Tuesday, October 19, 2021

Inspirasiku

Home Inspirasiku

Pesan Cinta dari Ibu

Masa-masa hamil rasanya memang nggak enak. Kamu banyak istighfar, dzikir sama positif thinking aja. Jangan banyak mengeluh ya. Nanti pengaruh lho ke bayinya.

Ibuk berulangkali mengirim pesan-pesan senada itu lewat WhatsApp. Dan tiap kali baca pesan-pesannya, nggak tahu kenapa rasanya saya jadi lebih tenang. Maklum, ini adalah pengalaman hamil pertama saya. Mood swing kadang membuat saya lebih emosional menanggapi segala sesuatu.

Ditambah, sekarang saya tinggal jauh dari orang tua dan saudara. Apalagi kalau suami harus pergi kerja dan saya harus stay at home… alone. Kadang-kadang membuat saya nelongso. Hehehe… yang terakhir ini lebay, ya?  

Tapi, meski kami berjauhan dan saya sudah berumah tangga, Ibuk nggak pernah lupa menyapa. Tanya kabar, mengingatkan ini dan itu, atau sekadar sharing artikel parenting, rasa-rasanya seperti ada seorang motivator hebat di samping saya.

Ah, Ibuk …

Buat saya, sosok Ibuk nggak akan pernah cukup saya ceritakan di blog ini. Karena momen-momen bersama Ibuk memang nggak terhitung banyaknya. Mulai saat saya masih di dalam kandungan, saat dia mengasuh saya sedari kecil, menyekolahkan, sampai mengantar saya ke gerbang pernikahan dan seterusnya, rasa sayang Ibuk kayaknya nggak ada habis-habisnya.

Simpelnya, Ibuk adalah salah satu inspirator dalam hidup saya. Lewat sikapnya sehari-hari, banyak sekali yang dia ajarkan ke kami, keempat anaknya. Saya ingin menulis beberapa di antaranya.

  • Pemimpi dan Semangat Tinggi

Ya, Ibuk adalah orang yang banyak sekali keinginannya. Dan itu menurun ke saya. Hehehe… Dan kalau sudah punya cita-cita, dia susah sekali dihalangi.

Kalau kamu pengen sesuatu, jangan ragu! Jalan terus dan wujudkan! Karena Allah selalu mendengar kata hati hambanya.” Begitu kata Ibuk setiap kali mimpi kami, anak-anaknya, rasa-rasanya nggak bakalan deh bisa terwujud.

Saya ingat banget waktu pertama kali Ibuk bilang, “Ibuk mau bikin sekolah TK yang bakal Ibuk kelola sendiri!”

Kami sekeluarga jelas kaget, dong. Pasalnya, saat itu Ibuk sudah mengajar di salah satu TK. Ngapain lagi harus bikin sekolah? “Ya pokoknya Ibuk pengen punya sekolah sendiri. Buat investasi akhirat juga,” tegas Ibuk menggebu-gebu.

Dimulailah usaha Ibuk mewujudkan mimpinya. Dia sendiri yang keliling cari-cari kontrakan buat dijadikan gedung sekolah. Di sela-sela urusannya, Ibuk sendiri yang bikin catatan konsep sekolah impiannya. Saat-saat itu, nyaris setiap obrolan di rumah nggak jauh-jauh dari seputar sekolah yang dia gagas itu. 😀

Akhirnya tahun 2000, nggak sampai setahun sejak impian Ibuk dimulai, sekolah mini itu pun benar-benar terwujud! Ibuk mendirikan sekolah PAUD yang dia beri nama TK Cahaya Ananda. Lokasinya masih dalam komplek, nggak jauh dari rumah.

Saya melihat sendiri banyak sekali hambatan yang Ibuk lalui demi mewujudkan impiannya yang satu ini. Mulai dari menabung, mengurus perijinan sekolah yang ribet, cari-cari guru yang cocok, sampai repotnya mencari siswa baru. Kerepotan masih bertambah saat gedung sekolah mesti pindah gara-gara kontrak rumah nggak boleh diperpanjang. Fiuhhh …

Tapi Ibuk orang yang selalu optimis. Dia juga jarang sekali mengeluh. Sikapnya itu juga yang membuat saya makin berani bercita-cita.

 

  • Enerjik dan Ceria

Di usianya yang sudah lebih dari separuh abad (55 tahun), setiap hari Ibuk masih tampak bersemangat dan ceria. Maklum, guru TK kumpulnya bareng bocah-bocah melulu. Hehehe …

Kalau sudah mengajar, Ibuk ikut larut dengan tingkah polah puluhan balita. Ikut menyanyi, menari, dan bercanda dengan mereka. Nggak  jarang kalau ada di antara anak-anak itu pipis di celana, Ibuk yang repot membersihkan. Saya membayangkan kalau saya jadi Ibuk, mungkin males banget kali, ya. Hehehe …

“Ibuk nggak capek ngurusin anak orang sebanyak itu?” tanya saya suatu kali.

“Ah, enggak. Dibawa enjoy aja. Anak-anak itu lucu-lucu, Ibuk sering dibikin ketawa kok. Jadi bikin awet muda, hahaha,” jawabnya.

Dari pengalaman Ibuk bersama bocah-bocahnya, saya belajar bagaimana menikmati hidup yang kadang-kadang terasa ruwet. 🙂

  • Dermawan dan Relijius

Ibuk suka sekali memberi kepada siapa pun. Orang Jawa bilang loman, nggak pelit. Mau ke anak, suami, menantu, tetangga, bahkan orang yang nggak dia kenal, Ibuk nggak segan-segan membantu dan kasih sesuatu.

Misalnya nih, baru aja beli tas atau baju baru… eeeh malah dikasih ke orang lain. Entah ke temannya atau asisten rumah tangga yang biasanya bantu-bantu nyuci baju di rumah.

“Lho, Buk itu kan masih baru? Kok dikasih ke orang, sih?” protes saya.

“Ya justru kalau ngasih ke orang itu yang baru. Masa yang bekas?” cetus Ibuk.

Hmmm… Ibuk… Ibuk… saya cuma geleng-geleng kepala. 😀

Ibuk juga termasuk taat soal agama. Dia nggak pernah lupa mengingatkan anak-anaknya salat tepat waktu. Selain itu dia juga menuntut anak-anaknya menghafal Qur’an. “Ayo, jangan lupa ditambah hafalan Qur’an-nya. Buat bekal, lho”katanya berulang kali.

Well, She’s such a wonderful and powerful mom! I feel very blessed having her. That’s why I love her so much. Makanya, saya ingin kasih hadiah buat dia.

Rasanya handphone baru bakal jadi hadiah yang cocok buat dia. Pasalnya, selama ini handphone miliknya boleh dibilang ‘jadul’. Gimana nggak jadul kalau semua handphone yang pernah dia punya adalah lungsuran dari Bapak? 😀

“Yang penting mah masih bisa buat SMS, telpon, sama buat internetan!” katanya.

Memang sih handphone kepunyaannya masih bisa dipakai. Tapi kalau nuruti kegemaran Ibuk yang doyan banget jepret sana jepret sini di sekolah bareng bocah-bocah, kamera handphone Ibuk jelas nggak mendukung. Kan sayang kalau gambarnya ngeblur. Hehe …

Lagian kalau Ibuk punya handphone baru, siapa tahu dia jadi lebih sering nelpon. Hahaha …

Semoga kalau nanti saya ada rejeki bisa kasih hadiah kejutan buat Ibuk. Doakan, ya!

 

*PS: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia.   

Belajar Asyik di Kampoeng Sinaoe

Kisahnya bermula pada 2006 silam. Selepas menamatkan kuliahnya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Zamroni kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo. Kala itu dia belum memiliki rencana aktivitas apa-apa. “Yang jelas saya bingung pulang kampung mau ngapain,” kata alumnus Sastra Inggris itu.

Suatu kali dia diminta memberi pelajaran bahasa Inggris kepada seorang anak tetangga yang kala itu masih duduk di bangku SMP. Tanpa pikir panjang, dia menyanggupi. Zamroni hanya berniat membantu saja. Bahkan, soal biaya belum kepikiran saat itu. Ruang tamu di rumah orang tuanya segera disulap menjadi bilik kelas alakadarnya.

Berbekal ilmu yang diperoleh semasa kuliah, papan tulis serta meja bekas, Zamroni mengajar murid pertamanya tanpa menuntut imbalan. Seiring waktu, jasa Zamroni memberi pelajaran bahasa Inggris terdengar para tetangga kanan-kiri. Dari hanya seorang murid, lambat laun jumlahnya terus bertambah. Bahkan anak-anak setingkat TK-SD mulai berdatangan minta dibimbing. Mereka pula yang meminta diajari materi-materi sekolah lainnya, bahkan kursus komputer.

Makin banyaknya calon murid yang datang membuat Zamroni gelagapan. Rumahnya tentu tidak sanggup menampung murid-murid yang ingin belajar. Dia pun meminta ijin ke salah seorang tetangga supaya ruang tamunya boleh dipinjam dan dijadikan ruang kelas. “Ternyata enggak hanya satu orang itu saja yang mau, yang lain malah menawarkan juga rumahnya untuk kelas,” kenang Zamroni.

Total, kini ada 17 kelas yang digunakan untuk kegiatan Kampoeng Sinaoe. Tujuh diantaranya memanfaatkan ruang tamu di rumah-rumah para tetangga. Bahkan, tetangga-tetangganya dengan senang hati menyediakan kamar inap bagi peserta yang datang dari luar Sidoarjo.

Bertambahnya murid mengharuskan Zamroni menambah tenaga pengajar. Sejumlah alumni Kampoeng Sinaoe dia undang untuk bergabung menjadi pendidik. “Mayoritas mereka anak-anak tidak mampu. Saya mendidik mereka agar mandiri dan bermanfaat buat masyarakat,” ujar pria yang selama berkuliah di Malang juga nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda itu.

Tidak hanya menarik para alumni, Zamroni juga membuka lowongan bagi para volunteer asing yang ingin menjadi pengajar bahasa Inggris. Lowongan guru penutur asli itu dibuka setiap dua pekan sekali. “Kami promosi via website. Kadang-kadang lewat omongan teman,” ujar Ida, sang istri. Mereka yang pernah datang sebagai pengajar berasal dari berbagai negara seperti Australia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan lain lain.

Sejak awal Kampoeng Sinaoe dirancang sebagai sekolahan untuk semua kalangan, baik miskin maupun dari keluarga berduit. Zamroni dan Ida tidak menolak siapa pun yang bertandang dan ingin belajar. “Saya enggak narik biaya secara paksa. Sukarela. Ada yang hanya bayar Rp 10 ribu, Rp 20 ribu sebulan. Kalau tidak bisa bayar, ya, tidak masalah,” papar Zamroni.

Kewajiban membayar biaya belajar hanya diperuntukkan bagi murid-muridnya yang berasal dari kalangan keluarga menengah ke atas. “Istilahnya subsidi silang,” tegasnya.

Menjalankan sekolah secara sukarela tentu berisiko terhadap pendapatan yang dia peroleh. Zamroni mengaku kerap mengalami minus pemasukan karena harus mengongkosi kegiatan Kampoeng Sinaoe. “Tapi ya matematikanya Gusti Allah itu beda. Manusia sering lupa kalau sebenarnya Allah sang mahanya pemberi. Ya, alhamdulillah masih bisa buat menggaji guru-guru,” katanya lantas tersenyum.

Kini, jumlah murid di Kampoeng Sinaoe sudah mencapai lima ratusan orang, termasuk mereka yang sudah lulus. Menu yang ditawarkan pun tidak hanya materi pelajaran umum, tetapi juga pendidikan karakter. Sebagai jebolan pondok, dia ingin menyebarkan nilai-nilai yang didapatnya di pesantren, misalnya semangat berbagi ilmu.

Tidak cuma kepada murid-muridnya, pendidikan akhlak juga dia ajarkan kepada para pendidik di Kampoeng Sinaoe. Setiap Selasa dan Rabu malam, dia memberikan kajian budi pekerti kepada para pengajar. “Guru juga menjadi kunci utama agar pendidikan maju. Mereka adalah teladan,” ujarnya.

Baginya, Kampoeng Sinaoe adalah upayanya menjawab atas kritik kondisi pendidikan yang dia anggap kering dari penanaman nilai kejujuran, kesopanan, serta toleransi. “Semuanya melulu diukur dengan angka dan materi. Tidak heran kecurangan dan mau menang sendiri jadi fenomena di sekolah dan bahkan guru juga murid,” tuturnya.

Dia bahkan tidak pernah mendorong murid-muridnya untuk mengikuti ajang kompetisi apapun. Menurutnya persoalan membangun adab dan perilaku lebih penting dibanding urusan menang kalah yang cenderung menjadi ukuran kompetisi, apapun bentuknya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kegigihan Zamroni tidak hanya berjasa menyalakan semangat belajar mengajar di Siwalanpanji. Tanpa disadari, peluang ekonomi perlahan juga muncul di sekitar lokasi Kampoeng Sinaoe yang ditandai munculnya warung-warung yang menyediakan aneka panganan bagi murid-murid. Beberapa rumah juga menyediakan jasa penginapan bagi murid-murid yang berasal dari luar kota seperti Surabaya, Malang, dan Gresik.

Zamroni mengatakan, ingin terus mengembangkan Kampoeng Sinaoe. Kini dia tengah menyusun kurikulum-kurikulum pelajaran yang baru demi memperkaya menu akademik. Ketika ditanya apa yang terus menggerakkannya dirinya, dia hanya menjawab, “Saya mau terus berbagi.”

Sri Sedyaningrum, Pendiri Sekolah Inklusi Pertama di Surabaya

PAGI itu berjalan seperti pagi-pagi yang lain bagi Sri Sedyaningrum. Dia berkeliling sekolah, menyapa para murid dan guru. Bahkan, kepada petugas kebersihan sekolah sekalipun. “Selamat pagi, Pak Surya,” sapanya kepada salah seorang petugas kebersihan di halaman sekolah. Yang disapa menjawab. Intonasinya lambat. Terkadang, matanya tidak fokus saat diajak berbicara. “Pak Surya ini salah satu murid kami dulu,” ujar Ningrum, sapaan akrab Sri Sedyaningrum.

Ningrum menuturvkan, mantan siswanya tersebut termasuk penyandang autis. ”Pertama datang ke sini masih usia sekolah dasar. Nangis-nangis dan tidak mau lepas dari ibunya,” kenang perempuan kelahiran Madiun, 14 April 1961, tersebut. Dengan tangan terbuka, Ningrum mau menerima Surya sebagai siswanya.

Proses tumbuh kembang Surya tidak seperti anak pada umumnya. Dia sulit berkomunikasi dengan orang. ”Saat teman-temannya bernyanyi, dia hanya diam di pojokan. Asyik sendiri,” kisahnya. Namun, lambat laun Surya mengalami perubahan. Dia mulai dapat mengatur emosinya. Bahkan, kini dapat bekerja tanpa bantuan orang lain.

Surya adalah seorang di antara ratusan siswa yang bersekolah di Galuh Handayani. Sekolah itu didirikan Ningrum karena kegundahan dirinya pada 21 tahun silam.

Kala itu, ’80-an, Ningrum adalah guru. Dunia pendidikan telah menjadi rohnya. Tempat dia pertama mengajar adalah salah satu SD di Kalimas. Mayoritas siswanya adalah anak kuli pengolah kopra.

Di sekolah tersebut, Ningrum menemui banyak anak yang kekurangan gizi. Ruang kelas pun seadanya. Kondisi itu memengaruhi anak. “Mereka jadi lambat dalam menerima pelajaran,” kenangnya.

Lalu, setahun berikutnya, Ningrum mengajar di sekolah elite. Tentu situasi yang dihadapi Ningrum begitu berbeda. 180 derajat! Sebagian murid berasal dari kalangan menengah ke atas.

Namun, problem masih ada. Beberapa siswa punya masalah dalam tumbuh kembang. “Ada siswa yang sangat aktif, tetapi ada juga yang lambat sekali belajar,” kenang lulusan SPG Santa Maria Surabaya tersebut. Namun, banyak orang tua yang tidak terlalu memperhatikan anaknya. Akibatnya, mereka yang terganggu tumbuh kembangnya mendapat masalah di sekolah. Misalnya, bullying atau bahkan permintaan sekolah agar sang siswa dipindahkan ke institusi pendidikan lain.

Ningrum galau. Sebab, banyak orang tua yang malah tidak menyekolahkan anaknya lantaran si buah hati ditolak di mana-mana. “Hanya dikurung di rumah. Ini kasihan,” ungkapnya. Pada waktu itu, tekadnya hanya satu. Yakni, ingin merangkul mereka yang dianggap bermasalah di mata masyarakat.

Lantas, tepat pada 1995, Ningrum membuka sekolah dasar khusus. “Tujuannya menerima semua siswa yang ditolak di mana pun dan mendidik mereka,” ujar istri Prastiyono itu.

Sekolah dasar khusus itu awalnya dinamai Maria Montessori. Nama tersebut merujuk pada Maria Tecla Artemisia Montessori. Perempuan Italia kelahiran 1870 itu adalah ahli fisika sekaligus pendidik yang terkenal akan filosofi pendidikannya.

SD besutan Ningrum awalnya menerima sembilan siswa. Mereka datang dari beberapa siswanya dahulu. “Ada juga yang dari mulut ke mulut. Mereka datang ke saya karena putus asa mau menyekolahkan anak mereka di mana,” paparnya. Sembilan siswanya memiliki karakter yang berbeda. Mulai autis, slow learner, hiperaktif, hingga cerebral palsy.

Mereka dikumpulkan dalam satu kelas secara bersamaan. Ningrum tidak membedakan antara siswa satu dan yang lain. Menurut dia, semua anak istimewa dan tidak ada yang bodoh. “Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan. Jadi, tidak ada diskriminasi,” ungkap ibu beranak tiga tersebut. Pada saat itu, Ningrum belum mengetahui bahwa ternyata dirinya menerapkan konsep inklusif. “Yang penting, saya menyediakan akses pendidikan bagi mereka yang butuh penanganan khusus,” tuturnya.

Para siswa istimewa itu dikumpulkan dengan siswa bimbingan belajar (bimbel) yang dia dirikan sebelumnya. Sistemnya, dia memberikan pelajaran yang sama dengan siswa reguler. Namun, porsinya berbeda. “Kalau siswa slow learner, saya memberikan materi sedikit saja, tetapi banyak istirahatnya. Kalau dipaksakan, mereka malah stres,” tuturnya. Sebab, dalam menyerap materi, mereka mengalami keterlambatan. “Kalau belajar, lama sekali. Jadi, harus diulang-ulang,” katanya.

Dalam pembelajaran di kelas, dia dibantu guru-guru bimbel binaannya. “Alhamdulillah, mereka mau membantu,” ungkapnya. Guru-guru tersebut mengajar masing-masing satu siswa dan diminta untuk memilih mengajari siswa yang mana. Maksudnya bisa lebih fokus, tetapi ternyata tidak efektif. Akhirnya, sistem itu dia ubah sebaliknya. Para siswa yang memilih guru mereka. Cara tersebut dia seling-seling agar proses belajar-mengajar tidak membosankan.

Selain belajar di dalam kelas, Ningrum membawa anak didiknya untuk belajar di luar kelas. Misalnya, dengan membawa mereka ke kebun binatang, Monumen Kapal Selam, atau bahkan ke Kebun Bibit. “Sebisa mungkin membuat suasana mereka nyaman. Di kelas saja akan membuat mereka tertekan,” katanya. Pada waktu itu, konsep tersebut masih jarang diterapkan.

Rumah kontrakan menjadi tempat pertama Ningrum membuka sekolah khusus tersebut. Rumah seluas 350 meter persegi itu dia sulap menjadi sekolah mini. Di dalamnya terdapat enam ruang kelas. “Tiga ruang di lantai bawah dan tiga ruang di atas,” jelasnya. Di lantai bawah juga tersedia satu ruang mirip hall. Bagian tersebut dia gunakan sebagai pusat berkumpulnya para siswa. Dia menambahkan, rumah itu dijual murah kepadanya lantaran bekas orang yang pernah melakukan bunuh diri. “Saya ya tidak tahu sebelumnya, tahunya pas sudah menempati. Pas tahu murah, ya saya ambil. Lha wong saya ini bukan orang kaya, hanya guru,” tuturnya.

Dari yang sembilan siswa, jumlahnya terus meningkat. Dalam waktu satu tahun siswanya menjadi 72 orang. Yang datang bukan hanya siswa yang lambat belajar, tetapi juga yang memiliki problem dengan keluarga dan lingkungan.

Misalnya, ada kasus anak korban perceraian orang tua, lalu lepas dari pengawasan yang membuat anak tersebut lepas kendali. “Waktu itu dia masih di bangku sekolah dasar, tetapi sudah bergaul dengan kelompok yang tidak baik. Dia juga sudah mengenal seks bebas,” ungkapnya. Menurut dia, pihak orang tua sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. “Banyak orang tua yang memiliki masalah, tetapi tidak sadar hal itu membawa dampak buruk bagi anak mereka. Anak menjadi korban,” tuturnya. Untuk itu, pendekatan secara personal kepada orang tua juga dilakukan Ningrum dalam rangka membantu kesembuhan siswa.

Penanganan juga tidak hanya dengan guru. Ningrum merasa mendapatkan pertolongan dari Tuhan. “Ada saja yang menawarkan diri untuk bergabung dengan saya. Misalnya, dari lulusan psikologi. Ada juga yang lulusan okupasi terapi,” ungkapnya. Mereka menjadi terapis bagi anak-anak berkebutuhan khusus itu.

Seiring berjalannya waktu, rumah kontrakan di daerah Pucang semakin sesak. Ningrum lagi-lagi serasa mendapatkan bantuan dari Tuhan. Dia memperoleh rekomendasi dari wali muridnya untuk gedung sekolah yang baru. Ningrum pun memindahkannya ke kawasan Manyar. “Nama yang awalnya Maria Montessori akhirnya diubah menjadi Galuh Handayani. Supaya lebih terdengar Indonesia,” ujarnya tersenyum.

Perempuan berhobi menari itu menjelaskan, tidak ada batasan kuota dalam menampung siswa. Sebab, sistemnya semua anak diterima. “Prinsipnya tidak boleh menolak siswa. Kalaupun yang mendaftar lebih, akan dibuka kelas baru,” tegasnya. Namun, sebelumnya Ningrum melakukan assessment kepada siswa yang ingin mendaftar. “Tujuannya menentukan perlakuan yang sesuai untuk mereka. Jadi, tidak asal,” paparnya.

Dia mencontohkan, jika termasuk hiperaktif super, siswa itu akan ditangani dokter lebih dahulu. Dokter bertugas untuk menangani segi medis. “Misalnya, diberi obat supaya menurunkan emosinya,” kata Ningrum. Jika sudah agak reda emosinya, pembelajaran di sekolah dapat dilanjutkan.

Beragam cerita terukir dalam lembaran kehidupan Ningrum sejak mendirikan sekolah berkonsep inklusif. Mulai pengalaman lucu, terharu, hingga menyayat hati. “Macam-macam ceritanya. Kalau diingat, jadi suka senyum sendiri,” katanya.

Misalnya, ada siswa hiperaktif yang suka usil kepada teman dan para guru. “Bahkan, genting sampai dia pecahkan,” ujarnya, lalu tersenyum. Lalu, ada pula siswa yang mengalami penurunan IQ secara drastis. “Padahal, dia lulusan master of business administration (MBA), lantas dia dimasukkan ke college,” tuturnya.

Setelah dia telusuri, faktor masalah tersebut ada pada orang tua. Ningrum menceritakan, ada perlakuan yang amat berbeda pada siswa itu. “Kebetulan siswa saya ini anak kedua. Kakaknya selalu dipuji dan mendapat perlakuan lebih dari orang tua. Hal itu membuatnya stres,” paparnya.

Program college tersebut merupakan sekolah transisi bagi mereka yang sekolahnya putus di tengah jalan. Mereka diberi pembekalan life skill. Misalnya, memasak, menulis cerpen, menyanyi, dan yang berkaitan dengan bekal untuk mereka agar mandiri. “Alhamdulillah, banyak siswa kami yang sudah lulus dan sukses. Saya senang sekali melihatnya,” tuturnya.

Berkat konsep inklusifnya, Ningrum pernah mendapat berbagai penghargaan. Misalnya, di Tut Wuri Handayani Award pada 1996 dan dinobatkan sebagai Tokoh Inklusif Indonesia oleh Dirjen Dikdasmen Kemendikbud pada 2008. Dia mengakui tidak pernah mengenyam pendidikan khusus inklusif di perguruan tinggi. “Semuanya saya pelajari learning by doing,” katanya.

Tetapi, dia rajin mengikuti segala jenis pelatihan terkait pendidikan anak. “Saya sempat mengikuti short course dari Vancouver Island University soal disabilitas,” ungkapnya. Selama lima tahun dia mempelajari bidang itu.

Kini siswa sekolah Galuh Handayani mencapai 250 orang. Mereka berasal dari semua jenjang, mulai TK hingga college. Bukan hanya dari Surabaya, melainkan juga seluruh Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Kalimantan, dan Jakarta. “Sekali lagi, menolak siswa adalah hal yang haram. Kami merangkul semua siswa,” katanya. Ke depan, Ningrum juga ingin menjadikan sekolahnya sebagai pusat pelatihan tenaga pendidik bagi sekolah konsep inklusif.

Berawal Dari Iseng, Jadi Bisnis Menguntungkan

Salah satu elemen interior yang paling dibutuhkan adalah bantal. Selain sebagai penyangga pelepas penat, produk satu ini juga dapat mempercantik ruang tamu, kamar atau bahkan kantor. Apalagi, jika bantal tersebut memiliki motif dan warna yang unik. Melihat hal tersebut, Aini Hanifa menangkap peluang menjadikannya sebuah bisnis bantal unik.

Talky Pillow adalah brand bantal unik milik perempuan yang biasa disapa Aini tersebut. Bisnis yang bermula dari ketidaksengajaan  itu malah mendatangkan rezeki tidak hanya bagi diri Aini tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Aini mengaku, pembuatan produk bantal miliknya berawal saat dirinya masih berada di bangku kuliah. Saat itu dirinya mendapat tugas untuk memproduksi sebuah elemen interior yang kemudian harus dijual dan dipasarkan sendiri.

“Berhubung masih mahasiswa, kantong pas-pasan saya waktu itu nggak mampu kalau harus produksi furniture seperti teman-teman yang lain. Tapi saya ingat saya bisa menjahit jadi saya pikir elemen interior yang bisa dibuat dengan tangan sendiri ya bantal, produksi murah tapi menjual,” ungkapnya. Dia mengungkapkan, hanya membutuhkan modal sebesar dua ratus ribu rupiah saat pertama kali memulai projectnya.

Perempuan kelahiran Perancis, 27 Juli  tersebut mengaku pada awalnya tidak berniat untuk menyeriusi bisnis bantal buatannya. Namun, rupanya pesanan dari berbagai arah berdatangan. “Ternyata teman-teman saya pada suka sama desainnya. Mereka pun banyak yang pesan dan minta dibuatkan sesuai keinginan mereka,” tutur Aini. Hal itulah yang mengubah pikiran Aini untuk melanjutkan dan mengambangkan usahanya tersebut.

Lulusan Jurusan Desain Interior, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya tersebut semakin melebarkan sayap atas usaha bantal uniknya. Tidak hanya dari kalangan teman-teman sekitarnya, tetapi bisnis yang kini telah berjalan selama empat tahun itu sudah merambah hingga pasar internasional. Dia mengungkapkan, telah bekerja sama dengan beberapa mall di Singapura dan Korea. Selain itu, telah memiliki pelanggan tetap dari Sabang hingga Merauke.

Keunikan dari produk milik Aini ada pada desainnya. Para pelanggan dapat meminta desain secara custom dengan kata-kata maupun gambar ilustrasi wajah yang dapat di pesan secara satuan. Dia pun menjahit produknya sendiri. Kini, Aini telah memiliki beberapa pegawai. Anak ke dua dari tiga bersaudara itu mengatakan, usaha yang dia jalani untuk menciptakan lapangan pekerjaan karena cukup prihatin dengan tingginya jumlah sarjana yang menjadi pengangguran. “Selain itu supaya apabila nanti sudah berkeluarga saya bisa punya banyak waktu untuk mengurus keluarga, karena tidak perlu bekerja kantoran,” tegasnya.

Selain berbisnis, rupanya Aini juga doyan travelling. Dia mengaku hobi jalan-jalan baik sendiri maupun mengajak teman. Tapi siapa sangka, hobinya tersebut justru lagi-lagi mendatangkan rezeki. “Dulunya sekedar hobi saja yang nggak sengaja kini menjadi profesi sampingan yakni travel blogger dan fotografer. Siapa sih yang nggak bahagia kalau dibayar untuk melakukan sesuatu yang disukai?” cetusnya. Dari pengalamannya, Aini selalu meyakinkan teman-temannya untuk selalu melakukan apa yang mereka suka dengan sungguh-sungguh. “Karena menurut saya hidup tanpa passion itu hanya sekedar aktivitas pemenuhan kebutuhan minimal,” tegasnya.

Sibuk sebagai pengusaha muda tidak lantas melupakan Aini sebagai seorang muslimah sejati. Menurutnya, seorang muslimah sah-sah saja menjalani karir atau profesi yang dia tekuni. Asal, tetap menyadari kodrat wanita sebagai ibu dan istri. “Saya sadar penuh bahwa kodrat wanita muslim yang baik jika sudah menikah nanti adalah melayani keluarga. Tapi, tetap perlu bagi wanita untuk menjadi mandiri, berpendidikan tinggi, dan terus berkarya,” tuturnya.

Kesuksesannya menjalani bisnis diungkapkan Aini tidak lepas dari peran orangtua. Tetapi, Aini selalu meyakinkan dirinya dan melakukan keinginan kuat untuk mengubah keadaan yang tidak nyaman menjadi lebih baik. “Tentu diperlukan disiplin dari dalam diri untuk menyelesaikan langkah-langkah kecil setiap harinya untuk menuju tujuan yang besar” katanya.

Baginya kunci kesuksesan dalam berbisnis sejak muda adalah kemauan yang kuat dan jangan mudah menyerah. “Intinya, segera dimulai aja. Start small, with all your heart and what you have. Ikuti prinsip learning by doing dan yang penting konsisten aja,” tuturnya.

Dewi Nur Aisyah: Kuliah Sambil Berumah tangga? Kenapa Enggak?

Menjadi ibu merupakan sunnatullah. Tetapi, menjadi ibu yang biasa-biasa saja tidak ada dalam kamus Dewi Nur Aisyah. Dewi, sapaan akrabnya, membuktikan bahwa menjadi seorang ibu di usia yang masih terbilang muda tetap dapat berkarya bahkan menginspirasi banyak wanita muslimah di luar sana.

Dewi merupakan salah seorang epidemiologist dari Indonesia. Kini, ia menetap di Inggris bersama keluarga kecilnya di London, Inggris. Ibu satu anak tersebut telah menginspirasi banyak wanita terutama muslimah. Kesuksesannya dalam menjalani karir sebagai seorang ahli kesehatan, seorang ibu muda, istri juga sebagai pelajar menjadikannya panutan bagi banyak muslimah tidak hanya dari Indonesia tetapi juga muslimah dari berbagai negara di tempatnya kini mengemban ilmu.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu dan istri, kini Dewi melanjutkan studi doktoralnya di University College London (UCL). Ia menekuni bidang infectious disease epidemiology and population health. Ibu dari Najwa  Falisha Mehvish itu mendapatkan beasiswa prestisius dari Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI). Dewi lolos seleksi dari ribuan calon pendaftar lainnya dan dilantik langsung oleh Presiden RI, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Sejak awal sebenarnya Dewi berniat untuk menekuni kedokteran. Namun, takdir berkata lain. Ia malah ditempatkan Allah di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. “Saat itu saya berpikir, jika Allah takdirkan saya menimba ilmu di bidang ini, maka saya harus menjadi yg terbaik,” katanya. Dia menuturkan, memang sangat menyukai keilmuan bidang kesehatan. Dirinya pun menyadari masih banyak PR yang harus dikejar dan diperbaiki di bidang tersebut untuk Indonesia.

Meski tidak masuk jurusan yang diinginkannya, namun Dewi tetap berprestasi. Terbukti, ia mampu lulus FKM UI dalam kurun waktu 3,5 tahun dengan nilai cum laude. Ia pun dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi FKMU UI pada 2009 lalu. “Lagi-lagi saya diajarkan, bahwa rencana-Nya jauh lebih baik dari apa yang saya inginkan”.

Untuk mendalami bidang yang ditekuninya, Dewi pun mengambil studi di luar negeri. Dia melanjutkan studi magisternya di Imperial College London, berbekal Beasiswa Unggulan dari DIKTI. “Saya sengaja sekolah ke LN untuk mengambil ilmu mereka yg sudah sangat jauh di depan dari negara kita. Berharap ilmu itu bisa saya sebarkan lagi di Indonesia,” ujarnya.

Menjalani studi di negeri orang tentu bukan hal mudah. Akan tetapi, Dewi mengaku senang bahwa di London seorang muslim sangat diterima. Dia mengaku, belum pernah mendapatkan tindakan diskriminatif selama tinggal di London. “Sejak pertama saya menjejakkan kaki di London, saya merasakan atmosfer yang hangat, tidak membesar-besarkan perbedaan. Mereka bersikap baik dan ramah kepada siapapun. Bisa jadi karena tingkat pendidikan mereka juga tinggi, mereka lebih terbuka untuk menerima perbedaan yang ada”, tuturnya.

Suatu kali, Dewi pernah ditanya seorang teman kampusnya mengenai makanan. Saat itu ia dan temannya makan di restoran. Namun, Dewi memilih-milih makanan yang sekiranya halal. “Lantas saya ditanya teman, kenapa kamu sangat memilih-milih makanan. Saya jawab saja saya hanya bisa memakan menu yang halal,” terangnya. Dia pun mengatakan, temannya tidak masalah dan mereka malah melanjutkan diskusi.

Selain kesibukannya melanjutkan studi, Dewi juga menyempatkan diri berkarya lewat tulisan. Ia sedang menggarap bukunya yang berjudul ‘Awe-Inspiring Me’. Dewi berharap dengan menuliskan pengalamannya,  ada kebaikan yang bisa dibagi dan tidak hanya disimpan sendiri.

Menjalani berbagai peran, Dewi mengaku bukan hal mudah. Ia juga pernah merasa pada fase lelah dan jenuh. Namun, ia selalu mengingat pesan ibunya. “Kata ibu saya kalau hidup ya capek. Hanya orang meninggal yang tidak merasakan capek.  Maksud beliau, capek itu sudah merupakan sunnatullah (default-nya) dalam kehidupan. Nggak usah menggerutu atasnya, tapi berdoa agar setiap lelah kita bernilai pahala di sisi-Nya.” tutur wanita yang pernah bekerja sebagai Program Development Manager di INDOHUN (Indonesia One Health University Network) tersebut.

Dia meyakini meyakini bahwa tingkat kesuksesan itu sebanding dengan tingkat usaha. “Kalau mau berhasil gemilang ya ikhtiarnya pun harus maksimal. Yang pasti, perjuangan itu dimulai dengan mendisiplinkan diri, mengurangi waktu istirahat, dan mau lebih letih dibanding yg lain. Saat kegagalan menimpa, jangan pernah putus asa. Karena kita tidak pernah tahu di usaha yang keberapa pencapaian itu tercipta” katanya.