Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga Page 3

Perlengkapan MPASI yang Sebenarnya Tidak Perlu

Seperti kebanyakan para ibu baru, saat memasuki masa MPASI (makanan pendamping ASI), saya sudah kepo jauh-jauh hari apa saja menu yang pas untuk masa awal MPASI.

Selain itu juga mulai ngelist “alat tempur” MPASI yang daftarnya ngalah-nagalahin step by step skincare bundanya. Iya lho saya kepoin beberapa akun mama-mama Instagram (eaaaa Instagram lagi Instagram lagi) perlengkapan MPASI yang digunakan banyak banget yaaa sampe bingung buuuk! Rasanya jadi pengen ikutan beli semua peralatan MPASI yang direkomendasikan akun-akun itu. Karena memang yang direkomendasikan itu bikin lapar mata, unyu-unyuuuuu ūüėÄ

Namun, setelah saya menjalaninya ((lagi-lagi menurut pengalaman saya)) ada beberapa perlengkapan MPASI yang sebenarnya nggak seberapa perlu. Selain karena fungsinya bisa digantikan dengan alat yang lain, harganya untuk beberapa merk juga mahaaaalll haha, kan dananya bisa dialokasikan ke pos yang lain. Memangnya apa saja? Berikut ini beberapa perlengkapan MPASI yang sebenarnya tidak perlu (versi saya):

1. Slowcooker

sumber gambar : babysafe.co.id

Kalau kata teman-teman seperibuan ((biasanya kan sepermainan, lha ini yang kumpul ibu-ibu. Maaf jayus :”)) slowcooker ini memang praktis dalam membantu memasak MPASI. Biasanya digunakan untuk membuat bubur bayi, nasi tim, atau kaldu.

Prinsip kerjanya merebus dengan suhu rendah, biasanya selama enam jam. Jadi proses masak dimulai dari malam hari sehingga pas pagi saatnya makan sudah siap.

Kata teman-teman buibu yang kerja kantoran, alat ini memang membantu banget karena kepraktisannya. Tapi selama per-MPASI-an saya hampir nggak pernah pakai ini. Karena saya kerja di rumah jadi cukup pakai kompor sama panci aja hehe.

Kalau pun bikin nasi tim atau bubur tinggal direbus pakai panci kecil gitu. Toh di awal MPASI Akmal gampang bosan sama satu jenis makanan, jadi saya bikin nggak banyak, cukup buat sekali-dua kali makan aja. Besoknya ya bikin lagi :”)

Ada beberapa merk slowcooker yang hits di kalangan ibu-ibu. Misalnya, BabySafe, Takahi, Maspion dan lain-lain. Kalau harganya berkisar dari Rp 250 ribu sampai yang tiga jutaan juga ada. Mahal kaaaan haha.

2. Food Processor

Sebenarnya fungsinya mirip sama blender, hanya saja memang food processor ini lebih canggih hehe. Fungsinya untuk merajang sayur, menggiling daging, mencacah dan menghaluskan bahan masakan tanpa menggunakan air. Kalau blender memang hanya buat menghaluskan, sementara food processor bisa mengukus, mengolah, defrost, sekaligus menghangatkan makanan hanya dengan satu alat.

Kalau saya karena habis beli blender baru jadi kok sayang aja ya mau beli food processor hahaha. Lagipula harganya tentu saja lebih terjangkau blender daripada food processor XD

3. High Chair

Jujur aja sih pengen banget dulu belikan Akmal ini. Tujuannya membiasakan makan sambil duduk. Tapi pas dipikir-pikir dan survey harga, saya memutuskan mencari penggantinya. Kira-kira apa ya yang fungsinya sama (buat duduk) tapi sudah ada di rumah? AHA! Lalu saya mengakalinya dengan pakai stroller yang biasa dipakai buat jalan-jalan.

Untuk mengurangi kotor, saya lapisi tempat dudukannya dengan perlak. Jadi makanan yang mbleber nggak seberapa mengotori stroller, kalau pun kena tinggal dibersihkan pakai air. Selain itu saya beri tambahan bantal untuk menyangga punggung dan lehernya yang belum bisa duduk tegak sempurna.

4. Food Grinder

Ini alat penghalus makanan bayi tanpa menggunakan listrik. Bisa buat mengaluskan sayur yang telah dikukus, buah maupun daging yang sudah matang dan lunak. Praktis sih bisa dibawa ke mana-mana pas travelling. Kalau saya menggantikannya dengan : ULEKAN! HAHAHA. Atau saringan kawat.

 

5. Food Maker Set

Di dalamnya terdapat beberapa alat MPASI dengan funngsinya masing-masing. Tiap merk tentu beda. Tapi setahu saya yang paling lengkap ada food maker setnya Pigeon. Mulai dari alat pemarut, pemeras jeruk, penumbuk dan penyaring.

Menurut saya ini nggak perlu-perlu amat kalau di rumah kita sudah ada perlengkapan yang fungsinya sama dengan itu. Misalnya, saya sudah ada parutan, saringan kawat dan ulekan jadi ya nggak beli perlengkapan set ini hehe.

 

Sebenarnya beberapa perlengkapan MPASI yang saya sebutkan di atas termasuk optional. Kalau tidak pakai ya tidak masalah. Kalaupun mau beli jangan lupa survey dan cek dengan teliti ya.

Lalu apa saja perlengkapan saya selama masa MPASI Akmal? Di bawah ini beberapa daftar perlengkapan MPASI yang saya siapkan :

1. Panci Kecil/Kukusan

Saat awal MPASI saya menyendirikan panci khusus masak MPASI dengan masakan dewasa. Maksudnya agar tidak tercampur dengan bahan-bahan yang sebenarnya belum bisa dikonsumsi bayi, micin misalnya hahaha. Kalau di awal kan paling hanya bikin bubur atau nasi tim, jadi saya pakai yang panci kecil.

Selain itu selalu sedia panci khusus kukusan. Awal MPASI paling banyak masak jenis kukusan. Apa-apa dikukus, misalnya kentang, wortel, ikan, daging, ayam bahkan buah yang agak keras seperti apael dan pear saya kukus. Lalu tinggal dihaluskan dan disaring pakai saringan kawat.

2. Saringan Kawat

Ini sih beli di pasar juga banyak hehe. Kalau MPASI awal kan tekstur masih lembut jadi setelah dikukus saya saring pakai ini. Saringan ini bisa dipakai buat nyaring apa saja. Mulai dari ikan, buah-buahan, sayur dll.

3. Blender

Kenapa pilih blender? Ini bisa dipakai jangka panjang nggak hanya pas MPASI saja. Selain bisa buat menghaluskan makanan bayi bisa juga menghaluskan bumbu dan bikin jus. Tapi jujur saja saya jarang menghaluskan makanan pakai blender, seringnya pakai saringan kawat aja biar teksturnya nggak terlalu encer. Blender lebih sering terpakai buat bikin jus.

4. Baby Food Movers

Sejenis wadah makanan. Bisa buat menyimpan biskuit bayi atau finger food lainnya seperti buah-buahan. Saya belinya di supermarket, lupa sih harganya hehe yang jelas nggak sampai seratus ribu. Satu set isinya tiga dan bisa dilepas-pasang. Wadah ini kecil jadi kalau mau dibawa travelling nggak makan tempat.

5. Parutan

Ini berguna banget buat MPASI di awal-awal. Karena tekstur makanannya masih lembut jadi selain disaring saya biasa juga pakai ini. Misalnya, daging beku lalu diparut buat tambahan protein hewani. Atau brokoli dan wortel saya pakai alat ini.

6. Celemek/Slaber

Celemek bisa pakai apa saja kok, pakai kain biasa juga bisa hehe

Saya pakai yang jenis¬†waterproof¬†biar gampang dibersihkan haha dan ini mudah dibawa ke mana-mana. Tapi ini pun nggak kepake lama karena Akmal nggak betah ūüôĀ

Pakai celemek cuman sampai usia 10 bulanan, sisanya yaudahlah pasrah makanannya¬†mbleber¬†ke baju ūüôĀ

7. Sikat Gigi Silikon

Sejak mengenal makanan selain ASI saya mulai membersihkan mulut Akmal pakai ini. Selain mengenalkan kegiatan sikat gigi, juga untuk membersihkan sisa-sisa makanan. Kalau pun belum ada bisa juga membersihkan mulutnya pakai kasa dan air hangat. Tapi kudu pelan-pelan sih karena teksturnya lebih kasar dari sikat gigi silikon.

***

Nah, itu dulu deh beberapa perlengkapan MPASI yang sebenarnya tidak perlu dan optional versi saya ya. Sebenarnya mengawali MPASI nggak perlu yang dipikir ribet atau gimana. Dan perlengkapan MPASI juga nggak perlu yang mahal dan bermerk. Asal bahannya BPA free dan aman buat anak-anak.

Saya sih mikirnya nyari perlengkapan MPASI dan bahan-bahan masakan yang mudah didapat di sekitar kita. Yang penting unsur gizi empat bintang menurut WHO terpenuhi, seperti protein hewani, protein nabati, karbohidrat, lemak dan vitaminnya. Jadi, apakah anak saya harus makan ikan salmon setiap hari? Ooo ya tentu tidak. Kalau ada yang lebih murah dan memiliki kandungan gizi yang sama ya ngapain harus minder hehe.

Jadi, gimana buibu sudah ancang-ancang buat MPASI? Apa saja nih persiapannya?

 

Akun Parenting Favorit di Instagram

Hari gini nggak punya Instagram?

Nggggg gimana gitu ya… hehe enggak ding, nggak punya juga nggak apa-apa sih. Cuman sebagai generasi ibu-ibu millenial, sekarang apa-apa pasti¬†updatenya¬†ya lewat Instagram.

Mau bikin camilan anak, searching lewat akun mama-mama yang doyan masak. Bingung mau masak apa hari ini, ya tinggal klik aja video-video di akun masak-memasak yang bertebaran di IG. Mau nggosip seru ala buibu komplek di IG mah juga banyak. Tapi saya sih nggak tertarik hehe. Selain cuman bikin panas hati dan pikiran, nambah dosa lho! Naudzubillah kan.

Nah, selain suka kepoin akun masak-memasak, saya juga nggak mau ketinggalan akun-akun yang kontennya berkaitan dengan dunia¬†parenting.¬†Sejak jadi Ibu saya berasa antusias banget mau belajar ini, pengen belajar itu. Padahal dulu zaman mahasiswa, ngerjain tugas aja malas-malasan, apalagi datang ke kelas sering banget telatnya! No, jangan ditiru ūüôĀ

Saya akui di era digital ini memudahkan banyak orang buat belajar otodidak bahkan¬†free¬†hanya melalui internet. Tinggal¬†klak…klik..klak…klik¬†muncullah sederetan informasi yang kita inginkan dan butuhkan. Ya termasuk ilmu-ilmu¬†parenting.¬†Di IG memang sudah banyak berjamuran akun-akun parenting, baik itu personal maupun media mainstream. Tinggal kitta aja yang harus pinter-pinter memilih dan memilah mana sih yang sebaiknya kita¬†follow¬†dan ilmunya bermanfaat buat kita.

Jujur aja saya¬†follow¬†banyak banget akun-akun parenting. Se-obsesi itu XD . Tapi belakangan saya mulai mengurangi¬†follow¬†akun-akun berbau parenting terutama yang personal karena kadang-kadang malah jadi¬†pressure¬†sendiri buat saya dalam mendidik anak, misalnya si artis yang itutu…ahhh sudahlah nanti malah jadi ghibah ūüôĀ . Tentu saja ini nggak sehat. Saya mulai memfilter mana saja yang perlu saya¬†follow.¬†And, here we goes :

1. Ibupedia (@ibupedia_id)

Sejak hamil saya sudah mantengin ini akun. Sungguh berguna buat calon ibu dan ibu baru. Topik-topik yang diangkat beragam dan solutif. Dikemas dengan singkat, padat tapi tetap informatif melalui gaya infografis yang memanjakan mata. Karena infografisnya gemas-gemas! Beda banget sama infografis media pada umumnya.

Waktu menjelang Akmal MPASI di Ibupedia ada beberapa info terkait hal itu. Banyak juga info soal bagaimana mengurus new born, soal MPASI, atau penyakit-penyakit yang kerap dialami bayi beserta tips-tipsnya.

Akun ini suka memberikan konten soal MITOS atau FAKTA. Di website nya juga lengkap, cek di sini. Tulisannya runut, detail dan tidak ngasal seperti media yang nulis judul clickbait asal viral. Paling males banget kalau ada yang suka ngeshare artikel begitu.

2. Ummu Balqis (@ummubalqis.blog)

Kalau ini sih akun personal ya. Seorang Ibu beranak (mau) tiga yang suka banget sharing soal mendidik anak dan dunia pernikahan dari perspektif Islam. Saya suka sama tulisan-tulisannya di IG yang kerapkali “menohok”. Misalnya yang di bawah ini :

 

 

 

Tulisan Ummu itu lugas, sangat¬†relate¬†dengan kehidupan sehari-hari dan sering banget bikin saya jadi “tertampar”. Dia suka mengingatkan pasangan yang mau ataupun sudah bertahun-tahun menikah, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan anak muda perihal kehidupan¬†before atau after marriage.

Menekankan bahwa kehidupan pernikahan itu nggak seindah drama-drama korea. Mengingatkan bahwa untuk menjadi Ibu itu kudu belajar terus nggak boleh ngasal karena ya kan kita sedang diamanahi calon arsitek peradaban langsung gitu, lho sama Allah. Go follow her deh! Dan dia juga memiliki wadah untuk ibu-ibu yang mau belajar melalui kelas namanya Bengkel Diri. 

3. Rainbowcastle (@rainbowcastleid)

Akun ini dikelola oleh dua psikolog lulusan Universitas Indonesia, Devi Raissa dan Devi Sani. Salah satu dari mereka yang membuat perusahaan buku anak yakni Rabbit Hole. Rainbowcastle ini termasuk salah satu klinik psikologi berbasis bermain. Di klinik mereka menerapkan terapi yang menggunakan bermain sebagai metode pendekatannya, sehingga mengurangi resistensi anak dalam melakukan pemeriksaan dan intervensi psikologi. Saya belum pernah nyoba sih karena jauh di Jakarta hehe.

Konten IGnya lebih kepada bagaimana menghadapi dan mengelola emosi baik anak maupun orangtua. Misalnya, bagaimana tips menghadapi anak yang sedang tantrum, bagaimana menghadapi anak yang suka membentak dan memukul, bagaimana menanamkan kemandirian sejak bayi, dll. Banyak deh coba cek aja ya.

4. Annisa Steviani (@annisast)

Ini salah satu parenting blogger Indonesia yang IG storynya hampir nggak pernah saya lewati hahaha. Karena mbak Annisa ini sering membagi tips soal parenting yang REALISITIS! Penting lho buat buibu yang terlalu menuntut kesempurnaan dalam mendidik anak. Hehe. Agar tetap waras gitu sih katanya.

mbak Annisa juga suka menuangkan idenya dalam bentuk gambar.

Misalnya dalam urusan domestik. Annisa ini salah satu working mom yang hidup bertiga sama suami dan anaknya di apartemen tanpa ART maupun nanny. Jadi jikalau sudah lelah dengan urusan publik, tapi rumah berantakan dan cucian piring numpuk yaudahlah dikerjakan besok. Bahkan dia pernah membuat kampanye Gerakan Anti Setrika. Haha sebuah gerakan yang saya dukung seratus persen!

Saya juga suka sama tulisannya di blog. Tegas, lugas, apa adanya dan terkesan ceplas ceplos. Setiap kali baca sungguh langsung merasa relate. 

5. Rumah Inspirasi (@rumahinspirasi_id)

Akun yang dikelola oleh suami istri praktisi¬†homeschooling.¬†Pak Aar Sumardiono dan Bu Lala percaya bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan menyimpan potensi yang berbeda. Menurut mereka keunikan anak perlu dihargai dan difasilitasi sesuai keminatan mereka, bukannya malah “dipangkas” dan distandarkan. Untuk itulah mereka memilih jalan¬†homeschooling¬†bagi anak-anak mereka sebagai pendidikan.

Jujur aja sih tertarik banget sama konsep homeschooling ini, makanya saya ikutin akun mereka. Seru sekali kegiatannya bersama anak-anak mereka dan komunitas para praktisi homeschooler. Cuman saya masih galau mau beneran menerapkan nggak ya karena artinya saya harus menyiapkan kurikulum dan sederetan kegiatan yang beragam dan kreatif buat Akmal. Kan ribet yak Haha. Oya, pasangan tersebut sering memberikan webinar di blog mereka, cek di sini ya.

6. Stella Sutjiadi (@stellasutjiadi)

Seorang Ibu rumah tangga yang sungguh kreatif! Sering banget bikinin mainan edukatif buat kedua anaknya, si Daffa dan Luna. Nggak melulu tergantung sama mainan mahal-mahal yang ada di mall, Ibu Stella ini pinter banget dalam menerapkan bahan-bahan “sampah” dari rumah dan jadi mainan yang menggemaskan dan bermanfaat. Ibu ini juga tampak sangat menikmati perannya sebagai IRT. Sungguhan bikin senang lihatnya terutama buat saya yang masih sering¬†ngeluh soal peran saya sebagai IRT.

Kalau buntu mau ngajak main apa, coba kepoin akun ibu satu ini deh. Ada banyak inspirasi soal permainan edukatif dari rumah.

7. Parentalk (@parentalk.id)

Kayaknya ibu-ibu sejagat di IG pasti follow ini akun hehe. Karena kontennya juga beragam dan sering memberikan tips. Dikemas dengan infografis yang simpel dan menarik. Selain itu kerap memberikan pernyataan para ahli dalam setiap topik yang diangkat. Mulai dari dokter, psikolog, praktisi dan profesional lainnya yang disesuaikan dengan tema kontennya. Sering juga mengadakan bincang-bincang LIVE di IG.

Di web mereka juga banyak artikel dengan beragam topik. Mulai tentang kehamilan, mendidika anak hingga soal pasangan suami istri.

8. What’s Up Moms (@whatsupmoms)

Kalau ini akun parenting dari Amerika. Dikelola sama duo moms si Meg Resnikoff dan Elle Walker. Mereka pernah dinobatkan jadi salah satu Top Influencer di bidang parenting oleh majalah Forbes. Dan saya akui kontennya memang bagus banget buat ibu-ibu millenial.

Mereka mengawalinya di Youtube. Kontennya seputar motherhood, tips travelling bareng bayi, dan yang paling saya suka adalah konten soal DIY, saya sih suka lihatnya aja tapi eksekusinya entah kapan haha. Mereka suka bebikinan, apapun, mulai dari camilan, baju, mainan edukatif, hingga DIY skincare ala rumahan! Kreatif banget lah duo moms ini. Kontennya juga segar, menghibur dan nggak membosankan.

Beberapa akun itu murni subjektif saya. Memang nggak semua pola parenting mereka bisa diterapkan karena tentu setiap keluarga punya visi dan value masing-masing. Tapi selama ada beberapa hal yang baik dan itu cocok di value keluarga saya ya why not? 

Kalau buibu suka ngikutin yang mana nih? Atau ada rekomendasi lain? Yuk, saling bertukar info ūüėČ

Supaya Nggak Kalap Saat Belanja di Big Bad Wolf

Saya termasuk yang tipe mikir-mikir dan selektif kalau pengen beli buku anak. Ditimbang-timbang dulu mulai dari judulnya, isi ceritanya, bisa buat usia berapa sampai berapa, hingga siapa penulisnya. Soalnya buku anak-anak kan mahal-mahal buk! Udah mahal kadang-kadang nggak semua buku bisa dibaca hingga anak agak besar. Jadi ya cuman buat pas bayi doang.

Waktu hamil saya udah kepo buku bayi melalui media sosial, Instagram misalnya. Banyak banget seliweran buku bayi yang harganya, menurut saya, selangit. Sampai jutaan lho.

Memang sih ada beberapa penjual yang membuat sistem arisan untuk membeli buku di mereka, tapi kalau dihitung dengan menyesuaikan budget keluarga tetap aja menurut saya mahaaal. Sebulan arisannya dibanderol mulai dari Rp 250.000 РRp 400.000.

Sejak Akmal lahir pun saya beli buku nggak langsung yang se-rak buku gitu. Toh, anaknya belum bisa lihat gambar secara sempurna (kala ituuu). Buku pertama Akmal yang jenisnya buku bantal. Karena ngeri disobek dan diemut-emut, jenis buku bantal berbahan kain ini sungguh aman buat bayi. Harganya pun lumayan terjangkau, per buku cuman Rp 25-40 ribu.

Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Lagipula si Akmal kalau udah suka sama gambar di salah satu buku, ya itu mulu yang minta dibacain. Jadi mikir¬†“ohh kayaknya belum perlu dibeliin buku yang macam-macam, yang harganya selangit itu. Hehe”.¬†

Nah, makanya waktu kemarin ada sale gede-gedean di Big Bad Wolf (BBW) yang diadakan di Jatim Expo Surabaya, saya nggak buru-buru langsung datang pas hari pertama pameran buka.

Saya pantau dulu lewat Instagramnya BBW seperti apa suasananya, apa aja buku yang dijual, seberapa sih budget yang perlu dipersiapkan, dan sebagainya. Perhitungan banget ya? Hehehe. Sejak punya anak semua kudu direncanakan, kalau enggak ya bisa buyar. 

Banyak banget yang buka jasa titip di medsos. Terutama sih Instagram. Diskon yang gila-gilaan di BBW hingga 80% membuat animo masyarakat beli buku lumayan tinggi. Terutama buku anak-anak ya.

Di timeline medsos saya banyak berseliweran buku anak-anak yang macam-macam gambar dan bentuknya. Ada yang bentuknya board book, sound book, busy book, sampai buku yang bisa dilipat gitu. Duuuh, melihat itu rasanya jadi pengen dibeli semua. Buku anak-anak tu gemas banget ya!

macam-macam buku anak-anak di BBW

Apalagi saat hari keempat (akhirnya) saya memutuskan untuk datang ke BBW Surabaya. Sesampai di sana eh kok malah bingung. Karena banyaaaak bangeett buku anak-anaknya!

Hampir separuh ruangan itu dipenuhi sama buku anak-anak. Pas nanya petugasnya oh ternyata memang tahun ini porsi buku anak-anak lebih banyak dibanding jenis buku yang lain. Hampir 80 persennya dikuasai buku anak-anak. Sisanya ada buku biografi, novel sastra, komik, buku desain dan interior, resep masakan, buku tentang fotografi dan self-help.

Supaya nggak kalap saat ke BBW, kita memang perlu merencanakan jauh-jauh hari. Biar nggak bingung kayak saya pas datang langsung ke TKP. Kalau kata orang bijak sih, “Gagal Merencanakan, Berarti Merencanakan Kegagalan”. Waduh persoalan beli buku aja banyak maunya ya buuuk ūüėÖ

Baiklah, kalau menurut saya, yang pengen ke BBW (tahun depan kalau ada lagi) perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut :

1. Sediakan Budget Khusus

Setiap kebutuhan memang perlu dan harus ada pos khusus. Kalau enggak pengeluaran bisa bengkak buuk ūüė≠

Termasuk kalau mau beli buku di BBW, meskipun diskon hingga 80 persen. Tetep harus ada pos khusus. Kalau perlu disisihkan jauh-jauh hari. Setiap keluarga tentu beda-beda kebutuhannya. Mau beli buku berapa lusin? Tujuannya buat apa? Buku yang kayak gimana? Rencanakan! Kalau enggak tangan ini akan menggapai dan membawa pulang semua buku gemas itu :/

2. Buat List Jenis Buku Yang Mau Dibeli

Sebelumnya saya udah bilang, di BBW ini jenis bukunya beragam. Kalau buku anak-anak sendiri mulai dari sound book, board book, activity book, flip book, dan beberapa buku dongeng yang gambar-gambarnya super lucu dan atraktif. Kalau nggak direncanakan ya jelas lah mau dibawa pulang semua haha.

Saya pilih dan beli yang sesuai kebutuhan aja (menurut versi saya lho ya). Misalnya, kayak board book yang mengenalkan gambar-gambar hewan, warna, angka dan huruf.

Lalu saya pilih buku referensi hewan-hewan macam National Geographic tapi yang versi tebal gitu. Buku tersebut saya pilih karena Akmal suka banget lihat hewan-hewan. Jenis kertasnya tebal dan mayoritas bergambar serta minim tulisan tapi real pict. Milih buku ini mikirnya sih agar bisa dipakai Akmal, minimal sampai SD haha. Jadi ke depan kalau mau beli buku bisa beli yang jenis lain.

Lainnya saya cuman beli buku-buku bahasa Indonesia terbitan Mizan yang mengisahkan tentang sahabat-sahabat Rasul. Namun, karena buku anak yang Islami sedikit (yaiyalah kan pameran buku impor buuk!) jadi saya nggak banyak ambil.

Kalau buku-buku impor anak yang berbau dongeng saya nggak seberapa tertarik. Karena saya kembali ke value yang ingin saya berikan ke Akmal soal konten bacaan dia. Saya lebih memilih mengenalkan kisah-kisah Nabi&Rasul, sahabat-sahabatnya, kisah hikmah Islami serta buku-buku yang mengusung nilai-nilai Islam. Untuk sementara di usia dia sekarang rasanya kisah-kisah itu perlu dikuatkan dahulu, sebelum cerita yang lain (kalau saya lho ini).

3. Jangan Minder dengan Belanjaan Tetangga

Di BBW itu yang belanja berkoper-koper bahkan sampai bawa trolley tuh banyak! Barangkali dijual lagi.

Kadang-kadang kalau lihat mereka yang bawa sekarung buku gitu jadi pengen ikutan nambah beli buku haha. JANGAN TERGODA! Ya kecuali kalau budget masih ada, tapi kalau belanjaan udah melebihi rencana keuangan beli buku ya lebih baik langsung ke kasir, pulang. Haha.

Kudu pasang kacamata kuda sih meski belanjaan buku kita ((kitaaaa, aku aja kaliii haha)) yang cuman sekresek. Nggak apa kan yang penting bagaimana buku yang kita beli itu bisa bermanfaat dan memberi pengaruh yang kuat pada diri. Assek.

4. Teliti Sebelum Membeli di Jastip

Kadang-kadang ada yang domisili di luar kota, jauh dari jangkauan tempat BBW berlangsung lebih memilih jasa titip alias jastip buku. Nah, yang buka jastip nih yang biasanya belanja sampai berkarung-karung.

Tentu saja transakasi jual belinya lewat online. Kalau bisa cek dan teliti dulu buku yang mau dibeli di jastip, mulai dari kondisinya, harganya, konten bukunya seperti apa, kira-kira worth it nggak harga segitu dengan jenis buku begitu. Kalau enggak ya jangan maksa beli daripada nyesel hehe.

5. Bawa Uang Tunai

Kalau saya memang dasarnya lebih suka pakai uang tunai. Males pakai credit card karena akan berujung pada penyesalan. Haha, hayooo ngaku nih yang suka belanja nggak kekontrol pakai credit card. 

Sebenernya sih memang lebih praktis pake kartu kredit atau debit, tapi takut nggak kekontrol (saya sih ini haha). Makanya kalau pakai duit cash yang ada di dompet kan kelihatan dan ketahuan gitu habisnya belanja berapa.

Yang paling penting belanja di BBW itu bukan buat gaya-gayaan, tapi bagaimana buku yang kita beli itu DIBACA dan bermanfaat.

Jadi, apa kabar buku-buku yang dibeli di BBW, masih nganggur nih di rak buku ūüôĀ

Kalau kamu gimana? Sudah pernah ke BBW belum? Beli buku apa saja nih? Share dong!

 

 

Pengalaman Mastitis dan Pentingnya Ilmu Menyusui

Sebuah pesan di smartphone saya masuk. Singkat dan penuh permohonan.

“Kamu pernah mastitis? Sakit banget ya ternyata. HELP!”

Begitu pesan singkat seorang teman lama yang sedang menjalani perannya sebagai ibu baru. Dulu kami teman SMP, kini telah menjalani kehidupan masing-masing. Saya di Malang, dia di Bandung. Kalau pun kami bertetangga, saya akan segera meluncur ke rumahnya, dan nggak segan menawarkan bantuan untuknya.

Saya tahu rasanya seperti apa.

Teringat kembali malam itu. Satu tahun lalu, tepat saat Akmal masih berusia tiga minggu. Malam itu seperti biasa saya menyusui Akmal menjelang tidur. Namun entah kenapa tiba-tiba badan saya menggigil, saya kedinginan. Padahal saat disentuh, tubuh saya panas sekali.

Ya Allah apa lagi ini? Batin saya ketika ujian sebelumnya-Akmal harus dirawat di NICU selama tiga hari lantaran kuning-baru saja selesai.

Awalnya saya mengindahkannya. Saya mengatur ulang posisi menyusui dengan berbaring menyamping. Sebelumnya duduk. Saya pikir ah palingan bentar aja ini menggigilnya. Namun ternyata makin malam makin parah. Ditambah sakit kepala yang berdenyut-denyut, payudara saya pun ikut nyut-nyutan, sakit sekali. Saya mulai nggak kuat melanjutkan menyusui Akmal.

Karena seluruh anggota keluarga di rumah khawatir, terpaksa malam itu saya dibawa ke UGD RSAL Surabaya. Dan Akmal saya tinggal di rumah bersama ibu, karena suami saya sedang bekerja di luar kota. Terpaksa lagi dia harus minum susu formula. Ah hati rasanya ikutan cenut-cenut. Sedih banget lah pokoknya.

Sampai di rumah sakit saya harus ngantri. Makin malam ternyata pasien makin banyak. Ya sudah pasrah lah.

Saya duduk sambil merapat kan jaket, sesekali menengok ke ruangan periksa menunggu giliran nama saya dipanggil.

Saat tiba nama saya dipanggil, dokter umum tersebut menanyakan keluhan saya, memeriksa detak jantung, dan suhu tubuh saya yang mencapai 39 derajat celcius! Pantas panas sekali. Tim kesehatan segera meminta saya untuk cek darah di laboratorium. Hasilnya leukosit alias sel darah putih saya jumlahnya berlebih. Saya nggak paham maksudnya. Tapi kata dokter itu berarti ada banyak bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Dokter hanya memberikan saya antibiotik melalui selang infus. Tidak sampai bermalam, hanya beberapa jam saja. Setelahnya saya diizinkan pulang dan diresepkan antibiotik untuk diminum di rumah, yang tentu saja aman dan tidak berpengaruh ke ASI.

Saat itu dokter umum yang memeriksa belum mendiagnosa dan memutuskan bahwa saya kena mastitis. Dokternya cuman bilang¬†“mungkin kelelahan bu. kan habis melahirkan,”.¬† Karena kurang puas besoknya saya pun kembali konsultasi pada dokter anak yang pernah menangani Akmal saat dia kuning dulu. Saya baru mengetahui kalau terkena mastitis setelah payudara yang bengkak tak kunjung kempis selama dua hari. Dan sakitnnya nggak ketulungan!

Saat dilihat ciri-cirinya, dokter anak pun menyimpulkan bahwa saya memang terkena mastitis dengan gejala seperti:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38-40 derajat Celcius
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.

Waktu dijelaskan sama bu dokter, ternyata mastitis itu nggak bisa disepelekan ya. Pada kasus mastitis ini terjadi proses peradangan payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir.

Kalau ia dibiarkan maka bisa berujung mastitis berulang/kronis dan abses. Waduh apa lagi ya itu?

Yakni kondisi dimana ciri-ciri di atas yang tak kunjung menghilang selama berhari-hari. Jadi harus segera diambil tindakan bedah. Tujuannya untuk mengeluarkan cairan ASI yang terkumpul dan tidak terdistribusi ke bayi dengan sempurna. Hiks serem ya!

Mengatasi Mastitis

Beberapa cara akhirnya saya lakukan demi ‘mengusir’ mastitis ini.

  1. Mengompres payudara dengan handuk hangat setiap beberapa jam sekali.
  2. Sesering mungkin menyusui si bayi. Kalau dia menunjukkan tanda-tanda kenyang, ya diperah dulu lalu masukkan ke dalam botol. Katanya sih mastitis itu terjadi karena menumpuknya ASI yang tersumbat dan membuat payudara jadi membengkak.
  3. Pijat. Minta tolong suami atau tukang pijat deh buat mijat punggung sama leher. Kalau pun nggak ada orang kita bisa kok memijat sendiri terutama pada payudara yang bengkak. Dulu pas di RS diajarin sama bu bidan dan DSA kalau memijat payudara secara memutar dan pijat searah ke puting . Setelah dipijat rasanya lumayan banget, lebih enteng dan rileks.
  4. Hindari pake bra yang ketat atau nggak usah sama sekali deh! Ini selama di rumah aja sih hehe. Selama menyusui saya malah lebih suka pakai pakaian yang longgar termasuk bra. Rasanya lebih ‘plong’ aja hehe.
  5. Bersihkan area puting dan aerola payudara sebelum dan sesudah menyusui. Saran dokter bisa membersihkan dengan kasa yang dicelupkan air hangat. Atau dengan ASI kita sendiri, ini berfungsi sebagai antibiotik alami.
  6. Memperhatikan posisi menyusui yang benar. Ternyata di awal menyusui saya tidak memperhatikan hal ini. Posisi menyusui yang salah, yakni bayi hanya menyusu area puting saja menjadikan ASI tidak terserap dengan baik oleh bayi. Sehingga menyebabkan pembengkakan payudara.

    Macam-macam posisi menyusui.
    Sumber : mommybites.com
  7. Mandi air hangat. Seriusan ini bikin rileks.
  8. Banyak istirahat dan minum air mineral. Pertama kali melahirkan rasanya memang lelah banget ya. Dan terlalu lelah ini bisa memengaruhi produksi ASI lho. Kalau stress bisa ‘macet’. Mau nyuci baju udah lah nggak sanggup haha. Jadi serahkan sementara sama asisten rumah tangga, atau suami hehe. Kalau saya kebetulan selama beberapa bulan setelah melahirkan tinggal di rumah ibu, jadi banyak yang bantuin. Alhamdulillah.

Selama melakukan beberapa hal tersebut, kondisi payudara saya berangsur pulih. Dari sinilah saya jadi sadar betapa pentingnya lho ilmu menyusui itu! Jadi sebelum melahirkan memperbanyak ilmu soal menyusui itu penting. Dulu saya terlalu fokus mencari tahu bagaimana mengurus bayi, pernak-pernik untuk bayi dan segala hal soal ‘makhluk kecil’ yang ada dalam perut. Saya lupa pada diri sendiri. Padahal kita (ibu dan bayi, dan suami) satu kesatuan tim. Jadi ya kudu kerja sama.

Menyusui memang nggak semudah dan seindah iklan-iklan di tivi maupun foto-foto yang bersliweran di media sosial. Namun saat kita memberikan ‘cairan kehidupan’ pada anak, saat itulah kita juga ‘mentransfer’ cinta dan kasih sayang padanya. Jadi semangat menyusui buibu! ūüôā

Kurangi Larangan Pada Anak dengan Berkata ‘Iya Boleh’

‚ÄúJangan pegang itu, nanti luka kena tangan!‚ÄĚ

‚ÄúJangan lari-lari!‚ÄĚ

‚ÄúJangan naik-naik meja!‚ÄĚ

‚ÄúJangan main di pasir ih kotoooorrr!‚ÄĚ

 Terdengar sangat familiar ya? Hayoo buibu siapa yang juga sering begini ke anak?

Sejak jadi ibu saya jadi lebih sering khawatir, terlebih sama anak. Apalagi si Akmal sedang masa-masa suka eksplorasi, apapun dan di mana pun.

Mau eksplor apapun…bebaaaasss

Ada benda-benda kecil di lantai, diambil lalu dimasukkan ke mulut. Ada barang yang baru buatnya padahal berbahaya seperti pisau maunya disaut aja. Bisa buka kran sedikit saja eeehh keterusan deh main airnya. Nemu tempat main yang lebih luas macam lapangan, dianya keliling aja ke sana kemari macam setrikaan haha.

Terkadang jika sudah terlampau lelah mengikuti polah Akmal yang mengeksplor apapun itu, saya suka refleks bilang ‚ÄúJANGAN‚ÄĚ!. Padahal sebenarnya kurang bagus, ya bu buat tumbuh kembang dan psikis anak.

Seperti yang dikatakan oleh psikolog Ratih Ibrahim dalam Dancow ‘Iya Boleh’ Camp di Royal Plaza, Surabaya lalu (Sabtu, 1 September 2018). Menurut Ratih jika kita sebagai orang tua sering melarang anak dan berkata JANGAN, anak akan merasa tidak percaya diri. Mau melakukan ini tidak boleh, mau ke sana tidak boleh, dan seterusnya.

Psikolog Ratih Ibrahim memberikan penjelasan tentang pengasuhan anak.

Selain itu anak jadi kurang imajinatif. Lha gimana, rasa ingin tahunya saja kita ‘tekan’ dengan melarangnya melakukan apa-apa yang menurut kita nggak baik. Padahal bisa jadi si anak sedang mempelajari sesuatu dari polah tingkah mereka. Lewat main air bisa jadi mereka belajar soal rasa dingin, bagaimana rasa air, dan teksturnya. Lewat main pasir barangkali dia belajar bagaimana baunya, teksturnya, warnanya. Dan seterusnya…

Menurut Ratih, keterlibatan aktif orangtua memegang peran penting saat mendampingi si kecil melakukan eksplorasi pertamanya. “Kemandirian menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan pada si kecil agar semakin percaya diri untuk bereksplorasi. Saat eksplorasi orangtua perlu juga percaya pada anak untuk berkata ‘iya boleh!’ sehingga anak menjadi berani eksplor,” tuturnya.

Namun tentu saja tidak melulu kita mengatakan ‘iya boleh’ pada anak. Ada beberapa hal yang harus kita pilah mana yang boleh maupun tidak. Hal tersebut berlaku jika situasi dan lingkungan untuk eksplorasi anak aman, maka tidak masalah mengatakan ‘iya boleh’. Tapi jika membahayakan maka sebaiknya kita perlu melarangnya dan jangan lupa menjelaskannya mengapa tidak boleh.

Misalnya, si Akmal suka sekali ‘menemani’ saya saat masak di dapur. Ada banyak barang dan hal di dapur yang membuatnya penasaran, contohnya pisau. Tentu saja saya harus melarangnya memegang benda tersebut dan menjelaskan mengapa belum boleh memegangnya.

Selain Ratih, ada dua bunda inspiratif yang juga berbagi soal kegiatan eksplorasi anak-anak mereka di Talkshow Dancow Camp kemarin. Ussy Sulistiawati dan Intan Nuraini.

Ussy mengakui perlakuan terhadap masing-masing anak tentu berbeda. “Dulu sebelum mendapat pencerahan di Dancow, aku sama ratakan pengasuhannya, istilahnya otoriter. Sering banget aku larang untuk bereksplorasi. Tapi sekarang jadi lebih memahami anak-anak dan lebih legowo,” tuturnya.

Dia juga menceritakan perihal masalah orangtua zaman now yang hidup di era digital. Anak-anak mereka jadi mengenal gadget di usia yang masih balita. “Memang sih persoalan gadget ini susah ya. Untuk mengalihkannya aku mengajak anak-anak ke kegiatan lain seperti membaca buku, menggambar atau main di taman terbuka,” lanjutnya.

Oya, selain sesi sharing bersama para narasumber inspiratif, di acara ini juga disediakan arena booth permainan untuk anak-anak. Ada 7 booth eksplorasi yang membuat anak-anak betah saat orangtuanya menimba ilmu hehe, diantaranya:

1. Petualang Cilik : Arena ini diperuntukkan untuk kategori usia 1-3 tahun. Anak-anak bisa mainan keseimbangan diri dengan berdiri di atas jembatan dan memanjat jaring-jaring.

2. Jemari Melukis : Arena ini untuk mendukung eksplorasi si anak di bidang seni dan warna. Mereka bisa berkreasi dengan acrylic untuk mewarnai tas hasil karya mereka sendiri.

3. Tembikar Ria : Anak-anak bisa berkeksplorasi membuat ragam bentuk dari tanah liat.

4. Pahlawan Cilik : Di arena ini anak-anak dilatih kemampuan psikomotoriknya, menumbuhkan perhatian dan menyelesaikan masalah. Cara bermainnya si anak diajak menyelamatkan boneka kucing dengan melewati berbagai tantangan fisik.

5. Penjelajah Hutan: Mengajak si kecil menjelajahi hutan, menemukan beragam hewan melalui layar gerak, serta mempelajari karakteristik hewan.

6. Prajurit Bakteri Baik : di arena ini anak-anak bermain peran sebagai bakteri baik, Lactobacillus rhamnosus, yang akan berperang melawan bakteri jahat, melalui layar digital interaktif yang akan melatih kecerdasan memori, perhatian dan psikomotorik.

7. Teater Fauna :merupakan arena sandiwara boneka tangan untuk si kecil berinteraksi dengan hewan favoritnya yang dapat menstimulasi perhatian, mengasah penyelesaian masalah serta kemampuan linguistik si kecil.

Gimana seru ya acara dan booth campnya? Jadi mulai sekarang saya akan mencoba mengurangi larangan dan berkata jangan, selama itu baik untuk proses tumbuh kembang anak. Selamat menemani anak-anak bermain ya bunda-bunda! ūüôā