Sejak peresmian kampung warna-warni Jodipan, Malang pada dua tahun silam reaksi saya cenderung biasa saja. Nggak terlalu seantusias orang-orang pada umumnya. ‘Oalah tempat gitu doang’ begitu sih tanggapan saya saat salah seorang teman mengajak ke sana untuk berkunjung.

Eh ndilalah saat sudah punya anak saya malah pengen ke kampung tersebut. Alasannya sih karena ternyata nggak jauh dari rumah, kurang lebih tiga kilometer. Kalau dihitung dari stasiun kota Malang jaraknya hanya berkisar 1,5 km. Alasan lainnya karena belum berani travelling ke tempat-tempat jauh macam gunung atau pantai sambil bawa bayi, yaudahlah kampung warna-warni Jodipan ini akhirnya jadi destinasi wisata. Hehe.

Kampung yang terletak di pinggiran sungai Berantas ini cocok banget buat kalian yang hobinya foto-foto. Tempatnya pas banget buat foto ala-ala instagrammable gitu. Di sisi-sisi temboknya banyak lukisan mural yang motifnya beragam. Warna-warni juga memenuhi tembok dan jalanan setapak gang menuju kampung. Setiap sudut bisa banget buat foto. Saya yang dasarnya suka foto, kalau ada gambar dan warnanya yang menarik dikit pasti langsung berhenti. Cakep dikit..cekrek… hehe.

Padahal dulunya kampung ini terkenal dengan kondisinya yang kumuh. Lalu datanglah sekelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang yang mendorong warga agar mau mempercantik kampung mereka. Maka disulaplah kampung Jodipan ini macam kampung di Rio De Janeiro. Wuih keren kan!

Untuk tiket masuknya pun terbilang murah (banget). Hanya tiga ribu rupiah per orang dan bonus dapet gantungan kunci boneka berbahan flanel. Hitung-hitung cinderamata buat para pengunjung. Gantungan kunci ini bikinan ibu-ibu warga kampung Jodipan. Nah, selain menarik wisatawan perubahan kampung ini juga menumbuhkan geliat ekonomi buat warganya. 

sekarang ada jembatan gantung yang menghubungkan dua kampung, kampung warna warni dan kampung tridi

Wisatawan pun nggak hanya dari Malang, banyak juga yang datang dari luar kota. Ada yang datang sendiri, bareng temen, kelompok ibu-ibu, dan keluarga. Nah, kebetulan banget saya ke sini ngajak pak suami dan tentunya bawa si kecil. Jelas beda lah ya jalan sendiri ama bawa bayi. Rempongnya dua kali lipat haha. Tapi rempong bahagia dong.

Makanya kalau ke sini bawa bayi harus memperhatikan hal-hal ini nih buibu:

1. Waktu

Kami nyampe sini jam 9 pagi. Ternyata udah rame banget karena hari Sabtu. Selain itu panaaaaas jadi nggak bisa dapet foto yang sempurna. Cahaya yang kebanyakan jadi bikin backlight. Jadinya foto berkali-kali di spot favorit nggak bisa paripurna hasilnya. Dan si kecil udah keburu bosen diajakin bundanya selfie mulu haha.

Saran sih kalau ke sini pas weekend lebih baik pagi sekalian. Kisaran jam 6 gitu. Atau sore setelah ashar. Selain masih sepi, bisa dapet spot foto yang bagus.

“aduh, bunda ni foto-foto muluuuu. capek aku tuuu,” kata Akmal haha

2. Pakai Alas Kaki yang Nyaman

Catat ya yang hobi OOTD jangan pernah pakai highheels atau wedgesKarena jalan dari satu gang ke gang lain itu menanjak buk! Banyak tangga mini, berkelok-kelok dan masuk gang-gang sempit.

Saya aja pakai sandal biasa pegel, ditambah harus nggendong bayi. Kalau bisa sih pakai sneakers atau alas kaki yang anti selip.

3. Bawa Nursing Cover

Kalau anak masih menyusu jangan lupa ya bawa nursing cover atau pakai jilbab yang panjang sekalian. Bayi kan nggak bisa diprediksi kapan nyusunya. 

Nah pas ke sini saya lupa dong bawa nursing cover, udah gitu jilbab saya saat itu nggak begitu panjang. Kan jadinya bingung mau menyusui di mana, lha wong banyak pengunjung. Alhasil ya menyusuinya di rumah aja. Untung saya bawa air mineral, jadi saya sodorin aja itu ke bayi. Alhamdulillah mau, tapi ya nggak lama sih lama-lama dia rewel dan ya kita pun cepat-cepat balik.

udah kesiangan, jadi…panaaas

4. Bawa Bekal 

Sejak jalan ama bayi segala perintilan kudu dibawa termasuk cemilan! Iya meski cuman ke wisata yang dekat saya selalu bawa cemilan. Entah biskuit, roti atau buah. Lumayan mengusir kebosanan dia. Hehe.

5. Stroller No, Gendongan Yes

Kalau ke kampung warna warni bawa bayi jangan harap deh pakai stroller. Pasalnya, jalannya macam naik bukit 😂 . Kadang-kadang ada gang yang sempit banget cuman cukup dilewati satu orang. Maka dari itu saya lebih memilih pakai gendongan. Selain ringkas, bayi jadi lebih nyaman digendong.

Nah, kalau di kotamu adakah kampung-kampung unik serupa? Yuk, share! 🙂

6 COMMENTS

  1. asikk yaa mbak jalan-jalan ke kampung warna-warni bersama bayiii. . tempatnyaa juga banyak spot foto yang instagramable gtu 😀 tempat wisata kekinian yg menarik buat dikunjungi 😀 tp harus siap tenaga buat gendong sepanjang perjalanan, salut ibu kuaat 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here