Beberapa hari lalu suami flu. Batuk, pilek dan demam menyerang tubuhnya. Hampir tiga hari mendekam di rumah aja nggak ke mana-mana. Saya awalnya khawatir kalau gejala ini bisa lebih parah. Covid-19 menjadikan saya lebih parno dari biasanya.

Sebetulnya saya ingin menyarankan suami untuk ke dokter saja atau ke rumah sakit, duh tapi kok masih khawatir ya. Kasus corona yang belum juga mereda membuat kami jadi was-was untuk pergi ke rumah sakit. Terlebih kami masih memiliki anak balita yang memiliki risiko menular lebih tinggi. Sungguh sebuah dilema.

Hampir saja frustasi, saya langsung teringat pada Aplikasi Halodoc. Sebelumnya saya pernah menginstalnya untuk keperluan belanja APD seperti masker dan handsanitizer. Baru teringat kalau di Halodoc juga bisa konsultasi dengan dokter dan membeli obat tanpa harus ke apotek. Sebuah pilihan yang tepat dan aman di masa-masa genting seperti ini. Ah, terima kasih teknologi!

Tapi suami kekeh aja mau minum obat dari dokter yang pernah dia datangi dulu. Semacam sudah ‘kilk’ nggak mau pindah ke lain hati. Hanya sekarang kan belum berani langsung datang ke tempat praktiknya. Akhirnya ya sudah suami lebih memilih untuk langsung membeli obat flu dan batuk yang biasa diresepkan dokter langganan.

Tanpa perlu ke apotek, bermacet-macet di jalanan, lewat Halodoc semuanya terlayani dengan baik. Kita tinggal memilih mau memesan obat apa, lalu melakukan pembayaran dan pengantaran obat melalui Gojek. Sungguh praktis, mudah dan aman sebab semuanya serba online. 

Ketat akan Protokol Kesehatan

Sejak corona hadir kami sekeluarga jadi aware sama kesehatan dan kebersihan. Dulu mah boro-boro pakai masker keluar rumah, jarang banget. Sekarang bahkan Akmal anak kami wajibkan pakai masker meski cuman beli jajan ke warung depan rumah.

Kalau keluar sebentar meski itu hanya ke tukang sayur dekat rumah, saya sekarang sangu handsanitizer. Pulangnya langsung semprot-semprot disinfektan, cuci tangan dan ganti baju. Hal ini diterapkan ke setiap anggota keluarga di rumah, setiap hari.

Setiap pagi kami olahraga di sekitar perumahan. Meski hanya jogging atau jalan santai tak ketinggalan pakai masker. Tak lupa melengkapi kebutuhan gizi seimbang, istirahat yang cukup dan membuat suasana di rumah serileks mungkin supaya nggak terlalu stress. Saya juga mulai mengurangi dan menyaring baca berita soal covid-19 setiap hari karena jujur itu bikin kita jadi tertekan.

Apalagi sudah memasuki realitas new normal. 

Meski pemerintah telah menyudahi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetap saja sebagai warga kita wajib mawas diri menjaga kesehatan keluarga. Intinya jangan sampai abai, ya bahkan bersikap seolah corona sudah musnah.

Terlebih bagi mereka yang sudah memulai aktivitas di luar rumah, bekerja dari kantor maupun membuka kembali restoran atau hotel mereka. Bagi saya mereka yang beraktivitas di luar tidak cukup hanya memberlakukan protokol kesehatan. Kalau perlu bahkan mendesak melakukan rapid test juga. Sebab ini termasuk upaya dalam memutuskan rantai penyebaran covid-19.

Siapa saja yang perlu melakukan Rapid Test?

Rapid test ini diprioritaskan untuk orang yang lebih berisiko terkena COVID-19. Seperti:

Kategori Risiko Tinggi:

  1. Menunjukkan gejala demam tinggi di atas 37.7 derajat Celcius.
  2. Menunjukkan gejala ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) berupa batuk berkepanjangan, pilek, hidung tersumbat, sesak napas.
  3. Dan dalam 7 hari terakhir berada di lingkungan yang memungkinkan ada kontak/berdekatan dengan pasien  positif COVID-19, misalnya kendaraan umum yang padat, atau dari bepergian daerah dengan frekuensi infeksi tinggi.

Kalau nggak memiliki gejala 1-2, namun beresiko poin 3, artinya termasuk resiko sedang, dan disarankan screening menggunakan rapid test, ya.

Kategori Risiko Rendah

Orang Tanpa Gejala (OTG)

Orang Tanpa Gejala adalah orang yang tidak memiliki gejala apapun namun pernah kontak erat dan tetap berisiko tertular dari pasien positif COVID-19.

Kontak erat dalam kriteria ini jika pernah melakukan kontak fisik secara langsung, berkunjung atau berada di dalam ruangan yang sama (dalam radius 1 meter) dengan pasien positif. Dalam 2-14 hari terakhir setelah kasus timbul gejala, maka disarankan untuk rapid test.

Tapi hari gini kadang kan masih parno ya untuk melakukan rapid test dengan mengantri di rumah sakit. Halodoc kini hadir memberikan solusi bagi teman-teman di Surabaya dan di manapun yang mau melakukan covid test Surabaya .

Mengapa lewat Halodoc? Karena kita bisa merencanakan jadwal sesuai kebutuhan kita. Jadi nggak perlu khawatir ngantri panjang di rumah sakit.

Cara melakukan rapid test melalui Halodoc mudah kokYuk, ikuti instruksinya berikut ini:

  1. Pertama-tama, buka aplikasi Halodoc dan klik tombol COVID-19 Test” kemudian kamu klik ini: Lokasi Rapid Test Drive.
  2. Setelah itu, kamu bisa memilih tempat dan waktu untuk melakukan rapid test ini.
  3. Kamu akan diminta untuk mengunggah foto/scan informasi diri (KTP untuk orang dewasa, dan Kartu Keluarga untuk anak di bawah umur) dan melakukan pemesanan.
  4. Jika sudah mengunggahnya, kamu akan melanjutkan ke tahap pembayaran. Biaya akan bergantung kepada biaya jasa tenaga medis dan penyediaan alat yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
  5. Setelah berhasil, maka kamu akan menerima kembali SMS konfirmasi tentang jadwal tes dan detail pesanan. SMS tersebut harus ditunjukkan kepada petugas medis saat melakukan pemeriksaan kelak.

Gimana? Mudah banget kan. Semoga kita semua diberi kesehatan ya. Aamiin.

 

Sumber:

  1. https://www.farmaku.com/artikel/apa-itu-rapid-test-cara-kerja
  2. https://www.halodoc.com/layanan-rapid-test

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here