Thursday, December 2, 2021

Ceritaku

Home Ceritaku Page 3

Blusukan Masuk Pasar Wage Bareng Akmal

Kalau ditanya lebih suka pasar tradisional atau modern?

Jawabannya tergantung. Tergantung budgetnya cukup buat ke pasar yang mana hehehe. Enggak ding. Masing-masing tentu punya kelebihan maupun kekurangan.

Dan saya rasa nggak adil ya kalau membandingkan keduanya karena ya nggak apple to apple. Lha wong konsep, visi dan target marketnya saja sudah berbeda. Ya kecuali membandingkan pasar tradisional A dengan pasar tradisional B.

Ngomong-ngomong soal pasar tradisional, ada yang menarik (buat saya sih) saat pulang ke kampung suami lebaran kemarin. Tak jauh dari rumah mertua, kurang lebih hanya lima menit dari rumah ada sebuah pasar, disebutnya pasar wage Muneng, sebuah desa di kabupaten Caruban, Madiun.

Yang menarik buat saya pasar ini hanya buka lima hari sekali. Biasanya pasar tak pernah berhenti beraktivitas setiap hari eh ini hanya lima hari sekali. Wage sendiri diambil dari istilah Jawa. Yakni hari ke-3 dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara,minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

“Lha terus selain hari ini para pedagangnya ke mana?” tanya saya keheranan pada suami.

“Ya ke desa-desa yang lain. Keliling. Menyesuaikan hari sepasar tadi,”. Saya cuman ber oh oh ria.

Kata suami, mereka bergiliran berjualan dari satu desa ke desa lain mengikuti jadwal dalam kalender Jawa. Tujuannya supaya pasar-pasar di setiap desa ramai dan dikunjungi secara bergantian. Biar adil gitu.

Pagi itu saya, suami dan Akmal masuk pasar pukul enam pagi. Para pedagang rupanya sudah sejak habis subuh membuka lapak mereka. Di sepanjang jalan pintu masuk penjual menggelar tikar, memamerkan dagangannya.

Yang menarik lagi, tak hanya menjajakan sayur, buah maupun daging, di pasar ini tampaknya hampir semua dijual! Dari pintu masuk saja ada pedagang topi caping untuk petani, benda-benda tajam macam celurit dan arit, kambing dan sapi, hingga alat-alat pertukangan seperti baut dan mur.

Makin siang pasar ini makin ramai. Sebelum matahari beranjak tinggi, saya dan Akmal menyempatkan sarapan sate kambing muda di dalam pasar. Sepiringnya dibanderol dua puluh ribu. Berisi tiga tusuk sate kambing muda dan beberapa jeroan sebagai pelengkapnya. Tentu saja jeroannya saya pinggirkan.

Sungguh sarapan yang berat ya hehehe. Tapi ternyata Akmal doyan banget! Sampe saya nambah lima tusuk sate buat dimakan berdua sama Akmal.

Tak jauh dari kios sate kambing muda itu ada lapak bapak-bapak yang menjual mainan lawas. Mainan zaman saya kecil yang saat ini bisa jadi sudah jarang sekali ditemui. Orang-orang menyebutnya Othok-othok. Tanpa pikir panjang saya segera menghampirinya.

“Berapaan pak?”

“Lima belas mbak” kata bapaknya sembari menata dagangannya.

Segera saja saya angkut satu. Buat Akmal lah siapa lagi hehe. Saat saya berikan padanya tawa sumringah merekah dan dia lompat-lompat kegirangan.

Setelah sarapan dan berkeliling pasar kami kembali pulang. Membawa kebahagiaan sederhana seharga dua puluh ribu ditambah lima belas ribu dan tawa sumringah Akmal. Sampai rumah mbahnya tak henti dia mainkan Othok-othok sambil lompat-lompat macam bola bekel.

Pasar tradisional adalah tempat hiburan murah meriah sederhana tapi banyak maknanya.

Toko Buku, Bukan Hanya Transaksi Tetapi Juga Sarana Diskusi

Sejak jadi ibu beranak satu saya sudah jarang ke toko buku. Terakhir kali sudah lima bulan yang lalu. Itupun nggak beli buku untuk diri sendiri tapi untuk Akmal aja.

Sejak punya anak waktu untuk membaca buku rasanya kok berkurang ya (anak terus nih yang jadi kambing hitam ehehehe). Selain itu saya jadi sangat selektif memilih bacaan. Tidak setiap ada buku terbitan baru pengen baca. Palingan ya hanya sesuai kebutuhan aja.

Buku yang saya baca juga mayoritas berkutat pada parenting, self-help atau seputar agama. Buku fiksi pun hanya yang benar-benar bagus menurut saya. Terakhir baca fiksi ya novelnya Dewi Lestari yang Aroma Karsa. Dan baru nyadar itu udah tahun lalu hahaha.

Padahal saat masih single dulu semua jenis buku nggak pandang bulu saya baca. Eh, kecuali buku berbau politik sih hehehe. Paling sering sih memang baca buku yang jenisnya fiksi dan sesekali soal budaya.

Ke toko buku pun hampir seminggu bisa dua hingga tiga kali. Tidak melulu beli, hanya sekadar ingin tahu ada buku baru apa sih? Atau kalau lagi bokek saya rela baca bukunya ya di tempat. Ndlosor di bawah diantara deretan buku-buku yang dipajang. Haha. Cara ini ampuh menuntaskan rasa penasaran bagi mereka yang kehabisan budget buat beli buku.

Pernah lho dari siang sampe ashar saya ngendon aja di toko buku. Baca lembar demi lembar tahu-tahu udah hampir separuh buku aja. Kalau nggak dilihatin terus sama penjaganya barangkali saya di situ bisa sampai isya’.

Kini beli buku lebih suka online, terutama toko buku online indie. Artinya, buku-bukunya diterbitkan secara independen.

Selain karena lebih ngirit nggak perlu biaya transport ke sananya juga biaya-biaya lain-lain macam njajan atau jalan-jalannya hehe. Buku-buku yang dijual di toko buku mainstream beberapa tidak dijual di toku buku indie. Dan beberapa yang tidak dijual di toko buku mainstream itu ternyata lebih menarik minat saya.

Misalnya, buku-buku yang dijual di Mojok, Indie Book Corner, POST, dan sederet toko buku indie yang kini kian menjamur di tiap kota.

Di Malang sendiri setahu saya ada Griya Buku Pelangi. Cuman saya belum pernah sih main ke sana hehehe. Kalau ada di Malang selain itu tolong kasih tahu saya ya.

Menariknya Toko Buku Indie

Toko buku indie yang saya datangi pertama kali ada di Surabaya, yakni C20 Library. Dari namanya saja ini memang sebuah perpustakaan milik pribadi. Buku-bukunya pun sebagian besar adalah milik ownernya yang dikenal dengan nama Kathleen Azali.

Tetapi selain meminjamkan buku, ada juga beberapa yang dijual. Tak hanya buku, ada beberapa zine dan CD musik-musik indie.

Kala itu saya sedang mencari referensi untuk skripsi. Pertama kali masuk langsung disambut sama penjaganya yang super ramah.

“Mau cari buku tentang apa mbak” tanya mbak-mbak penjaga tersebut (lupa namanya hehe). Saya pun cerita tentang kepusingan mencari referensi yang mengangkat tema poskolonialisme.

“Oh mau baca Orientaslinya Edward Said? Kalau buku-buku bertema sastra, sosial budaya ada di rak sebelah kanan situ ya,” ujarnya sambil menerangkan beberapa buku-buku yang disewakan di situ.

Nggak menyangka tempat mungil yang dipenuhi buku itu menyimpan “harta karun” yang belum tentu saya temui di toko buku mayor. Selain buku-buku bertama sosbud, humaniora, sastra dan politik, ada pula buku-buku sains, teknologi, ekonomi serta desain.

“Tapi buku-buku yang masuk ke sini tetap melalui kurasi dari kami,” kata si mbak penjaga C20 Library. Oh, pantas beberapa genre bukunya punya kekhasan tersendiri.

Yang paling membuat saya betah di sini, kita bisa bertukar informasi dan diskusi soal perbukuan. Si mbak penjaga cerita banyak soal buku yang dia suka, apa saja yang menarik dan yang tidak. Setiap kali bertemu dengan mereka yang juga suka membaca, seolah percakapan tak ada habisnya. Seperti bertemu kawan lama.

Di C20 Library juga membuka ruang diskusi untuk komunitas, pegiat literasi, praktisi, pekerja kreatif, dll. Aaahh saya suka sekali tempat seperti ini!

Tak hanya diskusi soal literasi tetapi juga isu-isu sosial yang terjadi saat ini. Diskusi dunia perfilman, lokakarya, gigs mini bersama band-band lokal, pameran, festival seni dan berbagai kegiatan lainnya dikemas menarik di sini yang nggak kita temukan di toko buku mayor.

Buat saya seharusnya ke depan toko buku konsepnya sudah mengarah ke sana. Ada ruang terbuka untuk interaksi antara penjual dan pembeli. Tak hanya sekadar transaksi jual beli tetapi juga sebagai sarana diskusi. Ruang diskusi untuk semua lapisan masyarakat, pelajar, pekerja kreatif, orangtua, pendidik, bahkan bila perlu pemerintah turut serta.

Kedekatan antara pengunjung dan pemilik toko buku menjadikan toko buku itu memiliki kekuatan dan daya magnet tersendiri. Kedekatan personal yang dibangun diantara kedua belah pihak membuat toko buku indie menciptakan ruang diskusi dan memunculkan banyak gagasan baru. Itulah mengapa (mungkin) toko buku mayor mulai sepi dan beberap tumbang. #sotoybanget hahaha.

Jadi kalau kamu masih suka ke toko buku nggak? Sini kasih tahu dong kalau ke toko buku mana?

 

Nonton Pertama Bersama Bapak

Selain membaca buku, menonton film adalah hal menyenangkan yang Bapak tularkan ke anak-anaknya. Saya ingat betul nonton film pertama ke bisokop adalah saat masih duduk di bangku kelas enam SD.

Nonton pertama bersama Bapak kala itu berjudul Brother Bear. Sebuah film animasi produksi Walt Disney yang dirilis pada 2003 silam. Wow udah belasan tahun yang lalu! Jujur saja kalau sekarang diminta menceritakan ulang filmnya  secara detail saya sudah lupa, samar-samar hehehe.

Intinya sih tentang seorang remaja Inuit (biasa dikenal orang-orang Eskimo) yang tetiba “dikutuk” sama leluhurnya jadi beruang. Sebab dia menumpahkan amarahnya dan membalas dendam lantaran kakaknya terbunuh oleh beruang.

Selanjutnya adalah cerita petualangan si Kenai saat menjadi beruang menemukan arti cinta, persahabatan, empati dan nilai-nilai baik yang diungkapkan dalam film berdurasi 85 menit ini.

Mengapa film ini berkesan sekali?

Sebab ini film pertama yang saya tonton di bisokop bersama Bapak. Saya pertama kali merasakan nonton film di hadapan layar sebesar 10 kali aquarium ikan di rumah.

Pertama kalinya mendengar suara dentuman dari sebuah layar yang besar. Pertama kalinya nonton harus bayar semahal itu.

Pertama kalinya merasakan atmosfer sebuah bioskop. Because there’s always first time for everything. Karena itulah berkesan banget buat saya.

Sepulang dari menonton tak henti-henti saya mengoceh soal film itu pada adik saya, ibu dan seisi rumah juga teman-teman yang saya temui.

“Filmnya keren banget!”, “Makasih ya Bapak sudah ajak aku nonton ke bioskop. Kita harus ke sana lagi lebih sering!”. Hingga berminggu-minggu setelahnya film Brother Bear itu masih saja membekas dalam ingatan, backsound dan soundtracknya pun masih terngiang-ngiang di telinga.

Sejak itu saya jadi ketagihan nonton film.

Selain film animasi, Bapak juga “meracuni” saya film bergenre action dan kolosal. Fillm-film bernuansa konspirasi, detective dan yang mengandung intrik-intrik begitu. Makanya sebelum saya kenal sama drama korea saya agak males nonton film yang mengandung menye-menye hehe.

Film Kolosal yang Menarik untuk Ditonton

Ada beberepa film kolosal yang saya suka atas rekomendasi Bapak.

Pertama, The Last Samurai. Saya nonton ini pas SMP. Film yang dibintangi aktor utama, Tom Cruise, ini berlatar sejarah Jepang tepatnya pada masa Restorasi Meiji.

Film ini tentang pemberontakan kaum Samurai terhadap pemerintahan kaisar yang ingin menjadikan Jepang menjadi lebih modern. Salah satunya dengan menghapus beberapa cara-cara tradisional Jepang dan mengadopsi nilai-nilai barat.

Jujur saja saat nonton ini saya tuh nggak paham di balik film ini ada misi apa dan goals dari sutradaranya maunya apa. Ya gimana ya anak SMP nonton film begitu ngertinya cuman “wuih keren banget ngambil gambarnya”, “wow pemandangan latar filmnya baguuus”, “yampun Tom Cruise ganteng banget siiih di situ”. Hahaha.

Cuman dari film itu saya jadi tertarik sama budaya Jepang. Salah satunya sama bahasanya. That’s why saat SMA saya ikutan kelas tambahan bahasa Jepang. Dari sebuah film menjadikan saya untuk belajar banyak hal baru, salah satunya ya budaya dan bahasa yang diungkapkan dalam film tersebut.

Film bergenre kolosal selanjutnya yang sangat membekas di memori adalah The Message. Film besutan sutradara keturunan Suriah-Amerika,  Moustapha Akkad ini mengisahkan tentang kehidupan dan perjalanan Nabi Muhammad dalam berdakwah Islam.

Film ini durasinya panjang banget. Hampir dua jam setengah lebih. Tapi duduk nonton selama itu nggak membuat saya merasa bosan, malah pengen nonton lagi dan lagi.

Bisa dibilang ini film kolosal yang wajib ditonton seluruh umat Muslim! Film yang membawa pesan kedamaian, nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya mendakwahkan Islam. Seluruh aktor, sinematografi, latar film, akting, serta jalan ceritanya saya acungi jempol. TOP BANGET pokoe! Hehehe.

Saya ingat betul nonton film The Message pakai layar tancap di komplek rumah. Karena ini film lawas banget dan saat itu saya belum lahir. Jadilah ada tetangga yang mendapat film itu dari VCD yang dia beli entah di mana.

Lalu, saat perayaan Isra’ Mi’raj warga se RT mengusulkan nonton bareng dan Bapak menawarkan untuk nobar film ini. Mulai dari anak-anak, bapak, ibu hingga mbah-mbah pada takzim nonton film yang pernah mendapat nominasi Musik Orisinal Terbaik dalam Academy Awards ke-50 ini.

Selain kedua film kolosal yang saya sebutkan di atas, sebenarnya ada banyak sekali daftar film kolosal yang saya suka. Diantaranya The Lord of The Rings, Braveheart, Red Cliff, Robin Hood, The Chronicles of Narnia : Prince Caspian, Gladiator, Troy dan masih ada beberapa deretan film kolosal lainnya yang tentu saja nggak bisa disebutkan di sini semua hehe. Nanti ini jadi blog review film dong hahaha.

Yang jelas dari beberapa judul film yang saya sebutkan di atas, hampir kesemuanya nonton sama Bapak atau atas rekomendasi Bapak.

Dari referensi film-film tersebut sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya. Bahwa hidup ini kudu diperjuangkan, jangan menyerah begitu saja, harus bertahan sama situasi sesulit apapun dan terus berusaha mencoba mencari jalan keluar. How to survive.

Selain itu akibat dari nonton film-film bergenre itu membentuk saya nggak gampang jatuh cinta sama cowok (dulu sih gitu hahaha).

Saat masih anak gadis ((saelah)) dulu ini tu menjadi indikator dalam selektif memilih kekasih hati. Hahaha konyol banget ya. Saya akan nyoba ngajak ngobrol apasih referensi filmnya. Kalau menye-menye ya sorry to say saya kok nggak tertarik. Hahaha. Karena bakalan nggak nyambung. Itu sih pikiran labil dulu.

Buat saya menonton film tak sekadar untuk hiburan, tetapi juga bagaimana film tersebut bisa membentuk dan membuka mindset terhadap sebuah isu. Film adalah media paling berpengaruh untuk sebuah propaganda. Terserah, mau propaganda bernada positif ataupun negatif. Tergantung sudut pandang si penonton.

Kalau kamu sendiri suka nonton film jenis apa?

 

Jadi Blogger Modal Nulis Aja Enggak Cukup!

Setelah dipikir dan direnungkan kembali, jadi blogger zaman now modal menulis doang itu nggak cukup ya. Artinya, kita perlu punya skill selain itu. Setuju nggak? Boleh enggak sih hehehe.

Mengingat udah buaanyaaakk banget blogger bertebaran di Indonesia ini. Di Malang aja ada berapa blogger tu yang berceceran *eh* saat event. Apalagi yang di ibukota macam Jakarta. Saingannya banyak buuuk!

Tapi dilihat-lihat diantara ratusan ribu blogger yang bertebaran itu berapa persen yang profesional? Berapa banyak yang benar-benar menjiwai dirinya sebagai penulis di blog masing-masing? Berapa persen yang memang benar-benar menulis dari hati, tidak sekadar memburu goodie bag? #eaaaa…harap tenang…harap tenang hehehe.

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk mencoba skill baru lainnya, selain menulis di blog sendiri.

Belajar Fotografi

Apa itu?

Fotografi. Ehehehe.

Bagi sebagian orang ini sebenernya udah sepaket buat blogger ya. Saya memang nggak memungkiri blog yang bagus itu selain tulisannya sedap mantap tapi juga didukung sama foto-foto yang bagus pula.

Nah, problem saya adalah setiap kali selesai menulis, selalu merasa kebingungan untuk memasukkan foto. Karena seringkali fotonya kurang mendukung. Eh pas sudah diposting ternyata nggak enak banget ya dilihatnya. Solusinya ya saya comot aja foto-foto gratisan di situs semacam unsplash, freepik atau pixabay. 

Bahkan perkara begini aja pernah ditegur suami, “Foto tu jangan ngasal dong. Nulis yang bagus, fotonya ya juga harus bagus. Biar sedep dilihatnya”. *JLEBB*.

Untuk itu saya ingin menyeriusi skill ini. Salah satunya dimulai dengan bergabung ke komunitas fotografi Ibu Profesional Malang. Di sini para ibu-ibu yang doyan motret ngumpul-ngumpul berfaedah soal fotografi.

Saya merasa jadi ada temannya deh. Pertama, karena di komunitas ini isinya ibu-ibu hehehe, jadi sembari belajar motret sekalian (sesekali) curhat soal dunia per-ibuan *eh*. Kedua, nggak cuman modal jepret-jepret aja tetapi juga belajar segala seluk beluk dunia fotografi. Mulai dari style fotografi, tools yang dipake, proses editing foto, gimana mengambil angle yang bagus, dll.

Di komunitas ini kami juga menyerap ilmu sebanyak-banyaknya sama fotografer profesional. Beberapa waktu lalu misalnya, kami belajar bagaimana mengambil foto hanya bermodalkan kamera ponsel. Literally motretnya pakai hp aja. Belajarnya sama mas Titus, salah satu fotografer pro dari Komunitas Fotografi Ponsel. Cek deh foto-fotonya mas Titus di sini super kece! Dan itu modal HP semua!

Saya kira motret itu ya tinggal buka kamera, cekrek, udah.

Ya enggak semudah gitu juga kalau hasil yang diinginkan maunya ciamik. Tapi dibalik foto yang bagus tentu saja ada perjuangan yang harus dilakukan.

Di balik foto ini saya lagi panas-panasan dan dilihatin orang karena motretnya sambil njinjit2 karena pengen ngambil angle dari atas hahaha.

Di balik foto pasangan pre wedding yang romantis, ada fotografer yang rela nungging-nungging buat ngambil angle dari bawah biar terkesan dramatis ((eh emang gitu? haha))

Di balik foto seorang bayi yang baru lahir, ada fotografer yang turut sabar menunggu momen ibunya menjalani proses melahirkan. Yang ini beneran saya pernah lihat sendiri waktu dulu jadi wartawan liputan bayi kembar lima. Beuh! Wartawan dan fotografernya udah stand by sejak habis subuh! Demi memotret momen penting itu.

Di balik foto makanan yang bikin ngiler, ada fotografer yang super telaten mengatur table setting dan nggak malu motret dari atas sambil naik kursi! Ya demi ngambil angle yang bagus.

Di balik foto-foto naturenya National Gegraphic yang soooo awesome ada fotografer yang sabar, peka, jeli, kreatif akan situasi dan momen yang terjadi.

Dan di balik foto anak yang tertawa bahagia, ada seorang ibu yang suabar ikutan nggodain dia biar ketawa bahkan lelarian ke sana kemari biar anaknya mau foto. Lah, ini mah saya ya haha. Seriusan motret anak balita itu menantang juga lho. Harus menunggu moodnya bagus, belum lagi anaknya yang super aktif kayak bola bekel hehehe.

Yang jelas di balik foto-foto kece itu ada proses yang panjang dan melelahkan. Tapi saya nggak mau berhenti nyoba. Karena belajar fotografi itu ternyata sama menagihnya dengan menulis.

aksi flying trapeze
Motret objek bergerak gini ternyata nggak mudah. Harus ambil jepretan berpuluh-puluh kali loh! Biyuuuh!

Asah Potensi Diri = Membuat Personal Branding

Dua skill (yang sedang ditekuni) ini bikin stress saya jadi tersalurkan ke arah yang positif hehe.

Nah, siapa tahu kelak jika skill ini saya kembangkan bisa bermanfaat dan tentu saja bisa dikomersilkan ehehe. Kita nggak tahu kan rezeki itu datangnya dari arah yang nggak disangka-sangka.

Saya jadi teringat sama pesannya Teh Ani Berta saat beliau sharing di Malang pada Mei lalu. Kata Teh Ani zaman sekarang jadi blogger itu saingannya banyak. Maka cari juga sisi unik atau potensi diri yang lain, kembangkan dan tekuni!

Dengan menekuni skill selain ngeblog bisa juga menciptakan personal branding yang kuat dan spesifik terhadap blogger tersebut.

Misalnya, blogger yang suka menggambar bisa dikenali lewat karya gambarnya.

Blogger yang menekuni dunia make up bisa dikenali dengan skill make up artist. 

Atau, blogger yang doyan bikin DIY craft bisa menciptakan mainan atau apapun dengan tangan sendiri alias handmade. 

Nah, kalau kamu skill apa sih yang sedang ditekuni saat ini? Mari kita sharing!

 

 

Pengalaman Pertama Pakai KB IUD

Dulu sebelum menikah saya bercita-cita punya banyak anak. Minimal kayak ibu saya lah, 4 atau 5 orang. Pas udah merasakan sendiri punya anak ohlalala seribet itu ternyata hahaha.

Sotoy banget mau punya anak banyak hanya karena mereka terlihat menggemaskan (saat masih kecil sih). Setelah Akmal lahir dengan segala kerempongan mengurus anak pertama, cita-cita punya anak banyak kok mulai samar-samar dan mulai mikir-mikir lagi hahaha.

Itulah kenapa ide untuk pasang KB muncul dan saya utarakan ke suami. Awalnya sih suami masih maju mundur mengingat banyak cerita nggak mengenakkan yang dia dengar soal KB. Nah, saya juga jadi keikutan deh. Alhasil setelah Akmal lahir ya nggak langsung KB. Masih antara takut, ragu tapi sebenarnya pengen juga.

Kenapa KB IUD?

Lalu setelah mendengar kabar beberapa teman sepantaran atau tetangga yang hamil lagi dalam jarak dekat, ada yang 1 tahun, bahkan 6 bulan kemudian hamil lagi!

Alamak saya jadi semacam menguatkan diri buat menyegerakan program KB!

Bukannya kufur sama rezeki dari Allah dan bukannya saya nggak pengen punya anak lagi, hanya saja ini sebagai upaya untuk memberi jeda usia anak agar lebih maksimal dalam membesarkan anak sebelumnya. Agar lebih siap dalam mendidik anak seutuhnya.

Sebab punya anak itu ya nggak hanya sekadar dikasih makan, tempat tinggal yang nyaman atau pakaian yang layak. Lebih dari itu punya anak ya juga harus dididik dengan baik dan ini tu persiapan dan belajarnya nggak bisa mendadak.

Mendidik itu nggak bisa mendadak bunda-bunda!

Setelah maju mundur mau program KB atau tidak, tepat di saat usia Akmal 10 bulan saya akhirnya memberanikan diri ke dokter kandungan buat konsultasi soal ini. Setelah dijelaskan segala efek samping, efektifitas dan cara kerja beberapa jenis alat kontrasepsi seperti suntik, minum pil KB atau IUD, akhirnya saya memutuskan pakai KB IUD saja.

Kenapa?

  1. Karena IUD efektifitasnya tinggi. Artinya ya minim terjadi kehamilan. Kalau ada yang hamil kemudian saat pasang IUD yaudah terima aja deh kuasa Allah itu ya hehe.
  2. Nggak ada efek samping hormonal. Kalau pil KB atau suntik kata dokternya sih bisa mempengaruhi hormon. Pengaruhnya ke berat badan, emosional atau beberapa efek samping seperti gampang jerawatan. Tapi balik lagi sih ya cocok-cocokkan hehehe.
  3. Nggak memengaruhi kualitas dan volume ASI.
  4. Nggak perlu minum obat-obatan lagi. Ini cocok banget buat saya yang males dan anti ribet haha. Kalau IUD sekali pasang bisa efektif dalan jangka waktu yang panjang. Dan saya pilih IUD Nova T yang jangka panjangnya 5 tahun.

Sakit Nggak Pakai IUD ?

Menurut saya sih lebih sakit saat cek dalam mau persalinan atau mulas-mulas saat mau melahirkan. Ini masangnya cepet banget kok. Nggak sampe lima menit!

“Tenang ya bu, rileks aja. Nggak usah tegang nanti tambah sakit” kata bu dokter kandungan yang meriksa saya saat ngecek rahim lewat USG.

Awalnya sih saya ngeri melihat alat-alat buat masang IUD. Macam cocor bebek gitu lho haha. Tapi sebenernya kalau kita berusaha rileks dan tenang, nggak segitu banget sakitnya. Reset mindset aja kalau masang ini akan baik-baik saja, nggak sakit dan bismillah aman.

Efek Setelah Memakai IUD Nova T?

Setelah pasang IUD beberapa hari setelahnya memang keluar darah tapi nggak banyak sih. Semacam flek aja. Saya pun konsultasi lagi ke dokter kandungan. Katanya itu masih batas wajar. Pas dicek lewat USG semua aman terkendali.

Alhamdulillah.

Hanya saja saat menstruasi memang jadi lebih banyak dari biasanya dan lebih lama. Saya yang biasanya menstruasi 5-7 hari, eh sekarang bisa sampe 9-10 hari.

Selain itu nggak berpengaruh pada saat berhubungan. Selama ini aman. Alhamdulillah.

Hingga usia Akmal dua tahun kini saya masih pakai IUD dan nggak ada keluhan. Belum ada rencana kapan mau dilepas hahaha. Nunggu Akmal sekolah kali ya hehe.

Intinya sih kalau mau pasang alat kontrasepsi, apapun itu, konsultasi dulu ya bunda-bunda!

Buat saya dan suami program KB itu bukan soal menolak rezeki. Kami hanya ingin memberi jeda usia anak. Supaya bisa lebih matang dan maksimal dalam membesarkan anak. Selebihnya ya tentu saja itu kuasa Allah. Kalau dikasih lagi ya alhamdulillah. Kalau belum ya santai saja hahaha.