Thursday, December 2, 2021

Ceritaku

Home Ceritaku Page 2

Rekomendasi Taman Bermain di Malang

Ada area terbuka hijau juga. Cocok buat main bola dan lari-larian hehe

Bagi seorang ibu yang kurang pandai membuat DIY mainan untuk anak (atau lebih tepatnya: mager), mengajak anak bermain outdoor adalah ide yang cukup masuk akal. Maka taman bermain adalah tempat favorit Akmal selain di halaman rumah.

Hampir setiap hari saya mengajak Akmal membebaskannya bermain di taman bermain entah yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah atau yang menempuh jarak agak jauh. Selama nggak hujan saya ayok aja mengajaknya.

Dalam konteks di sini adalah taman bermain fasilitas publik yang disediakan oleh pemkot Malang ya. Bukan playground yang di mall-mall itu hehe.

Kenapa?

Ya karena tidak perlu merogoh kocek lebih hehehe. Cukup membayar parkir dua ribu rupiah, Akmal bisa puas senang-senang di taman dan isi dompet bunda juga aman haha. Bila mau lebih hemat , bawa bekal dari rumah, jadi ya nggak jajan lagi.

Sepakat banget soal: bahagia bisa datang dari hal-hal sederhana, asal kita nggak membanding-bandingkan standar bahagia kita dengan orang lain. 

Melihat Akmal bisa ketawa ngakak saat bermain ayunan bareng temennya di taman saja sudah membuat hati hangat. Bahkan saat masuk pintu taman Akmal sudah bersorak kegirangan,

“Ayook bundaa..itu main ayunan yok nda! Iiih…aku seneng”, membuat saya tersenyum simpul.

Dan senang sekali di Malang cukup banyak taman bermain yang konsepnya sangat ramah untuk keluarga. Berikut ini beberapa rekomendasi taman bermain di Malang langganan saya mengajak Akmal:

1. Taman Cerdas Trunojoyo

Lokasinya tepat bersebrangan dengan stasiun kota baru Malang. Dari rumah saya (daerah Sawojajar) jaraknya sekitar empat kilometer. Tidak terlalu jauh, sekiranya hanya 12 menit ke sini.

Taman ini dilengkapi beberapa permainan untuk anak, seperti perosotan, ayunan, jungkat jungkit, dan semacam jaring-jaring (apa ya namanya hehe).

banyak pohon rindang untuk berteduh
ada air mancur spot favorit anak-anak

Selain itu disediakan juga ruang baca di dekat pintu masuk. Buku-bukunya pun beragam, mulai dari komik, novel, buku cerita anak, politik, ada juga beberapa majalah dan koran.

Akmal suka sekali ngendon di pojok ini. Hampir semua buku minta dibacain haha. Saya biasanya baca korannya aja, lumayan buat update berita lokal maupun nasional. Selain itu tersedia wifi juga di sini. FREE haha.

ruang baca di Taman Trunojoyo

Sukanya dari taman Trunojoyo karena tempatnya teduh banget, Dipenuhi pohon-pohon yang rindang. Ada pula air mancur yang jadi tempat favorit anak-anak main air. Hanya saja air mancur ini nggak selalu menyala, jam-jam tertentu saja.

Kalau lagi dekat-dekat stasiun Malang mampir ke sini deh.

2. Alun-alun Kota Malang

Zaman kuliah dulu paling males banget ke tempat ini, meski ini salah satu yang iconic di Malang. Kotor, nggak tertata dengan rapi dan banyak banget yang pacaran..sebel aja hehe.

Fasilitas mainan di Alun-alun Malang

Eh sepuluh tahun kemudian setelah menikah dan punya anak, alun-alun Malang ini malah jadi taman kota favorit.

Taman kota yang bersebrangan sama Masjid Agung Jami’ ini menyediakan playground anak. Mainannya pun mirip seperti yang ada di mall-mall. Selain itu ada pula fasilitas olahraga buat ngegym. Penataannya pun jauh lebih rapi dan bersih dibanding sepuluh tahun lalu. Dan juga disediakan WIFI GRATIS (PENTING!) haha.

Bisa main sama burung merpati juga. Burung merpatinya disediakan sarang khusus.

Selain itu ada pula jogging track dan beberapa spot cantik untuk foto-foto hehehe.

Masuk ke sini mah nggak bayar. Paling hanya parkir aja.

Di sekitar alun-alun juga banyak kuliner legend di Malang yang wajib kamu cobain. Seperti es krim di Toko Oen, Rawon Nguling, Rumah Makan Inggil, Ronde Titoni, Putu Lanang, dan masih banyak lagi.

3. Merbabu Family Park

Lokasinya nggak terlalu jauh dari pusat kota. Taman yang berada di jalan Merbabu ini dekat banget sama Hutan Kota Malabar, Malang. Taman ini sebenarnya bentuk CSR pemkot Malang dengan PT Beiersdorf Indonesia. Makanya di setiap sudut ada plang bertuliskan “NIVEA Cares for Family”.

Meski luasnya nggak seluas taman Trunojoyo atau Alun-alun Malang tapi Merbabu Family Park ini cukup asyik buat tempat bermain anak-anak. Dilengkapi berbagai fasilitas seperti beberapa mainan anak, lapangan mini futsal, fasilitas untuk ngegym dan tentu saja FREE WIFI.

Cuman sayangnya sih beberapa mainan di sini kurang terawat. Meski tempatnya sejuk dan nyaman buat berteduh, beberapa mainan anak-anak sudah mulai karatan.

Sama seperti dua taman sebelumnya, Merbabu Family Park masuknya nggak bayar. Cuman bayar parkir aja.

4. Kebun Bibit Mojolangu

Taman yang jaraknya sembilan kilometer dari rumah ini lokasinya di Jalan Ikan Tombro, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Memang sih agak jauh dari taman-taman yang disebutkan di atas. Ke sini membutuhkan jarak sekitar sembilan kilometer dari rumah.

Lokasinya ada di dalam pemukiman warga. Cuman di sini mainan anak-anaknya nggak seberapa banyak. Hanya ada dua ayunan dan perosotan yang hampir rusak hehehe.

Spot latihan skateboard

Oya pohon-pohonnya juga nggak seberapa banyak jadi kalau udah jam 10 ke atas panas banget. Tapi disediakan beberapa gazebo. Sambil makan bekal dari rumah ngadem di gazebo deh.

Akmal suka ke sini karena ada arena skateboardnya. Dia seneng banget melihat kakak-kakak latihan skate dan sepeda BMX. Lapangannya juga luas, jadi selalu bawa bola ke sini. Puas lari-larian dan main bola.

5. Taman Jajan Al Fatih

Berbeda dengan taman-taman yang disebutkan sebelumnya, Taman Jajan Al Fatih ini pakai tiket masuk kalau mau main.

Pas weekday biayanya 15 ribu rupiah, sementara pas weekend dikenakan 20 ribu rupiah. Tiket ini terbilang murah sih dibanding playgorund yang ada di mall. Tiket segitu bisa dipakai sepuasnya, sampe anaknya capek dan bosen hehe.

Taman Jajan Al Fatih memiliki dua tempat. Yang pertama di jalan Maninjau Raya No.169 dan yang satunya di jalan Melati No.10.

Saya sih paling sering mengajak Akmal yang di jalan Maninjau Raya No.169 karena ke sana cuman lima menit dari rumah hahaha.

Taman ini konsepnya mirip playground yang ada di mall. Ada pujaseranya juga. Di sini tersedia tiga jenis arena bermain. Ada kolam pancing ikan, mainan pengasah motorik halus macam balok, puzzle, lego dan sejenisnya, lalu ada lagi mainan yang mengasah motorik kasar yakni prosotan dan mini panjat tebing.

beberapa gerai makanan yang tersedia di taman jajan Al Fatih

Di taman ini juga bisa disewakan untuk mengadakan event-event lho. Mulai workshop, talkshow atau macam bebikinan begitu. Komplit!

Oya bukanya mulai dari jam 08.00-22.00 WIB. Kalau dekat-dekat sini mampir dong! Hehe. Pas banget ngajak keluarga nongkrong di sini. Murah meriah hehehe.

Kalau bunda-bunda dari sekian taman yang saya sebutkan sudah pernah ke mana aja nih?

 

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak

Sejak usia 8 bulan Zhafran tidak seperti anak-anak lainnya. Perkembangannya lambat, tidak bisa tengkurap atau merangkak. Sang bunda mulai merasa khawatir. Dia pun membawa Zhafran ke sebuah rumah sakit swasta yang jaraknya hampir tiga jam dari rumah.

“Jawaban dokter membuat hati saya sesak. Sungguh menyayat hati,” ujar Bunda Zhafran. Tak hanya berhenti pada satu dokter, Bunda Zhafran mencari tahu kondisi anaknya, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Hingga bertemu dengan salah satu dokter di Malang, yakni dr.Dyahris Koentartiwi, SpA(K), Zhafran divonis menderita penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak dengan kasus yang sangat langka. Kasus Zhfran termasuk satu dari delapan orang anak dengan kasus PJB langka tersebut.

Kisah Zhafran dengan PJB tersebut sukses membuat saya berkaca-kaca saat Bicara Gizi bersama Nutricia-Sarihusada sebagai bagian dari Danone Specialized Nutrition Sabtu (19/10) lalu. Dalam forum tersebut tak hanya kisah Zhafran yang membuat saya baper, tetapi juga cerita dari Bunda Keyla yang anaknya juga menderita PJB. “Saat usia Keyla satu tahun dia belum bisa duduk dan berjalan. Bahkan beratnya masih saja stuck di angka 5 kilo,” ungkap bunda Keyla.

Namun tak ada kata menyerah dalam kamus Bunda Keyla. Dia terus berjuang demi kebaikan Keyla. “Alhamdulillah sudah menjalani operasi dan berhasil,” katanya.

Kisah bunda Zhafran dan Keyla tersebut menyadarkan saya bahwa setiap ibu memiliki strugglenya masing-masing. Please, stop saling nyinyir satu sama lain. Saling mendukung dan menghargai sesama ibu itu lebih menyejukkan hati bukan?

Selain itu saya juga jadi melek soal penyakit jantung bawaan pada anak. Dari sini saya jadi belajar banyak hal bagaimana deteksi dini PJB, bagaimana menangani PJB pada anak, dll.

Apa Itu Penyakit Jantung Bawaan?

Penyakit jantung bawaan pada anak merupakan kelainan jantung yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

PJB ini  mengganggu kemampuan jantung si anak untuk memompa darah dan penyaluran oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi tersebut dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Persis seperti yang dialami oleh Zhafran dan Keyla.

Berdasarkan data IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) di Indonesia angka kejadian PJB diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup yaitu sekitar 7 – 8 diantara 1000 kelahiran setiap tahunnya. Termasuk banyak ya huhu.

Kata dr Dyahris Koentartiwi SpA(K), PJB ini kalau nggak ditangani secara dini bisa berisiko pasien tidak terselamatkan mencapai 50 persen pada bulan pertama kehidupan. Saya mendengarnya aja langsung merinding 🙁

Salah satu permasalahan utama anak dengan PJB adalah tingkat status gizi yang buruk. Untuk mencegah peningkatan morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan malnutrisi pada anak dengan PJB, diperlukan deteksi dini dan pemberian nutrisi yang intensif sesuai pengawasan dokter, papar konsultan kardiologi anak tersebut.

Faktor Penyakit Jantung Bawaan

Hingga saat ini PJB belum diketahui secara pasti penyebabnya apa tetapi berdasarkan penelitian, diduga ada banyak faktor, yaitu:

  • rentan genetik dan faktor lingkungan
  • paparan roko saat kehamilan  (baik ibu perokok aktif maupun pasif)
  • konsumsi obat-obatan
  • infeksi pada kehamilan,
  • diabetes melitus,
  • sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down,

Kata dr Risti sapaan akrab dari dr Dyahris Koentartiwi SpA(K), mengungkapkan faktor-faktor di atas memiliki risiko tinggi kelainan jantung bawaan pada bayi.

Maka dari itu penting banget menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan kehamilan maupun selama periode kehamilan.

Gejala PJB pada Anak

Gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa.

Gejala lainnya seperti yang tercantum dalam infografis di bawah ini :

 

Malnutrisi Anak dengan PJB

Permasalahan utama anak dengan PJB adalah soal status gizi. Bunda Keyla bercerita saat dirinya membawa Keyla ke dr Risti langsung ditengarai kalau Keyla mengalami gizi buruk. “Wah ini harus dibenerin dulu gizinya baru bisa tindakan operasi,” kata dr Risti.

Penyebab timbulnya malnutrisi anak dengan PJB terbagi menjadi tiga kategori, yakni:

  1. Masukan kalori yang tidak adekuat
  2. Absorbsi dan pemanfaatan yang tidak efisien
  3. Peningkatan kebutuhan energi/kalori

Pada anak dengan PJB, asupan yang tidak memadai terjadi akibat kesulitan makan karena susah menghisap, menelan, lelah saat makan dan adanya pembatasan cairan membuat anak dengan PJB membutuhkan tatalaksana nutrisi yang berbeda.

Anak yang dilahirkan dengan kelainan jantung bawaan akan meningkatkan resiko kondisi gagal tumbuh karena asupan gizi yang tidak adekuat dan kesehatan yang tidak optimal serta ketergantungan pada bantuan medis di Rumah Sakit.

Anak dengan penyakit jantung bawaan memerlukan asupan nutrisi yang intensif dan makanan tinggi kalori untuk memberikan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas hidup yang lebih pada anak ujar Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak dr. Anik Puryanti, SpA(K).

dr Anik menuturkan untuk memperbaiki nutrisi anak dengan PJB diperlukan beberapa tahap yaitu:

  1. Melakukan pemantauan diagnosis status gizi dan masalah nutrisi
  2. Menentukan kebutuhan kalori, protein, jumlah cairan
  3. Menentukan rute pemberian nutrisi
  4. menentukan jenis pemberian makanan
  5. Monitoring keberhasilan : apakah ada peningkatan BB, apakah ada muntah, kembung, diare, dll.

“Dengan pendekatan tersebut, anak dengan PJB diharapkan dapat terhindar dari kondisi serius seperti malnutrisi dan stunting yang dapat memperburuk kesehatannya,” imbuh dr Anik.

Bicara gizi bersama Danone memberikan saya banyak pemahaman soal PJB pada anak. Saya jadi terbuka juga bahwa di luar sana banyak ibu-ibu hebat yang berjuang hingga akhir untuk anak dan keluarga. Salut sih melihat perjuangan mereka sedemikian rupa :”)

Komunitas Ibu-ibu Pejuang Jantung

Selain mengadakan talkshow edukasi, karyawan Danone di Indonesia juga berpartisipasi dalam melakukan kegiatan volunteering untuk mendampingi dan menghibur anak-anak dengan PJB.

“Kami berharap kegiatan Bicara Gizi di Kota Malang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong penanganan nutrisi yang tepat bagi anak dengan Penyakit Jantung Bawaan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.” tuturArif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia.

Keseruan Menyelamatkan Kota Hingga Terumbu Karang di Bebeland

Suatu hari Akmal saya ajak jalan-jalan sore sekitar komplek rumah. Lalu di tengah perjalanan kami menemukan botol susu yang dibuang sembarangan di sisi badan trotoar.

“Ini apa nda?”

“Itu botol susu, nak. Ada yang buang sembarangan,” saya menjawab sekenanya bahkan memintanya untuk kembali melanjutkan perjalanan kami.

Tapi tiba-tiba Akmal kembali ke botol susu tadi, memungutnya dan berjalan mencari tempat sampah, lalu membuangnya.

“Ini dibuang sini ya nda,”

Masya Allah. DEG! Saya langsung merasa tertampar. Saya yang tadinya bodo amat sama botol susu yang tergeletak di pinggir jalan itu langsung merasa malu, diingatkan lewat anak saya sendiri. Sebuah aksi kecil yang membuat saya melihat ke belakang akan nasihat yang pernah saya lontarkan padanya, “Kalau habis minum susu kotaknya dibuang ke tempat sampah ya,” sambil saya tunjukkan tempat sampah di dapur. Rupanya Akmal merekamnya dengan baik.

Saya jadi merenung bahwa untuk tumbuh seimbang, menjadi cerdas saja itu nggak cukup ya. Tapi rasa peduli, empati, emosi , sosial dan spiritual anak juga perlu terus diasah. Salah satunya ya melalui contoh-contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Roslina Verauli, psikolog anak mengungkapkan bahwa dengan empati dan rasa peduli, si kecil mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. “Dengan mengembangkan rasa peduli, si kecil mampu memiliki perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih. Hal inilah yang perlu diasah sejak dini seiring dengan kemampuan daya pikir si kecil, agar si kecil mampu menyikapi sebuah permasalahan serta memberikan solusi yang tepat dan penuh empati,” tuturnya.

Mengasah aspek sosial, spiritual dan emosional anak bisa juga melalui permainan yang seru.

Senang sekali kemarin bisa mengajak Akmal bermain di wahana edukatif dan interaktif di Bebeland Surabaya. Sebuah arena bermain yang memiliki 10 wahana permainan edukasi dalam 3 area besar, yaitu BebeTown, BebeSea, dan BebeForest.

Setiap permainan di Bebeland dirancang dengan alur cerita “masalah – solusi”, dimana si kecil dilatih untuk mengasah rasa pedulinya terlebih dahulu, sebelum kemudian diajak melatih daya pikirnya untuk cepat tanggap memberi solusi yang berguna bagi sekitarnya. Dan semua permainan di Bebeland sudah direkomendasikan oleh Roslina Verauli, psikolog anak profesional.

Misalnya seperti permainan Light The City.

Di permainan ini ceritanya sebuah kota sedang mati listrik. Lalu bagaimana agar bisa menyala kembali?

Akmal diberi tantangan mengayuh sepeda untuk menyalakan kembali listrik kota yang sedang padam. Awalnya dia bingung sih hehe, lalu diberi instruksi sama tim Bebelac sehingga Akmal mau mengikuti arahan. Dia senang sekali bisa bermain Light The City ini. Permainan ini ada di salah satu area BebeTown.

Fix The Gears

Masih di area BebeTown, di wahana ini Akmal diberi tantangan untuk menyusun gears agar jam kota yang rusak bisa digunakan kembali. Gears yang disediakan harus dipasang sesuai dengan ukurannya. kalau sudah dipasang semua nanti  jam kota kembali bisa diputar. Ditandai dengan burung yang keluar di atas jam. Di bagian ini Akmal sampai minta diulang dua kali, tapi ya kan harus gantian sama yang lain hehe.

Rescue The Cat

Ceritanya anak-anak diminta untuk menyelamatkan kucing yang terjebak di atas pohon. Ini wahana yang paling digemari anak-anak dan antriannya paling panjang haha. Anak-anak harus melewati rintangan wall climbing, menyelamatkan kucing di atas lalu turun ke bawah melalui prosotan. Seru banget!

Awalnya Akmal excited menunjuk-nunjuk wahana ini, tapi karena terlalu lama mengantri dia jadi bosan. Alhasil sampai di dalam dia hanya mau bermain di bawah, di bagian mandi bolanya hehe.

Coral Savior

Ini permainan yang paling disukai Akmal. Akmal dan teman-temannya diberi tahu terumbu karang di laut mulai berkurang keberadaannya. Mereka diajak untuk membantu melestarikan tumbuhan laut dengan penanaman kembali terumbu karang.

Selain menstimulus motorik halus, di permainan ini Akmal juga belajar peduli dan bagaimana bersosialisasi dengan teman-temannya. Misalnya, saat dia harus bergantian menggunakan sekop pasir atau saling bekerjasama menanam terumbu karang.

Find The Way

Di wahana ini Akmal diberi tantangan untuk menyelamatkan si kancil yang sedang tersesat. Caranya dengan mengikuti arah kancil melalui layar interaktif. Nanti anak-anak membantu si kancil mencari jalan pulang dengan memencet tombol kanan atau kiri. Tapi sepertinya ini permainan yang cocok untuk usia 3 tahun ke atas ya. Karena Akmal belum terlalu mengerti waktu main ini hehe.

Helping Friends

Kali ini Akmal harus menyelesaikan misi membantu anak yang sedang terdampar di sebuah pulau. Akmal menyelamatkan temannya dengan mengendarai perahu.

Preserve The Turtle

Anak-anak diajak untuk menyelamatkan penyu yang baru menetas tapi mengalami kesulitan untuk pergi ke laut. Mereka membuat kreasi penyu sesuai dengan imajinasi masing-masing, lalu hasil karyanya akan disambungkan dengan sebuah layar yang diibaratkan pelepasan penyu ke laut. 

Setiap kali selesai bermain di satu wahana, anak-anak diberi sebuah badge yang ditempel di rompi mereka. Ini merupakan bentuk apresiasi kepada mereka karena sudah menyelesaikan “misi” tersebut.

Untuk anak-anak di atas Akmal, kira-kira 5 tahun ke atas ada berbagai macam eksperimen sains yang dipandu oleh kakak-kakak dari Bebelac. Selain itu ada juga masak-memasak dan mendongeng dari kak Nitnit. Anak-anak antusias sekali mendengarkan dongeng yang lucu itu.

Lalu sorenya ada meet n greet bersama Nussa dan Rara. Sayang banget Akmal nggak ikut karena siangnya dia sudah mengantuk haha. Alhasil kami pulang duluan deh.

Secara keseluruhan seluruh permainan di Bebeland ini bagus banget untuk mengasah semua aspek pada anak, mulai dari kemampuan intelektual, sosial hingga emosional. Rasa peduli dan empati itu bisa mendukung daya pikir anak. Dan kita sebagai orangtua memang kudu kreatif ya memberikan stimulasi yang seimbang untuk aspek-aspek tersebut. Supaya kelak anak-anak kita tumbuh menjadi anak hebat yang tanggap, peduli dan mudah bersosialisasi.

So, tungguin kehadiran Bebeland selanjutnya di kotamu ya. Selanjutnya akan hadir kembali Plaza Medan Fair pada 26-27 Oktober 2019. Info lebih detailnya bisa kunjungi situs Bebelac ya di bebeclub.co.id

 

 

 

Akhirnya Menyapih Akmal!

30 Juni 2019, malam itu  saya dan suami mengajak Akmal untuk makan malam di luar. Salah satu warung pizza di Malang menjadi pilihan. Maunya sih dipaskan saat usia Akmal tepat dua tahun besoknya tapi ayahnya harus kerja ke luar kota. Ya hitung-hitung maksudnya sebagai perayaan kecil untuk Akmal. Hehe…

Selama makan itu kami membisikkan kata-kata semangat padanya bahwa usianya kini telah bertambah.

Alhamdulillah sekarang Akmal sudah dua tahun, ya. Sudah tambah pinter. Sudah bisa makan sendiri. Sudah bisa minum susu sendiri di gelas. Berarti sudah nggak nenen, ya. Sambil ngemil kentang goreng dia mengangguk-angguk seolah paham.

Malam itu saya berniat untuk mulai menyapihnya. Melatihnya tidak nenen yang biasa dilakukan sebagai pengantar tidur. Reaksinya? Tentu saja berontak, menangis kencang dan berteriak macam orang kesakitan.

Nenen..bundaaaa…mau nenen! Adalah kata-kata yang ia rapalkan hampir dua jam menjelang tidur.

Tidurnya gelisah, miring kanan, miring kiri. Glebak, glebuk seperti remaja yang sedang patah hati 🙁

Sesekali memaksa saya membuka baju agar segera menyusuinya. Hingga ia berada di puncak emosi, tangisnya pecah tak terbendung.

Saya tahan-tahan untuk tidak ikut terpancing emosi. Saya elus-elus punggungnya. Menggendongnya, menimang-nimang ke luar kamar. Sembari terus membisikkannya bahwa ini adalah masa dia sudah tidak nenen. 

Tapi hingga dua jam berlalu, malam semakin larut, Akmal belum juga bisa tidur. Nangisnya belum juga reda. Saya mulai lelah dan akhirnya…saya ikutan emosi. Akmal, ayo tidur! Suara saya mulai meninggi. Saya pelototin dia dan menurunkannya dari gendongan.

Untungnya suami saya segera paham. Dia sigap menggendong Akmal, menenangkannya sambil membacakannya ayat-ayat Al Qur’an. Perlahan, Akmal tidur dalam gendongan. Mungkin saking kelelahan.

Melihatnya tertidur saya seketika merasa sangat bersalah padanya.

Astagfirullah…ini kan baru malam pertama menyapih, kenapa saya sudah emosi? Maafkan bunda ya, nak.

Sembari diingatkan suami bahwa menyapih ini juga butuh proses. Wajar kan kalau rewel, lha wong dia hidup salah satunya ya dari nenen selama dua tahun ini. “Jangan emosi juga dong bun, sabar ya”. 

Sounding Sebelum Menyapih

Sebenarnya jauh-jauh hari saya sudah sounding ke Akmal kalau saat usianya sudah dua tahun artinya sudah tidak nenen lagi. Bahkan sudah saya lakukan sejak ia berusia 20 bulan. Karena saya dan suami sepakat tidak menggunakan cara dengan ‘menipu’.

Seperti mengolesi payudara dengan brotowali, balsem, atau beberapa cara yang membuat anak jadi emoh (secara tidak nyaman) untuk tidak menyusu lagi. Bahkan beberapa teman bilang bahwa HAMIL LAGI adalah cara paling ampuh menyapih anak dengan cepat. Karena dengan kehamilan (katanya), maka rasa ASI akan berubah menjadi tidak nikmat lagi, sehingga akan lebih cepat membuat anak berhenti menyusu.

Olalaaa kalau cara yang itu jelas saya tunda dulu. Hehehe…

Menyoundingnya jauh-jauh hari karena saya merasa sudah lelah menyusuinya di usia toddler begini. Jujur aja lho menyusui di usia balita entah kenapa terasa banget lebih capek.

Iya saya paham menyusui itu sebagai bentuk bonding antara ibu dan anak. Tapi setelah saya renungkan kembali kalau momen menyusui saja diwarnai dengan emosi ya di mana letak nilai bondingnya? 

Maka saya memutuskan untuk segera menyapihnya. Mungkin terdengar jahat ya karena terkesan ingin segera melepas ASI. Saya nggak mau momen menyusui jadi momen sekadar memberi ASI tanpa ada ikatan emosi.

Sounding semakin intens menjelang dua bulan sebelum masa sapih. Dan dua minggu sebelum usia Akmal dua tahun, soundingnya hampir setiap hari setiap saat.

Akmal, minggu depan sudah dua tahun lho. Kata Allah di Al Qur’an menyusu itu sampe dua tahun aja, ya. Akmal insya Allah bisa! Akmal pinter, ya. Kan sudah bisa minum dan makan sendiri. 

Karena dia belum paham konsep waktu, saya soundingnya sambil menunjukkan tanggalan di kalender. Sebenarnya saya dan suami juga masih bingung sih soal memberikan penjelasan penanda waktu ini. Adakah yang punya saran? Siapa tahu saya bisa belajar. Hehe. Sebab kami memilih tidak merayakan dengan tiup lilin dan potong kue. Yah, ini pilihan masing-masing keluarga ya.

Mengurangi Frekuensi Menyusui

Selama sounding berlangsung saya juga mengurangi frekuensi menyusu secara bertahap.

Jika pada awalnya Akmal boleh menyusu sesuka hati, nggak kenal waktu, maka sejak usia 20 bulan frekuensinya saya kurangi. Misalnya, pagi setelah mandi.

Biasanya dia udah minta nenen aja, tapi langsung saya alihkan ke makanan, mau roti, buah atau ya apalah yang ada di meja. Hehe. Begitu juga saat sore. Biasanya bisa satu sampe dua kali, saat masa sounding ini saya berusaha nggak menyusuinya. Pas malam aja menjelang dia tidur.

ajak main sampe capek biar lupa sama nenen haha

Saya pun nggak menawarinya kalau dia nggak minta. Jadi agar dia sedikit lupa ya ajak aja banyak main. Kalau saya buntu mau ngajak main apa di rumah, ya sudah ajak aja ke taman atau lapangan dekat rumah. Kalau sudah capek banget baru deh pulang, di rumah langsung tidur karena kelelahan. Hehe.

Menyiapkan Mental dan Bersikap Tega!

Sebelum benar-benar menyapih Akmal, saya tanya sana sini ke ibu-ibu yang lebih senior. Rata-rata menjawab: KUDU TEGA. Maksudnya, tidak mendramatisir proses menyapih. Sebagai yang punya ‘pabrik’ kita harus tegas kalau waktu sapih sudah tiba.

Jadi jangan sampai anak minta nenen hingga memelas kitanya jadi ikut luluh. Saya pun hari pertama begitu sih, merasa duh kasihan nih anak gelisah tidurnya.

Saya sudah bersiap memberikannya ASI saat tangisnya tidak juga reda dan emosi mulai menghampiri. Tapi kalau kita melanggar aturan nanti anaknya semacam punya celah untuk minta terus. Hehe. Jadi, ya dikuat-kuatin deh. Saya alihkan perhatiannya dengan mengelus-elus punggung, meninabobokan di dalam gendongan.

Sudah Tidak ASI, Tidurnya Gimana?

Itu adalah pertanyaan yang terus bermunculan semasa proses sounding. Akhirnya saya mengganti kebiasaan menyusu menjelang tidur dengan kegiatan membaca buku, mendongeng, main bongkar pasang bahkan senam dan lompat-lompatan. Sampai Akmal capek barulah dia benar-benar mau tidur.

salah satu ritual sebelum tidur: baca buku

Kadang kalau kami (saya dan suami) sudah sama-sama lelah kami biarkan Akmal main sendiri tapi di kamar dan ditinggal tidur duluan. Haha.. Ya gimana nungguin anaknya sampe malem masih aja on, sementara bunda ayahnya udah tinggal lima watt aja matanya.

Setelah lepas ASI, saya menggantinya dengan susu formula atau UHT. Jadi kini setiap malam selalu sedia susu atau air mineral di samping tempat tidur. Dan bersyukur sekali nafsu makan Akmal meningkat seiring lepas ASI. Dulu mah masuk lima suap aja sudah alhamdulillah, sekarang saya yang kegirangan karena dia minta makan sendiri tanpa disuruh.

Pentingnya Peran Ayah

Penting banget lah ini! Selama proses sounding dan sapih, suami juga berperan sekali. Saya sudah wanti-wanti ke suami jika saat proses sapih kami harus ‘tega’ dan siap.

Sebab menyapih tidak hanya menyiapkan mental anak tetapi juga bunda dan ayahnya. Supaya tidak ada drama, “Udahlah kasih aja (nenen) kasihan tuh dia nangis terus. Kok tega sih kamu”. Enggak dong jangan nanti nggak kelar-kelar hehe.

Saat malam pertama dan malam-malam berikutnya, suami lah yang bergantian menenangkan dan menggendong Akmal kalau dia rewel ingat nenen. Beberapa waktu terakhir ini juga Akmal mau tidur dikeloni ayahnya. Iya, saat masih menyusu ASI kan saya yang mengeloninya dan dia nggak mau tidur sama ayahnya haha.

Intinya sih selama proses menyapih, kita sebagai orangtua khususnya sang ibu juga harus menyiapkan diri dan mental. Proses menyapih bukan berarti melepas bonding sama anak tetapi mengganti bonding dengan cara yang berbeda. Semoga ceritanya bermanfaat ya 🙂

Semangat mengASIhi bunda-bunda 🙂

 

Merindu Mahameru

Saat ngubek-ngubek foto lama di laptop saya menemukan folder summit Mahameru. Ingatan saya terlempar ke enam tahun lalu. Kali pertama saya mendaki gunung. Nggak main-main dong mendakinya langsung ke gunung Semeru. Sungguh sebuah kesoktahuan yang tidak patut dicontoh.

Di folder itu ada salah satu foto saat saya duduk di atas puncak Mahameru. Wajah saya super kuyu tapi tetap berusaha tersenyum di depan kamera.

Tiba-tiba saja rindu naik gunung menyeruak dalam dada. Ah, apa kabar Mahameru? Semacam gagal move on padahal ya udah enam tahun lalu hehehe. Dan sedikit banyak sudah lupa cerita detailnya.

Yang saya ingat betul menuju puncak Mahameru adalah sebuah perjalanan panjang dan menantang.

Selamat Datang di Ranu Pani

Empat jam sebelum tiba di Ranu Kumbolo, saya dan teman-teman pendaki lain harus jalan kaki selangkah demi selangkah yang bermula di Ranu Pani. Di sini titik kumpul para pendaki untuk berurusan dengan administrasi dan registrasi

Ranu Kumbolo sehabis subuh

Kami nggak berlama-lama di sini. Hanya mengurus surat-surat, mampir ngopi di warung penduduk desa sebentar lalu memulai perjalanan agar tidak terlalu malam sampenya.

Sepanjang perjalanan di sisi kanan kami dikelilingi petak-petak sawah yang ditanami sayur kubis, kentang dan bawang prey. Kebetulan berangkat pagi jadi udara terasa masih sejuk dan bersih. Ah, langsung berasa relaxing. Di sini juga beberapa penduduk buka warung buat para pendaki yang mau istirahat sejenak. Bahkan beberapa juga menyediakan homestay.

Karena saya baru pertama kali banget, perjalanan kami dilakukan santai saja. Jalannya kadang naik kadang turun. Satu jam pertama jalan udah berasa banget sih ngos-ngosan. Bahkan dua jam setelah jalan saya sempat jatuh terperosok ke lubang gitu. Gegara udah lelah sih hehe. Tapi tetep harus semangat! Dan buat yang mau mendaki sebelumnya memang kudu olahraga dulu! Saya seminggu sebelumnya udah nyempetin jalan kaki dan jogging tiap hari.

Jalan kaki selama kurang lebih empat jam untuk mencapai Ranu Kumbolo membutuhkan tenaga yang ekstra. Saya beberapa kali minta berhenti sama teman pendaki yang jadi leader. Tapi katanya malahan jangan terlalu sering berhenti nanti akan cepat lelah. Alhasil, kita berhenti di pos-pos tertentu yang sudah disediakan. Ya berhenti sih sesekali numpang minum doang hehe.

Bermalam di Ranu Kumbolo

Saat teman saya berteriak “Ayok semangat di depan tuh udah kelihatan Ranu Kumbolo!”

Wah saya yang udah lesu merasa capek banget pengen pulang eh langsung bangkit semangat lagi. Yeay! Si anak mager ini akhirnya bisa juga sampai di danau yang ketinggiannya mencapai 2.389 mdpl ini.

Nggak lama dari situ saya langsung disambut sama danau yang dikelilingi sama pepohonan, bukit-bukit dan tenda-tenda para pendaki yang sudah lebih dulu tiba. Sebelum hari beranjak dingin dan terlalu malam kami segera bahu membahu mendirikan tenda. Kalau saya sih bagian yang bikin indomie aja haha karena nggak paham sama urusan tenda hehe.

Sekarang para pendaki ini sudah pada berkeluarga haha

Menjelang tengah malam, dinginnya sungguh ampun-ampunan! DINGIN BANGET MASYA ALLAH! Sampe gemeteran kaki tangan saya. Tidur jadinya nggak nyenyak banget untungnya sih temen bawa sleeping bag jadi relatif lebih hangat lah. Pas ke sini masih single sih coba kalau udah bareng suami lumayan ada yang bisa dipeluk hahaha.

Menuju Puncak Mahameru

Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Kami melewati Oro-oro ombo sebuah padang rumput dan tanaman verbena yang luas banget. Treknya biasa aja, relatif landai.

 

Lima jam perjalanan menuju Kalimati. WOW kan! Saya merasa bangga bisa jalan kaki sejauh ini hahaha.

Perjalanan dilanjutkan malamnya. Kami memutuskan mendaki ke puncak Mahameru saat jam 10 malam. Tujuannya supaya bisa sampai di puncak subuh. Karena kalau sudah di atas jam 7 pagi tidak boleh ada yang mendaki dikarenakan asap belerang yang keluar dari gunung Semeru sangat berbahaya.

Trek menuju puncak nggak ada yang landai. Jangan harap deh. Menanjak teruuuuss sampai puncak. Sepanjang jalan ke atas nggak ada tumbuh-tumbuhan. Gersang, penuh pasir dan kerikil. Baru separuh perjalananan saya sudah ingin turun dan kembali pulang membayangkan kasur springbed di kosan.

Super melelahkan Yallah. Tapi teman-teman seperjalanan terus menyemangati saya. “Kamu insyallah bisa! Insyallah masih kuat. Yuk jalan lagi itu di depan lagi kita sampai!”. Saya nggak sendiri. Ada banyak pendaki lain dari berbagai kota bahkan mancanegara yang berbondong-bondong menanjak ke puncak. Ada yang menyemangati, ada yang menawarkan minum, ada yang nyapa meski nggak kenal. Rasanya di gunung semua jadi teman.

Perkiraan subuh sampai puncak ternyata meleset. Waktunya jadi mundur hampir sejam karena saya jalannya udah lambat banget di akhir-akhir. Pas subuh sayup-sayup saya mendengar adzan. Nggak tahu deh padahal kan udah hampir separuh puncak bagaimana bisa mendengar adzan itu saya nggak paham.

belum sampe puncak tapi udah lemes haha

Tapi saat mendengar adzan subuh itu saya langsung terharu dan mau nangis. Saya merasa begitu kecil. Nggak ada apa-apanya. Gitu masih aja suka sombong dan merasa hebat.

Tepat pukul 7 saya sampai puncak Mahameru. Alhamdulillah. Saya berkali-kali mengucap takbir dan hamdalah. Beberapa teman pendaki segera mengambil posisi untuk berswafoto ria. Saya memilih duduk selonjoran dan memerhatikan keadaan sekitar. Ada yang diam aja berdiri, ada yang berfoto-foto bahkan ada yang menyempatkan salat di puncak. Masya Allah.

Tidak lupa Allah di manapun berada. Masya Allah.

 

Bersama perempuan-perempuan tangguh.
Oya saya saltum nih pake celana olahraga dan sepatu jogging huhuhu jangan ditiru ya!

Ada banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari pelajaran panjang dan melelahkan menuju puncak Mahameru ini. Bagaimana bertahan hidup, menguji kesabaran dan iman, belajar perhitungan untuk hal apapun, dan persiapan yang matang dalam melakukan apapun.

Meski sudah enam tahun berlalu, tapi saya nggak akan pernah lupa sama momen naik gunung ini. Ah, Mahameru saya rindu.