Sore itu Akmal sudah mandi, sudah bersih dan wangi. Niat saya mau mengajaknya jalan-jalan keliling komplek. Saya memintanya untuk menunggu di teras sementara saya ganti baju dan memakai jilbab.

“Akmal tunggu sini. Duduk sini. Bunda mau ganti baju”. Saya pun masuk ke kamar dan segera berganti pakaian. Eh nggak lama terdengar suara air kran mancur dari arah luar. Kaget dong takut Akmal kenapa-napa, takut terpleset atau kekhawatiran lainnya. Saya bergegas keluar dan mendapati Akmal malah asyik bermain air kran. Tanpa rasa bersalah dia tertawa sambil main air. Hampir seluruh bajunya basah!

Sontak saya teriak “Yampun…astagfirullah Akmaaalll kan sudah mandi! Kok main air lagi sih!” rasanya mau ngomel dari A –  Z. Siapa sih yang nggak gregetan melihat anak sudah rapi jali eh lalu basah lagi. Tapi lantas saya teringat akan tantangan 17 hari di kelas Bunda Sayang (Bunsay) dari Institut Ibu Profesional (IIP) .

Jadi di kelas ini kami ditantang untuk menerapkan bagaimana berkomunikasi produktif ke anak. Kami harus menerapkan beberapa poin, salah satunya anak hanya akan menangkap pesan pendek, tidak bertele-tele, Keep Information Short and Simple. Jadi ya percuma saja dong kalau kita ngomel panjang-panjang. Misalnya gini,

Kalimat tidak produktif: 

“Yampuunn..Akmal kan bunda bilang tunggu di sini duduk aja. Tidak mainan air lagi. kan jadi basah semua ini baju kamu. Nanti masuk angin lagi. Duh kamu ini kan bunda capek harus gantiin baju lagi. Cucian bunda tambah banyak dong!”

Kalau diganti kalimat produktif jadinya begini:

“Bajunya basah lagi ya. Nggak apa-apa, ayo ganti baju lagi”.

Dari pelajaran tersebut saya jadi belajar mengendalikan emosi. Saya jadi belajar bagaimana menerapkan  komunikasi yang efektif kepada anak.

Sebelum ikut kelas di IIP, sejujurnya, saya mudah sekali tersulut. Akmal berantakin seisi kulkas, saya marah-marah. Akmal minta perhatian saat saya lagi sibuk masak, saya bentak. Akmal jatuh kejedot meja malah saya omeli karena “ya kan salahmu banyak tingkah” huhu. Saya nggak tahu maunya anak ketika sedang rewel. Akmal cranky, mood saya jadi ikutan nggak enak.

Dan baru sadar setelah bergabung di kelas IIP ini. Semakin sadar bahwa saya belum bisa memvalidasi emosi diri sendiri dengan baik. Saya terlalu banyak memendam, tanpa tahu perasaan apa yang sedang dialami. Alhasil, anak menjadi sasarannya. Setelah digali lebih dalam, ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Misalnya, kurang siapnya menjalani peran baru sebagai ibuinnerchild yang belum tuntas, masa lalu dari beberapa peristiwa tidak enak dikenang, pola pengasuhan sebelumnya, mengalami baby blues pasca melahirkan, dan hal-hal lainnya.

Tapi yang mau saya bahas adalah bagaimana mengendalikan emosi saat menghadapi anak. Salah satu poinnya adalah komunikasi. Ternyata sungguh menantang menerapkan komunikasi yang efektif ke anak. Terlebih dia belum memiliki perbendaharaan kata yang cukup dan pemahaman yang mendalam. Fffiiuuhh. Siap-siapin stok sabar yang banyak hehe.

Selama ini saya selalu berpikir agar anak harus nurut apa mau kita. Minta dia duduk yang anteng, ya mana mungkin wong fitrahnya anak memang banyak bergerak, mengeksplor sana sini. Minta melakukan ini itu dengan gercep, ya dia bingung dong, wong belum bisa menangkap informasi secara majemuk.

Rupanya soal komunikasi ini memang susah susah gampang sih. Selain menerapkan poin Keep Information Short and Simple, ada banyak poin komunikasi produktif yang bisa diterapkan ke anak.

1. Mengendalikan Intonasi Suara 

Seperti kejadian yang saya ceritakan di atas, suara yang meninggi hanya akan membuat Akmal nangis dan jadi tambah rewel. Saya mencoba inhale…exhale. Mencoba merendahkan suara seflat mungkin. Fokus sama solusi apa yang akan saya putuskan saat Akmal berbuat hal tersebut.

Ya tentu saja teori gampang, praktiknya MENANTANG! HAHAHA. Bayangin aja dong sudah seharian mengurus ini itu, full ngurus anak juga yang setiap harinya memberikan “tantangan” baru. Memang kok lelah itu bikin nguras emosi. Makanya kalau sudah capek banget saya sudahi urusan domestik, bodo amat cucian piring numpuk, lantai belum dipel, atau kalau belum sempat masak ya beli aja deh ke warung hehe, maklum belum ada embak ART atau nanny nih hehe.

2. Mengatakan yang Kita Inginkan, Bukan Sebaliknya

Misalnya Akmal lagi susah makan (persoalan sejuta ibu-ibu di dunia. Ayo ngacung supaya saya ada temannya hehe). Sudah dimasakin ini itu, tapi yang dimakan cuman ikannya aja atau lima suap aja. Saya bilang sama dia,

“Akmal makan yang banyak ya. Biar sehat dan kuat.”

Apakah anaknya mau langsung mangap? Kadang iya kadang enggak haha. Kalau enggak, kembali ke poin nomor satu haha. Kalau mentok yaudah deh tawarin makan lagi dua jam kemudian, atau kasih snack buah atau camilan yang lain.

3. Ganti Kata “Tidak Bisa” Menjadi “Bisa”

Biasanya terjadi saat Akmal sedang main. Misalnya main menyusun balok. Ternyata buat Akmal permainan ini cukup menantang. Kadang kalau merasa kesusahan terlontar kata “susah, bunda..” . Kalau sudah begitu saya memotivasinya agar mau mencobanya sekali lagi. “Ayoo, Akmal bisa. Dicoba lagi gimana ya caranya nyusun balok? Bisa yuk!”

Namun kalau terlihat sudah “frustasi”, biasanya diikuti dengan melempar mainan hehe, saya mencoba menawarkan bantuan padanya.

4. Jelas Dalam Memberi Pujian atau Kritikan

monetssori di rumah

Selama ini setiap kali melakukan sesuatu yang baik, misalnya membantu saya menyapu, saya memberikannya pujian, “Wah.. Akmal pinter!” Udah sebatas gitu doang. Eh ternyata ini pujian yang kurang efektif.

Sebaiknya kita juga menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan mana yang perlu dikritik. Jadi anak tahu perbuatan mana yang dapat apresiasi atau sikap mana yang perlu diperbaiki.

Misalnya, saya minta tolong ke Akmal untuk membuang tisu ke tempat sampah dan Akmal melakukannya dengan benar. Maka pujian yang efektif,

“Wah terima kasih Akmal pinter sudah buang tisu ke tempat sampah”.

5. Ganti Kalimat yang Menolak/Mengalihkan Perasaan dengan Kalimat yang Menunjukkan Empati

Misalnya nih Akmal kejedot tembok karena dia lompat-lompat mulu. Saya pernah bilang gini,

“Makanya dong Akmal jangan banyak gerak, kan jadi kejedot. Udah ayo istirahat!” (kalimat tidak produktif)

Lalu diganti,

“Sakit ya, nak? Yang mana yang sakit? Lain kali mainnya hati-hati ya, lompatnya pelan-pelan aja,”. (kalimat produktif). 

Sebenarnya masih banyak poin komunikasi produktif yang bisa diterapkan ke anak. Tapi saat melakukan tantangan dari kelas Bunsay ini saya paling sering menerapkan kelima poin tersebut.

Walaupun ini bagian dari tugas kuliah di IIP tapi saya rasa bisa diterapkan seumur hidup. Kerasa banget sih setelah ikut kelas ini saya jadi lebih bisa mengontrol emosi. Setidaknya tahu bagaimana mengendalikan emosi saat menghadapi anak.

Meski dalam proses perjalanannya saya sering merasa ingin sudahan, kapan sih selesainya, merasa ingin menyerah, tapi kembali teringat ternyata masih banyak lho ibu-ibu di luar sana yang hingga kini terus berjuang untuk menjadi ibu yang terus mau belajar, berproses menjadi diri yang lebih baik, mendidik anak-anak dengan penuh cinta dan keikhlasan. Lha saya anak baru satu tapi mengeluh udah kayak minum obat. Kan malu. Ya boleh aja sih ngeluh, tapi gamau dong kalo keterusan.

Semoga kita semua bisa terus berproses lebih baik ya dalam mendidik anak-anak, terlebih saat mengelola dan mengendalikan emosi. Bismillah semangat!

 

1 COMMENT

  1. Hhhh … PR besar orangtua untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Memang harus mau belajar, mendengarkan nasehat dari yang lebih ahli, mendengarkan pengalaman dari yang sudah lebih berpengalaman. Kalau maunya mengikuti diri sendiri, sudah merasa benar, anak-anak kita yang akan jadi korban. MasyaAllah ya peran sebagai orangtua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here