Saya mendengar istilah metode Montessori sejak Akmal umur 10 atau 11 bulan. Waktu itu Akmal mulai aktif-aktifnya kesana ke mari dan rasa keingintahuannya sangat besar.

Bundanya sering kehabisan ide mau ngajak main apa lagi yang mengandung unsur edukasi. Lalu mencoba browsing sana sini lewat media sosial dan menemukan banyak bertebaran tagar Montessori di rumah.

Saya pun kepo-kepo apa sih Montessori ini. Oh, ternyata metode pengasuhan anak yang digagas sama Maria Montessori, si foundernya yang seorang dokter juga pengamat pendidikan. Lebih lengkapnya browsing sendiri aja ya haha.

Dan menurut saya oke juga kalau diterapkan ke Akmal. Saya memang belum sampai taraf serius yang ikut coursenya atau bahkan kuliah khusus metode Montessori. Karena pas tahu harganya bikin saya menangis di pojokan kamar #lebay. Ya nanti deh kalau ada rezeki lebih saya pengen banget bisa belajar serius metode ini.

Ada beberapa poin yang bikin saya kepincut sama metode ini.

Misalnya poin tentang Follow the Child. Kita sebagai orangtua kerapkali memaksa keinginan kita (saya aja kali ya hehe) ke anak. Kamu tuh harusnya begini nggak gitu, kamu baiknya baca buku ini bukan itu, dst…dst. Selain kecewa karena anak nggak tertarik untuk melakukan apa yang kita mau, berpengaruh juga kan sama psikis mereka.

Baca juga dong : Mengenalkan Buku Sejak Bayi 

Untuk itu Montessori mencoba melakukan observasi dan mencoba menelaah apa sih sebetulnya yang menjadi ketertarikan dan kesukaan anak.

Misalnya ni maksa anak main playdough tapi ternyata panci dan perkakas dapur lainnya lebih menarik buatnya. Yaudah kasih ajalah itu buat mainan mereka. Mungkin dia anggap itu perkakas dapur adalah alat musik untuk menciptakan mahakaryanya, toh hitung-hitung mengasah kreativitasnya.

Tapi ya nggak serta merta mengikuti semua keinginan anak. Tentu saja tetap ada batasan-batasan yang harus anak ikuti sesuai dengan prinsip dan norma yang dipegang oleh keluarga. Namun bukan juga melarang anak melakukan ini dan itu.

Intinya sih kita harus memberikan ruang bagi anak untuk memilih. Kegiatan apa yang ia ingin lakukan? Media bermain mana yang ingin ia eksplorasi? Kita harus meyakini bahwa apa yang ia pilih memang yang sedang dibutuhkannya saat itu.

Selain itu metode Montessori juga mengembangkan lima aspek dalam pendekatan pendidikan ke anak-anak.

Yakni, aspek practical life, sensorial, language, mathematicsdan culture.

Sebenarnya mengembangkan kelima aspek ini bagus untuk tumbuh kembang anak-anak tapi saya merasa seperti ada yang kurang. Sedari awal sih saya merasa kalau metode ini ‘kering’ sama hal-hal berbau spiritual, ya mungkin karena pengaruh foundernya dari Barat sana sih.

Hingga saya menemukan sebuah akun di Instagram namanya @islamicmontessori_ sebuah komunitas Indonesia Islamic Montessori Community (IIMC) yang diprakarsai oleh Zahra Zahira. Oh, ternyata ada toh komunitas yang concern pada metode Montessori tapi berbasis Islam. Semakin excited saat Ms Zahra membuat buku berjudul Islamic Montessori.

Isi Buku Islamic Montessori

Buku terbitan anakkita ini terbagi menjadi dua seri, yakni yang diperuntukkan buat anak usia 0-3 tahun dan untuk usia 3-6 tahun. Mengingat Akmal saat ini masih 23 bulan jadi saya beli yang untuk usia 0-3 tahun dulu.

Di buku ini dijelaskan kembali soal Filososfi Montessori yang sesungguhnya serta cara Ms Zahra menggabungkan nilai-nilai Islami dalam metode Montessori. Ada 10 filosofi Montessori yang diingatkan kembali dalam buku ini, seperti:

  1. Absorbent Mind: Tahapan di mana anak-anak mudah sekali menyerap informasi dari mana saja. Anak-anak menyerap informasi di lingkungan sekitar melalui pancaindra, penyerapan bahasa, pengembangan motorik, kognitif dan kemampuan sosial. Maka sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan teladan yang baik, yang sesuai nilai-nilai Islam agar membentuk akhlak yang baik.
  2. Sensitive Periods : Tahapan di mana anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap benda atau aktivitas tertentu. Misalnya, Akmal lagi suka banget sama yang namanya hewan kuda. Di manapun ada suara gemerincing dia teriak kegirangan menyebut Kuda! Kuda! padahal ternyata yang lewat becak. Nah, dari sini kita bisa sisipkan bahwa hewan tersebut ciptaan Allah lho. Kita sebut-sebut keagungan dan kehebatan Allah dalam penciptaan macam-macam hewan termasuk kuda.
  3. Prepared Environment : Kita bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran anak-anak. Misalnya menyiapkan rak mainan atau buku yang sesuai tinggi badannya. Agar terbiasa mandiri mengambil material kegiatan yang telah disiapkan.
  4. Follow the Child: Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Follow the child berarti memberikan kesempatan anak untuk melakukan apa yang dia mau dan butuhkan, sehingga akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tentu dengan memerhatikan nilai-nilai yang dianut dan tidak sebebas-bebasnya juga.
  5. Individual Differences: Setiap anak itu unik dan istimewa. Dalam metode ini menyediakan pendidikan yang mengakomodasi anak-anak sesuai dengan keminatan mereka masing-masing.
  6. Concrete to Abstract : Anak usia 0-6 tahun lebih mudah menerima informasi yang konkret baru abstrak. Misalnya mengenalkan buah rambutan, berikan saja wujud aslinya lalu jelaskan teksturnya, baunya, rasanya.
  7. Hands-on Learning : Anak belajar melalui seluruh inderanya. Anak belajar menyentuh apa pun dan merasakannya sendiri.
  8. Control of Errors: Lingkungan dan material yang disetting dengan konsep Montessori memiliki kontrol kesalahan sehingga anak dapat menemukan cara dalam memecahkan masalah tanpa intervensi orang dewasa.
  9. Freedom with Limits: Ini mirip Follow the Child sih menurut saya. Anak boleh melakukan apa yang dia mau, bebas eksplorasi tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Jika membahayakan dirinya ya harus dilarang dan diberitahu.
  10. Respect the Child : Kita sering menganggap anak-anak itu makhluk yang nggak ngerti apa-apa, jadi kerapkali meremehkannya. Padahal sebenernya mereka ya hanya beda ukuran tubuh kok sama orang dewasa. Mereka juga berhak dihargai dan dipercaya. Kalau saya pikir-pikir lagi ini tuh selaras lho sama ajaran teladan Rasulullah yang sangat menghargai anak kecil. Menganggap mereka, mendengarkan mereka bahkan memberikan anak-anak pilihan-pilihan.

Bedanya Montessori dengan Islamic Montessori?

Kalau yang saya tangkap dari buku ini, penerapan filosofi dan material antara Montessori dengan Islamic Montessori ya sama saja.

Yang membedakan adalah ada penambahan nilai-nilai Islami yang ditanamkan dalam konsep Islamic Monetssori. Penulis menambahkan aspek spiritual dalam metode Montessori. Sehingga dalam praktiknya anak diajak untuk tidak lupa hubungan dengan Allah.

Misalnya, untuk melatih aspek practical life dalam memulai segala sesuatu bisa menanamkan pada anak untuk selalu mengawalinya dengan bacaan Basmallah. Mau menyapu baca basmallah, mau memakai baju baca basmallah, dst.

Baca juga dong: Mengenalkan Anak ke Masjid 

Dilengkapi Contoh Aktivitas Montessori Sesuai Usia Anak

Buku yang diterbitkan fullcolour ini juga dilengkapi contoh-contoh aktivitas dengan metode Montessori. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Dan juga ada beberapa contoh aktivitas Islamic Studies. 

Contohnya, mendengarkan kisah-kisah nabi, membacakan Al-Quran, mengenalkan alam semesta lewat gambar, dll. Yang saya suka contoh-contoh kegiatannya mudah banget diterapkan di rumah. Nggak perlu bingung mau beli mainan ini itu karena beberapa contohnya bisa pakai benda-benda yang ada di rumah.

buku islamic montessori

Hanya saja ((menurut saya lho ya)) aktivitas Islamic Studies yang dicontohkan kalah banyak sama contoh aktivitas lain yang menonjolkan motorik, kognitif serta sensoris. Jadi kita improvisasi sendiri kali ya. Gapapa lah ya itung-itung mengasah kreativitas ibunya buat cari ide aktivitas lain.

review buku islamic montessori

Intinya, saya suka sih sama buku ini. Lumayan sebagai referensi dan panduan untuk merancang aktivitas yang seru buat anak. Tanpa melupakan nilai-nilai Islami yang ingin kita ajarkan ke anak.

Buibu sudah baca buku ini belum?

 

5 COMMENTS

  1. Belum baca yang ini 😀 tapi buku-buku mbak Zahra ini praktikable semua, bagus banget. Jadi yang baca kayak mamak kek kita ini punya segudang ide untuk aktivitas anak.

  2. Aku pernah tahu buku ini sampe yg versi 6 tahun. Full color dan kertasnya seperti majalah Gadis, jadi semangat buka dan bacanya 🙂
    Konsep pikiran yg mudah menyerap seperti spons jadi banyak belajar untuk hati2 dalam ucapan atau perilaku krn segera direkam anak, dan takut ditiru hehe. Asik ya mbak, bukunya dari usia nol. Jadi kalo Lui punya adek bs pakai buku ini. Adek? Apaaaah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here