Tuesday, October 19, 2021

Keluarga

Home Ceritaku Keluarga

DIY Maternity Shoot (Low Budget)

Sebelum hamil saya sudah bertekad untuk mengabadikan masa-masa hamil lewat foto. Pengen gitu punya foto ala-ala maternity shoot seperti ibu-ibu muda yang bertebaran di media sosial (tipikal gampang terpengaruh :D). Rasanya gemas sendiri melihat foto-foto kehamilan yang diatur sedemikian rupa.

Tapi, setelah riset soal harga ternyata maternity shoot di studio lumayan mahal bok! Secara semua perlengkapan ada mulai dari kamera, lighting, hingga kostum. Tentunya difoto dengan fotografer profesional. Dengan perlengkapan segitu ada yang memasang tarif hingga jutaan rupiah. Yaaaah, saya sih jadi mikir-mikir. Mending kan budget-nya dibuat beli perlengkapan bayi dan biaya persalinan (emak-emak perhitungan :D).

Alhasil, saya memutuskan untuk melakukan maternity shoot bersama suami. Selain lebih murah tentu suasana akan lebih mesra. Hehehe.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ingin mengambil foto kehamilan dengan low budget. 

  1. Tentukan waktu mengambil foto. Ini penting karena sangat mempengaruhi kualitas hasil foto. Kalau kata para fotografer pro waktu terbaik memotret adalah pagi dan sebelum matahari terbenam. Istilahnya golden hour. Oya, ini kalau konsepnya di luar ruangan ya. Waktu pagi biasanya kira-kira dimulai jam 6 – 10 pagi. Pada waktu ini foto akan terlihat bagus karena mendapat cahaya alami dari matahari. Sementara kalau sore berkisar jam 3-5 sore. Sebaiknya hindari memotret jam 12 siang karena selain panas terik, hasil fotonya jadi kebanyakan cahaya.
Lokasi: Taman Tugu Malang
Waktu: Kira-kira jam 7 pagi
Taken by: suami

2. Pilih Lokasi. Pengambilan gambar bisa indoor atau outdoor. Kalau malas keluar rumah dan keluar biaya jajan bisa kok memanfaatkan properti yang ada di rumah. Kalau di dalam ruangan saya sih suka pakai background yang polos dan minim properti. Jadi fotonya terlihat elegan dan nggak norak. Bisa memakai background tembok yang bersih atau seprai berwarna netral seperti putih.

Bisa juga menggunakan konsep siluet. Kalau foto di luar terlalu terang dan banyak cahaya, mengambil gambar dari dalam adalah ide yang oke. Pengambilan gambar bisa di dekat jendela.

Lokasi: Rumah
Waktu: kira2 jam 10 pagi
Taken by: suami

Kalau bosan suasana di rumah bisa juga memanfaatkan fasilitas publik seperti taman, alun-alun,museum atau bahkan lapangan sekitar komplek perumahan. Lumayan kan tidak perlu keluar biaya banyak. Hehehe. Asal gambar diambil pada saat yang tepat, seperti jam 6-10 pagi, agar mendapat cahaya matahari yang cukup.

3. Kostum. Saya memilih pakaian yang tidak terlalu banyak motif di area perut, supaya lebih terlihat gitu. Hehhe. Selain itu jangan lupa kenakan pakaian yang nyaman dan berbahan adem. Karena bumil kan memproduksi banyak keringat jadi tidak mengganggu saat proses pengambilan foto.

4. Banyak Angle.  Pengambilan gambar tidak musti selalu dari depan. Bisa dicoba dari berbagai arah. Misalnya dari samping atau bahkan dari atas. Nggak musti sambil berdiri aja, bisa sambil tiduran kalau pengambilan gambarnya di dalam rumah, sambil masak atau baca buku. Pokoknya be creative! 😀

(dari atas)
Lokasi: Taman Tugu Malang
Waktu: Kira-kira jam 7 pagi
Taken by: suami

5. Properti Foto. Selain angle, properti foto juga menjadi salah satu daftar yang melengkapi maternity shoot kita. Properti ini bisa membantu saat sedang mati gaya! Misalnya, bisa menggunakan perlengkapan bayi seperti sepatu, kaos kaki, baju, atau buku bayi. Bisa juga yang nggak berhubungan dengan baby stuff seperti bunga.

Lokasi: Alun-alun kota Malang
Waktu: kira-kira jam 8 pagi
Taken by: suami

6. Lakukan Sebulan Sebelum Due Date. Saya mengambil gambar ini pada saat usia kehamilan 8 bulan. Bisa juga sebelumnya. Intinya jangan terlalu dekat sama waktu hari perkiraan lahir ya! Karena semakin membesar perut kita semakin kelelahan dan proses pemotretan butuh tenaga juga dong. Hehehe.

Untuk memberikan touch  yang sempurna, mengedit foto setelah pemotretan juga diperlukan. Bisa menggunakan aplikasi seperti Photoshop. Karena saya masih gaptek urusan editing foto pakai Photoshop jadilah saya pakai aplikasi edit foto di Instagram dan Vsco. Yang terpenting adalah lower your expectation! Terkadang foto yang kita inginkan hasilnya nggak sesuai kan sama realitanya. Apalagi fotografernya amatiran. Haha. (semoga suami nggak baca). Tapi ya nggak apa-apa wong namanya buat senang-senang so dibawa have fun aja!

Segitu aja deh tips dari saya yang mau maternity shoot tanpa keluar biaya banyak. Ada yang mau menambahkan?

Petualangan Akmal Terbang Ke Planet Mochi Bersama Paddle Pop

“Bunda, aku bosen di rumah terus!” ungkap Akmal beberapa waktu lalu saat saya asyik masak di dapur.

Maklum sejak pandemi sebagian besar aktivitas dihabiskan di rumah saja. Kalau dulu setiap weekend saya biasa mengajaknya bermain ke taman atau ke perpustakaan kota atau sesekali ke tempat wisata.

Namun saat ini semua kegiatan ke luar rumah serba terbatas. Bahkan pada akhir pekan atau liburan kami harus rela berdiam diri di rumah saja. Nggak apa deh demi mengurangi angka penyebaran virus dengan tidak bepergian keluar kota dan tetap patuh kepada prokes.

Parenting Ala Ibook Retno Hening: Biasakan Baca Al-Qur’an dan Ajak Ngobrol Bayi Sejak dalam Kandungan

Siapa sih yang nggak kenal Kirana? Bocah bernama lengkap Mayesa Hafsah Kirana ini sudah viral di jagad media sosial sejak empat tahun lalu . Aksinya yang menggemaskan dalam unggahan beberapa video di akun Instagram milik @retnohening telah merebut hati ratusan ribu para netizen. Bahkan, nggak jarang, lho beberapa unggahan videonya mendapat like atau comment dari para artis ibu kota.

Di balik kecerdasan Kirana, ternyata ada sosok Ibu yang juga cerdas dalam mendidik anaknya. Banyak ibu-ibu muda (termasuk saya hehehe) yang terinspirasi gaya parenting ala Ibook Retno ini. Nggak sedikit pula para netizen gadis-gadis yang ingin segera punya anak dan mendidik ala Ibook Retno hehe.

Nah, beberapa waktu lalu Ibook Retno membagikan kisah parenting dan kesehariannya bersama saya melalui surat elektronik. Wah, Ibook makasih banget ya sudah direspon! Yuk, simak wawancara singkatnya berikut ini!

  1. Assalamualaikum, Ibook. Saat ini kesibukan Ibook apa dengan Kirana?

Walaikumsalam mbak. Saya dirumah aja main sama Kirana. Masak dan beresin rumah. Kalo weekend main ketemu temen-temen. Atau kalo ada pengajian jumat suka datang kalo nggak ada halangan.

  1. Setiap pagi apa saja yang Ibook lakukan? Apakah langsung bermain dengan Kirana atau apa?

Pagi nyiapin sarapan untuk suami. Biasanya Kirana masih tidur hehe. Trus lanjut masak untuk siang sambil beberes rumah. Kalo Kirana udah bangun langsung nyuapin dia makan. Lalu lanjut main sama Kirana sambil selesaiin kerjaan rumah hehe…

  1. Apa ada persiapan khusus terkait parenting selama kehamilan Kirana?

Misalnya kayak baca-baca buku parenting gitu ya mbak? Nggak ada kayaknya… huhu. Tapi ada kegiatan pas hamil mbak, saya dulu pengen bayi yang saya kandung dengerin Al Quran. Jadi saya usahakan khatam Al-Quran pas hamil Kirana.

Saya juga sering ajak ngobrol bayi waktu masih dalam kandungan. Waktu hamil Kirana, saya berjauhan dengan suami. Pasti kangen, kan heheee.. jadi saya ajak ngobrol janin supaya nggak kerasa kesepian.

  1. Apa Kirana juga dikenalkan gadget? Sejak usia berapa?

Iya mbak, cuman ya dibatasi. Kirana baru bener-bener pegang smartphone untuk main game gitu usia dua tahunan. Game pertama dia dulu bentuknya puzzle gitu.  Dulu sejak kecil suka saya setelin video-video di Youtube. Tapi udah saya pilihin videonya dan pake lockscreen. Kalo nonton saya usahakan selalu ada di dekat dia dan sambil diajak ngobrol. Jadi fungsinya kayak TV aja. Sampe sekarang dia masih gaptek soal pegang-pegang smartphone. Kalo main game juga ditemenin dan misal kepencet apa gitu dia nggak bisa balikinnya hehehe.

Kirana dibiasakan baca dari bayi. sumber: Intagram @retnohening

 

  1. Sejak usia berapa Kirana dikenalkan bahasa Inggris? Bagaimana mengajar anak bilingual mengingat Ibook tinggal di negeri orang?

Lupa mbak. Tapi kalo lihat-lihat videonya dulu sejak pindah kesini udah mulai dikenalkan. Tapi baru kata benda aja karena buku-buku dia sejak di sini (Oman) berbahasa inggris. Jadi saya suka kenalkan dikit-dikit. Lalu semakin kesini dia kenal sendiri karena tontonannya juga bahasa inggris. Dan temen-temennya yang udah sekolah juga sudah berbahasa inggris. Jadi dia ikutan terbawa pake bahasa inggris gitu. Padahal dia belum bisa, sih haha. Kalo di rumah saya tetap pake bahasa indonesia.

  1. Bagaimana menumbuhkan empati pada Kirana?

Soal empati mungkin karena dari dulu saya terbiasa ngobrol dan bicara apa saja dengan Kirana. Saya berusaha merespon apapun yang dia katakan bahkan sebelum dia bisa bicara. Pokoknya suara yang keluar dari mulutnya saya anggap sebuah komunikasi.

Banyak bahan yang saya obrolin sama Kirana, termasuk misalnya ketika melihat orang dijalan yang lagi kepanasan atau kucing yang lagi cari makanan. Mungkin dari sana juga mbak, mungkin juga karena sering dibacakan buku-buku yang mengandung unsur empati didalamnya. Saya juga di rumah sedikit-sedikit membiasakan Kirana untuk berbagi. Misalnya, menyediakan makanan burung diluar jendela atau sekedar memberi makan ikan. Kegiatan kecil tapi bisa menumbuhkan rasa untuk berbagi dan peduli dari Kirana, mbak..

  1. Bagaimana tantangannya mendidik anak di negeri yang kulturnya berbeda dengan Indonesia? Apa saja sih kesulitannya?

Saya sebenernya sampe sekarang belum menemukan kesulitan. Karena Kirana belum sekolah. Kalo ketemu sama temen-temen di sini juga sama orang Indonesia, temen-temen saya semua orang Indonesia. Jadi di sini Oman rasa Indonesia sebenernya, mbak..hehe.

Meski diberi ‘sakit yang spesial, tapi Kirana tumbuh jadi anak yang ceria! sumber: Instagram @retnohening
  1. Kegiatan yang paling disukai Ibook bersama Kirana apa?

Main kejar-kejaran, main bola dan main masak-masakan….hehe

  1. Bagaimana Ibook dan Ayah mengatur peran dalam mendidik Kirana?

Ayah bermain sama Kirana kalo lagi drumah. Biasanya ngajak Kirana main kalo pas weekend. Misalnya ngajarin berenang, nemenin naik kuda ditaman. Kalo yang kaya gitu kan saya nggak bisa mbak hehee..

  1. Ibuk di Instagram kelihatan kreatif banget mengusir bosan selama mendidik Kirana. Inspirasinya darimana?

Kalo kegiatan suka lihat di internet mbak. Atau dari kegiatan pas ngajar dulu mbak. Atau inget-inget permainan waktu kecil dulu hehehehe.

Nah, jadi gimana ibu-ibu? Bisa banget nih belajar parenting dari Ibook Kirana. Sejak kecil  bahkan sejak dalam kandungan sudah dibiasakan mendengarkan Al-Qur’an. Selain itu, menumbuhkan empati agar peduli pada sekitar dan sesama. Semangat mendidik anak-anak, buibu!

Jangan Katakan Ini Kepada Ibu-Ibu Caesarian

Lokasi: Rumah Waktu: kira2 jam 10 pagi Taken by: suami

Siapa sih yang nggak pengen melahirkan secara alami? Pasti jawaban hampir semua ibu sama. Melahirkan secara alami tanpa intervensi medis. Tapi ya balik lagi kan manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.

Pengennya begini eh jadinya begitu. Kayak saya, jungkir balik biar bisa lahiran normal eh si bayi keluarnya caesar. Ya disyukuri aja sih.

Cuman kadang-kadang masih ada nada-nada sumbang perkara ibu-ibu yang melahirkan secara caesar ini. Saya sempat kena nyinyir oleh penganut “melahirkan normal/alami itulah tanda ibu sejati”. Rasanya nelangsa.

Apalagi setelah melahirkan luka belum pulih, jalan masih tertatih-tatih, si bayi minta perhatian 24 jam, nangis terus nagih susu. Waktu di awal sempat berpikir gini amat ya jadi ibu. 

Makanya jika ada ibu-ibu yang melahirkan caesarplease dong jangan katakan beberapa hal ini:

1. Kok Caesar? MEMANGNYA KENAPA? KENAPA?

Apalagi nanya dengan nada mengintimidasi. Seolah saya ini tahanan yang menanggung kesalahan yang sungguh besar. Padahal, jalan ini dipilih demi keselamatan sang jabang bayi dan ibunya. Toh bukan keputusan yang diambil dengan hompimpa. Tentu atas dasar pertimbangan dokter dan kesepakatan keluarga bersama.

Kalau kasus saya karena sudah melebihi batas waktunya lahiran, postdate. 41 minggu si bayi belum juga mau keluar. Padahal ketuban sudah keruh. Induksi juga sudah bahkan dua botol sekaligus. Tak ada reaksi. Daripada si bayi kenapa-kenapa, ya jalan caesar inilah solusinya.

Kalau ada yang tanya begini saya jawab: takdir buk (hayati lelah, bang)

2. Ih Enak dong Nggak Pake Ngejan! Nggak Merasakan Sakit, dong!

Wew. Dikiranya melahirkan caesar itu macam jalan-jalan ke pantai. Seru dan santai. Hehehe. Yang jelas melahirkan caesar itu sakitnya berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Serius. Membutuhkan pemulihan yang lebih lama. Pernah mengalami luka akibat sayatan? Gimana rasanya? Perih kan ya?

Nah, operasi caesar ini membutuhkan sayatan hingga tujuh lapisan. Bayangkan dong? Nyeri-nyeri sedap gitulah. Beberapa teman dan saudara saya yang melahirkan caesar sesekali masih merasa nyeri di bagian sayatan operasi. Cenut-cenut gitu. Padahal, anak mereka sudah besar, ada yang malah sudah beranjak remaja.

3. Kurang gerak, ya waktu hamil?

Kita memang nggak pernah benar-benar tahu apa yang telah dilakukan seseorang sampai kita benar-benar hidup bersamanya. Banyak banget nih yang bilang kayak gini tanpa sebenarnya tahu seperti apa perjuangan kita. Hiks.

Padahal sejak usia kandungan tujuh bulan, setiap pagi saya pasti jalan kaki. Setiap akhir pekan saya meluangkan waktu untuk senam hamil di rumah sakit ibu dan anak dekat rumah. Ngepel sambil jongkok pun saya ladeni. Kadang kalau lagi rajin-rajinnya pagi sore jalan kaki terus dijabanin. Jadi, apakah ini bisa disebut malas gerak? 😂

4. Lagi Musim, ya Caesar? Orang Jaman Dulu Aja Bisa Lahiran Normal.

Bukannya ini lagi musim durian, ya (Kriukkk..hehehe). Memang, sih menurut data WHO di Indonesia kini melahirkan caesar meningkat hingga lebih dari 15 persen. Prosentase ini dianggap cukup tinggi. Penyebabnya sih macam-macam. Ada yang karena bayinya terlilit tali pusar, tekanan darah tinggi saat kehamilan/per eklampsia, ketuban kering, dan alasan medis lainnya.

See, alasan medis, lho ya. Jadi, tetap dong yang diutamakan adalah keselamatan sang ibu dan bayi.

5. Ah, Bukan Ibu Sejati, dong!

Apakah menjadi seorang ibu sejati dinilai dari bagaimana cara dia melahirkan?

Ibu-ibu caesarian juga mempertaruhkan nyawa demi bayi mungilnya. Dan, operasi ini memiliki risiko empat kali lebih besar dibanding secara alami. 

Kita, sama-sama berjuang untuk bayi dan diri sendiri. Masing-masing dari kita adalah pahlawan buat anak kita, apapun cara melahirkannya, mendidiknya, membimbingnya. Jadi, yuk stop judge antar ibu. Mari kita saling menghargai. Perjalanan menjadi ibu masih panjaaaaang. Sungguh lelah, ya kalau kerjaannya cuman buat nyinyirin orang 😂

Ibu-ibu caesarian pernah diginiin juga? 😁

 

 

 

Yuk, Mengenalkan Buku Sejak Bayi

Sebuah Obsesi

Saat ini Akmal memang baru tujuh bulan, tetapi sejak usianya dua minggu saya sudah ‘bernafsu’ membacakannya buku. Iya, ini obsesi sejak hamil. Se-ambisius itu, ya buk. Hehe. Saya bahkan sudah ngintip-ngintip dan nyicil beli buku anak-anak sejak hamil. Sebab, sejak awal sudah bertekad nanti kalau punya anak pengen banget dia cinta dengan membaca. Seperti akung dan ayahnya.

Di rumah bapak ada dua rak yang penuh sama buku-buku. Temanya pun beragam. Mulai dari soal politik, budaya, agama, perternakan, pertanian, dan kesehatan. Selain bapak, ibuk juga senang mengoleksi bacaan. Hanya saja cakupan bacaan ibuk terbatas pada tema agama, pendidikan, parenting dan kesehatan.

Sejak kecil pun saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan buku. Ibuk rajin mengajak kami ke toko buku dan langganan beberapa majalah anak-anak. Majalah Bobo, Mentari dan Anak Sholeh adalah beberapa majalah langganan kami dahulu. Sayangnya sekarang sudah nggak produksi 🙁

Maka dari itu saya juga ingin menularkan budaya itu ke Akmal. Kecintaan pada membaca. Kenapa sih kesannya ‘ngebet’ banget bacain buku sejak bayi? Padahal ngerti huruf aja enggak.

Sebenarnya bukan karena agar si Akmal bisa cepet membaca, tapi lebih kepada menumbuhkan kecintaan budaya membaca. Eh gimana sih ya kok mbulet, haha. Jadi gini, kalau menurut Fauzil Adhim, salah satu pakar parenting muslim dan penulis buku ‘Membuat Anak Gila Membaca’, menyatakan bahwa membaca itu dibagi menjadi dua pemahaman.

  1. Membaca karena ingin memberi pengalaman. Artinya, lebih menekankan pada proses. Di sini anak nggak dituntut harus bisa baca pada usia sekian, harus mengerti huruf dan merangkai kata usia sekian. Enggak. Tapi, memberikan kesan kalau membaca itu menyenangkan lho. Nah, kalau udah begini harapannya kelak dia jadi suka baca. Poinnya, menumbuhkan gairah minat baca pada anak.
  2. Membaca agar bisa merangkai huruf. Kalau yang ini obsesi agar anaknya bisa cepat mengetahui struktur huruf dan merangkai kata. Menurut Fauzil Adhim kalau ini tujuannya malah bisa membuat anak jadi cepat bosan. Karena anak dituntut agar bisa cepat baca. Artinya, ada paksaan. Fokusnya pada hasil bukan proses.

Selain itu dengan membaca kita bisa memiliki wawasan dan pemikiran terbuka. Open minded gituDan nggak mudah percaya akan hoax. Jadi inget sama kata-katanya Zen RS, salah satu editor media online Tirto.id. Dia bilang:

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.

Bener banget ini sih kayaknya udah menjadi budaya netizen Indonesia. Apa-apa dikomentari tanpa dasar yang jelas. Istilahnya asal njeplak gitu.

Oya, alasan lain juga karena saya ingin membatasi pengenalan dan penggunaan gadget sejak dini. Jujur aja saya masih khawatir memberikan Akmal tontonan lewat Youtube meskipun itu tontonan untuk bayi atau anak-anak. Nah, membacakan buku ini sebagai alternatif lain membatasi screen time pada anak.

(Baca juga: Membentuk Karakter Anak Lewat Mendongeng)

Proses dan Tantangannya

Lantas apakah Akmal langsung menunjukkan minat suka membaca? YA BELUMLAH. Haha. Pertama kali saya bacain buku, Akmal cuman ngoceh aaa… oooo… eoeoeo… auoauo… Tapi, ya saya anggap itu respon dia, saya anggap ‘oh berarti dia mendengarkan bundanya nih’ haha.

“Hemmm… kayaknya enak nih”

Semakin besar usianya saya makin intens membacakannya buku. Dan jelas semakin rusuh responnya. Yang bukunya langsung disaut lah padahal bacainnya aja belum kelar, lalu diremes-remes lalu dimakan. YA DIMAKAN! Belum tau dia kalau harga buku bayi mahalnya ngalahin harga lipstik bundanya. 😌

Meski begitu saya tetap ((berusaha)) rutin membacakannya buku. Ya memang nggak setiap hari sih, tapi selalu disempatkan terutama kalau dia lagi happy. Kadang-kadang sebelum tidur juga saya ajak baca buku. Kalau pergi pun saya usahakan selain bawa mainan, buku juga hal penting yang wajib dibawa.

Well, sebenarnya saya merasakan manfaat membacakannya buku. Saya jadi punya waktu lebih dekat dengan Akmal. Istilahnya, bonding time! Selain menyusui, aktivitas ini menjadi salah satu bonding time yang seru!

Saya juga merasa Akmal jadi lebih responsif saat dibacakan buku. Misalnya merespon dengan ikutan ngoceh ya meskipun nggak jelas haha. Atau sekadar tertawa dan berteriak. Dan, saya jadi dapat insight baru saat membacakan buku anak. Ada beberapa hal yang membuat saya jadi belajar lagi. Misalnya, saat membacakan kisah nabi-nabi, jadi baca-baca lagi deh karena lupa haha.

Memilih Buku

Karena masih bayi dan belum memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap buku, maka selektif pilih buku bayi itu penting. Misalnya nih;

  1. Buku bantal. Bahannya dari kain dan empuk mirip bantal. Jadi nggak perlu khawatir sobek atau rusak. Selain itu gampang dibawa ke mana-mana dan nggak makan tempat karena bisa dilipat macam baju hehe. Yang penting rajin dicuci aja (padahal saya nggak rajin juga sih haha)
  2. Board book. Buku ini bahannya dari karton tebal. Kelebihannya nggak gampang robek. Jadi sama sih kayak buku bantal, nggak khawatir kalau Akmal remes-remes atau makan nih buku. Biasanya dalam satu halaman hanya terdiri satu atau beberapa kata saja dan satu gambar. Cuman ya gitu harganya mahal bok!
  3. Touch-and-feel book. Bahannya mirip sama board book. Tambahannya, buku jenis ini biasanya ditempeli kain, kapas atau aneka bahan lain sehingga menimbulkan tekstur yang bervariasi. Jadi anak bisa mengekplorasi tekstur di dalamnya apakah halus, empuk atau kasar. Sekalian latihan motorik halus.
  4. Pop-up. Kalau ini gambarnya bisa muncul dari buku. Cuman kurang cocok sih buat bayi, lebih ke anak-anak 4 tahun ke atas. Karena terbuat dari kertas biasa, kalau disodorin ke bayi udahlah wassalam. Haha.
Buku-buku berbahan kertas tebal lebih awet buat bayi. Yang full colour dan banyak gambar akan lebih menarik dia.

Membacakan buku sejak bayi nggak ada ruginya kok. Jadi jangan tunggu nanti-nanti! Meskipun nggak mudah dan dalam perjalanannya membosankan, kita nikmati aja prosesnya. Yang penting menumbuhkan gairah dan minat anak terhadap buku.

Buibu sudah membacakan buku ke anak? Markishare! Mari kita sharing 😀