Thursday, December 2, 2021

Ceritaku

Home Ceritaku Page 13

Tantangan Mendidik Generasi Millenial

Setelah menikah, profesi lama saya sebagai wartawan di salah satu media nasional harus saya tinggalkan. Sebab, saya harus hijrah ke kota tempat suami bekerja dan tentu membangun keluarga di sini (Malang). Saya pun banting setir menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar di kota yang terkenal dengan apelnya ini.

Shock culture? Itu pasti. Saya harus beradaptasi lagi dengan beberapa hal. Lingkungan baru, teman serta suasana kota yang sama sekali beda dari tempat kelahiran saya, Sidoarjo. Dan yang paling mencolok buat saya jelas profesi baru sebagai pengajar.

Ternyata bukan  hal mudah. Saya sadar, menjadi pendidik adalah tugas yang berat. Apalagi di era informasi yang cepat sekali di dapat. Dimana anak-anak mendapat informasi hanya tinggal sekali ketik di mesin pencari google, klik, lalu muncullah sejuta info yang mereka inginkan. Jadi, terkadang peran seorang guru di kelas diabaikan! (hiks )

Itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengajar (saya khusus mengajar bahasa Inggris) di kelas 9 SMP. Dan, mengajar di kelas adalah pengalaman kali pertama. Dulu, saat kuliah saya pernah mengajar, tapi ya hanya privat, one by one student. Sementara, di kelas kita harus berinteraksi dengan puluhan murid. Bisa dibayangkan dong kalau kelas yang kita hadapi adalah jenjang SD yang notabene nggak bisa dan NGGAK MAU DIEM. 😦

Untuk pertama kali mengajar, kira-kira ada duapuluh pasang mata memperhatikan saya saat berdiri di depan kelas. Di awal mereka mendengar penjelasan materi yang saya sampaikan. Tapiiii, rupanya cuman bertahan 10-15 menit saudara-saudara!. Selanjutnya? Mereka (MAYORITAS) sibuk sekali dengan gadget  masing-masing. Ada yang asyik bermain game, sibuk kepo media sosial, bahkan tanpa segan foto-foto selfie bahkan mengajak teman-temannya yang lain (ADA GURU DI DEPAN MEREKA!).

kid-gadget
source: pixabay

Istighfar dalam hati dan bersikap cool saat itu adalah pilihan saya. Menegur mereka tentu saya lakukan. Tapi, rupanya teguran hanya dianggap angin lalu bagi mereka :(. Mau tak mau, saya harus tetap melanjutkan penjelasan saya soal beberapa materi. Yang cuek dengan kehadiran saya? Saat itu saya abaikan. Jujur, karena ini pengalaman pertama, saya belum menemukan caranya.

Yaa generasi yang hidup di zaman sekarang memang nggak bisa lepas dari yang namanya gadget. Bahkan beberapa orangtua sejak bayi sudah mengenalkan mereka permainan bahkan internet lewat gawai mereka. Berdasarkan beberapa penelitian, generasi yang kita kenal sebagai generasi Z ini telah menggunakan smartphone mereka selama 15 jam per minggu. WOW! Setiap hari tanpa gadget!

Memprihatinkan? Entahlah setiap orangtua tentu memiliki sudut pandang yang berbeda.  Tetapi, bagi saya kok rasanya mengerikan ya dampak gadget (yang berlebihan) buat anak. Contoh kecilnya yaa yang saya alami di atas. Pengaruhnya, jelas pada akhlak anak. Terkikisnya sopan santun, berlaku ramah pada orang rasanya mulai pudar. Bayangkan saja, setiap hari interaksi yang mereka lakukan hanya di depan gadget tanpa ada komunikasi secara aktif di dunia nyata. Kita tidak tahu seperti apakah jenis teman-teman yang mereka temui di dunia maya.

Tapi, apakah selamanya buruk? Sebenarnya juga tidak sih. Selama ada pengawasan dari orangtua dan penggunaan dalam porsi yang cukup. Sampai sekarang memang masalah internet, gadget dan tetek bengeknya untuk anak masih mendapat opini yang pro dan kontra.Jujur saja, ini tantangan buat saya sebagai pendidik, calon orangtua dan para orangtua di luar sana.

Lalu bagaimana menghadapi anak-anak generasi ini? Waktunya saya dan (barangkali) orangtua di luar sana pintar-pintar dan kreatif mengajari mereka. Semangat!

Be Creative!

“Siapa di sini yang pakai Skype, Path, Youtube atau Instagram?”. Tak sedikit yang mengernyitkan dahi, geleng-geleng kepala atau bahkan hanya diam membisu. Hanya segelintir yang berani mengangkat tangan. Termasuk saya yang biasa aktif di akun terakhir yang telah disebutkan.

“Masa nggak tau sih. aduh, piye tho iki! Wah pancen generasi Sinsgosari!”. Sontak dua ratus peserta dalam kuliah umum bertajuk Technology, Literacy, Language Learning for Language Teacher Teaching Z Generation di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Malang tertawa terbahak-bahak. Entah memang celetukan itu lucu atau mungkin juga merasa tersindir. Menertawakan diri sendiri. 

Adalah Gumawang Jati yang menyindir dua ratus peserta dalam kuliahnya kemarin (1/9). Seorang Dosen Bahasa Inggris yang mengajar di Fakultas Seni dan Desain ITB. Tapi, bukan profil dia yang ingin saya ceritakan di sini. Lebih kepada apa yang dia sampaikan.

Pertanyaan Gumawang bukan barang asing di telinga anak muda zaman sekarang. Sederet nama aplikasi itu sangat akrab di tangan mereka. Ya, Generasi Z kita menyebutnya. Mereka sangat fasih teknologi. Bukan lagi melek, but technology is in their hand and mind! Sudah pemandangan umum kalau HP, ipad, tab, laptop atau berbagai media digital berbasis ineternet lainnya, menjadi bawaan wajib mereka. Mereka amat multitasking. Bisa mengerjakan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Kalau sudah di depan smartphone jangan harap orangtua kasih petuah panjang lebar akan didengar.Ironis? Ngeri? Well, saya pikir kita harus melihatnya dari berbagai sisi. Tidak serta merta menyalahkan mereka, si generasi Z ini, atau bahkan menuntut mereka untuk menuruti kita (generasi Singosari, haha). The world has changed!

1298-cara-bermain-tepat-untuk-generasi-z-usia-pra-sekolah
sumber: http://www.tabloidnova.com

Saat melihat fenomena ini awalnya saya sempat sebal. Karena era digital merenggut anak-anak dari kehidupan sosial. Mereka jadi lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget mereka, daripada bermain bersama teman-temannya di luar sana. Ditambah orangtua yang dengan mudah memberikan gadget ke anak-anak mereka tanpa ada pengarahan. Yang penting anaknya nggak rewel, lalu selesai.

Tapi, Pak Gumawang membuka pikiran saya. Bukan dengan menolak cara kita menghadapi fenomena ini. Tapi, dengan negosiasi. Tidak bisa dipungkiri era digital akan membuat semua orang bahkan anak berusia dua tahun keranjingan gadget beserta seperangkat aplikasi di dalamnya. Kata pria lulusan doktor UPI tersebut, justru seperangkat alat itu dapat menjadi media pembelajaran. Apalagi bagi seorang guru dan orangtua. “Menjelaskan grammar di depan muridmu dengan panjang lebar di papan tulis jangan harap mereka betah. Bahkan dalam waktu 10 detik mereka akan beralih ke gadget. Diam-diam!” tuturnya. That’s so old fashion, menurutnya. Siswa dan mahasiswa sekarang lebih memilih media yang visual. Mereka lebih memilih story telling dengan media visual. Entah video, film atau alat pembelaran yang dibuat sedemikian menarik.

Beri tugas yang membebaskan mereka dalam menentukan topik. Poin selanjutnya untuk para guru, pendidik dan orangtua, versi Pak Gumawang. Dia bercerita, setiap dalam kelasnya, mahasiswa bebas menentukan topik apa saja. Lalu, mereka mengaplikasikannya dalam media apapun. Boleh video, tulisan atau film pendek. “Saya selalu melibatkan aplikasi dan internet dalam pembelajaran. Ada banyak sekali aplikasi yang membantu guru maupun siswa dalam pembelajaran kelas. So, don’t be afraid,”   lanjutnya. Sekali waktu dia mengajak siswa untuk membuat CV semenarik mungkin. Lewat laman Linked In, Gumawang meminta siswanya membuat CV dalam bahasa Inggris. Beri mereka tantangan, katanya. Sebab, generasi Z  cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan.

Lantas, terlintas dalam pikiran saya bahwa niat di awal menjauhkan gadget sejak dini untuk anak saya kelak akan saya tata ulang. Bukan menjauhkan, tetapi mengarahkan. Kita, sebagai orangtua, pendidik harus hadir di dalamnya. Catatan buat kita, buat saya. Intinya, di dalamnya membutuhkan kesadaran dan sikap arif dari para pendidik dalam menghadapi anak-anak generasi Z. Happy teaching and learning! 🙂