Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga Page 7

Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng

Salah satu cara efektif menggaet hati anak-anak adalah melalui dongeng.

~ Kak Hadian, ketua Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Wilayah Jatim ~

“Siapa yang mau dengar cerita? Ibu guru punya cerita seru lho!”

Pertanyaan itu sering dijadikan para pengajar sebagai senjata ampuh di kelas saat situasi anak-anak mulai ramai dan uncontrolled. Yup, bercerita atau mendongeng adalah salah satu kegiatan yang disukai anak-anak. Apalagi, jika sang pendongeng bercerita dengan gaya yang menggebu-gebu dan punya beragam mimik muka yang lucu. Siapa yang nggak terpukau? Hehehe.

Mendongeng sendiri sudah sejak jaman purba dilestarikan. Ternyata, aktivitas satu ini punya dampak yang besar, lho buat anak-anak. Selain merangsang imajinasi dan kreativitas anak-anak, dongeng juga dapat dijadikan sebagai motivasi berprestasi dan membentuk karakter anak-anak.

Wah, kok bisa?

Menurut ahli psikologi, David McClelland, dongeng sangat penting bagi pembentukan karakter sebuah bangsa. Saat beliau meneliti di beberapa negara, dongeng yang berbeda setiap negara memberikan warna karakter pada masyarakatnya. Contohnya, bangsa Inggris yang sering mendongengkan anak-anaknya cerita soal kepahlawanan, sejarah atau yang berbau tentang kemenangan, maka membuat mereka menjadi seorang yang tangguh dan ambisius. Karena cerita yang disampaikan ternyata mengendap di bawah alam sadar anak-anak, lalu teringat dan terbawa hingga mereka dewasa. Nggak heran, kan, kalau bangsa satu ini suka menjajah *ups* 😀 .

Nah, kebetulan banget Sabtu (11/3) lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan berkisah. Pelatihan yang diadakan oleh Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI)  ini diadakan di salah satu PAUD di Sidoarjo. Kak Hadian Mariyadi, salah satu pengisi acara tersebut.

Kata Kak Hadian, mendongeng termasuk salah satu cara untuk menggaet hati anak-anak. Mendongeng menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak-anak. Maka dari itu, amat penting pemilihan kisah atau cerita yang ingin kita sampaikan. Jangan sampai cerita yang kita buat malah membuat anak-anak bingung dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk itu, Kak Hadian lebih menganjurkan menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an atau kisah perjalanan para Nabi dan sahabatnya. “Atau kita juga bisa membuat cerita sehari-hari tapi tetap memiliki nilai yang Islami,” ungkap Kak Hadian.

Kenapa? Karena dengan begitu secara tidak langsung kita mendidik anak-anak nilai-nilai agama sejak kecil melalui cara yang menyenangkan. Sehingga, bisa dikatakan mendongeng adalah salah satu cara membentuk karakter anak-anak.

Lalu bagaimana sih supaya bercerita lebih menyenangkan dan menarik anak-anak? Ini nih beberapa hal yang disampaikan Kak Hadian :

  • Tatap – Senyum – Bicara

Saat akan memulai bercerita, ada baiknya menunggu anak-anak dalam sikap yang tenang. Lalu, mengawalinya dengan senyum. Kalau sang pendongeng cemberut yang ada malah anak-anak lari, hehehe. Nah, selanjutnya bisa mengawali cerita dengan pembukaan yang menarik.

Menurut Kak Hadian, pembukaan sebuah kisah nggak melulu didahului ‘Pada jaman dahulu kala’, ‘pada suatu hari’, atau pembukaan yang mirip seperti itu. “Itu mah udah kuno. Hahaha,” kata Kak Hadian.

Awal berkisah yang menarik bisa dimulai dengan menirukan suara-suara binatang, terompet atau efek suara seperti gelegar hujan, pintu berderit, dan lain-lain.

  • Body Language

Ini nih yang penting. Bercerita dengan gaya patung atau monoton jelas membuat anak cepat bosan. Maka, penting banget saat mendongeng kita memiliki gerakan tangan atau tubuh yang mewakili watak tokoh. Misalnya, kalau sedang memerankan seekor kanguru, boleh lho ditirukan sambil lompat-lompat. 😀 “Akting yang agak lebay di depan anak-anak nggak masalah. Supaya mereka nggak gampang ngantuk,” ujar Kak Hadian. Karena anak-anak suka merespon segala sesuatu yang sifatnya visual. Mereka akan segera terangsang saat melihat sesuatu yang bergerak.

Tapi perlu diingat, gaya berkisah dengan full body language ini jangan diterapkan saat mereka mau pergi tidur, ya. Yang ada mereka malah ngikutin ayah/ibunya yang lagi mendongeng 😀 Kalau mau tidur cukup membacakannya kisah atau cerita dari buku. Selain itu, ayah/ibu nggak perlu berlebihan untuk dongeng pengantar tidur. Jadi, disesuaikan juga dengan kebutuhan, ya.

Kak Hadian saat mendongeng… unyu kaan? 😀
  • Olah Suara

Saat bercerita kita memainkan beberapa tokoh. Nah, usahakan memberikan warna suara yang berbeda-beda untuk setiap karakter. Ada suara kecil, suara yang dibisikkan, suara besar seperti seorang raksasa, panglima atau raja, lalu ada pula suara asli kita. Biasanya untuk suara asli digunakan sebagai pengantar narasi. Berbagai tipe suara ini bisa menggambarkan sebuah suasana dan situasi dalam cerita.

  • Komunikatif

Sesekali lemparkan pertanyaan di sela-sela mendongeng. Supaya ada komunikasi dua arah kepada anak-anak. Misalnya, mendongeng soal kebersihan, kita bisa menanyakan mereka ‘Kenapa sih kita harus cuci tangan?” Dengan begini anak akan ingat dan sadar pentingnya menjaga kebersihan

Yang paling penting cerita itu menyampaikan pesan baik dan memotivasi anak-anak. Selain itu, ada problem solving dalam sebuah cerita.

Bagaimana ibu-ibu, bapak-bapak? Yaaa meski anak saya belum lahir tapi boleh banget cara ini dicoba. Hehehe. Selamat mendongeng!

Dengarkan kata-kataku, lalu imajinasikan kisahku di benakmu!

~ Kak Hadian ~

Fun Learning English In Class!

“Aduh, Miss aku nggak bisa bahasa Inggris!”

“Bahasa Inggris itu susah, Miss! Jadi males deh”

“Banyak yang belum aku ngerti kata-kata dalam bahasa Inggris!”

Kalimat-kalimat itu adalah sebagian celotehan yang meluncur dari murid-murid tempat saya mengajar di salah satu bimbel di Malang.  Rupanya, bahasa asing yang satu ini masih dianggap momok bagi sebagian siswa.Tak jarang di kelas mereka malah acuh dengan pelajaran satu ini. Mereka menganggap bahwa bahasa Inggris belum begitu penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (lebay :D).

Maklum, sebagian siswa saya adalah anak-anak yang bersekolah di daerah kabupaten. Barangkali, hal ini juga dipicu oleh lingkungan serta dukungan dari keluarga mereka, yang notabene masih memegang teguh penggunaan bahasa Jawa. Berdasarkan hasil curhatan para siswa, bahasa Inggris masih dianggap nggak penting. Apalagi, melihat soal-soal bahasa Inggris yang harus mereka lalui menjelang UN nanti. Sungguh, saya pun sebagai guru bahasa Inggris merasa berkewajiban mengangkat beban ini (halah!)

Mindset yang bertebaran ini, kerap membawa pengaruh dalam keberlangsungan aktivitas belajar mengajar di kelas. Beberapa siswa terkadang memilih untuk sibuk dengan gadget masing-masing (yaaah lagi-lagi :/) atau bahkan ada lho yang malah ngobrol sendiri. Tapi, tentu ada juga yang memperhatikan. Jelas, ini tugas (berat) sebagai seorang pendidik.

Mengajar di kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak, akan sedikit berbeda saat mengajar secara privat (jelaslah!). Persoalannya, mengajar di kelas kita harus menghadapi anak-anak dengan berbagai jenis karakter dan latar belakang yang berbeda (fiuuuhh ngelap keringet).

Nah, sangat amat kebetulan saya kerap diberi kelas yang berisi anak-anak aktif dan banyak tingkah (ngelap keringetnya dobel).  Jadi, terkadang jika sudah masuk materi (apalagi berbau grammar) sudah bisa dipastikan mereka akan berontak, teriak dan membuat kelas sesak (ini sih gurunya yang lebay hehe).

Kalau sudah begitu, saya memberikan alternatif lain. Apa saja itu?

1. Sing a Song

singing-18382_960_720

Sepertinya, sudah sejak kecil kita akan sangat senang mendengarkan lagu. Joget mengikuti irama adalah reaksi bocah atau bahkan dewasa saat mendengar alunan musik.

Nah, saya beberapa kali memberikan materi bahasa Inggris dengan format menyanyikan sebuah lagu. Misalnya, saat mengajar anak-anak kelas 3-5 SD. Saya akan memberikan tema tertentu, misalnya part of body, fruit, atau number. 

Dengan cara ini, mereka diajak mengingat kata-kata bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Kadang, saya memberikan challenge ke siswa-siswa untuk maju ke depan kelas setiap kelompok. Memang sih, pada awalnya malu-malu. Tapi, toh dengan begitu mereka akan belajar percaya diri.

2. Listening Music

music-791631_960_720  Siapa sih yang nggak suka mendengarkan musik? Bahkan nenek-nenek pun masih aja mendengarkan musik keroncong kesayangan. Hehehe. Aktivitas ini biasanya saya berikan untuk siswa jenjang SMP-SMA. Karena, mereka relatif lebih tenang dibanding bocah-bocah. Hehehe.

Mendengarkan musik bahasa Inggris menjadi tantangan sendiri buat para siswa. Mereka harus mendengar seksama apa saja kosa kata yang terkandung dalam nyanyian. Biasanya, saya akan memberikan sebuah lirik yang sudah dikosongi beberapa bagian. Tugas mereka adalah mengisi bagian-bagian yang kosong itu saat musik diputar. Saat selesai, mereka akan saya tanya satu per satu apa saja sih lirik yang kosong tadi.

Well, cara ini cukup membuat mereka senang dengan menikmati bahasa Inggris. Setidaknya, mengusir penat selama mengerjakan soal-soal teks. Selain itu, menambah kosa kata bahasa Inggris dan memahami sebuah teks dalam bentuk lagu.

3. Game

scrabble-243192_960_720

Permainan selalu nggak pernah gagal dalam mencairkan suasana di kelas. Baik siswa SD hingga SMA menyukai kegiatan satu ini. Saya kerap menyisipkan kegiatan ini untuk mengusir kebosanan siswa atau saat saya memang lagi mati gaya. Hhehehe.

Tapi, game ini disesuaikan dengan jenjang kelasnya. Ada banyak sekali permainan edukatif yang bisa kita lakukan dalam kelas untuk meningkatkan minat siswa belajar bahasa Inggris.

  •    Board Game:

Permainan ini bisa dilakukan anak SMP/SMA. Temanya pun macam-macam, bisa disesuaikan. Misalnya, ambil tema tentang comparison. Saya membuat tiga tabel di papan tulis. Kolom paling kiri memuat seluruh kosa kata adjective. Lalu, kolom tengah dikosongi dengan memberikan sebuah clue tambahan ~er. Dan, kolom paling kanan, diberi clue tambahan kata more. 

Tugas mereka harus mengisi di kolom manakah yang tepat saat sebuah adjective berada di posisi kolom ~er ataukah kolom more. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Lalu, diadu kelompok manakah yang paling cepat mengisi kolom. Cara ini cukup menyenangkan dalam mempelajari grammar. 

  • Whisper

Permainan bisik-bisik tetangga ini juga cukup menyenangkan. Tentunya dengan berkelompok juga. Setiap kelompok membentuk baris lurus menghadap papan tulis. Nanti, siswa yang paling belakang akan saya bisiki sebuah kalimat bahasa Inggris. Nah, selanjutnya mereka meneruskan ke teman-teman di samping mereka. Yang paling dekat dengan papan tulis harus segera menuliskan kalimat yang sudah saya bisikkan ke mereka.

Game ini selain belajar mengingat, juga latihan menulis yang benar dalam bahasa Inggris.

  • Collect Words

Kalau game yang satu ini bisa dilakukan berkelompok atau individu. Caranya, saya membagikan beberapa kertas yang telah berisi beberapa huruf. Bagi kelompok yang mendapat huruf, misalnya A,C,Z , maka tugas mereka harus mencari kata-kata bahasa Inggris dari ketiga huruf tersebut (sebanyak-banyaknya). Saya memberikan kebebasan untuk kata-katanya. Boleh nama binatang, angka, buah atau bahkan sebuah preposition/conjunction. 

Supaya lebih seru, beri waktu untuk membatasinya. Cara ini cukup efektif untuk mendorong siswa lebih kreatif dalam memikirkan kosakata Inggris.

4. Watching Movie!

Kalau aktivitas satu ini nggak selalu, ya. Tergantung sikon, hehehe. Menonton film bisa juga menjadi kegiatan yang seru saat di kelas. Tapi, saya memberikan tugas juga untuk mereka. Misalnya, memperlihatkan sebuah film/video dalam bahasa Inggris, lalu meminta mereka me-review film tersebut (tentunya dalam bahasa Inggris). Atau, meminta mereka mencari kata-kata sulit/asing yang belum mereka dengar, dan mengartikannya.

Well, itu hanya beberapa cara sih alernatif belajar bahasa Inggris di dalam kelas. Barangkali ada guru-guru/ibu-ibu yang mau berbagi pengalaman? 🙂

Foto: http://www.aroundyou.com.au

Tantangan Mendidik Generasi Millenial

Setelah menikah, profesi lama saya sebagai wartawan di salah satu media nasional harus saya tinggalkan. Sebab, saya harus hijrah ke kota tempat suami bekerja dan tentu membangun keluarga di sini (Malang). Saya pun banting setir menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar di kota yang terkenal dengan apelnya ini.

Shock culture? Itu pasti. Saya harus beradaptasi lagi dengan beberapa hal. Lingkungan baru, teman serta suasana kota yang sama sekali beda dari tempat kelahiran saya, Sidoarjo. Dan yang paling mencolok buat saya jelas profesi baru sebagai pengajar.

Ternyata bukan  hal mudah. Saya sadar, menjadi pendidik adalah tugas yang berat. Apalagi di era informasi yang cepat sekali di dapat. Dimana anak-anak mendapat informasi hanya tinggal sekali ketik di mesin pencari google, klik, lalu muncullah sejuta info yang mereka inginkan. Jadi, terkadang peran seorang guru di kelas diabaikan! (hiks )

Itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengajar (saya khusus mengajar bahasa Inggris) di kelas 9 SMP. Dan, mengajar di kelas adalah pengalaman kali pertama. Dulu, saat kuliah saya pernah mengajar, tapi ya hanya privat, one by one student. Sementara, di kelas kita harus berinteraksi dengan puluhan murid. Bisa dibayangkan dong kalau kelas yang kita hadapi adalah jenjang SD yang notabene nggak bisa dan NGGAK MAU DIEM. 😦

Untuk pertama kali mengajar, kira-kira ada duapuluh pasang mata memperhatikan saya saat berdiri di depan kelas. Di awal mereka mendengar penjelasan materi yang saya sampaikan. Tapiiii, rupanya cuman bertahan 10-15 menit saudara-saudara!. Selanjutnya? Mereka (MAYORITAS) sibuk sekali dengan gadget  masing-masing. Ada yang asyik bermain game, sibuk kepo media sosial, bahkan tanpa segan foto-foto selfie bahkan mengajak teman-temannya yang lain (ADA GURU DI DEPAN MEREKA!).

kid-gadget
source: pixabay

Istighfar dalam hati dan bersikap cool saat itu adalah pilihan saya. Menegur mereka tentu saya lakukan. Tapi, rupanya teguran hanya dianggap angin lalu bagi mereka :(. Mau tak mau, saya harus tetap melanjutkan penjelasan saya soal beberapa materi. Yang cuek dengan kehadiran saya? Saat itu saya abaikan. Jujur, karena ini pengalaman pertama, saya belum menemukan caranya.

Yaa generasi yang hidup di zaman sekarang memang nggak bisa lepas dari yang namanya gadget. Bahkan beberapa orangtua sejak bayi sudah mengenalkan mereka permainan bahkan internet lewat gawai mereka. Berdasarkan beberapa penelitian, generasi yang kita kenal sebagai generasi Z ini telah menggunakan smartphone mereka selama 15 jam per minggu. WOW! Setiap hari tanpa gadget!

Memprihatinkan? Entahlah setiap orangtua tentu memiliki sudut pandang yang berbeda.  Tetapi, bagi saya kok rasanya mengerikan ya dampak gadget (yang berlebihan) buat anak. Contoh kecilnya yaa yang saya alami di atas. Pengaruhnya, jelas pada akhlak anak. Terkikisnya sopan santun, berlaku ramah pada orang rasanya mulai pudar. Bayangkan saja, setiap hari interaksi yang mereka lakukan hanya di depan gadget tanpa ada komunikasi secara aktif di dunia nyata. Kita tidak tahu seperti apakah jenis teman-teman yang mereka temui di dunia maya.

Tapi, apakah selamanya buruk? Sebenarnya juga tidak sih. Selama ada pengawasan dari orangtua dan penggunaan dalam porsi yang cukup. Sampai sekarang memang masalah internet, gadget dan tetek bengeknya untuk anak masih mendapat opini yang pro dan kontra.Jujur saja, ini tantangan buat saya sebagai pendidik, calon orangtua dan para orangtua di luar sana.

Lalu bagaimana menghadapi anak-anak generasi ini? Waktunya saya dan (barangkali) orangtua di luar sana pintar-pintar dan kreatif mengajari mereka. Semangat!

Be Creative!

“Siapa di sini yang pakai Skype, Path, Youtube atau Instagram?”. Tak sedikit yang mengernyitkan dahi, geleng-geleng kepala atau bahkan hanya diam membisu. Hanya segelintir yang berani mengangkat tangan. Termasuk saya yang biasa aktif di akun terakhir yang telah disebutkan.

“Masa nggak tau sih. aduh, piye tho iki! Wah pancen generasi Sinsgosari!”. Sontak dua ratus peserta dalam kuliah umum bertajuk Technology, Literacy, Language Learning for Language Teacher Teaching Z Generation di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Malang tertawa terbahak-bahak. Entah memang celetukan itu lucu atau mungkin juga merasa tersindir. Menertawakan diri sendiri. 

Adalah Gumawang Jati yang menyindir dua ratus peserta dalam kuliahnya kemarin (1/9). Seorang Dosen Bahasa Inggris yang mengajar di Fakultas Seni dan Desain ITB. Tapi, bukan profil dia yang ingin saya ceritakan di sini. Lebih kepada apa yang dia sampaikan.

Pertanyaan Gumawang bukan barang asing di telinga anak muda zaman sekarang. Sederet nama aplikasi itu sangat akrab di tangan mereka. Ya, Generasi Z kita menyebutnya. Mereka sangat fasih teknologi. Bukan lagi melek, but technology is in their hand and mind! Sudah pemandangan umum kalau HP, ipad, tab, laptop atau berbagai media digital berbasis ineternet lainnya, menjadi bawaan wajib mereka. Mereka amat multitasking. Bisa mengerjakan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Kalau sudah di depan smartphone jangan harap orangtua kasih petuah panjang lebar akan didengar.Ironis? Ngeri? Well, saya pikir kita harus melihatnya dari berbagai sisi. Tidak serta merta menyalahkan mereka, si generasi Z ini, atau bahkan menuntut mereka untuk menuruti kita (generasi Singosari, haha). The world has changed!

1298-cara-bermain-tepat-untuk-generasi-z-usia-pra-sekolah
sumber: http://www.tabloidnova.com

Saat melihat fenomena ini awalnya saya sempat sebal. Karena era digital merenggut anak-anak dari kehidupan sosial. Mereka jadi lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget mereka, daripada bermain bersama teman-temannya di luar sana. Ditambah orangtua yang dengan mudah memberikan gadget ke anak-anak mereka tanpa ada pengarahan. Yang penting anaknya nggak rewel, lalu selesai.

Tapi, Pak Gumawang membuka pikiran saya. Bukan dengan menolak cara kita menghadapi fenomena ini. Tapi, dengan negosiasi. Tidak bisa dipungkiri era digital akan membuat semua orang bahkan anak berusia dua tahun keranjingan gadget beserta seperangkat aplikasi di dalamnya. Kata pria lulusan doktor UPI tersebut, justru seperangkat alat itu dapat menjadi media pembelajaran. Apalagi bagi seorang guru dan orangtua. “Menjelaskan grammar di depan muridmu dengan panjang lebar di papan tulis jangan harap mereka betah. Bahkan dalam waktu 10 detik mereka akan beralih ke gadget. Diam-diam!” tuturnya. That’s so old fashion, menurutnya. Siswa dan mahasiswa sekarang lebih memilih media yang visual. Mereka lebih memilih story telling dengan media visual. Entah video, film atau alat pembelaran yang dibuat sedemikian menarik.

Beri tugas yang membebaskan mereka dalam menentukan topik. Poin selanjutnya untuk para guru, pendidik dan orangtua, versi Pak Gumawang. Dia bercerita, setiap dalam kelasnya, mahasiswa bebas menentukan topik apa saja. Lalu, mereka mengaplikasikannya dalam media apapun. Boleh video, tulisan atau film pendek. “Saya selalu melibatkan aplikasi dan internet dalam pembelajaran. Ada banyak sekali aplikasi yang membantu guru maupun siswa dalam pembelajaran kelas. So, don’t be afraid,”   lanjutnya. Sekali waktu dia mengajak siswa untuk membuat CV semenarik mungkin. Lewat laman Linked In, Gumawang meminta siswanya membuat CV dalam bahasa Inggris. Beri mereka tantangan, katanya. Sebab, generasi Z  cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan.

Lantas, terlintas dalam pikiran saya bahwa niat di awal menjauhkan gadget sejak dini untuk anak saya kelak akan saya tata ulang. Bukan menjauhkan, tetapi mengarahkan. Kita, sebagai orangtua, pendidik harus hadir di dalamnya. Catatan buat kita, buat saya. Intinya, di dalamnya membutuhkan kesadaran dan sikap arif dari para pendidik dalam menghadapi anak-anak generasi Z. Happy teaching and learning! 🙂