Thursday, December 2, 2021

Ceritaku

Home Ceritaku

Jadi Wartawan Itu…

Sejak SMA saya bercita-cita jadi wartawan. Entah angin apa yang membuat saya bernafsu untuk menekuni profesi tersebut di masa depan saya. Supaya bisa keliling jalan-jalan. Begitu pikir saya waktu itu.

Sejak itu saya semangat sekali mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan dunia jurnalistik. Saya pun bergabung di ekstrakurikuler jurnalistik sekolah, mengikuti berbagai workshop tentang jurnalistik, follow para jurnalis kece di media sosial, bahkan nggak pernah mau ketinggalan berita terkini baik di televisi maupun koran (macam bapak-bapak gitulah).

Lulus SMA saya nggak bisa lepas dari pikiran “pokoknya aku mau jadi jurnalis.” Pikiran ini membuat saya lagi-lagi nyemplung di dunia ini. Jadi aktivis pers kampus.

Wahh, kala itu bisa bergabung dan menjadi salah satu redaktur majalah saja senangnya bukan main. Merasa keren dan berwibawa. Padahal cuman lingkup kampus 😂 . Saat magang untuk tugas akhir kuliah pun, saya memilih magang di salah satu media nasional di Jakarta.

Mimpi yang lama terpendam itu pun mulai mendapat titik terang. Lulus kuliah, saya melamar sebagai wartawan di media nasional yang berbasis di Surabaya, Jawa Pos. Alhamdulillah, berkat usaha doa dan tekad kuat saya diterima.

Kala itu saya harus bersaing dengan ratusan pelamar dari seluruh Indonesia. Sementara, yang diambil hanya 25 orang. Alhamdulillah. Saya melalui berbagai tahap tes. Mulai dari administrasi, tes knowledge soal dunia jurnalistik dan umum, tes psikologi, tes kesehatan hingga wawancara.

Sebelum terjun ke “lapangan” kami dibekali berbagai teori terkait jurnalistik. Mulai dari topik berita, teknik wawancara, teknik menulis berita, de es te, de es te….

Masing-masing ditempatkan di “pos” yang berbeda-beda. Maksudnya, tema berita yang diangkat berbeda-beda. Saya kebagian di pos kesehatan dan pendidikan.

Ada banyak sekali kejadian dan pengalaman berharga selama jadi wartawan. Mulai dari enaknya sampai nggak enaknya. Nih, saya jembrengin satu-satu ya…

ENAKNYA…

Jadi wartawan itu…

Kenal sama orang penting dan banyak relasi. Selama liputan kita dituntut untuk mencari narasumber yang kredibel. Disinilah peluang untuk bertemu dengan “orang-orang penting”. Politisi, walikota, menteri hingga selebritis. Nggak jarang pula saya ketemu dengan orang-orang inspiratif.

Bersama sutradara Joko Anwar saat launching film A Copy of My Mind. (Maafkan fotonya yang agak burek 😂)

Keuntungannya kita punya “tiket” biar bisa ketemu langsung dan ngobrol sama mereka. Apa itu? ID card pers. Ini salah satu senjata andalan wartawan. Kalau nggak punya ini ya siap-siap diremehkan deh sama narasumber 😂

Oya, sebagai wartawan juga saya dituntut SKSD, sok kenal sok deket gitu. Kalau diem aja yaudah bubar nggak dapet berita. Nggak bakal dapet pernyataan dari narasumber penting itu.

Makanya, membangun komunikasi dan relasi sama para narasumber ini penting banget. Jadi, kita nggak hanya butuh saat kerja aja, sebisa mungkin juga akrab di luar itu. Eh tapi hati-hati ya kalau narasumber yang berhubungan dengan politik. Harus bisa membedakan pekerjaan sama di luar itu. Kadang-kadang narasumber memanfaatkan kedekatan ini. Sehingga mempengaruhi idealisme berita kita.

Jadi wartawan itu…

Update berita terkini. Ya dong kita menyajikan berita ya tentu harus mengikuti perkembangan berita terbaru. Sebelum pembaca dan netizen di luar sana tahu, kita udah dapet info duluan dari para narasumber.

Jadi wartawan itu….

Keliling, jalan-jalan dibayari kantor. Ini buat penganut “backpacker irit nyari gratisan” macam saya. Hehe. Bisa kemana-mana karena tugas liputan dan dibayari kantor.

Jadi wartawan itu…

Nambah ilmu baru, nambah wawasan. Tadinya saya lulusan Sastra Inggris. Saat diposkan di topik kesehatan dan pendidikan jelas ini pengalaman dan tantangan baru buat saya.

Bayangin aja yang biasanya baca novel dan cerpen eh ini dituntut baca topik lain, kamus kedokteran, ensiklopedi kesehatan, dan istilah-istilah dunia kesehatan yang sangat asing di telinga saya. Kuliah lagi bok! 😂

Bebas soal baju. Nggak perlu pake seragam yang serba kaku dan formal. Pakai dress, blouse, atau kaos (tapi yang berkerah, ya) bebas. Mau pakai sneakers, boots atau bahkan sepatu gunung, hajaaarr. Yang penting nggak kucel dan bau asem hehe.

Nah, ada enak berarti ada NGGAK ENAKNYA juga kan?

NGGAK ENAKNYA Jadi wartawan itu…

Jam kerja yang nggak jelas. Kalau pegawai kantoran pada umumnya kan 8 to 5. Wartawan mah jangan harap 😂. Ada insiden atau kejadian pagi buta ya kudu berangkat liputan.

Pertama kali liputan saya diminta meliput momen kelahiran bayi kembar lima di RSUD Dr Soetomo Surabaya (beritanya disini : Bayi Kembar Lima . Dan itu dijadwalkan dokternya jam 6 pagi. Ya bayangin aja saya berangkat dari rumah jam berapa 😂. Saya kudu stay di RS mulai sepagi itu sampai si bayi-bayi itu lahir.

Kalau pas tengah malam ada berita dadakan yang harus diliput; kebakaran, gempa bumi, atau kejadian tidak terduga misalnya, ya mau nggak mau harus berangkat liputan! Nah, lho kan enak-enak ngiler eh dapet telpon dari redaktur. Gimana perasaanmu? 😂

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan itu….

Everyday is Workday! Bahkan di saat weekend dan libur nasional sekalipun. Hahaha ngakak perih nggak tuh. Iya, saat orang-orang pada liburan, wartawan harus tetap menyajikan berita menarik kepada para pembaca. Yang lain asyik liburan, wartawan sibuk aja keliling liputan 😂

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan Itu…

Dikejar Deadline. Yang bikin tambah pusing tujuh keliling saat dekat deadline tapi narasumber susah sekali ditemui dan dihubungi. Apalagi beritanya harus tayang hari itu juga. Jadinya harus cari narasumber lain, deh.

NGGAK ENAKNYA Jadi Wartawan Itu…

Risiko ancaman besar. Ini kalau beritanya yang berbau politik, berita perang di suatu daerah atau biasanya bersifat investigatif. Karena kita harus mengungkapkan fakta dengan cara (terkadang) harus menyamar.

Misalnya, saya pernah melakukan peliputan investigatif soal kampus-kampus bodong di Surabaya. Nah, nggak mungkin kan kalau kita datang langsung buat wawancara kampusnya? Yang ada malah nggak mau diwawancara. Salah satunya ya saya masuk sebagai pendaftar mahasiswa, misalnya.

Risikonya pun beragam, bisa diancam dilaporkan ke polisi, dipidanakan bahkan nggak sedikit wartawan yang mendapat ancaman pembunuhan. Sedih, sih karena makin banyak kasus pengancaman yang terjadi di kalangan wartawan. Semoga aja undang-undang bener-bener melindungi profesi ini.

Banyak sekali pelajaran (hidup) yang saya dapatkan selama jadi wartawan. Intinya, menempa saya bahwa hidup ini keras, buk! Hehe. Tapi, harus tetep dijalani dengan suka hati.

So, adakah disini yang berprofesi serupa? Atau adakah yang berminat jadi wartawan? Boleh sini sharing 😊

Mengurai Keruwetan Berpikir dengan Self Healing

Akhir tahun lalu ditutup dengan kesadaran penuh untuk mengenal diri sendiri. Saya akhirnya mendapat kesempatan ikut kelas terapi self-healing yang diadakan oleh Malang Family Project (sebuah project event yang saya dan teman-teman lakukan) bersama seorang psikolog, Galuh Andina.

Ngapain sih ikutan self-healing segala?

Setiap dari kita pasti memiliki masalahnya masing-masing. Dalam hidup setiap episodenya pasti pernah merasakan dikecewakan orang, dibohongi, dicaci maki, merasa kesepian, amarah yang tak kunjung usai, penyesalan-penyesalan yang tak berujung dan emosi-emosi negatif lainnya.

Emosi-emosi negatif yang tidak dikendalikan, dibiarkan dan diendapkan bertahun-tahun ini bisa jadi bom waktu dan meledak di permukaan kelak.

Saya pernah mengalaminya. Saat pertama kali memiliki anak. Ada banyak hal di masa lalu yang (ternyata) belum terselesaikan dengan baik, yang belum saya ‘sembuhkan’ total.

Dampaknya?

Banyak sekali! Terutama bagaimana respon saya dalam menghadapi anak dan pasangan. Ketika anak melakukan sesuatu di luar ekspektasi, saya merespon dengan sikap amarah, membentak dan seketika berubah menjadi monstermom! Saya bahkan mengalami baby blues pasca melahirkan.

Baca: Baby Blues Pasti Berlalu

Padahal persoalannya sesepele menumpahkan air ke lantai atau kesandung meja makan yang menyebabkan dia jatuh. Saya malah berbalik mengomelinya. Saya merasa khawatir (berlebihan), kesal, sedih dan emosi negatif lainnya bercampur aduk menjadi satu.

Ternyata faktornya bukan hanya CAPEK tapi ada persoalan-persoalan di masa lalu yang belum terurai dengan baik, yang saya endapkan sekian lama dan tidak di manage dengan baik.

Nah, itulah pentingnya self-healing.

Self-healing berguna banget untuk menelaah kembali permasalahan yang belum usai di masa lalu. Mengurai keruwetan berpikir akan emosi dan memori masa lalu yang kita simpan jauh di alam bawah sadar. Ini menjadi salah satu cara untuk mengenali kebutuhan diri sendiri, memahami pikiran dan membereskan persoalan-persoalan dalam diri sendiri. 

Bagaimana memulai self-healing?

Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan untuk keluar dari bayang-bayang luka batin masa lalu. Kata Mbak Galuh, self-healing membutuhkan proses yang nggak sebentar dan nggak sekali dua kali. Harus rutin dan berkali-kali. Boleh dibilang self-healing ini seperti muhasabah, evaluasi diri.

Dan masing-masing dari kita sebenarnya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri. Persoalannya, mau atau tidak. Mau terus ‘berkubang’ dalam kelamnya masa lalu? Atau bangkit agar menjadi diri yang lebih baik? Ya pilihannya ada di kamu sendiri.

Nah tahap-tahap dalam kelas self-healing kemarin bisa juga diterapkan sendiri di rumah.

1. Menulis

Mbak Galuh mengawali kelas dengan berdoa dan mengajak peserta untuk jujur pada diri masing-masing akan masalah-masalah yang telah lama dipendam. Di sini kita diajak self-talk, ngomong ke diri sendiri selama ini apa sih yang kita inginkan dalam hidup? Apa yang membuat kita ‘sakit’ hati? Apa harapan-harapan selanjutnya? Nah semua ini ditulis di sebuah catatan kecil.

Pada sesi ini peserta diminta menulis serat-serat harapan mereka
  • Tulis sebanyak-banyaknya harapan-harapan yang kita mau, yang ingin dilakukan ke depan. Tanpa ada filter. Tulis aja semua.
  • Setelah itu baca ulang diantara harapan-harapan yang sudah ditulis tadi mana sih yang benar-benar ‘urgent’? Mana yang benar-benar itu dari hati? Bukan harapan-harapan karena sebab orang lain. Bukan karena tuntutan sosial. Tapi ya karena itu datang dari dirimu sendiri.

Baca: Jadi Blogger Modal Nulis Aja Enggak Cukup

Kemarin saya sempat nulis hampir 20an list harapan. Lalu saya pilih yang benar-benar itu butuh dan harus ‘segera’ dilaksanakan. Misalnya, menjaga hubungan dan silaturrahmi dengan orang tua. Agar lebih santai, harmonis dan tidak berjarak. 

Asli sih saya sempat berkaca-kaca nulis ini. Diantara harapan-harapan yang sifatnya duniawi, Mbak Galuh mengingatkan saya kembali bahwa keinginan manusia yang banyak sekali itu, kadang-kadang ada hal yang terlupa yang justru itulah pembuat jalan kesuksesan. Yakni ridho orang tua. Saya malah nulis harapan soal orang tua itu di list agak akhir. Sedih kan astagfirullah hal ‘adzim 🙁

Menulis ini tujuannya untuk mengurai mana sih yang benar-benar penting? Mana harapan yang kudu segera diwujudkan? Dan bentuk refleksi diri agar tidak terlalu stress saat apa yang kita inginkan belum tercapai.

Kadang-kadang apa yang ingin kita capai, harapan yang belum kesampaian, bisa jadi karena itu kesalahan pribadi kita. Misalnya berbuat salah pada orang tua. Jadi evaluasi dan perbaiki kesalahan-kesalahan kita. -Galuh Andina, psikolog-

Oya menulis ini bisa dilakukan rutin di catatan pribadi. Bisa menulis gratitude journal, menulis ekspresif apa yang dirasakan saat itu, menulis apa pun lah. Saya lagi rutin nih nulis gratitude journal dan hasilnya memang ngaruh. Saya jadi lebih bisa mengontrol emosi, nggak terlalu banyak mengeluh dan lebih santuy! Hehe.

2. Self talk

Sesi ini cukup menguras air mata. Siap-siap tisu yang banyak lah hehe. Mbak Galuh mengajak para peserta untuk berdialog dengan diri sendiri. Jujur pada diri sendiri, mendengar suara batin kita sendiri. ‘Memanggil’ memori yang lalu dan ‘menyuntikkan’ kata-kata yang membangkitkan.

Pada sesi ini mbak Galuh meminta peserta berdiri saling berhadapan. Lalu salah satu dari kami ‘seolah-olah’ menjadi ayah/ibu/anak dari peserta lain dengan ‘meminjam’ suara mereka. Tentu saja dengan dipimpin mbak Galuh.

Misalnya jika kita pernah mengalami masalah yang berat dalam hidup, rasakan ‘sakitnya’, akui jika memang itu nggak enak sebab kan kadangkala tak mengapa bila kita tak baik-baik saja. 

Tapi tapi jangan kemudian terlalu larut. Ingat, kita punya Allah yang Maha Penolong. Minta aja sama Yang Maha Penolong. Dan menyugesti diri kalau kita bisa kok melewatinya. Habiskan jatah ujian dan jatah gagal kita!

Self-talk bisa dilakukan rutin setelah salat atau di saat sedang rileks.

3. Memaafkan bukan Melupakan

Tentu ada banyak hal yang membuat hati kita terluka. Entah karena inner child yang belum selesai, karena kesalahan diri sendiri, karena hal-hal yang di luar ekspektasi.

Caranya bukan melupakan tapi memafkan dan mengikhlaskan. Kata Mbak Galuh semakin kita berusaha melupakan maka luka masa lalu itu akan semakin muncul ke permukaan dan bisa DHUAAARR.. meledak jadi emosi.

4. Move On!

Letakkan masa lalu pada tempatnya. Sebab mantan itu kan cukup dikenang, bukan buat diulang *eaaaa*

Melangkah ke sesuatu yang lebih baik bikin hidup lebih lega sih. Move on nggak mesti maju terus ke depan kok. Adakalanya perlu geser ke kanan dulu atau ke kiri. Yang penting diperbaiki.

5. Perbaiki Hubungan dengan Allah dan Orang tua

Dari awal sampai akhir sesi kelas hal ini yang paling ditekankan sama Mbak Galuh.

Lagi banyak masalah? Lagi suntuk?

Coba cek gimana hubungan kita sama Allah?

Apa kabar hubungan kita sama orang tua?

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk pada hal-hal duniawi sampai lupa pada mereka.

Seperti yang dikisahkan mbak Galuh, suatu kali bisnis onlinenya mengalami kemerosotan. Dia evaluasi mulai dari A – Z kayaknya semua sudah dilakukannya. Hingga suatu kali dia berinisiatif untuk meminta maaf pada ibunya. Nggak lama berselang beberapa hari kemudian, bisnis onlinenya kembali seperti semula. Semacam AHA JLEB moment ya.

Setelah ikutan kelas ini saya jadi lebih lega dan jadi lebih sayang sama diri sendiri, sama anak, pasangan dan memaafkan yang telah lalu. Plong dah rasanya! Next, mau sering-sering self-healing biar pikiran nggak ruwet-ruwet amat hehe.

 

Rasanya Puasa Instagram

Seminggu sebelum pemerintah melakukan pembatasan internet, saya sudah melakukan ‘pembatasan diri’ akan pemakaian media sosial. Terutama Instagram. Sungguh sebuah keputusan yang sulit dijalani.

Setahun terakhir ini buat saya Instagram jadi ‘tempat main’ yang amat menyenangkan. Terlebih sejak menjalani peran baru sebagai Ibu. Menjadi ibu baru ternyata menyedot perhatian saya terfokus pada dunia perbayian. Perhatian saya seolah tercurah hanya untuk si kecil. Saya semacam tidak bisa ke mana-mana. Semua keinginannya dan kebutuhannya harus dipenuhi saat itu juga. Jika tidak maka pecahlah tangisan yang menggelegar itu.

Sehingga Instagram menjadi sebuah hiburan yang amat masuk akal (saat itu). Di tengah kesuntukan dan lelahnya mengurus bayi baru, Instagram seolah menjadi oase di tengah gurun pasir. Mata saya seolah disegarkan dengan foto-foto travelling dari para blogger maupun influencer yang sedang melalang buana entah ke mana saja. Sembari berdoa dalam hati semoga kelak saya juga bisa nyusul ke sana.

Atau merasa relate dengan kehidupan para ibu baru yang menjalani peran sebagai mahmud alias mamah muda. Curhat di Instagram betapa bahagia sekaligus rempongnya mengurus newborn. Dari situ saya merasa ada temannya, tidak sendiri, meski belum pernah bertemu mereka.

Saya dulu bersikeras pada diri sendiri bahwa tidak akan memposting foto anak di Instagram. Namun nyatanya aturan itu saya langgar juga. Saya terlanjur ikut arus. Dan itu (terasa) menyenangkan. So sad actually. Sembari meyakinkan pada diri sendiri bahwa saya ini bertujuan untuk sharing, berbagi sesuatu yang bermanfaat soal pengasuhan (hey! anak baru satu saja pede banget kau!).

Hingga suatu hari ada sebuah brand produk bayi yang menghubungi saya lewat direct message (DM) Instagram. Dia menawarkan kerjasama untuk mengulas produknya lewat postingan di Instagram saya. Siapa yang tidak senang? Saya girang bukan main. Padahal hanya dijanjikan seperangkat produk dari mereka, bukan berupa fee. Segitu noraknya saya. Tapi tetap saja saya terima. Toh ini rezeki tidak boleh ditolak kan?

Saya kira (saat itu) yang bisa kerjasama sponsored post hanya blog atau Youtube, ternyata lewat Instagram ya bisa. Dari situ saya jadi keranjingan nyari-nyari peluang kerjasama endorse untuk Instagram. Saya getol tanya sana sini ke teman-teman blogger. Ada yang nyangkut ada juga yang lewat tanpa kabar. Yang jelas sejak itu saya jadi sangat aktif di Instagram.

Tapi lama kelamaan saya kebablasan!

Saya jadi terobsesi sama angka follower, engagement follower, impression follower terutama untuk postingan yang sponsored post. Karena ya itu juga salah satu tuntutan dari klien saat ditanya progress postingan kita. Jelas mereka nggak mau rugi kalau sudah kerjasama tapi nyatanya nggak ada yang tertarik.

Setiap kali mau upload foto saya jadi merasa harus mempersiapkan lebih panjang dan sempurna. Ya masak fotonya asal. Foto saya edit sedemikian rupa, yang tadinya gelap saya cerahkan. Yang blur saya buang. Foto lagi. Lalu memikirkan caption yang ciamik. Kalau dirasa captionnya membosankan saya ganti. Begitu seterusnya sampai saya yakin ini layak untuk diposting.

Tak hanya itu. Waktu saya jadi banyak terbuang percuma hanya untuk Instagram. Saya scroll, scroll, dan terus scroll sampai mata saya capek. Hampir setiap beberapa menit tangan saya gatal memencet icon Instagram di HP, lalu scrolling tanpa henti hingga anak saya berteriak, menjerit menangis merebut perhatian.

Jika dia tidur, saya malah lebih lama berdiam diri menekuri HP, memandang takzim kehidupan orang lain hanya dari Instagram. Sebagian diri sebenarnya ‘menegur’ agar segera menyudahi aktivitas itu, tapi sebagian diri yang lain malas beranjak dari tempat duduk dan terus saja scrolling! Hingga satu jam berlalu, hanya tekun melihat Instagram.

Belakangan makin terasa menjerat. Saya merasa jadi paling nelangsa kalau melihat teman-teman lain bisa jalan-jalan, keliling Indonesia atau negara lain. Kadang-kadang saya secara tak sadar membandingkan kehidupan keluarga lain dengan saya. Membandingkan anak saya dengan anak orang lain. Satu waktu saya menampar diri bahwa jalan hidup setiap orang kan beda-beda, tapi itu kalau saya sedang waras. Kalau tidak saya kembali membanding-bandingkan. Sungguh setan  ini pandai sekali menghasut. Huh!

Saya jadi ikut-ikutan nggak mau ketinggalan berita. Padahal ya berita apasih di IG tu, kebanyakan urusan hidup orang, kalaupun berita yang bertebaran pun sebenarnya hanya sebuah potongan-potongan video, tidak utuh. Dari sini saya seolah ingin dianggap selalu update. Jangan-jangan saya sudah mengidap FOMO alias Fear of Missing Out. Nggak mau ketinggalan topik yang sedang hits dibicarakan karena takut dianggap kudet.

Terlebih masa selama dan pascca pilpres ini, Instagram menjadi media yang tidak lagi menyenangkan. Membuat dada sesak dan pikiran kusut. Memang sih kita bisa saja memilih akun yang sesuai minat kita tapi tetap saja bertebaran akun-akun yang menebarkan kebencian dan menyebar hoaks.

Lama-lama LELAH juga.

Waktu saya jadi tersita banyak hanya untuk ini. Padahal ya urusan saya banyak. Tulisan untuk blog dan website halobunda numpuk. Urusan rumah belum juga beres. Saya juga merasa tidak utuh saat bersama Akmal. Bermain dengannya hanya jadi sebatas formalitas.

Maka pada hari itu, tepat tanggal 18 Mei saya memutuskan untuk puasa Instagram.

Awalnya hari pertama saya hanya logout akun pribadi dan akun halobundacom. Saya menanamkan tajam-tajam dalam pikiran bahwa saya tidak boleh sedikit pun membuka IG. Hingga malam hari berlalu saya berhasil melewatinya.

Hari kedua tangan saya mulai gatal. Saya kembali membuka IG bahkan sempat log in! Tapi hanya berlangsung beberapa menit. Setelahnya saya log out dan saya HAPUS saja sekalian. Saya UNINSTALL!.

Hari-hari setelahnya saya mulai terbiasa tanpa membuka Instagram. Hari-hari setelahnya saya merasa lebih tenang dan produktif.

Bangun tidur tidak lagi mengecek HP dulu tapi bergegas ke kamar mandi untuk wudhu lalu salat. Saya jadi lebih banyak membaca buku dengan fokus, sesuatu yang lama sekali tidak saya lakukan. Waktu bersama Akmal jadi lebih intim dan menyenangkan. Saya jadi suka bebikinan mainan untuknya.

Bahkan dalam sehari saya bisa bikin makanan tiga menu! Sebuah hal yang langka buat saya yang pemalas ini. Kemarin sempat bikin spaghetti, siomay ayam dan balado tempe dalam sehari. WOW! Ini sebuah pencapaian yang patut saya apresiasi, ya minimal diri sendiri lah. Sebenarnya tangan mulai gatal untuk update stories di Instagram. Tapi saya pikir lagi, ya buat apasih gitu aja diposting? Oke nggak jadi deh.

Hingga hari ini saya masih menjalankan puasa Instagram. Belum tahu sih sampai kapan. Yang jelas jika saya kembali main Instagram saya akan lebih bijak menggunakannya. Tidak tersedot penuh ke sana, lebih menguranginya.

Saya nggak memungkiri kok kalau Instagram itu juga punya sisi manfaat. Terutama buat mereka yang punya usaha online. Instagram menjadi lahan basah untuk menjaring pembeli. Begitu pula buat saya sebagai blogger, Instagram menjadi salah satu perpanjangan blog, buat promosi tulisan-tulisan kita misalnya, juga untuk kerjasama dengan beberapa brand. Dari Instagram juga saya dapat banyaaaakkk sekali informasi soal parenting. 

Tapi persoalannya berapa persen saya habiskan waktu buat scrolling atau update yang sebenarnya tidak perlu? Ketimbang sharing hal-hal yang bermanfaat? Toh kenyataannya saya lebih banyak menggerutu dan mengeluh dan nyinyir di Instagram. Ya Tuhan ini tentu sudah kelewatan (buat saya).

Bagi sebagian orang mungkin sikap saya ini berlebihan. Tidak apa. Tulisan ini bukan untuk (sok) nasihatin pembaca. Lebih kepada untuk diri sendiri. Saya yang punya masalah dengan membagi waktu ini harus segera melakukan perubahan.

Lewat puasa Instagram ini saya mau banyakin waktu buat diri sendiri, buat keluarga tanpa harus cekrek…cekrekk buat diupdate di stories. Saya mau lebih banyak nulis, baca buku, diskusi dengan suami atau teman, liputan untuk website halobunda, menghadiri majelis-majelis ilmu dan fokus ibadah. Dan tentunya akan lebih selektif posting saat nanti kembali aktif Instagram.

Sekian dulu deh.

Btw, ini tulisan panjang juga ya. Hehe. Terimakasih sudah sudi mampir 🙂

Mengenal Islamic Montessori [Review Buku]

Saya mendengar istilah metode Montessori sejak Akmal umur 10 atau 11 bulan. Waktu itu Akmal mulai aktif-aktifnya kesana ke mari dan rasa keingintahuannya sangat besar.

Bundanya sering kehabisan ide mau ngajak main apa lagi yang mengandung unsur edukasi. Lalu mencoba browsing sana sini lewat media sosial dan menemukan banyak bertebaran tagar Montessori di rumah.

Saya pun kepo-kepo apa sih Montessori ini. Oh, ternyata metode pengasuhan anak yang digagas sama Maria Montessori, si foundernya yang seorang dokter juga pengamat pendidikan. Lebih lengkapnya browsing sendiri aja ya haha.

Dan menurut saya oke juga kalau diterapkan ke Akmal. Saya memang belum sampai taraf serius yang ikut coursenya atau bahkan kuliah khusus metode Montessori. Karena pas tahu harganya bikin saya menangis di pojokan kamar #lebay. Ya nanti deh kalau ada rezeki lebih saya pengen banget bisa belajar serius metode ini.

Ada beberapa poin yang bikin saya kepincut sama metode ini.

Misalnya poin tentang Follow the Child. Kita sebagai orangtua kerapkali memaksa keinginan kita (saya aja kali ya hehe) ke anak. Kamu tuh harusnya begini nggak gitu, kamu baiknya baca buku ini bukan itu, dst…dst. Selain kecewa karena anak nggak tertarik untuk melakukan apa yang kita mau, berpengaruh juga kan sama psikis mereka.

Baca juga dong : Mengenalkan Buku Sejak Bayi 

Untuk itu Montessori mencoba melakukan observasi dan mencoba menelaah apa sih sebetulnya yang menjadi ketertarikan dan kesukaan anak.

Misalnya ni maksa anak main playdough tapi ternyata panci dan perkakas dapur lainnya lebih menarik buatnya. Yaudah kasih ajalah itu buat mainan mereka. Mungkin dia anggap itu perkakas dapur adalah alat musik untuk menciptakan mahakaryanya, toh hitung-hitung mengasah kreativitasnya.

Tapi ya nggak serta merta mengikuti semua keinginan anak. Tentu saja tetap ada batasan-batasan yang harus anak ikuti sesuai dengan prinsip dan norma yang dipegang oleh keluarga. Namun bukan juga melarang anak melakukan ini dan itu.

Intinya sih kita harus memberikan ruang bagi anak untuk memilih. Kegiatan apa yang ia ingin lakukan? Media bermain mana yang ingin ia eksplorasi? Kita harus meyakini bahwa apa yang ia pilih memang yang sedang dibutuhkannya saat itu.

Selain itu metode Montessori juga mengembangkan lima aspek dalam pendekatan pendidikan ke anak-anak.

Yakni, aspek practical life, sensorial, language, mathematicsdan culture.

Sebenarnya mengembangkan kelima aspek ini bagus untuk tumbuh kembang anak-anak tapi saya merasa seperti ada yang kurang. Sedari awal sih saya merasa kalau metode ini ‘kering’ sama hal-hal berbau spiritual, ya mungkin karena pengaruh foundernya dari Barat sana sih.

Hingga saya menemukan sebuah akun di Instagram namanya @islamicmontessori_ sebuah komunitas Indonesia Islamic Montessori Community (IIMC) yang diprakarsai oleh Zahra Zahira. Oh, ternyata ada toh komunitas yang concern pada metode Montessori tapi berbasis Islam. Semakin excited saat Ms Zahra membuat buku berjudul Islamic Montessori.

Isi Buku Islamic Montessori

Buku terbitan anakkita ini terbagi menjadi dua seri, yakni yang diperuntukkan buat anak usia 0-3 tahun dan untuk usia 3-6 tahun. Mengingat Akmal saat ini masih 23 bulan jadi saya beli yang untuk usia 0-3 tahun dulu.

Di buku ini dijelaskan kembali soal Filososfi Montessori yang sesungguhnya serta cara Ms Zahra menggabungkan nilai-nilai Islami dalam metode Montessori. Ada 10 filosofi Montessori yang diingatkan kembali dalam buku ini, seperti:

  1. Absorbent Mind: Tahapan di mana anak-anak mudah sekali menyerap informasi dari mana saja. Anak-anak menyerap informasi di lingkungan sekitar melalui pancaindra, penyerapan bahasa, pengembangan motorik, kognitif dan kemampuan sosial. Maka sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan teladan yang baik, yang sesuai nilai-nilai Islam agar membentuk akhlak yang baik.
  2. Sensitive Periods : Tahapan di mana anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap benda atau aktivitas tertentu. Misalnya, Akmal lagi suka banget sama yang namanya hewan kuda. Di manapun ada suara gemerincing dia teriak kegirangan menyebut Kuda! Kuda! padahal ternyata yang lewat becak. Nah, dari sini kita bisa sisipkan bahwa hewan tersebut ciptaan Allah lho. Kita sebut-sebut keagungan dan kehebatan Allah dalam penciptaan macam-macam hewan termasuk kuda.
  3. Prepared Environment : Kita bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran anak-anak. Misalnya menyiapkan rak mainan atau buku yang sesuai tinggi badannya. Agar terbiasa mandiri mengambil material kegiatan yang telah disiapkan.
  4. Follow the Child: Seperti yang saya ungkap sebelumnya, Follow the child berarti memberikan kesempatan anak untuk melakukan apa yang dia mau dan butuhkan, sehingga akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tentu dengan memerhatikan nilai-nilai yang dianut dan tidak sebebas-bebasnya juga.
  5. Individual Differences: Setiap anak itu unik dan istimewa. Dalam metode ini menyediakan pendidikan yang mengakomodasi anak-anak sesuai dengan keminatan mereka masing-masing.
  6. Concrete to Abstract : Anak usia 0-6 tahun lebih mudah menerima informasi yang konkret baru abstrak. Misalnya mengenalkan buah rambutan, berikan saja wujud aslinya lalu jelaskan teksturnya, baunya, rasanya.
  7. Hands-on Learning : Anak belajar melalui seluruh inderanya. Anak belajar menyentuh apa pun dan merasakannya sendiri.
  8. Control of Errors: Lingkungan dan material yang disetting dengan konsep Montessori memiliki kontrol kesalahan sehingga anak dapat menemukan cara dalam memecahkan masalah tanpa intervensi orang dewasa.
  9. Freedom with Limits: Ini mirip Follow the Child sih menurut saya. Anak boleh melakukan apa yang dia mau, bebas eksplorasi tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Jika membahayakan dirinya ya harus dilarang dan diberitahu.
  10. Respect the Child : Kita sering menganggap anak-anak itu makhluk yang nggak ngerti apa-apa, jadi kerapkali meremehkannya. Padahal sebenernya mereka ya hanya beda ukuran tubuh kok sama orang dewasa. Mereka juga berhak dihargai dan dipercaya. Kalau saya pikir-pikir lagi ini tuh selaras lho sama ajaran teladan Rasulullah yang sangat menghargai anak kecil. Menganggap mereka, mendengarkan mereka bahkan memberikan anak-anak pilihan-pilihan.

Bedanya Montessori dengan Islamic Montessori?

Kalau yang saya tangkap dari buku ini, penerapan filosofi dan material antara Montessori dengan Islamic Montessori ya sama saja.

Yang membedakan adalah ada penambahan nilai-nilai Islami yang ditanamkan dalam konsep Islamic Monetssori. Penulis menambahkan aspek spiritual dalam metode Montessori. Sehingga dalam praktiknya anak diajak untuk tidak lupa hubungan dengan Allah.

Misalnya, untuk melatih aspek practical life dalam memulai segala sesuatu bisa menanamkan pada anak untuk selalu mengawalinya dengan bacaan Basmallah. Mau menyapu baca basmallah, mau memakai baju baca basmallah, dst.

Baca juga dong: Mengenalkan Anak ke Masjid 

Dilengkapi Contoh Aktivitas Montessori Sesuai Usia Anak

Buku yang diterbitkan fullcolour ini juga dilengkapi contoh-contoh aktivitas dengan metode Montessori. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Dan juga ada beberapa contoh aktivitas Islamic Studies. 

Contohnya, mendengarkan kisah-kisah nabi, membacakan Al-Quran, mengenalkan alam semesta lewat gambar, dll. Yang saya suka contoh-contoh kegiatannya mudah banget diterapkan di rumah. Nggak perlu bingung mau beli mainan ini itu karena beberapa contohnya bisa pakai benda-benda yang ada di rumah.

buku islamic montessori

Hanya saja ((menurut saya lho ya)) aktivitas Islamic Studies yang dicontohkan kalah banyak sama contoh aktivitas lain yang menonjolkan motorik, kognitif serta sensoris. Jadi kita improvisasi sendiri kali ya. Gapapa lah ya itung-itung mengasah kreativitas ibunya buat cari ide aktivitas lain.

review buku islamic montessori

Intinya, saya suka sih sama buku ini. Lumayan sebagai referensi dan panduan untuk merancang aktivitas yang seru buat anak. Tanpa melupakan nilai-nilai Islami yang ingin kita ajarkan ke anak.

Buibu sudah baca buku ini belum?

 

Jadi Blogger Modal Nulis Aja Enggak Cukup!

Setelah dipikir dan direnungkan kembali, jadi blogger zaman now modal menulis doang itu nggak cukup ya. Artinya, kita perlu punya skill selain itu. Setuju nggak? Boleh enggak sih hehehe.

Mengingat udah buaanyaaakk banget blogger bertebaran di Indonesia ini. Di Malang aja ada berapa blogger tu yang berceceran *eh* saat event. Apalagi yang di ibukota macam Jakarta. Saingannya banyak buuuk!

Tapi dilihat-lihat diantara ratusan ribu blogger yang bertebaran itu berapa persen yang profesional? Berapa banyak yang benar-benar menjiwai dirinya sebagai penulis di blog masing-masing? Berapa persen yang memang benar-benar menulis dari hati, tidak sekadar memburu goodie bag? #eaaaa…harap tenang…harap tenang hehehe.

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk mencoba skill baru lainnya, selain menulis di blog sendiri.

Belajar Fotografi

Apa itu?

Fotografi. Ehehehe.

Bagi sebagian orang ini sebenernya udah sepaket buat blogger ya. Saya memang nggak memungkiri blog yang bagus itu selain tulisannya sedap mantap tapi juga didukung sama foto-foto yang bagus pula.

Nah, problem saya adalah setiap kali selesai menulis, selalu merasa kebingungan untuk memasukkan foto. Karena seringkali fotonya kurang mendukung. Eh pas sudah diposting ternyata nggak enak banget ya dilihatnya. Solusinya ya saya comot aja foto-foto gratisan di situs semacam unsplash, freepik atau pixabay. 

Bahkan perkara begini aja pernah ditegur suami, “Foto tu jangan ngasal dong. Nulis yang bagus, fotonya ya juga harus bagus. Biar sedep dilihatnya”. *JLEBB*.

Untuk itu saya ingin menyeriusi skill ini. Salah satunya dimulai dengan bergabung ke komunitas fotografi Ibu Profesional Malang. Di sini para ibu-ibu yang doyan motret ngumpul-ngumpul berfaedah soal fotografi.

Saya merasa jadi ada temannya deh. Pertama, karena di komunitas ini isinya ibu-ibu hehehe, jadi sembari belajar motret sekalian (sesekali) curhat soal dunia per-ibuan *eh*. Kedua, nggak cuman modal jepret-jepret aja tetapi juga belajar segala seluk beluk dunia fotografi. Mulai dari style fotografi, tools yang dipake, proses editing foto, gimana mengambil angle yang bagus, dll.

Di komunitas ini kami juga menyerap ilmu sebanyak-banyaknya sama fotografer profesional. Beberapa waktu lalu misalnya, kami belajar bagaimana mengambil foto hanya bermodalkan kamera ponsel. Literally motretnya pakai hp aja. Belajarnya sama mas Titus, salah satu fotografer pro dari Komunitas Fotografi Ponsel. Cek deh foto-fotonya mas Titus di sini super kece! Dan itu modal HP semua!

Saya kira motret itu ya tinggal buka kamera, cekrek, udah.

Ya enggak semudah gitu juga kalau hasil yang diinginkan maunya ciamik. Tapi dibalik foto yang bagus tentu saja ada perjuangan yang harus dilakukan.

Di balik foto ini saya lagi panas-panasan dan dilihatin orang karena motretnya sambil njinjit2 karena pengen ngambil angle dari atas hahaha.

Di balik foto pasangan pre wedding yang romantis, ada fotografer yang rela nungging-nungging buat ngambil angle dari bawah biar terkesan dramatis ((eh emang gitu? haha))

Di balik foto seorang bayi yang baru lahir, ada fotografer yang turut sabar menunggu momen ibunya menjalani proses melahirkan. Yang ini beneran saya pernah lihat sendiri waktu dulu jadi wartawan liputan bayi kembar lima. Beuh! Wartawan dan fotografernya udah stand by sejak habis subuh! Demi memotret momen penting itu.

Di balik foto makanan yang bikin ngiler, ada fotografer yang super telaten mengatur table setting dan nggak malu motret dari atas sambil naik kursi! Ya demi ngambil angle yang bagus.

Di balik foto-foto naturenya National Gegraphic yang soooo awesome ada fotografer yang sabar, peka, jeli, kreatif akan situasi dan momen yang terjadi.

Dan di balik foto anak yang tertawa bahagia, ada seorang ibu yang suabar ikutan nggodain dia biar ketawa bahkan lelarian ke sana kemari biar anaknya mau foto. Lah, ini mah saya ya haha. Seriusan motret anak balita itu menantang juga lho. Harus menunggu moodnya bagus, belum lagi anaknya yang super aktif kayak bola bekel hehehe.

Yang jelas di balik foto-foto kece itu ada proses yang panjang dan melelahkan. Tapi saya nggak mau berhenti nyoba. Karena belajar fotografi itu ternyata sama menagihnya dengan menulis.

aksi flying trapeze
Motret objek bergerak gini ternyata nggak mudah. Harus ambil jepretan berpuluh-puluh kali loh! Biyuuuh!

Asah Potensi Diri = Membuat Personal Branding

Dua skill (yang sedang ditekuni) ini bikin stress saya jadi tersalurkan ke arah yang positif hehe.

Nah, siapa tahu kelak jika skill ini saya kembangkan bisa bermanfaat dan tentu saja bisa dikomersilkan ehehe. Kita nggak tahu kan rezeki itu datangnya dari arah yang nggak disangka-sangka.

Saya jadi teringat sama pesannya Teh Ani Berta saat beliau sharing di Malang pada Mei lalu. Kata Teh Ani zaman sekarang jadi blogger itu saingannya banyak. Maka cari juga sisi unik atau potensi diri yang lain, kembangkan dan tekuni!

Dengan menekuni skill selain ngeblog bisa juga menciptakan personal branding yang kuat dan spesifik terhadap blogger tersebut.

Misalnya, blogger yang suka menggambar bisa dikenali lewat karya gambarnya.

Blogger yang menekuni dunia make up bisa dikenali dengan skill make up artist. 

Atau, blogger yang doyan bikin DIY craft bisa menciptakan mainan atau apapun dengan tangan sendiri alias handmade. 

Nah, kalau kamu skill apa sih yang sedang ditekuni saat ini? Mari kita sharing!