Kalau ditanya lebih suka pasar tradisional atau modern?

Jawabannya tergantung. Tergantung budgetnya cukup buat ke pasar yang mana hehehe. Enggak ding. Masing-masing tentu punya kelebihan maupun kekurangan.

Dan saya rasa nggak adil ya kalau membandingkan keduanya karena ya nggak apple to apple. Lha wong konsep, visi dan target marketnya saja sudah berbeda. Ya kecuali membandingkan pasar tradisional A dengan pasar tradisional B.

Ngomong-ngomong soal pasar tradisional, ada yang menarik (buat saya sih) saat pulang ke kampung suami lebaran kemarin. Tak jauh dari rumah mertua, kurang lebih hanya lima menit dari rumah ada sebuah pasar, disebutnya pasar wage Muneng, sebuah desa di kabupaten Caruban, Madiun.

Yang menarik buat saya pasar ini hanya buka lima hari sekali. Biasanya pasar tak pernah berhenti beraktivitas setiap hari eh ini hanya lima hari sekali. Wage sendiri diambil dari istilah Jawa. Yakni hari ke-3 dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara,minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

“Lha terus selain hari ini para pedagangnya ke mana?” tanya saya keheranan pada suami.

“Ya ke desa-desa yang lain. Keliling. Menyesuaikan hari sepasar tadi,”. Saya cuman ber oh oh ria.

Kata suami, mereka bergiliran berjualan dari satu desa ke desa lain mengikuti jadwal dalam kalender Jawa. Tujuannya supaya pasar-pasar di setiap desa ramai dan dikunjungi secara bergantian. Biar adil gitu.

Pagi itu saya, suami dan Akmal masuk pasar pukul enam pagi. Para pedagang rupanya sudah sejak habis subuh membuka lapak mereka. Di sepanjang jalan pintu masuk penjual menggelar tikar, memamerkan dagangannya.

Yang menarik lagi, tak hanya menjajakan sayur, buah maupun daging, di pasar ini tampaknya hampir semua dijual! Dari pintu masuk saja ada pedagang topi caping untuk petani, benda-benda tajam macam celurit dan arit, kambing dan sapi, hingga alat-alat pertukangan seperti baut dan mur.

Makin siang pasar ini makin ramai. Sebelum matahari beranjak tinggi, saya dan Akmal menyempatkan sarapan sate kambing muda di dalam pasar. Sepiringnya dibanderol dua puluh ribu. Berisi tiga tusuk sate kambing muda dan beberapa jeroan sebagai pelengkapnya. Tentu saja jeroannya saya pinggirkan.

Sungguh sarapan yang berat ya hehehe. Tapi ternyata Akmal doyan banget! Sampe saya nambah lima tusuk sate buat dimakan berdua sama Akmal.

Tak jauh dari kios sate kambing muda itu ada lapak bapak-bapak yang menjual mainan lawas. Mainan zaman saya kecil yang saat ini bisa jadi sudah jarang sekali ditemui. Orang-orang menyebutnya Othok-othok. Tanpa pikir panjang saya segera menghampirinya.

“Berapaan pak?”

“Lima belas mbak” kata bapaknya sembari menata dagangannya.

Segera saja saya angkut satu. Buat Akmal lah siapa lagi hehe. Saat saya berikan padanya tawa sumringah merekah dan dia lompat-lompat kegirangan.

Setelah sarapan dan berkeliling pasar kami kembali pulang. Membawa kebahagiaan sederhana seharga dua puluh ribu ditambah lima belas ribu dan tawa sumringah Akmal. Sampai rumah mbahnya tak henti dia mainkan Othok-othok sambil lompat-lompat macam bola bekel.

Pasar tradisional adalah tempat hiburan murah meriah sederhana tapi banyak maknanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here