Akmal anakku… Ini Bunda.

Kalau kamu menemukan tulisan ini barangkali Bunda sudah nggak secantik dulu, hehe tetep lah ya muji diri sendiri. Barangkali kamu sudah jalan-jalan mendaki gunung lewati lembah bareng-bareng temen kamu. Tapi, ke mana pun kamu pergi jangan lupa sama Allah, dan ayah bunda, ya!

Dulu bunda nggak menyangka, kelahiranmu, kehadiranmu membawa hidup yang benar-benar baru. Nggak hanya kamu yang lahir, tapi juga bunda dan ayah, terlahir menjadi orangtua. Ah, rasanya beneran campur aduk! Bahagia, haru, emosional, sekaligus takut. Iya! Takut apakah bisa, ya bunda mendidik kamu dengan baik?

Sejak kamu lahir semua langsung sayang sama kamu. Apalagi bunda, sejak Allah meniupkan ruhmu dalam rahimku, aah bunda seketika jatuh cinta lagi (ssstt…setelah sama ayah kamu, ya hihi). Padahal secara fisik kita belum pernah ketemu, entah kenapa ya bisa sesayang itu.

Tendangan-tendangan kecilmu saat di dalam perut adalah momen yang paling kami tunggu. Meski bunda harus sedikit kesakitan, nggak apa nggak masalah, nak. Justru itulah yang menjadi penguat bunda agar terus mensyukuri betapa besar karunia Allah memilikimu, merasakan degup jantungmu dalam perutku, bahwa ada makhluk indah yang harus dijaga sebaik-baiknya.

waktu kamu masih di dalam perut bunda.

Kini, lambat laun tendangan-tendangan kecil dalam perut bunda berubah menjadi langkah-langkah kecil. Melihatmu berjalan setapak demi setapak ke sana ke mari adalah sebuah kebahagiaan sederhana. dan kelak menjadi langkah-langkah besar dalam hidup kamu, langkah-langkah yang membawa jalan dakwah.

Adakalanya bunda merasa lelah bahkan jenuh. Seolah-olah seluruh waktuku hanya buat kamu.

Tapi setiap kali mendengar gelak tawamu, ocehanmu, tatapan matamu yang polos, bunda tiba-tiba seperti ditampar “Astaghfirullah…kok aku nggak bersyukur, sih!” Padahal di luaran sana banyak pasangan yang menginginkan anak lucu sepertimu, namun belum mendapat kesempatan serupa dengan bunda. Harusnya bunda bahagia menjadi perempuan yang terus kamu cari-cari ke manapun bunda pergi.

 

Terimakasih, ya nak sudah memilihku menjadi bundamu.

 

Terimakasih, ya guru kecilku, darimu aku belajar sabar yang tadinya tukang gusar, belajar gigih akan suatu hal, belajar mensyukuri hal-hal sekecil apapun itu, belajar bahwa tidak ada yang instan-semua perlu proses, belajar untuk tidak membandingkanmu dengan anak lain, belajar menghargai.

 

Terimakasih, nak untuk satu tahun yang seru dan kadang bikin haru. Masih banyak tahun menunggu di depan. Semoga bunda dan ayah terus menjadi orangtua pembelajar. Terimakasih guru kecilku, sumber inspirasi dan jiwa kami.

 

Peluk sayang,

Bunda Ayah ❤

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here