Thursday, December 2, 2021

Ceritaku

Home Ceritaku

DIY Maternity Shoot (Low Budget)

Sebelum hamil saya sudah bertekad untuk mengabadikan masa-masa hamil lewat foto. Pengen gitu punya foto ala-ala maternity shoot seperti ibu-ibu muda yang bertebaran di media sosial (tipikal gampang terpengaruh :D). Rasanya gemas sendiri melihat foto-foto kehamilan yang diatur sedemikian rupa.

Tapi, setelah riset soal harga ternyata maternity shoot di studio lumayan mahal bok! Secara semua perlengkapan ada mulai dari kamera, lighting, hingga kostum. Tentunya difoto dengan fotografer profesional. Dengan perlengkapan segitu ada yang memasang tarif hingga jutaan rupiah. Yaaaah, saya sih jadi mikir-mikir. Mending kan budget-nya dibuat beli perlengkapan bayi dan biaya persalinan (emak-emak perhitungan :D).

Alhasil, saya memutuskan untuk melakukan maternity shoot bersama suami. Selain lebih murah tentu suasana akan lebih mesra. Hehehe.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ingin mengambil foto kehamilan dengan low budget. 

  1. Tentukan waktu mengambil foto. Ini penting karena sangat mempengaruhi kualitas hasil foto. Kalau kata para fotografer pro waktu terbaik memotret adalah pagi dan sebelum matahari terbenam. Istilahnya golden hour. Oya, ini kalau konsepnya di luar ruangan ya. Waktu pagi biasanya kira-kira dimulai jam 6 – 10 pagi. Pada waktu ini foto akan terlihat bagus karena mendapat cahaya alami dari matahari. Sementara kalau sore berkisar jam 3-5 sore. Sebaiknya hindari memotret jam 12 siang karena selain panas terik, hasil fotonya jadi kebanyakan cahaya.
Lokasi: Taman Tugu Malang
Waktu: Kira-kira jam 7 pagi
Taken by: suami

2. Pilih Lokasi. Pengambilan gambar bisa indoor atau outdoor. Kalau malas keluar rumah dan keluar biaya jajan bisa kok memanfaatkan properti yang ada di rumah. Kalau di dalam ruangan saya sih suka pakai background yang polos dan minim properti. Jadi fotonya terlihat elegan dan nggak norak. Bisa memakai background tembok yang bersih atau seprai berwarna netral seperti putih.

Bisa juga menggunakan konsep siluet. Kalau foto di luar terlalu terang dan banyak cahaya, mengambil gambar dari dalam adalah ide yang oke. Pengambilan gambar bisa di dekat jendela.

Lokasi: Rumah
Waktu: kira2 jam 10 pagi
Taken by: suami

Kalau bosan suasana di rumah bisa juga memanfaatkan fasilitas publik seperti taman, alun-alun,museum atau bahkan lapangan sekitar komplek perumahan. Lumayan kan tidak perlu keluar biaya banyak. Hehehe. Asal gambar diambil pada saat yang tepat, seperti jam 6-10 pagi, agar mendapat cahaya matahari yang cukup.

3. Kostum. Saya memilih pakaian yang tidak terlalu banyak motif di area perut, supaya lebih terlihat gitu. Hehhe. Selain itu jangan lupa kenakan pakaian yang nyaman dan berbahan adem. Karena bumil kan memproduksi banyak keringat jadi tidak mengganggu saat proses pengambilan foto.

4. Banyak Angle.  Pengambilan gambar tidak musti selalu dari depan. Bisa dicoba dari berbagai arah. Misalnya dari samping atau bahkan dari atas. Nggak musti sambil berdiri aja, bisa sambil tiduran kalau pengambilan gambarnya di dalam rumah, sambil masak atau baca buku. Pokoknya be creative! 😀

(dari atas)
Lokasi: Taman Tugu Malang
Waktu: Kira-kira jam 7 pagi
Taken by: suami

5. Properti Foto. Selain angle, properti foto juga menjadi salah satu daftar yang melengkapi maternity shoot kita. Properti ini bisa membantu saat sedang mati gaya! Misalnya, bisa menggunakan perlengkapan bayi seperti sepatu, kaos kaki, baju, atau buku bayi. Bisa juga yang nggak berhubungan dengan baby stuff seperti bunga.

Lokasi: Alun-alun kota Malang
Waktu: kira-kira jam 8 pagi
Taken by: suami

6. Lakukan Sebulan Sebelum Due Date. Saya mengambil gambar ini pada saat usia kehamilan 8 bulan. Bisa juga sebelumnya. Intinya jangan terlalu dekat sama waktu hari perkiraan lahir ya! Karena semakin membesar perut kita semakin kelelahan dan proses pemotretan butuh tenaga juga dong. Hehehe.

Untuk memberikan touch  yang sempurna, mengedit foto setelah pemotretan juga diperlukan. Bisa menggunakan aplikasi seperti Photoshop. Karena saya masih gaptek urusan editing foto pakai Photoshop jadilah saya pakai aplikasi edit foto di Instagram dan Vsco. Yang terpenting adalah lower your expectation! Terkadang foto yang kita inginkan hasilnya nggak sesuai kan sama realitanya. Apalagi fotografernya amatiran. Haha. (semoga suami nggak baca). Tapi ya nggak apa-apa wong namanya buat senang-senang so dibawa have fun aja!

Segitu aja deh tips dari saya yang mau maternity shoot tanpa keluar biaya banyak. Ada yang mau menambahkan?

Membiasakan Anak Agar Suka Membaca

“Ayo Nda ceritain lagi. Baca buku yang itu, Nda,tunjuk Akmal ke salah satu buku serial Nabi Muhammad Teladanku di rak buku kesayangannya. Ini sudah buku kesekian yang kami baca bersama menjelang tidur.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Jika tidak diingatkan untuk segera tidur, barangkali Akmal akan terus meminta mengeluarkan seluruh buku dari raknya.

Tentu saja alasan lain karena saya sudah mengantuk dan pegal sekali nyerocos terus berkisah di hadapannya.

Di usianya yang ke 3,5 tahun, Akmal sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada buku. Tentu ini membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

Sejak bayi saya sudah mulai mengenalkan Akmal pada buku. Buku bantal berbahan kain adalah buku pertama yang pernah Akmal sentuh. Di dalamnya banyak gambar-gambar obyek seperti hewan, buah-buahan, dan benda-benda sekitar dengan warna-warna yang mencolok.

membaca buku sejak bayi
Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Tak jarang juga saya bacakan padanya kisah nabi-nabi dari buku yang saya punya sejak zaman masih single. Tentu dengan bahasa yang lebih sederhana dan intonasi suara yang atraktif.

Apakah Akmal mengerti?

Pada saat itu tanggapannya cuman “oooweowe…aaaa…taaaa..taaa..daaa..bbrbhbdsg” ocehan yang hanya dipahami sama para bayi.

Meski begitu saya nggak berhenti untuk terus membacakan buku pada Akmal. Saat mau tidur, setelah berkegiatan di luar, saat sedang makan atau saat saya benar-benar lelah untuk menemaninya bermain yang membutuhkan aktivitas fisik. Membacakannya buku adalah pilihan yang tepat.

Waktu itu Akmal memang belum mengerti, bahkan membedakan mana kucing dan mana macan saja belum paham. Tapi yang ingin saya tumbuhkan adalah membiasakannya agar ia suka membaca. Memberikan pengalaman dan menumbuhkan gairah membaca secara menyenangkan.

Membiasakan anak membaca buku sejak kecil bukan supaya dia bisa cepat membaca huruf-huruf, tetapi supaya kebiasaan membaca itu menjadi kebutuhannya kelak.

Supaya nanti dia nggak alergi baca buku-buku pelajaran, baca jurnal-jurnal, baca buku-buku ilmiah atau buku-buku berbahasa selain bahasa ibu.

Akmal 17 bulan. Baca majalah Natgeo bersama Ayah.

Mungkin sebagian orang menganggap belajar bisa dari media apa saja selain buku, ya bisa jadi sih. Hanya saja belajar dari buku itu (menurut saya) menjadikan kita lebih fokus dan konsentrasi.

“Ah tapi anakku lebih senang dilihatin video di Youtube,”

Saya sadar zaman sekarang kehadiran gadget itu tak terhindarkan.

Apakah dengan mengenalkan buku lantas anak saya jadi nggak lihat gadget sama sekali? Ooh ya tentu tidak dong hehe. Akmal juga sudah dikasih screen time sejak usianya 2 tahunan.

Tapi yang saya rasakan kalau anak kita kenalkan ke buku dulu sebelum gadget akan lebih mudah memahamkan padanya ketika screen time selesai, dia nggak bingung harus ngapain. Meski waktu saya bilang “Stop! Udahan ya nontonnya” ya tentu saja dia akan ngedumel dan protes tapi buku bisa menjadi ‘penyelamat’.

Lalu gimana sih agar anak suka membaca buku?

1. Jadilah Orang Tua Pembaca

Banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk menggairahkan minat baca anak. Tetapi, tanpa contoh nyata, kita bisa kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di hadapan mereka. Kita kehilangan kepemimpinan sehingga seruan kita tidak efektif.

(Ustad Fauzil Adhim- Membuat Anak Gila Membaca)

Memberi contoh menjadi orang tua yang juga suka membaca di depan anak-anak adalah cara paling kongkrit.

Lhaya gimana pengen anaknya suka membaca tapi ayah bundanya lebih dekat lihat HP. Hmmm…ya nggak nyambung dong hehe.

“Tapi aku sibuk, nggak sempet baca buku”

Saya dalam 24 jam nggak mesti harus menyelesaikan satu buku tuntas terbaca. Minimal sehari baca beberapa halaman aja. Luangkan setiap pagi sebelum semua anggota keluarga bangun, setidaknya beberapa lembar aja dulu.

2. Membaca Nyaring, Setiap hari

Membaca nyaring (read aloud) seperti yang digaungkan oleh Jim Trelease bisa menjadi salah satu cara mempererat bonding anak dan orangtua. Saya memulai cara ini sejak Akmal baru lahir. Bacakan buku apa saja yang ada di rumah.

Saya memulainya dengan membacakan buku-buku bergambar hewan, buah-buahan, atau kisah para nabi. Memang saat dibacakan Akmal tampak tidak mendengarkan, terkadang ngoceh sendiri atau salah fokus meremas buku yang saya bacakan untuknya.

Nggak apa-apa, anggap saja itu respon baik darinya. Yang terpenting adalah intonasi suara saat kita membacakan buku untuknya.

Kalau bisa sih menyesuaikan gambarnya, gambar kucing menirukan suaranya, gambar pemandangan laut berusahalah heboh dengan menyatakan kekaguman Masya Allah indah banget ya, nak ciptaan Allah,” supaya anak lebih tertarik saat kita membacakan buku.

3. Sediakan Buku Sesuai Usia Anak

Zaman now nggak susah sih ya mencari buku bagus untuk anak-anak. Banyaaak banget malah bertebaran buku-buku mulai untuk bayi hingga remaja yang ilustrasinya sangat colourful. Mulai dari yang murmer sampai yang harganya premium.

macam-macam buku anak-anak di BBW

Kalau dari bayi bisa mengenalkan buku bantal berbahan kain, boardbook yang berbahan karton tebal, ada juga soundbook yang bisa mengeluarkan suara. Bahkan ada pula pop up book yang bukunya bisa menampilkan bentuk tiga dimensi.

Kalau saya mengenalkan buku apa saja yang cocok untuk usianya tapi tak lupa menyisipkan nilai-nilai ketauhidan pada Akmal. Buku-buku yang mengenalkannya dan mendekatkannya pada Allah.

Misal buku bergambar hewan-hewan, tak lupa mengatakan padanya “Masya Allah ini kuda ciptaan Allah, Mal. Keren ya Allah,”. Atau kisah para nabi dan sahabatnya.

Di usianya yang ke 3 tahun ini topik bacaan buku Akmal lebih variatif dan menantang.

Buku-buku ceritanya sudah memiliki konflik. Seperti buku serial 10 Karakter Hebat Anak Muslim terbitan Ziyad Books. Tujuannya untuk menanamkan value baik padanya, bagaimana mengenalkan emosi, kebiasaan merapikan mainan, menjaga kebersihan dll.

Kadang dengan antusiasnya Akmal yang gantian bercerita ke saya meski dengan kalimat yang tidak terstruktur haha!

4. Letakkan Buku di Setiap Sudut Rumah

Supaya anak lebih tertarik pada buku, letakkan buku-buku yang dekat dengan jangkauannya. Bisa ditaruh di kamar, di ruang tamu atau di mushola, asal jangan di kamar mandi sih hehehe.

Saya berusaha meluangkan waktu untuk membacakan buku padanya setiap kali mau tidur. Cukup meluangkan 10-15 menit sudah menciptakan memori lewat kisah-kisah yang ada di dalam buku.

Kalau bosan baca buku di rumah, saya kadang mengajaknya ke perpustakaan. Supaya ada suasana yang lebih fresh dan beda gitu. Ini sih alasan bundanya aja biar bisa sekalian jalan-jalan haha.

Tapi seriusan deh mengajak anak ke perpustakaan bisa jadi alternatif rekreasi murah meriah, lho. Karena di sana ketemu banyak teman-teman sebayanya yang juga baca buku, jadi bikin mereka makin semangat.

5. Apresiasi Efektif untuk Anak

“Masya Allah pinter mas Akmal baca buku. Bukunya cerita tentang apa sih nak?”

Tunjukkan dan apresiasi anak atas antusiasme mereka saat membaca buku. Bila perlu bisa jadikan ajang diskusi setelahnya.

Akmal senang sekali menceritakan ulang dengan gayanya yang aktif. Kadang sambil lompat-lompat atau menirukan gerak gerik dan suara hewan yang ada di buku.

Tak jarang kami main tebak-tebakan warna atau nama-nama sahabat Rasul yang tertulis di bukunya. Ini bisa menjadi cara variatif supaya momen membaca jadi lebih menyenangkan.

Tak ada teori yang bagus selain kita langsung mempraktikkannya. Meski saat ini Akmal belum benar-benar bisa membaca huruf, kalimat per kalimat tapi alhamdulillah menurut saya minat akan membaca buku itu sudah tumbuh.

Jadi yuk mulai dari sekarang membacakan buku ke anak agar kelak lahir generasi pembelajar dan haus akan ilmu. Dimulai dari buku 🙂

Jadi Wartawan Itu…

Sejak SMA saya bercita-cita jadi wartawan. Entah angin apa yang membuat saya bernafsu untuk menekuni profesi tersebut di masa depan saya. Supaya bisa keliling jalan-jalan. Begitu pikir saya waktu itu.

Sejak itu saya semangat sekali mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan dunia jurnalistik. Saya pun bergabung di ekstrakurikuler jurnalistik sekolah, mengikuti berbagai workshop tentang jurnalistik, follow para jurnalis kece di media sosial, bahkan nggak pernah mau ketinggalan berita terkini baik di televisi maupun koran (macam bapak-bapak gitulah).

Lulus SMA saya nggak bisa lepas dari pikiran “pokoknya aku mau jadi jurnalis.” Pikiran ini membuat saya lagi-lagi nyemplung di dunia ini. Jadi aktivis pers kampus.

Wahh, kala itu bisa bergabung dan menjadi salah satu redaktur majalah saja senangnya bukan main. Merasa keren dan berwibawa. Padahal cuman lingkup kampus 😂 . Saat magang untuk tugas akhir kuliah pun, saya memilih magang di salah satu media nasional di Jakarta.

Mimpi yang lama terpendam itu pun mulai mendapat titik terang. Lulus kuliah, saya melamar sebagai wartawan di media nasional yang berbasis di Surabaya, Jawa Pos. Alhamdulillah, berkat usaha doa dan tekad kuat saya diterima.

Kala itu saya harus bersaing dengan ratusan pelamar dari seluruh Indonesia. Sementara, yang diambil hanya 25 orang. Alhamdulillah. Saya melalui berbagai tahap tes. Mulai dari administrasi, tes knowledge soal dunia jurnalistik dan umum, tes psikologi, tes kesehatan hingga wawancara.

Sebelum terjun ke “lapangan” kami dibekali berbagai teori terkait jurnalistik. Mulai dari topik berita, teknik wawancara, teknik menulis berita, de es te, de es te….

Masing-masing ditempatkan di “pos” yang berbeda-beda. Maksudnya, tema berita yang diangkat berbeda-beda. Saya kebagian di pos kesehatan dan pendidikan.

Ada banyak sekali kejadian dan pengalaman berharga selama jadi wartawan. Mulai dari enaknya sampai nggak enaknya. Nih, saya jembrengin satu-satu ya…

ENAKNYA…

Jadi wartawan itu…

Kenal sama orang penting dan banyak relasi. Selama liputan kita dituntut untuk mencari narasumber yang kredibel. Disinilah peluang untuk bertemu dengan “orang-orang penting”. Politisi, walikota, menteri hingga selebritis. Nggak jarang pula saya ketemu dengan orang-orang inspiratif.

Bersama sutradara Joko Anwar saat launching film A Copy of My Mind. (Maafkan fotonya yang agak burek 😂)

Keuntungannya kita punya “tiket” biar bisa ketemu langsung dan ngobrol sama mereka. Apa itu? ID card pers. Ini salah satu senjata andalan wartawan. Kalau nggak punya ini ya siap-siap diremehkan deh sama narasumber 😂

Oya, sebagai wartawan juga saya dituntut SKSD, sok kenal sok deket gitu. Kalau diem aja yaudah bubar nggak dapet berita. Nggak bakal dapet pernyataan dari narasumber penting itu.

Makanya, membangun komunikasi dan relasi sama para narasumber ini penting banget. Jadi, kita nggak hanya butuh saat kerja aja, sebisa mungkin juga akrab di luar itu. Eh tapi hati-hati ya kalau narasumber yang berhubungan dengan politik. Harus bisa membedakan pekerjaan sama di luar itu. Kadang-kadang narasumber memanfaatkan kedekatan ini. Sehingga mempengaruhi idealisme berita kita.

Jadi wartawan itu…

Update berita terkini. Ya dong kita menyajikan berita ya tentu harus mengikuti perkembangan berita terbaru. Sebelum pembaca dan netizen di luar sana tahu, kita udah dapet info duluan dari para narasumber.

Jadi wartawan itu….

Keliling, jalan-jalan dibayari kantor. Ini buat penganut “backpacker irit nyari gratisan” macam saya. Hehe. Bisa kemana-mana karena tugas liputan dan dibayari kantor.

Jadi wartawan itu…

Nambah ilmu baru, nambah wawasan. Tadinya saya lulusan Sastra Inggris. Saat diposkan di topik kesehatan dan pendidikan jelas ini pengalaman dan tantangan baru buat saya.

Bayangin aja yang biasanya baca novel dan cerpen eh ini dituntut baca topik lain, kamus kedokteran, ensiklopedi kesehatan, dan istilah-istilah dunia kesehatan yang sangat asing di telinga saya. Kuliah lagi bok! 😂

Bebas soal baju. Nggak perlu pake seragam yang serba kaku dan formal. Pakai dress, blouse, atau kaos (tapi yang berkerah, ya) bebas. Mau pakai sneakers, boots atau bahkan sepatu gunung, hajaaarr. Yang penting nggak kucel dan bau asem hehe.

Nah, ada enak berarti ada NGGAK ENAKNYA juga kan?

NGGAK ENAKNYA Jadi wartawan itu…

Jam kerja yang nggak jelas. Kalau pegawai kantoran pada umumnya kan 8 to 5. Wartawan mah jangan harap 😂. Ada insiden atau kejadian pagi buta ya kudu berangkat liputan.

Pertama kali liputan saya diminta meliput momen kelahiran bayi kembar lima di RSUD Dr Soetomo Surabaya (beritanya disini : Bayi Kembar Lima . Dan itu dijadwalkan dokternya jam 6 pagi. Ya bayangin aja saya berangkat dari rumah jam berapa 😂. Saya kudu stay di RS mulai sepagi itu sampai si bayi-bayi itu lahir.

Kalau pas tengah malam ada berita dadakan yang harus diliput; kebakaran, gempa bumi, atau kejadian tidak terduga misalnya, ya mau nggak mau harus berangkat liputan! Nah, lho kan enak-enak ngiler eh dapet telpon dari redaktur. Gimana perasaanmu? 😂

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan itu….

Everyday is Workday! Bahkan di saat weekend dan libur nasional sekalipun. Hahaha ngakak perih nggak tuh. Iya, saat orang-orang pada liburan, wartawan harus tetap menyajikan berita menarik kepada para pembaca. Yang lain asyik liburan, wartawan sibuk aja keliling liputan 😂

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan Itu…

Dikejar Deadline. Yang bikin tambah pusing tujuh keliling saat dekat deadline tapi narasumber susah sekali ditemui dan dihubungi. Apalagi beritanya harus tayang hari itu juga. Jadinya harus cari narasumber lain, deh.

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan Itu…

Risiko ancaman besar. Ini kalau beritanya yang berbau politik, berita perang di suatu daerah atau biasanya bersifat investigatif. Karena kita harus mengungkapkan fakta dengan cara (terkadang) harus menyamar.

Misalnya, saya pernah melakukan peliputan investigatif soal kampus-kampus bodong di Surabaya. Nah, nggak mungkin kan kalau kita datang langsung buat wawancara kampusnya? Yang ada malah nggak mau diwawancara. Salah satunya ya saya masuk sebagai pendaftar mahasiswa, misalnya.

Risikonya pun beragam, bisa diancam dilaporkan ke polisi, dipidanakan bahkan nggak sedikit wartawan yang mendapat ancaman pembunuhan. Sedih, sih karena makin banyak kasus pengancaman yang terjadi di kalangan wartawan. Semoga aja undang-undang bener-bener melindungi profesi ini.

Banyak sekali pelajaran (hidup) yang saya dapatkan selama jadi wartawan. Intinya, menempa saya bahwa hidup ini keras, buk! Hehe. Tapi, harus tetep dijalani dengan suka hati.

So, adakah disini yang berprofesi serupa? Atau adakah yang berminat jadi wartawan? Boleh sini sharing 😊

Kurangi Larangan Pada Anak dengan Berkata ‘Iya Boleh’

“Jangan pegang itu, nanti luka kena tangan!”

“Jangan lari-lari!”

“Jangan naik-naik meja!”

“Jangan main di pasir ih kotoooorrr!”

 Terdengar sangat familiar ya? Hayoo buibu siapa yang juga sering begini ke anak?

Sejak jadi ibu saya jadi lebih sering khawatir, terlebih sama anak. Apalagi si Akmal sedang masa-masa suka eksplorasi, apapun dan di mana pun.

Mau eksplor apapun…bebaaaasss

Ada benda-benda kecil di lantai, diambil lalu dimasukkan ke mulut. Ada barang yang baru buatnya padahal berbahaya seperti pisau maunya disaut aja. Bisa buka kran sedikit saja eeehh keterusan deh main airnya. Nemu tempat main yang lebih luas macam lapangan, dianya keliling aja ke sana kemari macam setrikaan haha.

Terkadang jika sudah terlampau lelah mengikuti polah Akmal yang mengeksplor apapun itu, saya suka refleks bilang “JANGAN”!. Padahal sebenarnya kurang bagus, ya bu buat tumbuh kembang dan psikis anak.

Seperti yang dikatakan oleh psikolog Ratih Ibrahim dalam Dancow ‘Iya Boleh’ Camp di Royal Plaza, Surabaya lalu (Sabtu, 1 September 2018). Menurut Ratih jika kita sebagai orang tua sering melarang anak dan berkata JANGAN, anak akan merasa tidak percaya diri. Mau melakukan ini tidak boleh, mau ke sana tidak boleh, dan seterusnya.

Psikolog Ratih Ibrahim memberikan penjelasan tentang pengasuhan anak.

Selain itu anak jadi kurang imajinatif. Lha gimana, rasa ingin tahunya saja kita ‘tekan’ dengan melarangnya melakukan apa-apa yang menurut kita nggak baik. Padahal bisa jadi si anak sedang mempelajari sesuatu dari polah tingkah mereka. Lewat main air bisa jadi mereka belajar soal rasa dingin, bagaimana rasa air, dan teksturnya. Lewat main pasir barangkali dia belajar bagaimana baunya, teksturnya, warnanya. Dan seterusnya…

Menurut Ratih, keterlibatan aktif orangtua memegang peran penting saat mendampingi si kecil melakukan eksplorasi pertamanya. “Kemandirian menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan pada si kecil agar semakin percaya diri untuk bereksplorasi. Saat eksplorasi orangtua perlu juga percaya pada anak untuk berkata ‘iya boleh!’ sehingga anak menjadi berani eksplor,” tuturnya.

Namun tentu saja tidak melulu kita mengatakan ‘iya boleh’ pada anak. Ada beberapa hal yang harus kita pilah mana yang boleh maupun tidak. Hal tersebut berlaku jika situasi dan lingkungan untuk eksplorasi anak aman, maka tidak masalah mengatakan ‘iya boleh’. Tapi jika membahayakan maka sebaiknya kita perlu melarangnya dan jangan lupa menjelaskannya mengapa tidak boleh.

Misalnya, si Akmal suka sekali ‘menemani’ saya saat masak di dapur. Ada banyak barang dan hal di dapur yang membuatnya penasaran, contohnya pisau. Tentu saja saya harus melarangnya memegang benda tersebut dan menjelaskan mengapa belum boleh memegangnya.

Selain Ratih, ada dua bunda inspiratif yang juga berbagi soal kegiatan eksplorasi anak-anak mereka di Talkshow Dancow Camp kemarin. Ussy Sulistiawati dan Intan Nuraini.

Ussy mengakui perlakuan terhadap masing-masing anak tentu berbeda. “Dulu sebelum mendapat pencerahan di Dancow, aku sama ratakan pengasuhannya, istilahnya otoriter. Sering banget aku larang untuk bereksplorasi. Tapi sekarang jadi lebih memahami anak-anak dan lebih legowo,” tuturnya.

Dia juga menceritakan perihal masalah orangtua zaman now yang hidup di era digital. Anak-anak mereka jadi mengenal gadget di usia yang masih balita. “Memang sih persoalan gadget ini susah ya. Untuk mengalihkannya aku mengajak anak-anak ke kegiatan lain seperti membaca buku, menggambar atau main di taman terbuka,” lanjutnya.

Oya, selain sesi sharing bersama para narasumber inspiratif, di acara ini juga disediakan arena booth permainan untuk anak-anak. Ada 7 booth eksplorasi yang membuat anak-anak betah saat orangtuanya menimba ilmu hehe, diantaranya:

1. Petualang Cilik : Arena ini diperuntukkan untuk kategori usia 1-3 tahun. Anak-anak bisa mainan keseimbangan diri dengan berdiri di atas jembatan dan memanjat jaring-jaring.

2. Jemari Melukis : Arena ini untuk mendukung eksplorasi si anak di bidang seni dan warna. Mereka bisa berkreasi dengan acrylic untuk mewarnai tas hasil karya mereka sendiri.

3. Tembikar Ria : Anak-anak bisa berkeksplorasi membuat ragam bentuk dari tanah liat.

4. Pahlawan Cilik : Di arena ini anak-anak dilatih kemampuan psikomotoriknya, menumbuhkan perhatian dan menyelesaikan masalah. Cara bermainnya si anak diajak menyelamatkan boneka kucing dengan melewati berbagai tantangan fisik.

5. Penjelajah Hutan: Mengajak si kecil menjelajahi hutan, menemukan beragam hewan melalui layar gerak, serta mempelajari karakteristik hewan.

6. Prajurit Bakteri Baik : di arena ini anak-anak bermain peran sebagai bakteri baik, Lactobacillus rhamnosus, yang akan berperang melawan bakteri jahat, melalui layar digital interaktif yang akan melatih kecerdasan memori, perhatian dan psikomotorik.

7. Teater Fauna :merupakan arena sandiwara boneka tangan untuk si kecil berinteraksi dengan hewan favoritnya yang dapat menstimulasi perhatian, mengasah penyelesaian masalah serta kemampuan linguistik si kecil.

Gimana seru ya acara dan booth campnya? Jadi mulai sekarang saya akan mencoba mengurangi larangan dan berkata jangan, selama itu baik untuk proses tumbuh kembang anak. Selamat menemani anak-anak bermain ya bunda-bunda! 🙂

 

 

Tantangan Mendidik Generasi Millenial

Setelah menikah, profesi lama saya sebagai wartawan di salah satu media nasional harus saya tinggalkan. Sebab, saya harus hijrah ke kota tempat suami bekerja dan tentu membangun keluarga di sini (Malang). Saya pun banting setir menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar di kota yang terkenal dengan apelnya ini.

Shock culture? Itu pasti. Saya harus beradaptasi lagi dengan beberapa hal. Lingkungan baru, teman serta suasana kota yang sama sekali beda dari tempat kelahiran saya, Sidoarjo. Dan yang paling mencolok buat saya jelas profesi baru sebagai pengajar.

Ternyata bukan  hal mudah. Saya sadar, menjadi pendidik adalah tugas yang berat. Apalagi di era informasi yang cepat sekali di dapat. Dimana anak-anak mendapat informasi hanya tinggal sekali ketik di mesin pencari google, klik, lalu muncullah sejuta info yang mereka inginkan. Jadi, terkadang peran seorang guru di kelas diabaikan! (hiks )

Itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengajar (saya khusus mengajar bahasa Inggris) di kelas 9 SMP. Dan, mengajar di kelas adalah pengalaman kali pertama. Dulu, saat kuliah saya pernah mengajar, tapi ya hanya privat, one by one student. Sementara, di kelas kita harus berinteraksi dengan puluhan murid. Bisa dibayangkan dong kalau kelas yang kita hadapi adalah jenjang SD yang notabene nggak bisa dan NGGAK MAU DIEM. 😦

Untuk pertama kali mengajar, kira-kira ada duapuluh pasang mata memperhatikan saya saat berdiri di depan kelas. Di awal mereka mendengar penjelasan materi yang saya sampaikan. Tapiiii, rupanya cuman bertahan 10-15 menit saudara-saudara!. Selanjutnya? Mereka (MAYORITAS) sibuk sekali dengan gadget  masing-masing. Ada yang asyik bermain game, sibuk kepo media sosial, bahkan tanpa segan foto-foto selfie bahkan mengajak teman-temannya yang lain (ADA GURU DI DEPAN MEREKA!).

kid-gadget
source: pixabay

Istighfar dalam hati dan bersikap cool saat itu adalah pilihan saya. Menegur mereka tentu saya lakukan. Tapi, rupanya teguran hanya dianggap angin lalu bagi mereka :(. Mau tak mau, saya harus tetap melanjutkan penjelasan saya soal beberapa materi. Yang cuek dengan kehadiran saya? Saat itu saya abaikan. Jujur, karena ini pengalaman pertama, saya belum menemukan caranya.

Yaa generasi yang hidup di zaman sekarang memang nggak bisa lepas dari yang namanya gadget. Bahkan beberapa orangtua sejak bayi sudah mengenalkan mereka permainan bahkan internet lewat gawai mereka. Berdasarkan beberapa penelitian, generasi yang kita kenal sebagai generasi Z ini telah menggunakan smartphone mereka selama 15 jam per minggu. WOW! Setiap hari tanpa gadget!

Memprihatinkan? Entahlah setiap orangtua tentu memiliki sudut pandang yang berbeda.  Tetapi, bagi saya kok rasanya mengerikan ya dampak gadget (yang berlebihan) buat anak. Contoh kecilnya yaa yang saya alami di atas. Pengaruhnya, jelas pada akhlak anak. Terkikisnya sopan santun, berlaku ramah pada orang rasanya mulai pudar. Bayangkan saja, setiap hari interaksi yang mereka lakukan hanya di depan gadget tanpa ada komunikasi secara aktif di dunia nyata. Kita tidak tahu seperti apakah jenis teman-teman yang mereka temui di dunia maya.

Tapi, apakah selamanya buruk? Sebenarnya juga tidak sih. Selama ada pengawasan dari orangtua dan penggunaan dalam porsi yang cukup. Sampai sekarang memang masalah internet, gadget dan tetek bengeknya untuk anak masih mendapat opini yang pro dan kontra.Jujur saja, ini tantangan buat saya sebagai pendidik, calon orangtua dan para orangtua di luar sana.

Lalu bagaimana menghadapi anak-anak generasi ini? Waktunya saya dan (barangkali) orangtua di luar sana pintar-pintar dan kreatif mengajari mereka. Semangat!