Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga Page 2

Pengalaman Pertama Pakai KB IUD

Dulu sebelum menikah saya bercita-cita punya banyak anak. Minimal kayak ibu saya lah, 4 atau 5 orang. Pas udah merasakan sendiri punya anak ohlalala seribet itu ternyata hahaha.

Sotoy banget mau punya anak banyak hanya karena mereka terlihat menggemaskan (saat masih kecil sih). Setelah Akmal lahir dengan segala kerempongan mengurus anak pertama, cita-cita punya anak banyak kok mulai samar-samar dan mulai mikir-mikir lagi hahaha.

Itulah kenapa ide untuk pasang KB muncul dan saya utarakan ke suami. Awalnya sih suami masih maju mundur mengingat banyak cerita nggak mengenakkan yang dia dengar soal KB. Nah, saya juga jadi keikutan deh. Alhasil setelah Akmal lahir ya nggak langsung KB. Masih antara takut, ragu tapi sebenarnya pengen juga.

Kenapa KB IUD?

Lalu setelah mendengar kabar beberapa teman sepantaran atau tetangga yang hamil lagi dalam jarak dekat, ada yang 1 tahun, bahkan 6 bulan kemudian hamil lagi!

Alamak saya jadi semacam menguatkan diri buat menyegerakan program KB!

Bukannya kufur sama rezeki dari Allah dan bukannya saya nggak pengen punya anak lagi, hanya saja ini sebagai upaya untuk memberi jeda usia anak agar lebih maksimal dalam membesarkan anak sebelumnya. Agar lebih siap dalam mendidik anak seutuhnya.

Sebab punya anak itu ya nggak hanya sekadar dikasih makan, tempat tinggal yang nyaman atau pakaian yang layak. Lebih dari itu punya anak ya juga harus dididik dengan baik dan ini tu persiapan dan belajarnya nggak bisa mendadak.

Mendidik itu nggak bisa mendadak bunda-bunda!

Setelah maju mundur mau program KB atau tidak, tepat di saat usia Akmal 10 bulan saya akhirnya memberanikan diri ke dokter kandungan buat konsultasi soal ini. Setelah dijelaskan segala efek samping, efektifitas dan cara kerja beberapa jenis alat kontrasepsi seperti suntik, minum pil KB atau IUD, akhirnya saya memutuskan pakai KB IUD saja.

Kenapa?

  1. Karena IUD efektifitasnya tinggi. Artinya ya minim terjadi kehamilan. Kalau ada yang hamil kemudian saat pasang IUD yaudah terima aja deh kuasa Allah itu ya hehe.
  2. Nggak ada efek samping hormonal. Kalau pil KB atau suntik kata dokternya sih bisa mempengaruhi hormon. Pengaruhnya ke berat badan, emosional atau beberapa efek samping seperti gampang jerawatan. Tapi balik lagi sih ya cocok-cocokkan hehehe.
  3. Nggak memengaruhi kualitas dan volume ASI.
  4. Nggak perlu minum obat-obatan lagi. Ini cocok banget buat saya yang males dan anti ribet haha. Kalau IUD sekali pasang bisa efektif dalan jangka waktu yang panjang. Dan saya pilih IUD Nova T yang jangka panjangnya 5 tahun.

Sakit Nggak Pakai IUD ?

Menurut saya sih lebih sakit saat cek dalam mau persalinan atau mulas-mulas saat mau melahirkan. Ini masangnya cepet banget kok. Nggak sampe lima menit!

“Tenang ya bu, rileks aja. Nggak usah tegang nanti tambah sakit” kata bu dokter kandungan yang meriksa saya saat ngecek rahim lewat USG.

Awalnya sih saya ngeri melihat alat-alat buat masang IUD. Macam cocor bebek gitu lho haha. Tapi sebenernya kalau kita berusaha rileks dan tenang, nggak segitu banget sakitnya. Reset mindset aja kalau masang ini akan baik-baik saja, nggak sakit dan bismillah aman.

Efek Setelah Memakai IUD Nova T?

Setelah pasang IUD beberapa hari setelahnya memang keluar darah tapi nggak banyak sih. Semacam flek aja. Saya pun konsultasi lagi ke dokter kandungan. Katanya itu masih batas wajar. Pas dicek lewat USG semua aman terkendali.

Alhamdulillah.

Hanya saja saat menstruasi memang jadi lebih banyak dari biasanya dan lebih lama. Saya yang biasanya menstruasi 5-7 hari, eh sekarang bisa sampe 9-10 hari.

Selain itu nggak berpengaruh pada saat berhubungan. Selama ini aman. Alhamdulillah.

Hingga usia Akmal dua tahun kini saya masih pakai IUD dan nggak ada keluhan. Belum ada rencana kapan mau dilepas hahaha. Nunggu Akmal sekolah kali ya hehe.

Intinya sih kalau mau pasang alat kontrasepsi, apapun itu, konsultasi dulu ya bunda-bunda!

Buat saya dan suami program KB itu bukan soal menolak rezeki. Kami hanya ingin memberi jeda usia anak. Supaya bisa lebih matang dan maksimal dalam membesarkan anak. Selebihnya ya tentu saja itu kuasa Allah. Kalau dikasih lagi ya alhamdulillah. Kalau belum ya santai saja hahaha.

 

Agar Anak Jago Kandang Lebih Percaya Diri

Waktu kecil saya pernah dapat julukan anak jago kandang. “Ah, kamu mah beraninya di rumah aja, di luar melempem”. Label itu bahkan masih terlontar dari beberapa anggota keluarga dekat hingga sekarang punya anak.

Padahal sesungguhnya saya tipikal observer atau istilah lainnya slow-to-warm-up. Cailah. Artinya, saya butuh waktu untuk kenal sama orang yang baru saya jumpai. Saya amati dulu seperti apa orangnya? Apakah saya bisa nyaman ngobrol dengannya? Apakah orang ini bisa dipercaya nantinya?

Saya tipikal yang belum bisa seterbuka orang-orang yang pembawaannya easy going, yang sekali ketemu orang langsung kayak udah kenal sepuluh tahun. Pembicaraan langsung lancar kayak air terjun. Belum hehehe. Tapi kalau sudah merasa nyaman sama orang tersebut saya bisa curhat dan terbuka bahkan buka-bukaan *eh* hehehe.

Dan karakter ini sepertinya nurun ke anak lanang saya, Akmal. Setiap kali saya ajak playdate dengan teman yang juga punya anak sebaya Akmal, atau mengajaknya ke playground, Akmal tidak serta merta main sama teman-temannya. Diajak kenalan pun dia diem dulu, lihatin temennya baru mau salaman. Kalau nggak mau ya saya juga nggak maksa sih.

Dia lebih memilih asyik sendiri, mencari permainan dan berimajinasi sendiri. Eh tapi giliran kita mau pulang, dia malah mulai akrab dan berujung nggak mau pulang. Kalau sudah kenal dan merasa nyaman, biasanya Akmal nggak sekadar mau salaman tapi malah ngajak ngobrol dan ketawa-ketawa.

Gara-gara ini Akmal jadi kecipratan dapet label serupa. “Owalah anak kamu jago kandang ya”. Sedihnya yang bilang begini adalah anggota keluarga terdekat. Tapi suami berusaha mengadem-ademkan hati, “Nggak apalah santai aja, masih panjang kok waktunya. Dia perlu pembiasaan (di lingkungan baru) aja kok,” ujar suami.

Berbagai Trik Agar Anak Percaya Diri

Saya dan suami akhirnya sepakat untuk membiasakan Akmal di lingkungan selain keluarganya. Misalnya, menyempatkan silaturahmi ke teman-teman kami yang juga memiliki anak.

  • Berkenalan dengan orang baru ini menjadi salah satu pembiasaan agar Akmal lebih familier dengan banyak jenis orang, selain ayah dan bundanya. Tentu saja nggak sekali dua kali, butuh berkali-kali. Akmal pun nggak langsung “cair” sama orang baru. Kecuali kalau menurut dia orangnya perhatian banget sama Akmal. Misalnya disapa dulu, diajak salaman, diajak ngobrol terus, dipancing buat cerita, lambat laun Akmal mau main sama mereka.
  • Membebaskan Eksplorasi selama tidak membahayakan. Saya dan suami percaya anak yang kurang percaya diri dan minder sebabnya karena sering dilarang melakukan ini-itu. Jadi, selama itu bisa mengasah eksplorasinya ya saya bolehin aja. Naik-naik tangga? Boleh aja asal didampingi. Main air kran setelah mandi? Yaweslah nggak apa nanti bisa ganti lagi kok. Main bola di lapangan penuh pasir? Oke aja nanti bajunya di laundry kan bisa haha. Tapi kalau udah merambah hal-hal yang berbahaya seperti mau mainan gunting atau pisau ya BIG NO NO!
  • Mendorongnya melakukan sesuatu sendiri terlebih dulu. Tidak mencoba memberikan bantuan terlebih dahulu. Misalnya, membiarkannya minum susunya sendiri di gelas. Menyendok makanannya di mangkok. Membuka celana sendiri meski belum sempurna. Atau meletakkan bukunya sendiri di rak. Kalau terlihat frustasi karena nggak bisa maka baru saya menawarkan bantuan padanya.

  • Membacakannya buku. Saya juga belum observasi lebih dalam sih apakah kelak membacakannya buku bisa meningkatkan tingkat kepercayaan diri anak. Tapi setelah diamati, rutin membacakannya buku bisa menambah kosa kata Akmal. Dia jadi suka menceritakan kembali isi buku yang baru saja dia baca. Meski beberapa kata saya belum paham maksudnya lantaran dia masih cadel tapi saya tetap meresponnya dan memujinya. Dengan begitu dia bisa PD aja bercerita dan ngobrol sama orang.

Trik Agar Anak Tambah Percaya Diri: Belajar Bahasa Inggris

Yap! Secara ya bahasa Inggris ini sudah dipelajari jutaan orang di dunia bahkan sudah masuk kampung-kampung di Indonesia. Saat ini Akmal baru saya kenalkan beberapa kosa kata dalam bahasa Inggris. Seperti warna, hewan dan angka. Itupun belum semua. Meski begitu orangtua mana sih yang nggak kepengen anaknya bisa fasih bahasa selain bahasa Indonesia, yakni bahasa Inggris.

Selain mengenalkan bahasa Inggris melalui buku cerita bisa juga dengan mengantarkannya ke lembaga bahasa Inggris. Salah satu lembaga bahasa Inggris yang kompeten ya English First. Selain sudah berpengalaman selama 30 tahun mendukung pendidikan di Indonesia dengan menawarkan kursus bahasa Inggris, perjalanan pendidikan ke luar negeri, serta pertukaran akademi dan budaya, di EF juga banyak banget program untuk anak-anak.

Misalnya program EF Life Club. EF Life Club merupakan kegiatan extrakulikuler  yang penting dan merupakan bagian dari pengajaran komprehensif oleh EF. Dengan tema kegiatan yang beragam, anak dapat melakukan berbagai macam aktivitas yang seru sambil meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Selain itu ada juga ada program Holiday Academy. Di program EF.ID/bestholiday ini minat dan bakat anak diasah lebih mendalam sekaligus mempertajam kemampuan bahasa Inggrisnya. Selain itu dibikin sesuai dengan usia anak. Ada lima program di Holiday Academy ini;

  • Storytellers. Program ini diperuntukkan anak usia 3 – 7 tahun. Anak mempraktekkan bahasa Inggris melalui kegiatan menyenangkan, seperti bercerita.
  • Phonics. Kalau anak bunda usia 4 – 7 tahun dan ingin lebih mengenal bunyi kata atau kalimat bahasa Inggris dengan tepat, nah di sini kelasnya!
  • Reading Science. Nah ini buat anak bunda yang suka observasi dan berhubungan dengan sains. Diperuntukkan buat anak usia 9-13 tahun. Di kelas ini anak bisa melakukan berbagai eksperimen dan sains dalam bahasa Inggris
  • Writer’s Guild. Program untuk usia 11-13 tahun ini dirancang untuk mengasah kemampuan memahami teks ilmiah dan membuat berbagai macam tulisan.
  • On Stage (untuk anak usia 9-17 tahun) merupakan program yang dapat mengasah kemampuan anak dalam mendengar, berbicara sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya melalui bermain peran.

Gimana bunda seru banget kan programnya? Saya aja ngiler pengen Akmal bisa segera ikutan, tapi karena usianya belum dua tahun jadi saya nabung dulu deh hehe.

bahasa inggris untuk anak

Buat bunda-bunda yang buah hatinya sudah usia 3 tahun ke atas bisa banget dicoba pengalaman seru belajar bahasa Inggris di EF ini. Apalagi ada diskon menarik di periode April – Mei ini hingga Rp 2,45 juta beserta merchandise eksklusif! #AkuBisa jago Inggris dengan seru di EF.

Bunda-bunda bisa langsung mengunjungi EF.ID/amazingapril untuk pendaftaran kelas reguler EF buat ananda. Belajar bahasa Inggris di tempat yang tepat dan pada ahlinya Insyallah bisa makin meningkatkan kepercayaan diri anak. Saya juga merasa selama belajar bahasa Inggris di kampus dulu jadi merasa lebih pede saat ngobrol sama wong bule hehe. Kapan lagi bisa ikutan program-program seru di EF dengan para native speaker, suasana belajar yang menyenangkan dan berbagai eksperimen yang menarik? Yuk buruan!

Mengendalikan Emosi Saat Menghadapi Anak

mengenalkan emosi pada anak

Sore itu Akmal sudah mandi, sudah bersih dan wangi. Niat saya mau mengajaknya jalan-jalan keliling komplek. Saya memintanya untuk menunggu di teras sementara saya ganti baju dan memakai jilbab.

“Akmal tunggu sini. Duduk sini. Bunda mau ganti baju”. Saya pun masuk ke kamar dan segera berganti pakaian. Eh nggak lama terdengar suara air kran mancur dari arah luar. Kaget dong takut Akmal kenapa-napa, takut terpleset atau kekhawatiran lainnya. Saya bergegas keluar dan mendapati Akmal malah asyik bermain air kran. Tanpa rasa bersalah dia tertawa sambil main air. Hampir seluruh bajunya basah!

Sontak saya teriak “Yampun…astagfirullah Akmaaalll kan sudah mandi! Kok main air lagi sih!” rasanya mau ngomel dari A –  Z. Siapa sih yang nggak gregetan melihat anak sudah rapi jali eh lalu basah lagi. Tapi lantas saya teringat akan tantangan 17 hari di kelas Bunda Sayang (Bunsay) dari Institut Ibu Profesional (IIP) .

Jadi di kelas ini kami ditantang untuk menerapkan bagaimana berkomunikasi produktif ke anak. Kami harus menerapkan beberapa poin, salah satunya anak hanya akan menangkap pesan pendek, tidak bertele-tele, Keep Information Short and Simple. Jadi ya percuma saja dong kalau kita ngomel panjang-panjang. Misalnya gini,

Kalimat tidak produktif: 

“Yampuunn..Akmal kan bunda bilang tunggu di sini duduk aja. Tidak mainan air lagi. kan jadi basah semua ini baju kamu. Nanti masuk angin lagi. Duh kamu ini kan bunda capek harus gantiin baju lagi. Cucian bunda tambah banyak dong!”

Kalau diganti kalimat produktif jadinya begini:

“Bajunya basah lagi ya. Nggak apa-apa, ayo ganti baju lagi”.

Dari pelajaran tersebut saya jadi belajar mengendalikan emosi. Saya jadi belajar bagaimana menerapkan  komunikasi yang efektif kepada anak.

Sebelum ikut kelas di IIP, sejujurnya, saya mudah sekali tersulut. Akmal berantakin seisi kulkas, saya marah-marah. Akmal minta perhatian saat saya lagi sibuk masak, saya bentak. Akmal jatuh kejedot meja malah saya omeli karena “ya kan salahmu banyak tingkah” huhu. Saya nggak tahu maunya anak ketika sedang rewel. Akmal cranky, mood saya jadi ikutan nggak enak.

Dan baru sadar setelah bergabung di kelas IIP ini. Semakin sadar bahwa saya belum bisa memvalidasi emosi diri sendiri dengan baik. Saya terlalu banyak memendam, tanpa tahu perasaan apa yang sedang dialami. Alhasil, anak menjadi sasarannya. Setelah digali lebih dalam, ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Misalnya, kurang siapnya menjalani peran baru sebagai ibuinnerchild yang belum tuntas, masa lalu dari beberapa peristiwa tidak enak dikenang, pola pengasuhan sebelumnya, mengalami baby blues pasca melahirkan, dan hal-hal lainnya.

Tapi yang mau saya bahas adalah bagaimana mengendalikan emosi saat menghadapi anak. Salah satu poinnya adalah komunikasi. Ternyata sungguh menantang menerapkan komunikasi yang efektif ke anak. Terlebih dia belum memiliki perbendaharaan kata yang cukup dan pemahaman yang mendalam. Fffiiuuhh. Siap-siapin stok sabar yang banyak hehe.

Selama ini saya selalu berpikir agar anak harus nurut apa mau kita. Minta dia duduk yang anteng, ya mana mungkin wong fitrahnya anak memang banyak bergerak, mengeksplor sana sini. Minta melakukan ini itu dengan gercep, ya dia bingung dong, wong belum bisa menangkap informasi secara majemuk.

Rupanya soal komunikasi ini memang susah susah gampang sih. Selain menerapkan poin Keep Information Short and Simple, ada banyak poin komunikasi produktif yang bisa diterapkan ke anak.

1. Mengendalikan Intonasi Suara 

Seperti kejadian yang saya ceritakan di atas, suara yang meninggi hanya akan membuat Akmal nangis dan jadi tambah rewel. Saya mencoba inhale…exhale. Mencoba merendahkan suara seflat mungkin. Fokus sama solusi apa yang akan saya putuskan saat Akmal berbuat hal tersebut.

Ya tentu saja teori gampang, praktiknya MENANTANG! HAHAHA. Bayangin aja dong sudah seharian mengurus ini itu, full ngurus anak juga yang setiap harinya memberikan “tantangan” baru. Memang kok lelah itu bikin nguras emosi. Makanya kalau sudah capek banget saya sudahi urusan domestik, bodo amat cucian piring numpuk, lantai belum dipel, atau kalau belum sempat masak ya beli aja deh ke warung hehe, maklum belum ada embak ART atau nanny nih hehe.

2. Mengatakan yang Kita Inginkan, Bukan Sebaliknya

Misalnya Akmal lagi susah makan (persoalan sejuta ibu-ibu di dunia. Ayo ngacung supaya saya ada temannya hehe). Sudah dimasakin ini itu, tapi yang dimakan cuman ikannya aja atau lima suap aja. Saya bilang sama dia,

“Akmal makan yang banyak ya. Biar sehat dan kuat.”

Apakah anaknya mau langsung mangap? Kadang iya kadang enggak haha. Kalau enggak, kembali ke poin nomor satu haha. Kalau mentok yaudah deh tawarin makan lagi dua jam kemudian, atau kasih snack buah atau camilan yang lain.

3. Ganti Kata “Tidak Bisa” Menjadi “Bisa”

Biasanya terjadi saat Akmal sedang main. Misalnya main menyusun balok. Ternyata buat Akmal permainan ini cukup menantang. Kadang kalau merasa kesusahan terlontar kata “susah, bunda..” . Kalau sudah begitu saya memotivasinya agar mau mencobanya sekali lagi. “Ayoo, Akmal bisa. Dicoba lagi gimana ya caranya nyusun balok? Bisa yuk!”

Namun kalau terlihat sudah “frustasi”, biasanya diikuti dengan melempar mainan hehe, saya mencoba menawarkan bantuan padanya.

4. Jelas Dalam Memberi Pujian atau Kritikan

monetssori di rumah

Selama ini setiap kali melakukan sesuatu yang baik, misalnya membantu saya menyapu, saya memberikannya pujian, “Wah.. Akmal pinter!” Udah sebatas gitu doang. Eh ternyata ini pujian yang kurang efektif.

Sebaiknya kita juga menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan mana yang perlu dikritik. Jadi anak tahu perbuatan mana yang dapat apresiasi atau sikap mana yang perlu diperbaiki.

Misalnya, saya minta tolong ke Akmal untuk membuang tisu ke tempat sampah dan Akmal melakukannya dengan benar. Maka pujian yang efektif,

“Wah terima kasih Akmal pinter sudah buang tisu ke tempat sampah”.

5. Ganti Kalimat yang Menolak/Mengalihkan Perasaan dengan Kalimat yang Menunjukkan Empati

Misalnya nih Akmal kejedot tembok karena dia lompat-lompat mulu. Saya pernah bilang gini,

“Makanya dong Akmal jangan banyak gerak, kan jadi kejedot. Udah ayo istirahat!” (kalimat tidak produktif)

Lalu diganti,

“Sakit ya, nak? Yang mana yang sakit? Lain kali mainnya hati-hati ya, lompatnya pelan-pelan aja,”. (kalimat produktif). 

Sebenarnya masih banyak poin komunikasi produktif yang bisa diterapkan ke anak. Tapi saat melakukan tantangan dari kelas Bunsay ini saya paling sering menerapkan kelima poin tersebut.

Walaupun ini bagian dari tugas kuliah di IIP tapi saya rasa bisa diterapkan seumur hidup. Kerasa banget sih setelah ikut kelas ini saya jadi lebih bisa mengontrol emosi. Setidaknya tahu bagaimana mengendalikan emosi saat menghadapi anak.

Meski dalam proses perjalanannya saya sering merasa ingin sudahan, kapan sih selesainya, merasa ingin menyerah, tapi kembali teringat ternyata masih banyak lho ibu-ibu di luar sana yang hingga kini terus berjuang untuk menjadi ibu yang terus mau belajar, berproses menjadi diri yang lebih baik, mendidik anak-anak dengan penuh cinta dan keikhlasan. Lha saya anak baru satu tapi mengeluh udah kayak minum obat. Kan malu. Ya boleh aja sih ngeluh, tapi gamau dong kalo keterusan.

Semoga kita semua bisa terus berproses lebih baik ya dalam mendidik anak-anak, terlebih saat mengelola dan mengendalikan emosi. Bismillah semangat!

 

Manfaat Pijat Bayi dengan Sentuhan Cinta

Waktu Akmal bayi saya masih takut untuk memijatnya lantaran tubuhnya yang masih terlihat ringkih. Alhasil, saya serahkan ke tukang pijat bayi. Eh ndilalah ada beberapa gerakan pijat yang kurang tepat. Saya baru taunya pas kemarin (6 April) menghadiri pelatihan pijat bayi yang diadakan oleh Johnson’s dan The Urban Mama Meetup Bloggers di Hotel Ibis Style Surabaya.

Kata mbak Gina Puspanti Anggraeni, salah seorang certified instruktur pijat bayi mengungkapkan gerakan pijat bayi dibagi menjadi enam area. Yakni pijatan wajah, pijatan dada, pijatan perut, pijatan tangan, pijatan kaki dan pijatan punggung. Nah, bahkan untuk urusan pijat memijat pun ada ilmunya, nggak boleh sembarangan ya. Berikut ini saya jabarkan satu-satu :

teknik pijat bayi
mbak Gina, certified instruktur pijat bayi dari Johnson’s baby saat memberikan penjelasan teknik-teknik pijat bayi.

Teknik Memijat Bayi

Pijatan Wajah

1. CARESS LOVE (Sentuhan Cinta)

Gerakan pijat dari dahi ke bawah mengarah ke dagu bayi.

2. RELAX (Pijatan daerah alis)

manfaat pijat bayi

Pijatan area alis, dari tengah ke samping menggunakan kedua ibu jari.

3. SMILE 

Gerakan ini seperti membuat pola senyuman di atas bibir menggunakan ibu jari.

Pijatan Dada

1. BUTTERFLY

Gerakan kedua telapak tangan ke atas sampai di bawah leher. Kemudian ke samping dan kebawah kembali ke tengah, tanpa mengangkat tangan.

2. CROSS/MENYILANG

Kalau bagian ini bunda bisa memijat dada bayi dengan pijat menyilang. Dimulai dari arah pinggang menuju bahu dan sebaliknya. Lakukan secara bergantian, kanan dan kiri.

Pijatan Perut

1. “I”

Gerakan pijat membentuk pola huruf “I” dari perut kiri atas bayi.

2. “L.O.V.E”

Gerakan pijatan membentuk huruf “L” terbalik. Dimulai dari atas perut dari kanan atas ke kiri atas bayi. Kemudian, lanjutkan dengan membuat garis ke bawah perut.

3. “U”

Gerakan membentuk huruf “U” terbalik. Dari perut sebelah kanan bayi dan turun mengarah ke perut sebelah kirinya.

4. WALKING FINGERS

Caranya dengan menekan dengan ujung jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis bergantian berjalan dari kanan ke kiri.

Pijatan Tangan

1. FINGER SHAKE

Goyang dan tarik lembut setiap jarinya dari jempol hingga kelingking.

pelatihan pijat bayi

2. ROLLING

Gunakan kedua telapak tangan untuk membuat gerakan seperti menggulung dari pangkal lengan menuju pergelangan tangan.

3. MILKING

Pegang tungkai bayi dengan kedua telapak tangan. Tangan kanan memegang tungkai atas dan tangan kiri memegang tungkai bawah (seperti memegang tongkat kasti). Buat gerakan seperti memerah secara berulang-ulang.
A. Milking India: gerakan memerah dari paha ke bawah lalu
B. Milking Swedia: gerakan memerah dari tungkai ke atas

Pijatan Kaki

1. RELAX 

Menyilangkan kaki ke atas sehingga mata kaki kanan luar bertemu dengan mata kaki kiri dalam. Lakukan berulang kali.

2. SLIP (Pijatan Meluncur)

Letakkan bayi dalam posisi tengkurap. Posisikan satu telapak tangan Bunda, tegak lurus dengan tulang punggung bayi. Gerakkan telapak tangan dengan lurus atas ke bawah, dari leher hingga bokong

Minjem anaknya @nabilladp nih gemas sekali hehe.

Bagaimana bunda-bunda? Mudah bukan? Pijat bayi ini bisa dilakukan setiap hari, misalnya sehabis mandi. Jangan memijat bayi ketika sudah kenyang atau dalam keadaan mengantuk ya. Untuk lebih lengkapnya bisa mengunjungi artikel soal pijat bayi dari Johnson’s ini 

Kenapa sih sebegitu pentingnya memijat bayi sejak dini? Kata dr. Dyah Retno Wulan Spa saat memberikan penjelasan kemarin, banyak sekali manfaat pijat bayi baik bagi anak maupun bagi orangtua. Diantaranya;

Manfaat Pijat Bayi

  1. Membantu mengatasi gangguan tidur
  2. Membantu menurunkan stress bayi
  3. Membantu memperlancar pencernaan
  4. Memperbaiki sistem imun
  5. Membantu meredakan kolik, tumbuh gigi
  6. Membuat tidur lebih lama
  7. Membentuk bonding orangtua dan bayi
  8. Meningkatkan rasa percaya diri dalam mengasuh anak.

Wah banyak juga ya manfaatnya. Jadi keinget sama Akmal, salah satu aktivitas favoritnya ya pada saat dipijat sehabis mandi. Kalau mau tidur saya juga suka memijat agar tidurnya lebih nyenyak. Pantesan aja setiap kali dipijat Akmal lebih anteng hehe.

dr Dyah mengungkapkan pijat kepada bayi juga menjadi salah satu bentuk stimulasi untuk tumbuh kembangnya agar optimal. “Salah satu stimulasi awal yakni saat bayi lahir lalu diletakkan pada dada ibu dan melakukan inisiasi menyusui dini”, tutur dokter spesialis anak dari Universitas Airlangga tersebut.

Sentuhan ini memberikan stimulasi pada penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran serta keseimbangan fisik bayi.

Sentuhan Cinta dari Johnson’s

Pentingnya sentuhan sejak bayi ini pun didukung oleh Johnson’s. Melalui program Sentuhan Cinta, Johnson’s mendorong para ibu di Indonesia untuk terus mendukung pentingnya kesehatan dan perkembangan bayi, khususnya selama periode emas.

Program tersebut berfokus pada edukasi pijat bayi bagi seluruh ibu-ibu di Indonesia. Sentuhan Cinta sendiri diperkenalkan pertama kali pada tahun 2000. Yakni melalui peluncuran buku panduan pijat bayi Johnson’s yang bekerja sama dengan dokter anak Indonesia. Sejak itu, Johnson’s terus melakukan edukasi pijat bayi terhadap ahli kesehatan dan para ibu baru di seluruh Indonesia.

instruktur pijat bayi

Wynne Lukman, Brand Manager Johnson Baby mengungkapkan angka kematian bayi di Indonesia memang menurun namun belum mencapai target pemerintah. “Salah satu upaya menurunkan angka kematian tersebut selain memberikan nutrisi, adalah dengan memberikan afeksi, sentuhan fisik. Dan kontak fisik paling bagus ya sama orangtuanya langsung,” papar Wynne.

Wynne sendiri cerita kalau dulu anaknya bermasalah dengan kulit yang sensitif dan suka mengalami kolik. Saat mengetahui bagaimana cara memijat yang benar, serta menggunakan produk yang tepat untuk memijat, berangsur kulit bayinya sembuh dan koliknya mereda. “Bersyukur banget akhirnya dipertemukan sama produknya Johnson’s, saya selalu pakai untuk pijat setiap habis mandi dan mau tidur. Kulitnya kembali halus dan tidurnya jadi lebih nyenyak,” katanya.

Yuk! Dukung Kampanye Sentuhan Cinta

Tahun ini, Johnson’s mengembangkan program Sentuhan Cinta dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelatihan pijat bayi. Dan mengajak para ibu untuk berpartisipasi dalam pembangunan sarana kesehatan ibu dan anak.

Dengan mendukung program ini, ibu-ibu bisa turut berpartisipasi dalam pembangunan Posyandu di Randusongo, Gresik, Jawa Timur lho. Agar bayi dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Gimana caranya?

Ibu-ibu cukup melakukan pembelian produk Johnson’s di Alfamart dan Shopee senilai minimum Rp 25.000. Nah, setiap pembelian Johnson’s oil 125ml atau Top-to-Toe Bath 400ml atau Baby Lotion 200ml di toko – toko lainnya, ibu-ibu turut berpartisipasi dalam program Sentuhan Cinta. Dari transaksi tersebut, maka secara otomatis kita dapat menyumbangkan Rp 500 untuk membantu pembangunan posyandu di Gresik. Mudah banget, kan?

produk johnson's baby

Untuk mengetahui info lebih lanjut bisa klik di bawah ya:

Website : Sentuhan Cinta Johnson’s 

Instagram : JohnsonsBaby_id

Facebook : Johnsons Baby Indonesia

Kapan lagi pijat anak sendiri sambil turut berdonasi? Pahalanya dobel-dobel mah ini Insya Allah 🙂

Aktivitas Seru dari Rumah untuk Merangsang Motorik Anak Usia 1-2 Tahun

“Setiap anak memiliki kemampuan berbeda-beda. Maka jangan bandingkan anak satu dengan yang lain. Tugas orangtualah untuk membantu memksimalkan tumbuh kembang mereka sesuai tahapan dan usianya,” ujar Dr. dr Ahmad Suryawan, SpA (K), dokter spesialis tumbuh kembang anak dari Divisi Tumbuh Kembang Anak RS Dr. Soetomo, Surabaya di sebuah event parenting yang pernah saya ikuti.

Aaah, kata-kata beliau sungguh menampar saya dan barangkali banyak orangtua di luar sana. Seberapa sering sih membandingkan anak kita dengan yang lain? Kok anak si A bisa gendut ginuk-ginuk gitu, ya? Kok anakku belum bisa jalan, ya? Kok anakku masih belum bisa ngomong, ya? Kok anak si B ngomongnya udah banyak, ya? Dan sederet “kok begini kok begitu” yang lain.

Saya sering banget pas awal Akmal lahir membandingkan dengan anak-anak ibu-ibu lain terutama yang usianya nggak beda jauh dengan Akmal 🙁 .  Lalu lambat laun saya belajar banyak soal parenting dan kini berusaha menguranginya. Karena ya itu setiap anak unik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kata dokter Wawan, agar tumbuh kembang si kecil tumbuh optimal, diperlukan stimulasi antara orangtua dan anak. Tujuannya, untuk memaksimalkan kemampuan motorik halus, motorik kasar, bicara-bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Maksudnya apa saja sih keempat aspek tersebut?

  • Motorik halus: kemampuan anak dalam mengembangkan keterampilan yang membutuhkan otot-otot kecil dan melibatkan berbagai fungsi indera. Misalnya, mengambil makanan di depannya, mencoret-coret kertas, menulis, dll.
  • Motorik kasar: kemampuan anak mengembangkan aktivitas fisik. Seperti, tengkurap, duduk, berdiri, berlari, berjalan, naik turun-tangga, dll
Mengajaknya ke taman bermain dan bermain ayunan salah satu cara mengasah motorik kasarnya.
  • Bicara-bahasa: kemampuan anak memahami berbagai informasi yang didapat dari lingkungannya. Anak belajar mengekspresikan ide dan keinginannya secara verbal melalui kata-kata.
  • Sosialisasi-kemandirian: kemampuan anak dalam berinterkasi sosial dengan lingkungannya dan belajar aktivitas mandiri. Misalnya, bertemu orang baru, makan sendiri, memakai baju sendiri, dll.

    Mengenalkan pada hewan termasuk salah satu cara mengasah aspek personal sosialnya. Akmal belajar peduli terhadap lingkungan sekitar.

Menurut beliau keempat aspek ini sebaiknya saling terkait dan saling membutuhkan.

Lantas bagaimana merangsang keempat aspek tersebut?

Sebenarnya ada banyak kegiatan bareng anak yang bisa mengoptimalkan aspek motorik halus, kasar, bahasa dan sosialisasi mereka. Tinggal kita sebagai orangtua yang harus KREATIF! Kadang-kadang saya masih suka ngiri sih sama orangtua lain yang bisa membelikan anaknya mainan bermerek yang tampak sungguh sophisticated :/

Tapi faktanya si Akmal seringkali hanya tertarik sebentar saat dibelikan mainan baru dari toko. Sisanya dia malah lebih tertarik sama perkakas di rumah. Misalnya sapu, panci penggorengan, garpu, sendok, gelas, kunci, bahkan galon sekalipun haha. Kalau pun mau berlangsung lama main mainan yang dibelikan ayah bundanya ya harus ditemani.

Dari situ saya membenarkan pernyataan dokter Wawan, bahwa sebenarnya yang dibutuhkan mereka adalah kehadiran orangtuanya untuk aktif dalam berinteraksi dengan mereka. Sekalipun cuma main ci luk ba. Jadi sekarang kalau mau beli mainan ya kudu selektif. Alih-alih beli mainan baru setiap minggu, saya mending memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah untuk merangsang motorik Akmal.

Nah, beberapa kegiatan di bawah ini adalah aktivitas sederhana tapi tetap seru dari rumah untuk merangsang motorik anak yang tentu murah meriah hehee #penting :

1. Practical Life Skills

Siapa nih yang suka sebel kalau anak kita ikutan ngerecokin kerjaan di rumah? Bundanya lagi masak eh si Akmal ikutan sibuk mainin panci, sutil, dan perkakas dapur lainnya. Bundanya lagi nyapu dia juga ikutan nyapu meski jadinya nggak bersih-bersih juga. Lain waktu saat saya beberes buku atau mainannya yang ada malah diberantakin lagi hehe.

Dulu saya sebel banget kalau Akmal “rusuh” begitu. Lalu ketemu sama metodenya Maria Montessori yang membuyarkan mindset saya soal ini. Menurutnya, anak-anak pun memiliki rasa ingin dihargai atas aktivitas yang mereka lakukan.

“bantuin” bunda ngupas telur puyuh xD

Kita kerap menganggap remeh bahwa yang dilakukan anak-anak itu sesuatu yang nggak jelas. Padahal dari aktivitas tersebut mereka belajar, berproses dan menyerap ilmu dari lingkungan sekitar. “Setiap aktivitas yang dilakukan anak itu PASTI BERMAKNA” begitu kata Maria Montessori.

Jadi, sekarang saya berupaya untuk lebih luwes saat Akmal ikut terjun langsung “membantu” bundanya hehe. Saya anggap dia sedang belajar sambil bermain. Toh, ini bisa dijadikan salah satu kegiatan menstimulus motorik halus dan kasarnya. Beberapa practical life skills yang kerap kami lakukan bersama diantaranya:

  • Menyapu: bukan maksudnya menjadikan dia jadi seorang asisten rumah tangga, ya. Tujuannya, untuk melatih dirinya kelak agar mandiri. Setidaknya itu keterampilan hidup dasar yang wajib bisa dilakukan baik anak perempuan maupun laki-laki. Menyapu, membereskan tempat tidur, mengelap lantai adalah tugas bersama keluarga di rumah. Selain itu tentu saja melatih koordinasi tangan, kaki, mata serta motorik halus dan kasarnya. Kegiatan ini nggak perlu menguras “kocek”, karena ya pembiasaan sehari-hari di rumah.
  • Mengupas buah dan sayur: Anak-anak lebih mudah menangkap konsep dengan menggunakan benda tiga dimensi atau dua dimensi daripada hal abstrak. Contoh, untuk mengenalkan nama buah-buahan, akan mudah diingat ketika disertai dengan benda konkret tersebut (buah). Maka dari itu saya ajak Akmal mengupas sayur atau buah saat sibuk di dapur. Misalnya, mengupas buah kelengkeng, pisang atau sayur kangkung. Manfaatnya, latihan koordinasi mata, mengasah indera penciuman, melatih motorik halus. Sejauh ini mengupas buah adalah kegiatan favorit Akmal.
  • Membereskan mainan: Sejujurnya ini masih PR buat saya. Satu waktu dia mau mengikuti saya memasukkan mainan dan buku-buku pada tempatnya tapi lain waktu dia masih sering meninggalkan mainannya. Yaiyalaaah buuk masih 1 tahun 5 bulan hehe. Tapi saya terus memberikan pembiasaan setiap kali habis bermain dan baca buku untuk membereskannya.

2. Bermain Kelapa Parut

Permainan ini gampang banget. Suka masak yang mengandung santan? Nah, kelapa parutnya jangan dibuang dulu. Dibersihkan, dijemur lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Kalau sudah sodorin deh ke anaknya. Saya berikan contoh dulu ke anaknya dengan memindahkan kelapa parut dari satu wadah ke wadah lainnya. Videonya bisa dilihat di sini ya.

Aktivitas menuang dan bermain sensori ini banyak sekali manfaatnya. Akmal belajar tekstur kelapa, baunya, belajar koordinasi tangan dan mata saat memindahkan kelapa, belajar konsentrasi, dan belajar supaya nggak “jijikan” hehe. Supaya lebih menarik, kelapanya bisa diberi pewarna makanan ya.

3. Membaca Buku

Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Kegiatan sama anak yang nggak banyak menguras tenaga tapi maunya tetep edukatif? Ya baca buku! Sejak bayi saya sudah mengenalkan buku ke Akmal. Jenisnya yang buku bantal. Lalu perlahan meningkat baca board book yang ada teksturnya, warna-warna yang mencolok dan beberapa majalah bergambar.

Akmal 17 bulan. Baca majalah Natgeo bersama Ayah.

Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa membacakan buku ke anak membantu mengoptimalkan perkembangan bahasa anak. Apalagi jika membacakan bukunya sambil berkespresi, menggunakan gerakan yang mengundang tawa si anak hehe. Aktivitas baca buku selalu jadi favorit di keluarga kami.

4. Tarik Stik dan Selotip

Bahannya mudah, hanya selotip, stik es krim dan white board. Caranya pun gampang. Stik es krim ditempel di white board dengan selotip. Nanti minta anaknya untuk menarik stik di papan satu per satu. Perlu dicontohkan sebelum bermain. Aktivitas ini bisa merangsang motorik halusnya, melatih konsentrasi dan sabar serta melatih koordinasi mata dan tangan. Ada videonya di sini ya.

5. Makan Sendiri

Sejak usia 9 bulan Akmal sudah menunjukkan ketertarikan untuk mengambil makanan yang ada di tangan orang. Sejak itu saya sesekali membiarkannya memegang makanan (finger food) sendiri. Ukurannya tentu disesuaikan tangan mungilnya. Selain itu tidak semua makanan, biasanya buah-buahan seperti pisang, kentang atau tempe tahu hehe.

Aktivitas makan sendiri ini banyak juga lho manfaatnya. Anak belajar memegang sendiri makananya, belajar mandiri, belajar tekstur, bau serta rasa dari sebuah makanan. Di usianya yang ke 17 bulan kini Akmal sudah bisa makan apa saja yang juga dimakan bunda dan ayahnya, kecuali yang pedas dan terlalu asam.

Dia paling suka nyemil gitu. Untuk camilan anak saya berikan ia buah-buahan atau camilan homemade seperti kentang goreng, mac cheese, kolak pisang atau puding. Kadang juga biskuit. Nah, salah satu camilan favoritnya saat ini adalah cookies dari Monde Boromon.

Kenapa Monde Boromon?

Akmal suka sekali sama biskuit satu ini. Termasuk bundanya hehe karena ikutan nyicipin. Bentuknya yang mungil memudahkan Akmal untuk mengambil dan memasukkannya ke dalam mulut. Selain itu gampang banget  meleleh saat kena air liur. Pas banget untuk melatih motorik yang ada di lidah dan mulut anak. Dari aktivitas nyemil cookies satu ini aja Akmal belajar banyak, yakni eksplor rasa, bentuk, serta tekstur.

Monde Boromon juga mengandung sari pati kentang, madu dan DHA. Nah, yang terpenting ini tu nggak mengandung GLUTEN. Buat anak yang alergian insyaallah biskuit ini aman dikonsumsi. Kemasannya juga kecil-kecil jadi bisa buat bekal jalan-jalan hehe.

Di mana mendapatkan Monde Boromon? Bunda-bunda tinggal meluncur aja ke supermarket terdekat atau kalau males keluar tinggal klik ke Monde Mart aja. Harganya pun terjangkau. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 12.500. Dalam satu kotaknya ini berisi 6 bungkus kecil. Sekalian mborong yang banyak buuuun biar nggak rebutan sama kakaknya atau malah bundanya (?) haha.

Oiya kalau bosan di rumah saya sesekali mengajak Akmal ke taman bermain dekat rumah atau perpustakaan. Sebenarnya ada banyak sekali lho bun aktivitas seru dari rumah yang bisa dilakukan bersama anak-anak untuk merangsang motorik mereka.

Kalau bunda-ayah aktivitas di rumah yang paling favorit ngapain nih?