“Jangan pegang itu, nanti luka kena tangan!”

“Jangan lari-lari!”

“Jangan naik-naik meja!”

“Jangan main di pasir ih kotoooorrr!”

 Terdengar sangat familiar ya? Hayoo buibu siapa yang juga sering begini ke anak?

Sejak jadi ibu saya jadi lebih sering khawatir, terlebih sama anak. Apalagi si Akmal sedang masa-masa suka eksplorasi, apapun dan di mana pun.

Mau eksplor apapun…bebaaaasss

Ada benda-benda kecil di lantai, diambil lalu dimasukkan ke mulut. Ada barang yang baru buatnya padahal berbahaya seperti pisau maunya disaut aja. Bisa buka kran sedikit saja eeehh keterusan deh main airnya. Nemu tempat main yang lebih luas macam lapangan, dianya keliling aja ke sana kemari macam setrikaan haha.

Terkadang jika sudah terlampau lelah mengikuti polah Akmal yang mengeksplor apapun itu, saya suka refleks bilang “JANGAN”!. Padahal sebenarnya kurang bagus, ya bu buat tumbuh kembang dan psikis anak.

Seperti yang dikatakan oleh psikolog Ratih Ibrahim dalam Dancow ‘Iya Boleh’ Camp di Royal Plaza, Surabaya lalu (Sabtu, 1 September 2018). Menurut Ratih jika kita sebagai orang tua sering melarang anak dan berkata JANGAN, anak akan merasa tidak percaya diri. Mau melakukan ini tidak boleh, mau ke sana tidak boleh, dan seterusnya.

Psikolog Ratih Ibrahim memberikan penjelasan tentang pengasuhan anak.

Selain itu anak jadi kurang imajinatif. Lha gimana, rasa ingin tahunya saja kita ‘tekan’ dengan melarangnya melakukan apa-apa yang menurut kita nggak baik. Padahal bisa jadi si anak sedang mempelajari sesuatu dari polah tingkah mereka. Lewat main air bisa jadi mereka belajar soal rasa dingin, bagaimana rasa air, dan teksturnya. Lewat main pasir barangkali dia belajar bagaimana baunya, teksturnya, warnanya. Dan seterusnya…

Menurut Ratih, keterlibatan aktif orangtua memegang peran penting saat mendampingi si kecil melakukan eksplorasi pertamanya. “Kemandirian menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan pada si kecil agar semakin percaya diri untuk bereksplorasi. Saat eksplorasi orangtua perlu juga percaya pada anak untuk berkata ‘iya boleh!’ sehingga anak menjadi berani eksplor,” tuturnya.

Namun tentu saja tidak melulu kita mengatakan ‘iya boleh’ pada anak. Ada beberapa hal yang harus kita pilah mana yang boleh maupun tidak. Hal tersebut berlaku jika situasi dan lingkungan untuk eksplorasi anak aman, maka tidak masalah mengatakan ‘iya boleh’. Tapi jika membahayakan maka sebaiknya kita perlu melarangnya dan jangan lupa menjelaskannya mengapa tidak boleh.

Misalnya, si Akmal suka sekali ‘menemani’ saya saat masak di dapur. Ada banyak barang dan hal di dapur yang membuatnya penasaran, contohnya pisau. Tentu saja saya harus melarangnya memegang benda tersebut dan menjelaskan mengapa belum boleh memegangnya.

Selain Ratih, ada dua bunda inspiratif yang juga berbagi soal kegiatan eksplorasi anak-anak mereka di Talkshow Dancow Camp kemarin. Ussy Sulistiawati dan Intan Nuraini.

Ussy mengakui perlakuan terhadap masing-masing anak tentu berbeda. “Dulu sebelum mendapat pencerahan di Dancow, aku sama ratakan pengasuhannya, istilahnya otoriter. Sering banget aku larang untuk bereksplorasi. Tapi sekarang jadi lebih memahami anak-anak dan lebih legowo,” tuturnya.

Dia juga menceritakan perihal masalah orangtua zaman now yang hidup di era digital. Anak-anak mereka jadi mengenal gadget di usia yang masih balita. “Memang sih persoalan gadget ini susah ya. Untuk mengalihkannya aku mengajak anak-anak ke kegiatan lain seperti membaca buku, menggambar atau main di taman terbuka,” lanjutnya.

Oya, selain sesi sharing bersama para narasumber inspiratif, di acara ini juga disediakan arena booth permainan untuk anak-anak. Ada 7 booth eksplorasi yang membuat anak-anak betah saat orangtuanya menimba ilmu hehe, diantaranya:

1. Petualang Cilik : Arena ini diperuntukkan untuk kategori usia 1-3 tahun. Anak-anak bisa mainan keseimbangan diri dengan berdiri di atas jembatan dan memanjat jaring-jaring.

2. Jemari Melukis : Arena ini untuk mendukung eksplorasi si anak di bidang seni dan warna. Mereka bisa berkreasi dengan acrylic untuk mewarnai tas hasil karya mereka sendiri.

3. Tembikar Ria : Anak-anak bisa berkeksplorasi membuat ragam bentuk dari tanah liat.

4. Pahlawan Cilik : Di arena ini anak-anak dilatih kemampuan psikomotoriknya, menumbuhkan perhatian dan menyelesaikan masalah. Cara bermainnya si anak diajak menyelamatkan boneka kucing dengan melewati berbagai tantangan fisik.

5. Penjelajah Hutan: Mengajak si kecil menjelajahi hutan, menemukan beragam hewan melalui layar gerak, serta mempelajari karakteristik hewan.

6. Prajurit Bakteri Baik : di arena ini anak-anak bermain peran sebagai bakteri baik, Lactobacillus rhamnosus, yang akan berperang melawan bakteri jahat, melalui layar digital interaktif yang akan melatih kecerdasan memori, perhatian dan psikomotorik.

7. Teater Fauna :merupakan arena sandiwara boneka tangan untuk si kecil berinteraksi dengan hewan favoritnya yang dapat menstimulasi perhatian, mengasah penyelesaian masalah serta kemampuan linguistik si kecil.

Gimana seru ya acara dan booth campnya? Jadi mulai sekarang saya akan mencoba mengurangi larangan dan berkata jangan, selama itu baik untuk proses tumbuh kembang anak. Selamat menemani anak-anak bermain ya bunda-bunda! 🙂

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here