“Bunda, ayo bacain (aku) buku!” pinta Akmal setiap kali mau tidur.

Namun tak jarang kebiasaan membaca buku bukan lagi saat mau tidur saja. Kadang saat mau makan, sehabis main lompat-lompat, ketika sudah bosan bermain dengan kucing-kucing, atau sekadar mengisi waktu di saat dia bosan dan tidak tahu mau ngapain. Tinggal sodorin buku dan dia seperti sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.

Menumbuhkan minat membaca pada anak tentu bukan dibangun dalam semalam. Saat hamil saya sudah ngintip-ngintip dan nyicil beli buku anak-anak. Dan ketika Akmal masih bayi saya rutin membacakan buku padanya. Sedari awal saya bertekad kalau punya anak pengen banget dia cinta membaca. Seambisius itu, ya. Hehehe.

Kenapa Harus Repot Membacakan Buku kepada Anak?

Kenapa sih masih bayi, kok, udah dibacain buku? Memangnya dia ngerti? Jangankan paham isinya, itu deretan huruf-huruf apa aja si bocah juga belum tahu, kan?

Beberapa orang pernah mengatakan hal senada ketika melihat saya asyik membacakan buku pada Akmal.

Sebenarnya bukan karena agar si Akmal bisa cepat membaca, tapi lebih kepada menumbuhkan kecintaan budaya membaca.

Kalau menurut Fauzil Adhim, salah satu pakar parenting muslim dan penulis buku Membuat Anak Gila Membaca, menyatakan bahwa membaca itu dibagi menjadi dua pemahaman:

Pertama, membaca karena ingin memberi pengalaman. Artinya, lebih menekankan pada proses. Di sini anak nggak dituntut harus tahu huruf, bisa baca pada, atau merangkai kata di usia sekian. Bukan itu maksudnya. Tapi, memberikan kesan kalau membaca itu menyenangkan, lho. Nah, kalau udah begini harapannya kelak dia jadi suka baca. Poinnya, menumbuhkan gairah minat baca pada anak.

Kedua, membaca agar bisa merangkai huruf. Kalau yang ini obsesi agar anaknya bisa cepat mengetahui struktur huruf dan merangkai kata. Menurut Fauzil Adhim kalau ini tujuannya malah bisa membuat anak jadi cepat bosan. Karena anak dituntut agar bisa cepat baca. Artinya, ada paksaan. Fokusnya pada hasil, bukan proses.

Untuk saat ini kami (saya dan suami) lebih fokus pada poin pertama. Menumbuhkan minat membaca sejak kecil. Itu dulu aja deh yang penting.

Dari membacakan buku cerita sejak kecil, anak jadi belajar banyak hal baru. Mulai mengenalkan warna dan bentuk, nama-nama hewan, jenis-jenis mobil, dan sebagainya. Lewat buku juga Akmal mulai tahu orang dengan bermacam-macam profesinya. Orang yang membawa palu dan gergaji namanya pak tukang, yang berseragam cokelat membawa peluit di jalan namanya pak polisi, yang berjas putih berkalung stetoskop namanya pak dokter, dan sebagainya.

membaca buku sejak bayi
Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Selain itu juga menambah kosakata sehingga meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Hal ini saya amati ketika Akmal sudah berusia 1,5 tahun. Kosakatanya mulai banyak dan sudah bisa merangkai satu kalimat. Kini di usianya yang menjelang tiga tahun sudah beraneka ragam pertanyaan yang sanggup dia ajukan kepada orangtuanya. Kadang-kadang sampai kewalahan menjawab. Hahaha.

Keterampilan membaca ini tentu bermanfaat buat bekalnya saat dewasa nanti. Agar pemikirannya jadi terbuka pada fenomena yang terjadi di sekitarnya dan nggak mudah percaya hoaks. Jadi inget sama kata-katanya Zen RS, salah satu editor media online. Dia bilang:

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.

Bener banget ini sih kayaknya udah menjadi budaya netizen Indonesia. Apa-apa dikomentari tanpa dasar yang jelas.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca untuk Anak?

Langkah pertama dan sangat penting adalah memilih buku sesuai usia anak. Buku pertama Akmal jenisnya buku bantal. Bahannya dari kain dan empuk. Jadi nggak perlu khawatir sobek atau rusak. Sebab usia bayi artinya masih dalam tahap pengembangan motorik halus, jadi masih suka emut-emut dan nyobek-nyobek kertas. Selain itu gampang dibawa ke mana-mana dan nggak makan tempat karena bisa dilipat macam baju. Hehehe.

Selain itu ada pula jenis buku boardboook. Bahannya dari kertas karton tebal. Biasanya dalam satu halaman hanya terdiri satu atau beberapa kata saja dan satu gambar. Warnanya pun colourful. Anak-anak pasti suka.

buku bayi
Pilih buku yang colourful, bahannya awet dan ilustrasinya menarik.

Saat usianya sudah dua tahun kami mulai melibatkannya memilih buku bacaannya.

“Akmal suka gambar yang mana?” tanya saya saat melihat-lihat di toko buku. Ada masanya dia suka buku tentang dinosaurus, aneka macam burung, dan lainnya. Kalau sekarang sih dia sedang suka sekali sama cerita tentang petugas pemadam kebakaran.

Mengajak ke Perpustakaan atau ke Pasar Loak

Mengajaknya ke perpustakaan adalah salah satu cara menghemat pengeluaran membeli buku. Saya mengajak Akmal ke perpustakaan biasanya dua minggu sekali. Tapi karena lagi masa pandemi sekarang sementara perpustakaannya tutup 🙁

perpustakaan anak
“Minta tolong ya, Nak, ini perpustakaan bukan warung kopi!” Hahaha. Mohon jangan ditiru.

Akmal senang sekali diajak ke perpustakaan. Nggak seperti perpustakaan zaman saya SD dulu yang identik dengan jorok, berdebu dan tidak terurus. Perpustakaan di kota Malang sekarang baguuus banget! Rapi, bersih, dan ada ruangan bermain untuk anak. Kami selalu betah kalau main ke sana bahkan sampai ketiduran. Hahaha.

Sejujurnya buku anak-anak itu mahal, lho. Hehehe. Mungkin karena bahannya yang tebal dan berwarna-warni, ya. Jadi saya nggak selalu beli buku baru untuk Akmal.

Untungnya tempat tinggal kami tak jauh dari pasar buku bekas. Kalau Akmal kelihatan bosan dengan buku-bukunya, tinggal ajak dia meluncur ke pasar buku loakan itu dan belanja buku. Namanya juga pasar buku loakan, jadi harganya miring. Si bocah senang, kantong juga aman. Hehehe.

Baca juga yuk : Berkunjung ke Perpustakaan Umum Kota Malang yang Ramah Anak

Tantangan Membacakan Buku untuk Anak

Kalau pas bayi sih tantangan masih pada responnya yang belum tentu menunjukkan minat pada buku. Kadang dilempar, disobek, bahkan tak jarang masuk mulut.

Semakin ke sini tantangannya ada pada distraksi. Yakni distraksi adanya gadget. Saya nggak menyangkal sih kalau hadirnya gawai itu ya tak terhindarkan. Zaman sekarang balita sudah canggih mengoperasikan gawai. Jadi ya memang nggak bisa ‘lari’ dari gawai, kuncinya adalah dibatasi dan diseleksi.

Akhirnya saya dan suami berkompromi untuk membolehkan Akmal bermain HP tapi dibatasi satu hari hanya satu jam. Itupun di bawah pengawasan. Selain itu channel yang dipilih tentu yang kids friendly dan mengandung unsur edukasi.

Mengenalkan Anak kepada Buku Digital

Tantangan distraksi ini makin meningkat di masa pandemi. Frekuensi melihat HP jadi lebih banyak karena Akmal melihat ayah bundanya yang bekerja dari rumah, melihat kami berdua juga lebih intens dekat pada gawai.

Menurut kami ini jadi agak kurang sehat, ya.

Untungnya makin ke sini, aktivitas membaca buku juga makin inovatif. Kalau aktivitas melihat HP makin tak terhindarkan, setidaknya apa yang dilihat anak-anak kita tak jauh dari buku. Akhirnya sekalian kami kenalkan Akmal pada buku digital.

Berkenalan dengan Let’s Read: Perpustakaan Digital untuk Anak

Aplikasinya bernama Let’s ReadSebuah perpustakaan digital yang menyediakan ratusan buku digital khusus untuk anak-anak. Let’s Read diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017. Perpustakaan digital ini dibangun untuk menumbuhkan budaya baca para pembaca cilik di Asia.

Ratusan Cerita Bergambar yang Menarik

Klik yang paling menarik karena Let’s Read punya banyak pilihan cerita.

Saat memperlihatkan pertama kali ke Akmal adanya perpustakaan digital ini, dia senang sekali. Kami benar-benar dimanjakan sama ilustrasinya yang menarik dan sangat colourful! Momen membaca jadi lebih menyenangkan.

Cerita pertama yang dipilih Akmal judulnya Hari yang Indah karya Elana Bregin.

Sebuah cerita sederhana tentang keluarga Nicholas yang berangkat piknik ke sungai. Gambar ilustrasinya atraktif, ceritanya sederhana tapi juga relate sama keseharian. Tentang keakraban keluarga yang bahagia.

Selain itu kita bisa memilih bukunya sesuai dengan tingkat kesulitan. Jadi ada levelnya gitu menyesuaikan usia dan pemahaman anak. Yang menarik lagi di Let’s Read menyediakan cerita dengan beragam bahasa selain bahasa Indonesia dan Inggris. Ada pula bahasa daerah dari Jawa, Sunda, Minangkabau dan Bali serta bahasa daerah lainnya di berbagai penjuru Asia. Ceritanya juga banyka yang mengusung kearifan lokal.

Bisa Diakses Secara Gratis dan Dibaca di Mana Saja!

Let’s Read bisa diunduh melalui Android. Selain itu bisa diunduh dan disimpan jika ingin membaca dan mengaksesnya tanpa internet. Kalaupun mau mencetaknya bisa juga. Tapi cuma untuk keperluan pribadi, ya. Jangan dicetak secara massal.

Bagusnya di Let’s Read, kita bisa pilih menu bahasa, level cerita, juga label tema cerita yang mau kita bacakan buat anak.

Bagi pengguna iOS bisa mengaksesnya melalui situs Let’s Read di browser. Situsnya pun sangat mobile friendly. Menurut saya masih nyaman dibaca sama dengan aplikasinya.

Let’s Read bisa menjadi salah satu alternatif perpustakaan digital yang pas untuk anak-anak, terlebih di masa-masa pandemi sekarang ini. Solutif banget buat meningkatkan minat baca pada generasi Z dan generasi Alpha yang sudah akrab sama gadget sejak kecil.

Jadi ayah bunda sudah download Let’s Read belum?

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here