Menjadi IRT itu ternyata nggak mudah. Dari yang dulunya pernah bekerja kantoran, setiap bulan pegang duit sendiri dari hasil jerih payah selama bekerja, bertemu dengan orang-orang baru, dan hampir seharian keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Lalu sekarang harus seharian dua puluh empat jam selama tujuh hari di rumah bersama bayi. Mengerjakan urusan yang -sebenarnya- tidak terlalu saya sukai. Mencuci baju, ngepel, beberes mainan anak yang entah kapan bisa rapinya dan urusan domestik lain. Bertemunya hanya bayi, tukang sayur, bocah-bocah komplek, ya sesekali teman-teman yang seringnya punya urusan masing-masing itu. Dan sekarang saya memilih itu semua. Sejujurnya, pada titik tertentu saya merasa jenuh bahkan pada anak sendiri. Wajarkah?

Hingga setahunan kini pun masih bergelut dengan hati dan pikiran. Berusaha berdamai dengan hati dan diri sendiri atas pilihan-pilihan hidup yang telah diambil dan diputuskan. Kadang saya berusaha sabar dan nrimo, tapi (masih) kerapkali merasa rindu akan kehidupan dulu, bisa bekerja seperti perempuan kantoran. Kembali pada dunia publik.

Beberapa kali menangis diam-diam, merasa diri nggak berharga karena melakukan aktivitas yang seringnya masih dipandang sebelah mata. Ya siapa sih yang menganggap beberes rumah dan urusan domestik lainnya itu keren? Karena dunia domestik itu miskin reward.

Ditambah rentetan pertanyaan yang kerapkali mampir di telinga;

Kamu nggak pengen kerja ta? Eman lho ijazahnya.

Di rumah doang ngapain?

Itu si A kemarin habis dikirim ke luar negeri lho, katanya dapat beasiswa kuliah lagi. Kamu kapan?

Eh si B kemarin habis naik jabatan. Keren ya sekarang dia manager!

Bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan itu mereka anggap angin lalu, diabaikan dan di-bodo-amatin.

Sebagian yang lain bilang “Jadikan itu pelecutmu buat menjadi lebih baik”. Dibanding-bandingkan itu memang menyebalkan. Terlebih adalah orang dekat sendiri, terlebih orangtua sendiri.

Kerapkali merasa terombang-ambing dan kepercayaan diri yang dulu zaman single meluap-luap menguap entah ke mana.

Hingga saya bergabung di sebuah komunitas yakni Institut Ibu Profesional (IIP). Sebuah komunitas ibu-ibu yang digagas oleh Bu Septi Peni. Sebuah komunitas yang akhirnya membuka mindset saya dalam menjalani peran sebagai IRT.

Ada sebuah kutipan dari bu Septi yang membuat saya “merasa” bangkit dan “terangkat”;

Hanya ada satu status ibu, yaitu IBU BEKERJA. Yang satu memilih bekerja di ranah domestik, satunya memilih bekerja di ranah publik. Dua-duanya sama-sama membanggakan, sama-sama mulia dan sama-sama bermanfaat. Yang membedakan cuma satu hal yaitu kesungguhan dalam menjalankan perannya masing-masing. ~Septi Peni, Founder Institut Ibu Profesional~

 

Aaah rasanya tuh kayak minum jus jeruk di siang bolong, segeeeerrr banget. Bikin suasana hati jadi adem.

Selama bergabung di IIP kami para ibu-ibu diberi pemahaman yang menyeluruh akan peran sebagai ibu. Kami belajar banyak bagaimana mendidik anak, mengelola keluarga namun tetap bisa bermanfaat bagi masyarakat. Bagi bu Septi tidak ada yang harus dikorbankan ketika kita sudah menjadi Ibu. Artinya, bagaimana kita bisa mengelola waktu, membersamai anak dan suami dan berbagi manfaat di masyarakat dengan sungguh-sungguh.

Salut banget sama kisah bu Septi dalam membersamai ketiga anaknya tanpa bantuan nanny sekalipun. Beliau termasuk ibu yang bekerja di ranah domestik dan publik. Di rumah namun juga turut andil di masyarakat lewat gerakannya membantu ibu-ibu di seluruh Indonesia untuk maju dan tumbuh bersama melalui IIP ini.

Saya belajar banyak banget di IIP. Kami diberi beberapa materi yang membangkitkan jiwa agar tidak terus menerus gamang akan peran yang dijalani.

Kami belajar ilmu-ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan anak, bagaimana mengelola diri dan keluarga, bagaimana manajemen waktu, belajar ilmu-ilmu tentang kemandirian finansial dan bagaimana ilmu komunikasi dengan pasangan.

Saya jadi sadar melalui IIP bahwa selama ini ada yang salah dengan mindset dan tujuan hidup saya. Selama ini saya berpikiran bahwa seorang IRT itu sama sekali peran yang nggak ada keren-kerennya. Padahal, jika kita bisa menemukan goal-setting kita dalam hidup, jika kita bisa menemukan potensi diri agar bisa produktif dari rumah, peran sebagai IRT ini tentu akan menyenangkan dijalani.

Produktif di Ibu Profesional artinya tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah. Bisa menyelesaikan urusan domestik tanpa distraksi dan selesai tepat waktu juga produktif. Mencoba resep baru juga produktif. Menulis sesuatu yang inspiratif adalah hal produktif. Bahkan urusan beberes rumah macam metode Marie Kondo pun bisa dikatakan produktif.

Melalui IIP ini saya menangkap bahwa produktif adalah hal yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang, termasuk keluarganya.

Tentu saja tidak serta merta setelah melalui berbagai pembekalan ilmu dan pemberian tugas, saya segera menjadi sosok yang WOW LUAR BIASA PROFESIONAL. Jujur saja masih belum. Saya masih berproses dan belajar terus dalam menerapkan ilmu-ilmu dari IIP. Nanti akan saya ceritakan lebih detail ya di postingan-postingan berikutnya terkait materi-materi pembelajaran di IIP. Setidaknya mindset yang terpatri harus kuat dulu supaya nggak galau-galau lagi di kemudian hari.

Bersyukur sekali Allah memberikan saya kesempatan bisa belajar bersama ibu-ibu di seluruh Indonesia melalui IIP ini, agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sudah semestinya sebagai Ibu kita wajib terus belajar, memahami ilmu yang benar dalam pendidikan anak agar tidak memandang peran kita ini sebagai taken for granted, sehingga merasa nggak perlu lagi belajar. Polisi saja butuh sekolah khusus kepolisian, pilot, dokter dan arsitek pun ada sekolah khusus. Bagaimana kita sebagai Ibu yang menghadapi makhluk hidup, amanah yang nggak main-main, dengan cara yang sekenanya, bahkan kerapkali sakkarepnya. 

Terima kasih IIP telah membantu saya menemukan misi hidup, potensi diri serta bagaimana mendidik anak dan keluarga. Setidaknya menghimpun kembali kepercayaan diri yang telah menguap itu. Semoga nggak sekadar jadi tulisan tapi juga nyata dalam perbuatan. Doakan ya! 🙂

14 COMMENTS

  1. Bener bgt mbak….sayapun demikian awal2 resign…lalu berkutat dg urusan dapur rasanya ingin berontak. Tapi hidup adalah pilihan dan kita hrs siap dg konsekuensinya…..salam kenal ya mbak

  2. Saya juga pernah merasa begitu kecil dan TDK berguna gara gara status IRT 😁 apalagi saat ada tetangga yg dengan terang terangan mengecilkan status IRT DI DEPAN saya😭
    Tapi Alhamdulillah sih sekarang SDH bisa berdamai dengan keadaan dan justru merasa lebih bersemangat menjalani kehidupan 😂

    • aah peluk dari jauh ya mbak. memang bikin “sakit” sih digituin. tapi sekarang saya mencoba buat “yaudahlah bodo amat” dan menghapus toxic people dalam hidup haha kejem yak XD

  3. MaasyaaAllah…terharu baca ceritanya.
    Barakallah ya mbak..
    Semoga menjadi ibu yg selalu dirindukan langit. aamiin.
    Anyway makasih sdh berbagi..
    Saya pun dalam diam berbicara pada hati setelah baca tulisan mbak zahra..

    Anyway salam kenal ya…

  4. Hi mbak Zahra, salam kenal ya! Ini pertama aku baca tulisan mbak. To be honest, aku tersentuh dan suka dgn gaya tulisan yang apa adanya. AKu belum ada anak, baru menikah 3 bulan, tapi merasa relate mebaca blog post ini. Karena hingga saat ini aku masih suka bertanya tentang keputusan setelah punya baby nanti. Lanjut kerja kah? Atau berhenti saja? Suka bingung hehe. Dan, itu wajar ya. CUma kadang kondisi lingkungan seolah-olah memaksa kita untuk bungkam atau untuk nggak jujur dgn diri sendiri kalau sedang galau dgn keputusan yang diambil.

    • Hai mba Erny! Waaah pengantin baruu nih masih anget2 haha
      Makasih yaaa udah mampir blogku dan makasih banget atas apresiasinya 😊
      Wajar kok kalo kita lagi bimbang gitu. Yg penting nggak gegabah dan hanya berlandaskan emosional saat mengambil keputusan hehe.

  5. Bagus mba Zahra, mewek saya bacanya, membayangkan suatu saat harus bekerja di ranah domestik,
    Alhamdulillah ikut IIP, tapi masih menyiapkan mental dan finansial 😂

  6. Semangat mom cantiiikk…

    Saya juga dulu kayak gini.
    Sekarang sih hanya kadang saja.

    Menurut pengalaman saya, perasaan tsb hanya akan mengganggu saat usia kita under 35 tahun, setelah itu udah gak terlalu mengganggu lagi.

    Tetep semangaaatttt 💪

Leave a Reply to Zahra Firda Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here