkan “tolong”, “terima kasih” dan “maaf” baik kepada pasangan maupun anak.

Sesederhana menanyakan perasaan anak, “sedih kenapa?” “senang ya ayah datang?” “kok marah-marah kenapa?”

Atau sekadar menanyakan pada suami, “mau diambilkan makan?” (padahal ya bisa ngambil sendiri sih hehe).

Hal-hal kecil seperti ini terkadang saya masih luput. Padahal memang sih kalau di telisik lebih dalam bisa membawa dampak besar ke depan.

Padahal dengan membiasakan hal sederhana ini, anak kelak akan melihat, merekam dalam memori lantas kelak akan mencontoh apa yang orang tuanya lakukan. Menumbuhkan kepekaan sejak dini bisa dari hal-hal yang kita anggap sepele. Kelak akan menjadi bekal anak untuk menjadikannya pribadi yang memiliki empati yang tinggi.

Kalau ibu-ibu bagaimana menumbuhkan kepekaan dari rumah?

 

2 COMMENTS

  1. setuju mbak, kami di rumah juga senantiasa menanamkan kepedulian terhadap orang lain, Alhamdulillah si sulung yang kini beranjak 6 tahun peduli terhadap lingkungan sekitar dan teman-temannya. Lingkungan juga alhamdulillah sangat mendukung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here