Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga

Kurangi Larangan Pada Anak dengan Berkata ‘Iya Boleh’

“Jangan pegang itu, nanti luka kena tangan!”

“Jangan lari-lari!”

“Jangan naik-naik meja!”

“Jangan main di pasir ih kotoooorrr!”

 Terdengar sangat familiar ya? Hayoo buibu siapa yang juga sering begini ke anak?

Sejak jadi ibu saya jadi lebih sering khawatir, terlebih sama anak. Apalagi si Akmal sedang masa-masa suka eksplorasi, apapun dan di mana pun.

Mau eksplor apapun…bebaaaasss

Ada benda-benda kecil di lantai, diambil lalu dimasukkan ke mulut. Ada barang yang baru buatnya padahal berbahaya seperti pisau maunya disaut aja. Bisa buka kran sedikit saja eeehh keterusan deh main airnya. Nemu tempat main yang lebih luas macam lapangan, dianya keliling aja ke sana kemari macam setrikaan haha.

Terkadang jika sudah terlampau lelah mengikuti polah Akmal yang mengeksplor apapun itu, saya suka refleks bilang “JANGAN”!. Padahal sebenarnya kurang bagus, ya bu buat tumbuh kembang dan psikis anak.

Seperti yang dikatakan oleh psikolog Ratih Ibrahim dalam Dancow ‘Iya Boleh’ Camp di Royal Plaza, Surabaya lalu (Sabtu, 1 September 2018). Menurut Ratih jika kita sebagai orang tua sering melarang anak dan berkata JANGAN, anak akan merasa tidak percaya diri. Mau melakukan ini tidak boleh, mau ke sana tidak boleh, dan seterusnya.

Psikolog Ratih Ibrahim memberikan penjelasan tentang pengasuhan anak.

Selain itu anak jadi kurang imajinatif. Lha gimana, rasa ingin tahunya saja kita ‘tekan’ dengan melarangnya melakukan apa-apa yang menurut kita nggak baik. Padahal bisa jadi si anak sedang mempelajari sesuatu dari polah tingkah mereka. Lewat main air bisa jadi mereka belajar soal rasa dingin, bagaimana rasa air, dan teksturnya. Lewat main pasir barangkali dia belajar bagaimana baunya, teksturnya, warnanya. Dan seterusnya…

Menurut Ratih, keterlibatan aktif orangtua memegang peran penting saat mendampingi si kecil melakukan eksplorasi pertamanya. “Kemandirian menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan pada si kecil agar semakin percaya diri untuk bereksplorasi. Saat eksplorasi orangtua perlu juga percaya pada anak untuk berkata ‘iya boleh!’ sehingga anak menjadi berani eksplor,” tuturnya.

Namun tentu saja tidak melulu kita mengatakan ‘iya boleh’ pada anak. Ada beberapa hal yang harus kita pilah mana yang boleh maupun tidak. Hal tersebut berlaku jika situasi dan lingkungan untuk eksplorasi anak aman, maka tidak masalah mengatakan ‘iya boleh’. Tapi jika membahayakan maka sebaiknya kita perlu melarangnya dan jangan lupa menjelaskannya mengapa tidak boleh.

Misalnya, si Akmal suka sekali ‘menemani’ saya saat masak di dapur. Ada banyak barang dan hal di dapur yang membuatnya penasaran, contohnya pisau. Tentu saja saya harus melarangnya memegang benda tersebut dan menjelaskan mengapa belum boleh memegangnya.

Selain Ratih, ada dua bunda inspiratif yang juga berbagi soal kegiatan eksplorasi anak-anak mereka di Talkshow Dancow Camp kemarin. Ussy Sulistiawati dan Intan Nuraini.

Ussy mengakui perlakuan terhadap masing-masing anak tentu berbeda. “Dulu sebelum mendapat pencerahan di Dancow, aku sama ratakan pengasuhannya, istilahnya otoriter. Sering banget aku larang untuk bereksplorasi. Tapi sekarang jadi lebih memahami anak-anak dan lebih legowo,” tuturnya.

Dia juga menceritakan perihal masalah orangtua zaman now yang hidup di era digital. Anak-anak mereka jadi mengenal gadget di usia yang masih balita. “Memang sih persoalan gadget ini susah ya. Untuk mengalihkannya aku mengajak anak-anak ke kegiatan lain seperti membaca buku, menggambar atau main di taman terbuka,” lanjutnya.

Oya, selain sesi sharing bersama para narasumber inspiratif, di acara ini juga disediakan arena booth permainan untuk anak-anak. Ada 7 booth eksplorasi yang membuat anak-anak betah saat orangtuanya menimba ilmu hehe, diantaranya:

1. Petualang Cilik : Arena ini diperuntukkan untuk kategori usia 1-3 tahun. Anak-anak bisa mainan keseimbangan diri dengan berdiri di atas jembatan dan memanjat jaring-jaring.

2. Jemari Melukis : Arena ini untuk mendukung eksplorasi si anak di bidang seni dan warna. Mereka bisa berkreasi dengan acrylic untuk mewarnai tas hasil karya mereka sendiri.

3. Tembikar Ria : Anak-anak bisa berkeksplorasi membuat ragam bentuk dari tanah liat.

4. Pahlawan Cilik : Di arena ini anak-anak dilatih kemampuan psikomotoriknya, menumbuhkan perhatian dan menyelesaikan masalah. Cara bermainnya si anak diajak menyelamatkan boneka kucing dengan melewati berbagai tantangan fisik.

5. Penjelajah Hutan: Mengajak si kecil menjelajahi hutan, menemukan beragam hewan melalui layar gerak, serta mempelajari karakteristik hewan.

6. Prajurit Bakteri Baik : di arena ini anak-anak bermain peran sebagai bakteri baik, Lactobacillus rhamnosus, yang akan berperang melawan bakteri jahat, melalui layar digital interaktif yang akan melatih kecerdasan memori, perhatian dan psikomotorik.

7. Teater Fauna :merupakan arena sandiwara boneka tangan untuk si kecil berinteraksi dengan hewan favoritnya yang dapat menstimulasi perhatian, mengasah penyelesaian masalah serta kemampuan linguistik si kecil.

Gimana seru ya acara dan booth campnya? Jadi mulai sekarang saya akan mencoba mengurangi larangan dan berkata jangan, selama itu baik untuk proses tumbuh kembang anak. Selamat menemani anak-anak bermain ya bunda-bunda! 🙂

 

 

Yuk, Mengenalkan Buku Sejak Bayi

Sebuah Obsesi

Saat ini Akmal memang baru tujuh bulan, tetapi sejak usianya dua minggu saya sudah ‘bernafsu’ membacakannya buku. Iya, ini obsesi sejak hamil. Se-ambisius itu, ya buk. Hehe. Saya bahkan sudah ngintip-ngintip dan nyicil beli buku anak-anak sejak hamil. Sebab, sejak awal sudah bertekad nanti kalau punya anak pengen banget dia cinta dengan membaca. Seperti akung dan ayahnya.

Di rumah bapak ada dua rak yang penuh sama buku-buku. Temanya pun beragam. Mulai dari soal politik, budaya, agama, perternakan, pertanian, dan kesehatan. Selain bapak, ibuk juga senang mengoleksi bacaan. Hanya saja cakupan bacaan ibuk terbatas pada tema agama, pendidikan, parenting dan kesehatan.

Sejak kecil pun saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan buku. Ibuk rajin mengajak kami ke toko buku dan langganan beberapa majalah anak-anak. Majalah Bobo, Mentari dan Anak Sholeh adalah beberapa majalah langganan kami dahulu. Sayangnya sekarang sudah nggak produksi 🙁

Maka dari itu saya juga ingin menularkan budaya itu ke Akmal. Kecintaan pada membaca. Kenapa sih kesannya ‘ngebet’ banget bacain buku sejak bayi? Padahal ngerti huruf aja enggak.

Sebenarnya bukan karena agar si Akmal bisa cepet membaca, tapi lebih kepada menumbuhkan kecintaan budaya membaca. Eh gimana sih ya kok mbulet, haha. Jadi gini, kalau menurut Fauzil Adhim, salah satu pakar parenting muslim dan penulis buku ‘Membuat Anak Gila Membaca’, menyatakan bahwa membaca itu dibagi menjadi dua pemahaman.

  1. Membaca karena ingin memberi pengalaman. Artinya, lebih menekankan pada proses. Di sini anak nggak dituntut harus bisa baca pada usia sekian, harus mengerti huruf dan merangkai kata usia sekian. Enggak. Tapi, memberikan kesan kalau membaca itu menyenangkan lho. Nah, kalau udah begini harapannya kelak dia jadi suka baca. Poinnya, menumbuhkan gairah minat baca pada anak.
  2. Membaca agar bisa merangkai huruf. Kalau yang ini obsesi agar anaknya bisa cepat mengetahui struktur huruf dan merangkai kata. Menurut Fauzil Adhim kalau ini tujuannya malah bisa membuat anak jadi cepat bosan. Karena anak dituntut agar bisa cepat baca. Artinya, ada paksaan. Fokusnya pada hasil bukan proses.

Selain itu dengan membaca kita bisa memiliki wawasan dan pemikiran terbuka. Open minded gituDan nggak mudah percaya akan hoax. Jadi inget sama kata-katanya Zen RS, salah satu editor media online Tirto.id. Dia bilang:

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.

Bener banget ini sih kayaknya udah menjadi budaya netizen Indonesia. Apa-apa dikomentari tanpa dasar yang jelas. Istilahnya asal njeplak gitu.

Oya, alasan lain juga karena saya ingin membatasi pengenalan dan penggunaan gadget sejak dini. Jujur aja saya masih khawatir memberikan Akmal tontonan lewat Youtube meskipun itu tontonan untuk bayi atau anak-anak. Nah, membacakan buku ini sebagai alternatif lain membatasi screen time pada anak.

(Baca juga: Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng)

Proses dan Tantangannya

Lantas apakah Akmal langsung menunjukkan minat suka membaca? YA BELUMLAH. Haha. Pertama kali saya bacain buku, Akmal cuman ngoceh aaa… oooo… eoeoeo… auoauo… Tapi, ya saya anggap itu respon dia, saya anggap ‘oh berarti dia mendengarkan bundanya nih’ haha.

“Hemmm… kayaknya enak nih”

Semakin besar usianya saya makin intens membacakannya buku. Dan jelas semakin rusuh responnya. Yang bukunya langsung disaut lah padahal bacainnya aja belum kelar, lalu diremes-remes lalu dimakan. YA DIMAKAN! Belum tau dia kalau harga buku bayi mahalnya ngalahin harga lipstik bundanya. 😌

Meski begitu saya tetap ((berusaha)) rutin membacakannya buku. Ya memang nggak setiap hari sih, tapi selalu disempatkan terutama kalau dia lagi happy. Kadang-kadang sebelum tidur juga saya ajak baca buku. Kalau pergi pun saya usahakan selain bawa mainan, buku juga hal penting yang wajib dibawa.

Well, sebenarnya saya merasakan manfaat membacakannya buku. Saya jadi punya waktu lebih dekat dengan Akmal. Istilahnya, bonding time! Selain menyusui, aktivitas ini menjadi salah satu bonding time yang seru!

Saya juga merasa Akmal jadi lebih responsif saat dibacakan buku. Misalnya merespon dengan ikutan ngoceh ya meskipun nggak jelas haha. Atau sekadar tertawa dan berteriak. Dan, saya jadi dapat insight baru saat membacakan buku anak. Ada beberapa hal yang membuat saya jadi belajar lagi. Misalnya, saat membacakan kisah nabi-nabi, jadi baca-baca lagi deh karena lupa haha.

Memilih Buku

Karena masih bayi dan belum memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap buku, maka selektif pilih buku bayi itu penting. Misalnya nih;

  1. Buku bantal. Bahannya dari kain dan empuk mirip bantal. Jadi nggak perlu khawatir sobek atau rusak. Selain itu gampang dibawa ke mana-mana dan nggak makan tempat karena bisa dilipat macam baju hehe. Yang penting rajin dicuci aja (padahal saya nggak rajin juga sih haha)
  2. Board book. Buku ini bahannya dari karton tebal. Kelebihannya nggak gampang robek. Jadi sama sih kayak buku bantal, nggak khawatir kalau Akmal remes-remes atau makan nih buku. Biasanya dalam satu halaman hanya terdiri satu atau beberapa kata saja dan satu gambar. Cuman ya gitu harganya mahal bok!
  3. Touch-and-feel book. Bahannya mirip sama board book. Tambahannya, buku jenis ini biasanya ditempeli kain, kapas atau aneka bahan lain sehingga menimbulkan tekstur yang bervariasi. Jadi anak bisa mengekplorasi tekstur di dalamnya apakah halus, empuk atau kasar. Sekalian latihan motorik halus.
  4. Pop-up. Kalau ini gambarnya bisa muncul dari buku. Cuman kurang cocok sih buat bayi, lebih ke anak-anak 4 tahun ke atas. Karena terbuat dari kertas biasa, kalau disodorin ke bayi udahlah wassalam. Haha.
Buku-buku berbahan kertas tebal lebih awet buat bayi. Yang full colour dan banyak gambar akan lebih menarik dia.

Membacakan buku sejak bayi nggak ada ruginya kok. Jadi jangan tunggu nanti-nanti! Meskipun nggak mudah dan dalam perjalanannya membosankan, kita nikmati aja prosesnya. Yang penting menumbuhkan gairah dan minat anak terhadap buku.

Buibu sudah membacakan buku ke anak? Markishare! Mari kita sharing 😀

Menyusuilah dengan Keras Kepala

Dulu saya pikir menyusui itu semudah membuka baju, lalu tinggal sodorkan ASI pada bayimu. Rupanya tidak.

Pasca melahirkan secara caesar saya merasakan perih yang luar biasa. Hal itu membuat saya takut-takut memberi ASI di awal kelahiran bayi saya, Akmal. Setelah melahirkanpun saya tidak langsung dipertemukan dengannya. Kami segera dipisah di kamar yang berbeda. Siangnya kami baru bertemu setelah pagi saya melahirkan.

Perawat meminta saya agar segera memberi ASI untuk Akmal. Karena luka saya masih perih, dengan terpaksa saya menyusui Akmal sembari tertidur. Tidak ada adegan menyusui dengan baju rapi, apalagi make up yang membuatmu tampak segar layaknya iklan-iklan di televisi. Sepanjang menyusui Akmal saat itu saya cuma bisa meringis menahan pedih, ditambah terpasang kateter untuk memudahkan buang air kecil.

Hari ketiga pasca melahirkan akhirnya dokter membolehkan kami pulang. Malamnya, tiba-tiba Akmal panas tinggi. Saya cek dengan termometer suhunya mencapai 38 derajat celcius. Dia tampak lemas dan tidak berdaya. Saya, suami, bapak dan ibu panik. Karena pasca melahirkan saya tinggal sementara di rumah ibu. Segera tepat pukul 11 malam kami kembali ke rumah sakit tempat saya melahirkan.

Dokter spesialis anak (DSA) sudah tidak ada. Saya tambah panik. Saat itu yang ada hanya dokter umum, bidan, dan perawat. Bidan mengatakan (dan mengira-ngira) bahwa Akmal mengalami dehidrasi. “Susui saja bayinya sesering mungkin, Bu. Bisa jadi karena dehidrasi,” ujarnya. Kamipun kembali pulang.

Esoknya suhu Akmal agak turun meski tergolong masih hangat, sumer kalau kata orang Jawa bilang. Sayapun menuruti kata bidan untuk terus menyusui.

Tapi, entah kenapa siangnya ia panas tinggi kembali. Saya berusaha berpikiran positif apakah barangkali karena cuaca yang sedang panas dan sumuk. Saya berikan ASI kembali sambil melakukan skin-to-skin.

Menjelang sore panasnya tak kunjung turun. Meski saya berusaha tenang namun suami mulai gelisah. Akhirnya kami memutuskan membawa Akmal ke dokter spesialis anak pada malamnya.

Saat dibawa ke DSA, Akmal kembali ditimbang. Saya dan suami terkejut. Beratnya tiba-tiba turun drastis menjadi 2,9 kilogram dari berat lahir 3,3.

Lalu dokter memeriksa dengan stetoskop, mengecek suhu badannya dan mengamati seluruh tubuhnya. “Ini bayinya kuning, Bu, Pak. Saran saya lebih baik dibawa ke RS yang lebih lengkap alatnya agar segera difototerapi,” kata-kata dokter membuat saya dan suami dua kali kaget dan lemas.

Malam itu juga tepat jam 8 malam kami segera ke Rumah Sakit Islam Jemursari, Surabaya. Kami dirujuk ke DSA disana.

Awalnya kami ke UGD untuk diproses ke ruang NICU. Kami menunggu agak lama. Sembari menunggu itu Akmal harus diambil darahnya. Dua suntikan. Tangisannya membuat saya nelangsa.

Setelah proses administrasi yang agak lama, jam 12 malam Akmal masuk ruang NICU. Bidan meminta saya untuk memerah ASI sebab Akmal nyatanya harus menginap semalam untuk disinar. Saya coba memerah lebih kurang 15 menit, tapi entah kenapa ASI saya saat itu keluar hanya sedikit sekali. Tak sampai lima mili. Cuma membasahi pantat botol.

Ah saya sedih sekali kala itu. Barangkali akibat saya stress. Akhirnya, terpaksa bidan memberikan susu formula untuk Akmal. “Lebih baik ibu pulang dulu dan istirahat. Supaya ASI-nya bisa keluar banyak. Jangan stress ya, bu!” pesan bidan.

Esoknya saya dan suami kembali ke RS. Ibu membawakan saya bekal makanan banyak sekali. Mulai dari sayur, buah, lauk yang tidak hanya satu jenis, juga beberapa cemilan. “Habiskan! Supaya ASI-mu berlimpah,” kata beliau.

Jam 9 pagi saya dipertemukan Akmal setelah semalam kami berpisah. Saya diberi waktu satu jam untuk menyusuinya. Awalnya dia tampak malas-malasan, mengantuk terus dan seperti ogah-ogahan menyusu. Awalnya geregetan sih, tapi saya ingat kembali kalau ingin menyusui saya harus tenang dan tidak stress.

Hari itu rupanya dia belum diperbolehkan pulang karena ternyata bilirubinnya masih tergolong tinggi. Akhirnya sore kami kembali pulang.

Esoknya saya dan suami kembali ke RS. Alhamdulillah siangnya Akmal sudah boleh pulang. Dokter dan bidan yang merawat Akmal terus mengingatkan saya agar selalu berpikir positif dan jangan stress. Sebab akan mempengaruhi produksi ASI.

Bidan juga mengajari saya bagaimana pelekatan bayi yang benar selama menyusui. Rupanya selama di awal saya salah. Seharusnya bayi menyusu pada seluruh area aerola tidak hanya puting saja. Pantas selama di awal menyusui puting saya sudah luka dan perih. Padahal Akmal belum juga tumbuh gigi.

Sejak kejadian itu saya bertekad untuk memperbaiki kualitas ASI. Alhamdulillah saya mendapat dukungan dari suami dan keluarga. Suami tidak segan membantu pekerjaan domestik seperti mencuci popok, menyapu rumah, dan terkadang menggantikan popok. Setidaknya meringankan pekerjaan rumah agar saya tidak terlalu kelelahan. Karena kelelahan rupanya juga akan mempengaruhi produksi ASI. Ibu saya orang yang paling bawel mengingatkan untuk makan yang banyak. “Kamu tuh menyusui, makan minimal enam kali!” Hoeek saya sampai eneg dicekoki buanyak makanan.

Sejak itu pula ASI saya mulai lancar. Dan Alhamdulillah sampai rembes-rembes. seiring waktu berat badan Akmal terus bertambah secara signifikan.

Menyusui memang melelahkan. Butuh tenaga dan pikiran yang harus selalu tenang. Apalagi saat bayi mengalami growth spurt. Maunya nyusuuu terus. Sampe saya nggak bisa ngapa-ngapain selain menyusui. Belum lagi kalau payudara mengalami mastitis. Demam dan bengkak rasanya nggak enak jadi satu.

Terkadang terbersit pikiran untuk memberikan sufor saja, tapi segera saya tepis jauh-jauh. Sebab bagaimanapun ASI adalah cairan cinta yang sudah Allah sediakan untuk bayi kita. Diperlukan tekad yang kuat untuk memberikan ASI. Sudah banyak sekali artikel dan kajian soal manfaat ASI untuk bayi. Maka mengASIhilah dengan keras kepala. Apapun rintangannya.

Tidak peduli kata orang soal nada-nada sumbang yang meremehkan ASI-mu. Akan selalu ada orang-orang yang nyinyir. Itu pasti. Tapi yang terpenting adalah bayi kita. MengASIhi tidak hanya sekadar transfer “makanan”. Lebih dari itu. MengASIhi berarti juga transfer cinta, kasih sayang, bahkan karakter kita. Saya berusaha saat menyusui anak untuk berpikiran positif, berdzikir, atau bahkan mengajaknya ngobrol. Memang sih tidak mudah. Tapi, hey! Meski belum bisa ngomong dia meresponnya dengan senyuman atau gumaman.

Saat ini rasanya menyusui adalah kegiatan yang membuat saya ketagihan. Matanya yang beradu dengan mata saya seperti kekuatan buat saya untuk terus hidup. Kadang dengan murah dia beri senyuman kala menyusui. Memang di awal tidak seindah yang kita bayangkan. Tapi, bukankah ini salah satu pintu menuju surga? Allah sendiri yang menjanjikan. Jadi, semangat mengASIhi ibuibu!

Mengenal Islamic Montessori [Review Buku]

Saya mendengar istilah metode Montessori sejak Akmal umur 10 atau 11 bulan. Waktu itu Akmal mulai aktif-aktifnya kesana ke mari dan rasa keingintahuannya sangat besar.

Bundanya sering kehabisan ide mau ngajak main apa lagi yang mengandung unsur edukasi. Lalu mencoba browsing sana sini lewat media sosial dan menemukan banyak bertebaran tagar Montessori di rumah.

Saya pun kepo-kepo apa sih Montessori ini. Oh, ternyata metode pengasuhan anak yang digagas sama Maria Montessori, si foundernya yang seorang dokter juga pengamat pendidikan. Lebih lengkapnya browsing sendiri aja ya haha.

Dan menurut saya oke juga kalau diterapkan ke Akmal. Saya memang belum sampai taraf serius yang ikut coursenya atau bahkan kuliah khusus metode Montessori. Karena pas tahu harganya bikin saya menangis di pojokan kamar #lebay. Ya nanti deh kalau ada rezeki lebih saya pengen banget bisa belajar serius metode ini.

Ada beberapa poin yang bikin saya kepincut sama metode ini.

Misalnya poin tentang Follow the Child. Kita sebagai orangtua kerapkali memaksa keinginan kita (saya aja kali ya hehe) ke anak. Kamu tuh harusnya begini nggak gitu, kamu baiknya baca buku ini bukan itu, dst…dst. Selain kecewa karena anak nggak tertarik untuk melakukan apa yang kita mau, berpengaruh juga kan sama psikis mereka.

Baca juga dong : Mengenalkan Buku Sejak Bayi 

Untuk itu Montessori mencoba melakukan observasi dan mencoba menelaah apa sih sebetulnya yang menjadi ketertarikan dan kesukaan anak.

Misalnya ni maksa anak main playdough tapi ternyata panci dan perkakas dapur lainnya lebih menarik buatnya. Yaudah kasih ajalah itu buat mainan mereka. Mungkin dia anggap itu perkakas dapur adalah alat musik untuk menciptakan mahakaryanya, toh hitung-hitung mengasah kreativitasnya.

Tapi ya nggak serta merta mengikuti semua keinginan anak. Tentu saja tetap ada batasan-batasan yang harus anak ikuti sesuai dengan prinsip dan norma yang dipegang oleh keluarga. Namun bukan juga melarang anak melakukan ini dan itu.

Intinya sih kita harus memberikan ruang bagi anak untuk memilih. Kegiatan apa yang ia ingin lakukan? Media bermain mana yang ingin ia eksplorasi? Kita harus meyakini bahwa apa yang ia pilih memang yang sedang dibutuhkannya saat itu.

Selain itu metode Montessori juga mengembangkan lima aspek dalam pendekatan pendidikan ke anak-anak.

Yakni, aspek practical life, sensorial, language, mathematicsdan culture.

Sebenarnya mengembangkan kelima aspek ini bagus untuk tumbuh kembang anak-anak tapi saya merasa seperti ada yang kurang. Sedari awal sih saya merasa kalau metode ini ‘kering’ sama hal-hal berbau spiritual, ya mungkin karena pengaruh foundernya dari Barat sana sih.

Hingga saya menemukan sebuah akun di Instagram namanya @islamicmontessori_ sebuah komunitas Indonesia Islamic Montessori Community (IIMC) yang diprakarsai oleh Zahra Zahira. Oh, ternyata ada toh komunitas yang concern pada metode Montessori tapi berbasis Islam. Semakin excited saat Ms Zahra membuat buku berjudul Islamic Montessori.

Isi Buku Islamic Montessori

Buku terbitan anakkita ini terbagi menjadi dua seri, yakni yang diperuntukkan buat anak usia 0-3 tahun dan untuk usia 3-6 tahun. Mengingat Akmal saat ini masih 23 bulan jadi saya beli yang untuk usia 0-3 tahun dulu.

Di buku ini dijelaskan kembali soal Filososfi Montessori yang sesungguhnya serta cara Ms Zahra menggabungkan nilai-nilai Islami dalam metode Montessori. Ada 10 filosofi Montessori yang diingatkan kembali dalam buku ini, seperti:

  1. Absorbent Mind: Tahapan di mana anak-anak mudah sekali menyerap informasi dari mana saja. Anak-anak menyerap informasi di lingkungan sekitar melalui pancaindra, penyerapan bahasa, pengembangan motorik, kognitif dan kemampuan sosial. Maka sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan teladan yang baik, yang sesuai nilai-nilai Islam agar membentuk akhlak yang baik.
  2. Sensitive Periods : Tahapan di mana anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap benda atau aktivitas tertentu. Misalnya, Akmal lagi suka banget sama yang namanya hewan kuda. Di manapun ada suara gemerincing dia teriak kegirangan menyebut Kuda! Kuda! padahal ternyata yang lewat becak. Nah, dari sini kita bisa sisipkan bahwa hewan tersebut ciptaan Allah lho. Kita sebut-sebut keagungan dan kehebatan Allah dalam penciptaan macam-macam hewan termasuk kuda.
  3. Prepared Environment : Kita bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran anak-anak. Misalnya menyiapkan rak mainan atau buku yang sesuai tinggi badannya. Agar terbiasa mandiri mengambil material kegiatan yang telah disiapkan.
  4. Follow the Child: Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Follow the child berarti memberikan kesempatan anak untuk melakukan apa yang dia mau dan butuhkan, sehingga akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tentu dengan memerhatikan nilai-nilai yang dianut dan tidak sebebas-bebasnya juga.
  5. Individual Differences: Setiap anak itu unik dan istimewa. Dalam metode ini menyediakan pendidikan yang mengakomodasi anak-anak sesuai dengan keminatan mereka masing-masing.
  6. Concrete to Abstract : Anak usia 0-6 tahun lebih mudah menerima informasi yang konkret baru abstrak. Misalnya mengenalkan buah rambutan, berikan saja wujud aslinya lalu jelaskan teksturnya, baunya, rasanya.
  7. Hands-on Learning : Anak belajar melalui seluruh inderanya. Anak belajar menyentuh apa pun dan merasakannya sendiri.
  8. Control of Errors: Lingkungan dan material yang disetting dengan konsep Montessori memiliki kontrol kesalahan sehingga anak dapat menemukan cara dalam memecahkan masalah tanpa intervensi orang dewasa.
  9. Freedom with Limits: Ini mirip Follow the Child sih menurut saya. Anak boleh melakukan apa yang dia mau, bebas eksplorasi tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Jika membahayakan dirinya ya harus dilarang dan diberitahu.
  10. Respect the Child : Kita sering menganggap anak-anak itu makhluk yang nggak ngerti apa-apa, jadi kerapkali meremehkannya. Padahal sebenernya mereka ya hanya beda ukuran tubuh kok sama orang dewasa. Mereka juga berhak dihargai dan dipercaya. Kalau saya pikir-pikir lagi ini tuh selaras lho sama ajaran teladan Rasulullah yang sangat menghargai anak kecil. Menganggap mereka, mendengarkan mereka bahkan memberikan anak-anak pilihan-pilihan.

Bedanya Montessori dengan Islamic Montessori?

Kalau yang saya tangkap dari buku ini, penerapan filosofi dan material antara Montessori dengan Islamic Montessori ya sama saja.

Yang membedakan adalah ada penambahan nilai-nilai Islami yang ditanamkan dalam konsep Islamic Monetssori. Penulis menambahkan aspek spiritual dalam metode Montessori. Sehingga dalam praktiknya anak diajak untuk tidak lupa hubungan dengan Allah.

Misalnya, untuk melatih aspek practical life dalam memulai segala sesuatu bisa menanamkan pada anak untuk selalu mengawalinya dengan bacaan Basmallah. Mau menyapu baca basmallah, mau memakai baju baca basmallah, dst.

Baca juga dong: Mengenalkan Anak ke Masjid 

Dilengkapi Contoh Aktivitas Montessori Sesuai Usia Anak

Buku yang diterbitkan fullcolour ini juga dilengkapi contoh-contoh aktivitas dengan metode Montessori. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Dan juga ada beberapa contoh aktivitas Islamic Studies. 

Contohnya, mendengarkan kisah-kisah nabi, membacakan Al-Quran, mengenalkan alam semesta lewat gambar, dll. Yang saya suka contoh-contoh kegiatannya mudah banget diterapkan di rumah. Nggak perlu bingung mau beli mainan ini itu karena beberapa contohnya bisa pakai benda-benda yang ada di rumah.

buku islamic montessori

Hanya saja ((menurut saya lho ya)) aktivitas Islamic Studies yang dicontohkan kalah banyak sama contoh aktivitas lain yang menonjolkan motorik, kognitif serta sensoris. Jadi kita improvisasi sendiri kali ya. Gapapa lah ya itung-itung mengasah kreativitas ibunya buat cari ide aktivitas lain.

review buku islamic montessori

Intinya, saya suka sih sama buku ini. Lumayan sebagai referensi dan panduan untuk merancang aktivitas yang seru buat anak. Tanpa melupakan nilai-nilai Islami yang ingin kita ajarkan ke anak.

Buibu sudah baca buku ini belum?

 

Mengenalkan Emosi pada Anak Lewat Buku Rabbit Hole

Jangan nangis dong!  Anak laki nggak boleh cengeng!

Pasti nggak asing kan dengan ungkapan tersebut. Saya yang punya anak laki aja kadang masih suka bilang begini. Eh tapi ternyata nggak baik lho mengatakan hal itu kepada anak laki. Menurut para psikolog, sikap melarang emosi negatif, termasuk menangis bisa berdampak buruk pada kesehatan mental anak di masa kelak.

Anak yang nggak bisa mengungkapkan emosinya dan memroses perasaan mereka bisa berujung pada masalah depresi dan kecemasan. Mungkin mengapa banyak lelaki yang kerap kali bersikap kasar dan acuh pada pasangan yang berujung pertengkaran. Ya (mungkin) salah satunya karena nggak terbiasa mengungkapkan emosi atau perasaan mereka. That’s why pentingnya mengenalkan emosi sejak dini.

Salah satu cara efektif (menurut saya) mengenalkan emosi sejak dini adalah lewat story telling. Misalnya, lewat buku dari Rabbit Hole yang berjudul “Hmmm…”

(Baca juga: Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng)

Hmmm…serius amat bos 😆

Saya mengetahui buku ini sejak hamil. Buku ini sering banget bersliweran di timeline Instagram saya. Penasaran, akhirnya saya follow dan baca-baca reviewnya dari beberapa blogger. Ternyata ini buku produk lokal dan ditulis oleh seorang psikolog Indonesia, Devi Raissa. Ah, makin penasaran, yaudah akhirnya beli aja deh. Hehe.

Tentang Apakah?

Buku “Hmmm” diawali dengan cerita seorang anak laki-laki yang sedang mengungkapkan perasaan terkejut. Sebab, ayahnya memberikan kejutan berupa hadiah bola baru padanya. Menariknya, untuk mengekspresikan kata “surprised” (karena saya memilih buku yang berbahasa Inggris) digambarkan dengan hati berwarna merah yang berbahan kain beludru. Anak bisa menyentuh gambar tersebut sambil mendengarkan cerita kita.

Selain ekspresi “surprised” untuk terkejut ada lima jenis emosi lain yang digambarkan dalam buku ini. Diantaranya, “disgusted” untuk jijik, “scared” untuk takut, “angry” untuk marah, “sad” untuk sedih, dan ditutup dengan emosi “happy” senang.

Setiap emosi diceritakan dalam rangkaian peristiwa yang dialami oleh si anak. Misalnya, saat si anak melewati selokan yang kotor dan dikelilingi oleh beberapa tikus, maka digambarkan ekspresi jijik. Ekspresi tersebut diiringi dengan gambar jeruk beserta kulitnya yang berbahan seperti spon berongga (eh gimana sih ya jelasinnya haha).

Ada lagi saat merasa sedih, pada buku ini diekspresikan dengan wajah bercucuran air mata dan ada gambar awan yang berbahan kain flanel berwarna abu-abu. Seolah ingin mewakili perasaan sedih itu. Lalu, di bagian terakhir yakni perasaan senang. Pada bagian ini diungkapkan dengan gambar anak sedang tersenyum dan dikelilingi dengan gambar bunga-bunga yang timbul. Si akmal paling suka bagian ini, dia ikutan senyum-senyum bahkan terkadang tertawa sambil menyentuh bunga-bunganya. Mungkin karena bentuknya yang paling menonjol dari yang lain.

Setiap membacakan buku ini, Akmal selalu tampak antusias. Dia paling suka menyentuh simbol-simbol yang digambarkan dengan bahan-bahan timbul begitu. Meski belum memahami setiap ekspresi dari buku emosi. Misalnya, saat tiba di halaman sedih dan saya membacakannya sambil berekspresi sedih eeehh dia malah tertawa (dikira bundanya lebay haha). Atau saat membuka halaman perasaan marah, dia malah melongo melihat bundanya menunjukkan ekspresi serupa.

Makanya buku ini memang perlu pendampingan apalagi untuk usia bayi. Sebab, menurut saya ada beberapa hal yang agak susah dicerna oleh anak-anak. Misalnya, untuk pemilihan ungkapan kalimat pada setiap perasaan. Misalnya, perasaan terkejut dijelaskan dengan kalimat

“Surprised! It’s like if there was a drum beating on my heart”.

atau perasaan marah dengan kalimat “Like there was a red hot stone wanting to get out of my chest”. 

atau perasaan senang “My heart felt like a garden filled with colorful flowers”.

Pemilihan kata yang puitis. Hehe. Jadi mikir nanti kalau Akmal agak besar lalu bertanya saat membacakan buku ini, Kok bisa ya bunda ada drum di dalam hati kita? Memangnya batu bisa ya bunda nyangkut di dada kita? Bunga-bunganya ada di hati kita? 

Gimana njelasinnya dah tuh! Hahaha. Sungguh boleh abaikan imajinasi yang nggak jelas ini 😀

(Baca juga: Fun Learning English in Class)

Tapi dari buku ini saya jadi belajar bahwa emosi itu memang harus dikelola dengan baik. Seringkali salah mengekpresikan emosi malah jadi sebal sendiri. Ini masih kejadian sama saya hehe. Sebab, emosi itu sifatnya abstrak, nah lewat buku ini memudahkan kita sebagai orang tua untuk mengenalkan emosi-emosi dasar manusia. Selain itu bahannya dari boardbook jadi tebal dan aman (digigit dan diemut haha). Setidaknya lebih awet. Intinya, saya suka buku anak buatan Indonesia ini.

Buibu pernah bacain buku ini ke anak? Ada rekomendasi buku anak buatan lokal yang lain? Sharing yuk! 🙂