Thursday, December 2, 2021

Inspirasiku

Home Inspirasiku

Belajar Asyik di Kampoeng Sinaoe

Kisahnya bermula pada 2006 silam. Selepas menamatkan kuliahnya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Zamroni kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo. Kala itu dia belum memiliki rencana aktivitas apa-apa. “Yang jelas saya bingung pulang kampung mau ngapain,” kata alumnus Sastra Inggris itu.

Suatu kali dia diminta memberi pelajaran bahasa Inggris kepada seorang anak tetangga yang kala itu masih duduk di bangku SMP. Tanpa pikir panjang, dia menyanggupi. Zamroni hanya berniat membantu saja. Bahkan, soal biaya belum kepikiran saat itu. Ruang tamu di rumah orang tuanya segera disulap menjadi bilik kelas alakadarnya.

Berbekal ilmu yang diperoleh semasa kuliah, papan tulis serta meja bekas, Zamroni mengajar murid pertamanya tanpa menuntut imbalan. Seiring waktu, jasa Zamroni memberi pelajaran bahasa Inggris terdengar para tetangga kanan-kiri. Dari hanya seorang murid, lambat laun jumlahnya terus bertambah. Bahkan anak-anak setingkat TK-SD mulai berdatangan minta dibimbing. Mereka pula yang meminta diajari materi-materi sekolah lainnya, bahkan kursus komputer.

Makin banyaknya calon murid yang datang membuat Zamroni gelagapan. Rumahnya tentu tidak sanggup menampung murid-murid yang ingin belajar. Dia pun meminta ijin ke salah seorang tetangga supaya ruang tamunya boleh dipinjam dan dijadikan ruang kelas. “Ternyata enggak hanya satu orang itu saja yang mau, yang lain malah menawarkan juga rumahnya untuk kelas,” kenang Zamroni.

Total, kini ada 17 kelas yang digunakan untuk kegiatan Kampoeng Sinaoe. Tujuh diantaranya memanfaatkan ruang tamu di rumah-rumah para tetangga. Bahkan, tetangga-tetangganya dengan senang hati menyediakan kamar inap bagi peserta yang datang dari luar Sidoarjo.

Bertambahnya murid mengharuskan Zamroni menambah tenaga pengajar. Sejumlah alumni Kampoeng Sinaoe dia undang untuk bergabung menjadi pendidik. “Mayoritas mereka anak-anak tidak mampu. Saya mendidik mereka agar mandiri dan bermanfaat buat masyarakat,” ujar pria yang selama berkuliah di Malang juga nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda itu.

Tidak hanya menarik para alumni, Zamroni juga membuka lowongan bagi para volunteer asing yang ingin menjadi pengajar bahasa Inggris. Lowongan guru penutur asli itu dibuka setiap dua pekan sekali. “Kami promosi via website. Kadang-kadang lewat omongan teman,” ujar Ida, sang istri. Mereka yang pernah datang sebagai pengajar berasal dari berbagai negara seperti Australia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan lain lain.

Sejak awal Kampoeng Sinaoe dirancang sebagai sekolahan untuk semua kalangan, baik miskin maupun dari keluarga berduit. Zamroni dan Ida tidak menolak siapa pun yang bertandang dan ingin belajar. “Saya enggak narik biaya secara paksa. Sukarela. Ada yang hanya bayar Rp 10 ribu, Rp 20 ribu sebulan. Kalau tidak bisa bayar, ya, tidak masalah,” papar Zamroni.

Kewajiban membayar biaya belajar hanya diperuntukkan bagi murid-muridnya yang berasal dari kalangan keluarga menengah ke atas. “Istilahnya subsidi silang,” tegasnya.

Menjalankan sekolah secara sukarela tentu berisiko terhadap pendapatan yang dia peroleh. Zamroni mengaku kerap mengalami minus pemasukan karena harus mengongkosi kegiatan Kampoeng Sinaoe. “Tapi ya matematikanya Gusti Allah itu beda. Manusia sering lupa kalau sebenarnya Allah sang mahanya pemberi. Ya, alhamdulillah masih bisa buat menggaji guru-guru,” katanya lantas tersenyum.

Kini, jumlah murid di Kampoeng Sinaoe sudah mencapai lima ratusan orang, termasuk mereka yang sudah lulus. Menu yang ditawarkan pun tidak hanya materi pelajaran umum, tetapi juga pendidikan karakter. Sebagai jebolan pondok, dia ingin menyebarkan nilai-nilai yang didapatnya di pesantren, misalnya semangat berbagi ilmu.

Tidak cuma kepada murid-muridnya, pendidikan akhlak juga dia ajarkan kepada para pendidik di Kampoeng Sinaoe. Setiap Selasa dan Rabu malam, dia memberikan kajian budi pekerti kepada para pengajar. “Guru juga menjadi kunci utama agar pendidikan maju. Mereka adalah teladan,” ujarnya.

Baginya, Kampoeng Sinaoe adalah upayanya menjawab atas kritik kondisi pendidikan yang dia anggap kering dari penanaman nilai kejujuran, kesopanan, serta toleransi. “Semuanya melulu diukur dengan angka dan materi. Tidak heran kecurangan dan mau menang sendiri jadi fenomena di sekolah dan bahkan guru juga murid,” tuturnya.

Dia bahkan tidak pernah mendorong murid-muridnya untuk mengikuti ajang kompetisi apapun. Menurutnya persoalan membangun adab dan perilaku lebih penting dibanding urusan menang kalah yang cenderung menjadi ukuran kompetisi, apapun bentuknya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kegigihan Zamroni tidak hanya berjasa menyalakan semangat belajar mengajar di Siwalanpanji. Tanpa disadari, peluang ekonomi perlahan juga muncul di sekitar lokasi Kampoeng Sinaoe yang ditandai munculnya warung-warung yang menyediakan aneka panganan bagi murid-murid. Beberapa rumah juga menyediakan jasa penginapan bagi murid-murid yang berasal dari luar kota seperti Surabaya, Malang, dan Gresik.

Zamroni mengatakan, ingin terus mengembangkan Kampoeng Sinaoe. Kini dia tengah menyusun kurikulum-kurikulum pelajaran yang baru demi memperkaya menu akademik. Ketika ditanya apa yang terus menggerakkannya dirinya, dia hanya menjawab, “Saya mau terus berbagi.”

Tanamkan Jiwa Entrepreneur, Buat Buku Tutorial

Meja Biwara Sakti Pracihara penuh dengan merchandise. Di atasnya perintilan seperti mug, gantungan kunci, tempat tisu, kaos, sumpit hingga maket rombong berwarna oranye cerah dengan merek D’Kafe tertata rapi. “Ini karya-karya siswa saya. Kemarin saat ke Jakarta saya tunjukkan ke juri,” tutur Praci, saat ditemui di rumahnya di daerah Gunung Anyar, Surabaya Sabtu (20/8) lalu.

Praci, sapaan akrab guru desain di SMKN 12 tersebut adalah salah seorang yang lolos dalam ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Dia menjadi juara ke III kategori guru SMK. Karya-karya siswa yang dia tunjukkan menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang dia tanamkan ke para siswanya. Berwirausaha.

Guru yang mengajar di jurusan desain komunikasi visual tersebut membuat buku tutorial. Yakni Pengembangan Pembelajaran Desain Grafis Berbasis Entrepreneurial pada Keahlian Desain Komunikasi Visual. Buku tersebut menjadi pegangan bagi para siswa khususnya untuk jurusan desain komunikasi visual (DKV). Buku setebal 160 halaman itu memberikan ke siswa bagaimana cara berwirausaha yang asyik. Dengan detail, Praci memberikan ilmunya berwirausaha di masa kini. Dia tidak pelit menuangkan idenya dalam berwirausaha, mulai dari pembuatan desain, branding sebuah produk yang dianggap tidak penting hingga menjadi nilai jual, dan mencari relasi yang pas dalam berwirausaha.

Selama ini, sepengamatan pria kelahiran Trenggalek, 31 Juli 1963 tersebut, belum ada buku yang spesifik untuk membimbing siswanya di jurusan DKV. Dia menuturkan, pembekalan wirausaha di sekolah khususnya SMK masih bersifat umum. “Porsinya juga minim sekali. Padahal, prinsipnya SMK kan BMW, yakni Bekerja Melanjutkan Wirausaha,” ujarnya. Keprihatinannya terhadap minimnya materi tersebut untuk siswa, membuat Praci membuat pedoman yang dekat dengan siswa.

Munculnya buku itu juga fenomena yang terjadi di sekolahnya. Lulusan magister seni budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut mengamati, setiap pameran wirausaha di sekolah, siswa selalu menjual makanan. Dari 12 jurusan seni, mayoritas mereka pasti menjual makanan. “Padahal kan banyak sekali potensi yang bisa dijual dari masing-masing jurusan,” katanya. Dia mencontohkan, jurusan kriya kayu yang menonjolkan kesenian produk kayu. “Jika didesain dengan apik pasti bernilai jual,” tuturnya.

Setiap pelajaran, Praci membebaskan siswanya untuk berpikir ‘liar’. Dia juga tak jarang mengajak para siswa turun langsung ke lapangan. Misalnya, langsung diajak ke pasar, kafe, toko maupun mall. “Saya ajak siswa mengamati orang-orang yang berjualan apapun untuk wirausaha mereka,” tutur suami Dian Anggraini tersebut. Tujuannya, untuk mengamati desain produk yang sudah bertebaran di pasaran. Dengan begitu, siswa dapat menghasilkan produk yang berbeda. Kreativitas selalu ditekankan pada para siswanya. Katanya kepada para murid berpikir kreatif adalah ‘roh’ nya jurusan desain. “Saya bilang ke mereka, kowe lek gak kreatif metu o ae,” tegasnya.

Setiap tahun pula, dia mendorong siswanya membuat sebuah proyek besar. Misalnya, pameran wirausaha untuk hasil karya para siswa. Siswa dibagi berdasarkan tugas masing-masing. Ada kelompok dekorasi, desain produk, dan pembagian stan-stan. “Biasanya kami adakan di Balai Pemuda. Mereka harus membuat produk dan memasarkan ke masyarakat,” ujar guru yang telah mengajar selama 31 tahun tersebut. Tema yang diusung pun bebas. “Yang penting membawa konsep kebaruan dan unsur kreatif,” katanya.

Pedoman dalam bukunya dianggap menarik oleh para juri dalam ajang Guru Berprestasi 2016. selama tiga kali berturut-turut dia ikut dalam ajang tersebut. Namun, di tahun ini kali pertamanya lolos hingga tingkat nasional. Dia juara pertama pada tingkat Jawa Timur. Dua tahun sebelumnya, Praci hanya juara ketiga tingkat kota Surabaya. Belum adanya guru kejuruan dari Surabaya yang lolos hingga tingkat nasional mendorongnya untuk terus berpartisipasi dalam ajang tersebut. “Ini jadi motivasi saya, masa tidak ada yang bisa guru kejuruan,” katanya lantas tertawa.

Dengan bukunya, dia berharap siswa dapat membuat proyek wirausaha sungguhan. “Minimal ada penanaman pola pikir bahwa setelah lulus mereka bisa mandiri. Yakni dengan berwirausaha. Tidak hanya melulu mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Belajar Bahasa Isyarat Bersama Akar Tuli Malang

Terlahir nggak sempurna tentu bukan keinginan semua orang. Tapi terkadang takdir berkata lain. Kita nggak bisa meminta Tuhan untuk menjadikan diri kita sesuai dengan yang kita inginkan. Iya kan?

Namun, ada beberapa orang yang terlahir nggak sempurna tadi berusaha untuk terus bangkit. Tidak menyerah pada keadaan dan berlarut dalam kesedihan adalah hal yang mereka coba hindari. Seperti para penyandang tunarungu yang tergabung dalam Komunitas Akar Tuli Malang ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol dengan salah seorang anggotanya. Mereka sangat mengisnpirasi saya. Nah, berikut hasil petikan wawancara saya dengan salah seorang wakil ketua Akar Tuli Malang, Yoga Dirgantara.

1. Apa sih Akar Tuli Malang itu?

Akar Tuli sendiri merupakan kepanjangan dari Aksi Arek Tuli Malang. Komunitas ini awalnya dibentuk oleh seorang mahasiswa penyandang tunarungu bernama Fikri Muhandis, alumni Universitas Brawijaya. Dia menyadari masih adanya perlakuan yang berbeda kepada teman-teman sesama tunarungu.

Mereka menganggap pemuda tuli tidak bisa apa-apa. Padahal, kendala hanya ada pada masalah komunikasi. Sebab, sebagian besar masyarakat belum mengenal dan mengetahui bahasa isyarat.

2.  Kapan mulai terbentuk komunitas Akar Tuli?

Tepat pada Sepetember 2013 komunitas Akar Tuli Malang terbentuk. Fikri, sang founder menggandeng teman-teman dan mengumpulkan sesama mereka untuk membentuk komunitas.

3. Siapa saja yang boleh gabung?

Dari berbagai latar belakang. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru bahkan masyarakat biasa juga turut serta dalam komunitas tersebut. Semua boleh bergabung dalam komunitas ini. Termasuk masyarakat dengar. Biasanya mereka menjadi volunteer kami untuk menerjemahkan bahasa isyarat.

4. Apa saja kegiatan komunitas Akar Tuli?

Kami memberikan pelatihan bahasa isyarat bagi penyandang tuli dan juga volunteer. Sehingga, memudahkan dalam berkomunikasi. Relawan yang bergabung dalam komunitas Akar Tuli juga saling membantu penyandang tuli dalam hal menulis bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab, masih ada beberapa yang menulis dengan terbolak-balik. Jadi kita saling bantu, sehingga seimbang.

Selain itu, kami juga sering mengadakan perform art. Misalnya, dengan menggelar pentas teater atau aksi di hadapan publik. Kegiatan itu berlangsung saat akhir pekan di car free day (CFD).

Di komunitas ini penyandang tunarungu juga bisa mengembangkan kemampuan atau bakat mereka. Salah satunya saat peringatan hari tuli sedunia pada 29 September lalu. Kami melakukan aksi mengingatkan masyarakat dan pemerintah bahwa penyandang tunarungu memiliki hak yang sama.

5. Wah seru ya! Lalu, apa sih tantangannya?

Banyak sih. Ada beberapa orangtua yang masih merasa malu jika memiliki anak tunarungu. Ada juga yang malah menyembunyikan anak mereka dari publik yang membuat semakin tidak percaya diri. Sedih sih sebenernya.

6. Lalu gimana dong menyikapinya?

Ya kita terus mengampanyekan soal keberadaan tunarungu.  kami terus mengingatkan kepada masyarakat awam untuk tidak meremehkan mereka yang tuli. Harusnya kita saling bantu. Saling komunikasi.

7. Saat ini sudah berapa anggota yang bergabung?

Saat ini tercatat sudah ada 60 anggota aktif yang bergabung dalam komunitas Akar Tuli Malang. Mulai dari usia muda hingga tua.

 

Wah, gimana bloggers? Keren kan komunitas ini. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk terus berkarya, meski kita memiliki kekurangan. Mereka aja bisa, masa yang diberi kesempurnaan sama Tuhan menyerah dan gampang galau? Yuk, semangat!

Oya bagi yang mau bergabung dengan Akar Tuli Malang, komunitas ini selain aktif di ranah offline juga aktif di media sosial. Mereka dapat dihubungi melalui Facebook : Akar Tuli Malang atau twitter di @akartuli.

Parenting Ala Ibook Retno Hening: Biasakan Baca Al-Qur’an dan Ajak Ngobrol Bayi Sejak dalam Kandungan

Siapa sih yang nggak kenal Kirana? Bocah bernama lengkap Mayesa Hafsah Kirana ini sudah viral di jagad media sosial sejak empat tahun lalu . Aksinya yang menggemaskan dalam unggahan beberapa video di akun Instagram milik @retnohening telah merebut hati ratusan ribu para netizen. Bahkan, nggak jarang, lho beberapa unggahan videonya mendapat like atau comment dari para artis ibu kota.

Di balik kecerdasan Kirana, ternyata ada sosok Ibu yang juga cerdas dalam mendidik anaknya. Banyak ibu-ibu muda (termasuk saya hehehe) yang terinspirasi gaya parenting ala Ibook Retno ini. Nggak sedikit pula para netizen gadis-gadis yang ingin segera punya anak dan mendidik ala Ibook Retno hehe.

Nah, beberapa waktu lalu Ibook Retno membagikan kisah parenting dan kesehariannya bersama saya melalui surat elektronik. Wah, Ibook makasih banget ya sudah direspon! Yuk, simak wawancara singkatnya berikut ini!

  1. Assalamualaikum, Ibook. Saat ini kesibukan Ibook apa dengan Kirana?

Walaikumsalam mbak. Saya dirumah aja main sama Kirana. Masak dan beresin rumah. Kalo weekend main ketemu temen-temen. Atau kalo ada pengajian jumat suka datang kalo nggak ada halangan.

  1. Setiap pagi apa saja yang Ibook lakukan? Apakah langsung bermain dengan Kirana atau apa?

Pagi nyiapin sarapan untuk suami. Biasanya Kirana masih tidur hehe. Trus lanjut masak untuk siang sambil beberes rumah. Kalo Kirana udah bangun langsung nyuapin dia makan. Lalu lanjut main sama Kirana sambil selesaiin kerjaan rumah hehe…

  1. Apa ada persiapan khusus terkait parenting selama kehamilan Kirana?

Misalnya kayak baca-baca buku parenting gitu ya mbak? Nggak ada kayaknya… huhu. Tapi ada kegiatan pas hamil mbak, saya dulu pengen bayi yang saya kandung dengerin Al Quran. Jadi saya usahakan khatam Al-Quran pas hamil Kirana.

Saya juga sering ajak ngobrol bayi waktu masih dalam kandungan. Waktu hamil Kirana, saya berjauhan dengan suami. Pasti kangen, kan heheee.. jadi saya ajak ngobrol janin supaya nggak kerasa kesepian.

  1. Apa Kirana juga dikenalkan gadget? Sejak usia berapa?

Iya mbak, cuman ya dibatasi. Kirana baru bener-bener pegang smartphone untuk main game gitu usia dua tahunan. Game pertama dia dulu bentuknya puzzle gitu.  Dulu sejak kecil suka saya setelin video-video di Youtube. Tapi udah saya pilihin videonya dan pake lockscreen. Kalo nonton saya usahakan selalu ada di dekat dia dan sambil diajak ngobrol. Jadi fungsinya kayak TV aja. Sampe sekarang dia masih gaptek soal pegang-pegang smartphone. Kalo main game juga ditemenin dan misal kepencet apa gitu dia nggak bisa balikinnya hehehe.

Kirana dibiasakan baca dari bayi. sumber: Intagram @retnohening

 

  1. Sejak usia berapa Kirana dikenalkan bahasa Inggris? Bagaimana mengajar anak bilingual mengingat Ibook tinggal di negeri orang?

Lupa mbak. Tapi kalo lihat-lihat videonya dulu sejak pindah kesini udah mulai dikenalkan. Tapi baru kata benda aja karena buku-buku dia sejak di sini (Oman) berbahasa inggris. Jadi saya suka kenalkan dikit-dikit. Lalu semakin kesini dia kenal sendiri karena tontonannya juga bahasa inggris. Dan temen-temennya yang udah sekolah juga sudah berbahasa inggris. Jadi dia ikutan terbawa pake bahasa inggris gitu. Padahal dia belum bisa, sih haha. Kalo di rumah saya tetap pake bahasa indonesia.

  1. Bagaimana menumbuhkan empati pada Kirana?

Soal empati mungkin karena dari dulu saya terbiasa ngobrol dan bicara apa saja dengan Kirana. Saya berusaha merespon apapun yang dia katakan bahkan sebelum dia bisa bicara. Pokoknya suara yang keluar dari mulutnya saya anggap sebuah komunikasi.

Banyak bahan yang saya obrolin sama Kirana, termasuk misalnya ketika melihat orang dijalan yang lagi kepanasan atau kucing yang lagi cari makanan. Mungkin dari sana juga mbak, mungkin juga karena sering dibacakan buku-buku yang mengandung unsur empati didalamnya. Saya juga di rumah sedikit-sedikit membiasakan Kirana untuk berbagi. Misalnya, menyediakan makanan burung diluar jendela atau sekedar memberi makan ikan. Kegiatan kecil tapi bisa menumbuhkan rasa untuk berbagi dan peduli dari Kirana, mbak..

  1. Bagaimana tantangannya mendidik anak di negeri yang kulturnya berbeda dengan Indonesia? Apa saja sih kesulitannya?

Saya sebenernya sampe sekarang belum menemukan kesulitan. Karena Kirana belum sekolah. Kalo ketemu sama temen-temen di sini juga sama orang Indonesia, temen-temen saya semua orang Indonesia. Jadi di sini Oman rasa Indonesia sebenernya, mbak..hehe.

Meski diberi ‘sakit yang spesial, tapi Kirana tumbuh jadi anak yang ceria! sumber: Instagram @retnohening
  1. Kegiatan yang paling disukai Ibook bersama Kirana apa?

Main kejar-kejaran, main bola dan main masak-masakan….hehe

  1. Bagaimana Ibook dan Ayah mengatur peran dalam mendidik Kirana?

Ayah bermain sama Kirana kalo lagi drumah. Biasanya ngajak Kirana main kalo pas weekend. Misalnya ngajarin berenang, nemenin naik kuda ditaman. Kalo yang kaya gitu kan saya nggak bisa mbak hehee..

  1. Ibuk di Instagram kelihatan kreatif banget mengusir bosan selama mendidik Kirana. Inspirasinya darimana?

Kalo kegiatan suka lihat di internet mbak. Atau dari kegiatan pas ngajar dulu mbak. Atau inget-inget permainan waktu kecil dulu hehehehe.

Nah, jadi gimana ibu-ibu? Bisa banget nih belajar parenting dari Ibook Kirana. Sejak kecil  bahkan sejak dalam kandungan sudah dibiasakan mendengarkan Al-Qur’an. Selain itu, menumbuhkan empati agar peduli pada sekitar dan sesama. Semangat mendidik anak-anak, buibu!

Dewi Nur Aisyah: Kuliah Sambil Berumah tangga? Kenapa Enggak?

Menjadi ibu merupakan sunnatullah. Tetapi, menjadi ibu yang biasa-biasa saja tidak ada dalam kamus Dewi Nur Aisyah. Dewi, sapaan akrabnya, membuktikan bahwa menjadi seorang ibu di usia yang masih terbilang muda tetap dapat berkarya bahkan menginspirasi banyak wanita muslimah di luar sana.

Dewi merupakan salah seorang epidemiologist dari Indonesia. Kini, ia menetap di Inggris bersama keluarga kecilnya di London, Inggris. Ibu satu anak tersebut telah menginspirasi banyak wanita terutama muslimah. Kesuksesannya dalam menjalani karir sebagai seorang ahli kesehatan, seorang ibu muda, istri juga sebagai pelajar menjadikannya panutan bagi banyak muslimah tidak hanya dari Indonesia tetapi juga muslimah dari berbagai negara di tempatnya kini mengemban ilmu.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu dan istri, kini Dewi melanjutkan studi doktoralnya di University College London (UCL). Ia menekuni bidang infectious disease epidemiology and population health. Ibu dari Najwa  Falisha Mehvish itu mendapatkan beasiswa prestisius dari Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI). Dewi lolos seleksi dari ribuan calon pendaftar lainnya dan dilantik langsung oleh Presiden RI, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Sejak awal sebenarnya Dewi berniat untuk menekuni kedokteran. Namun, takdir berkata lain. Ia malah ditempatkan Allah di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. “Saat itu saya berpikir, jika Allah takdirkan saya menimba ilmu di bidang ini, maka saya harus menjadi yg terbaik,” katanya. Dia menuturkan, memang sangat menyukai keilmuan bidang kesehatan. Dirinya pun menyadari masih banyak PR yang harus dikejar dan diperbaiki di bidang tersebut untuk Indonesia.

Meski tidak masuk jurusan yang diinginkannya, namun Dewi tetap berprestasi. Terbukti, ia mampu lulus FKM UI dalam kurun waktu 3,5 tahun dengan nilai cum laude. Ia pun dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi FKMU UI pada 2009 lalu. “Lagi-lagi saya diajarkan, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang saya inginkan”.

Untuk mendalami bidang yang ditekuninya, Dewi pun mengambil studi di luar negeri. Dia melanjutkan studi magisternya di Imperial College London, berbekal Beasiswa Unggulan dari DIKTI. “Saya sengaja sekolah ke LN untuk mengambil ilmu mereka yg sudah sangat jauh di depan dari negara kita. Berharap ilmu itu bisa saya sebarkan lagi di Indonesia,” ujarnya.

Menjalani studi di negeri orang tentu bukan hal mudah. Akan tetapi, Dewi mengaku senang bahwa di London seorang muslim sangat diterima. Dia mengaku, belum pernah mendapatkan tindakan diskriminatif selama tinggal di London. “Sejak pertama saya menjejakkan kaki di London, saya merasakan atmosfer yang hangat, tidak membesar-besarkan perbedaan. Mereka bersikap baik dan ramah kepada siapapun. Bisa jadi karena tingkat pendidikan mereka juga tinggi, mereka lebih terbuka untuk menerima perbedaan yang ada”, tuturnya.

Suatu kali, Dewi pernah ditanya seorang teman kampusnya mengenai makanan. Saat itu ia dan temannya makan di restoran. Namun, Dewi memilih-milih makanan yang sekiranya halal. “Lantas saya ditanya teman, kenapa kamu sangat memilih-milih makanan. Saya jawab saja saya hanya bisa memakan menu yang halal,” terangnya. Dia pun mengatakan, temannya tidak masalah dan mereka malah melanjutkan diskusi.

Selain kesibukannya melanjutkan studi, Dewi juga menyempatkan diri berkarya lewat tulisan. Ia sedang menggarap bukunya yang berjudul ‘Awe-Inspiring Me’. Dewi berharap dengan menuliskan pengalamannya,  ada kebaikan yang bisa dibagi dan tidak hanya disimpan sendiri.

Menjalani berbagai peran, Dewi mengaku bukan hal mudah. Ia juga pernah merasa pada fase lelah dan jenuh. Namun, ia selalu mengingat pesan ibunya. “Kata ibu saya kalau hidup ya capek. Hanya orang meninggal yang tidak merasakan capek.  Maksud beliau, capek itu sudah merupakan sunnatullah (default-nya) dalam kehidupan. Nggak usah menggerutu atasnya, tapi berdoa agar setiap lelah kita bernilai pahala di sisi-Nya.” tutur wanita yang pernah bekerja sebagai Program Development Manager di INDOHUN (Indonesia One Health University Network) tersebut.

Dia meyakini meyakini bahwa tingkat kesuksesan itu sebanding dengan tingkat usaha. “Kalau mau berhasil gemilang ya ikhtiarnya pun harus maksimal. Yang pasti, perjuangan itu dimulai dengan mendisiplinkan diri, mengurangi waktu istirahat, dan mau lebih letih dibanding yg lain. Saat kegagalan menimpa, jangan pernah putus asa. Karena kita tidak pernah tahu di usaha yang keberapa pencapaian itu tercipta” katanya.