“Setiap anak memiliki kemampuan berbeda-beda. Maka jangan bandingkan anak satu dengan yang lain. Tugas orangtualah untuk membantu memksimalkan tumbuh kembang mereka sesuai tahapan dan usianya,” ujar Dr. dr Ahmad Suryawan, SpA (K), dokter spesialis tumbuh kembang anak dari Divisi Tumbuh Kembang Anak RS Dr. Soetomo, Surabaya di sebuah event parenting yang pernah saya ikuti.

Aaah, kata-kata beliau sungguh menampar saya dan barangkali banyak orangtua di luar sana. Seberapa sering sih membandingkan anak kita dengan yang lain? Kok anak si A bisa gendut ginuk-ginuk gitu, ya? Kok anakku belum bisa jalan, ya? Kok anakku masih belum bisa ngomong, ya? Kok anak si B ngomongnya udah banyak, ya?¬†Dan sederet “kok begini kok begitu” yang lain.

Saya sering banget pas awal Akmal lahir membandingkan dengan anak-anak ibu-ibu lain terutama yang usianya nggak beda jauh dengan Akmal ūüôĀ .¬† Lalu lambat laun saya belajar banyak soal parenting dan kini berusaha menguranginya. Karena ya itu setiap anak unik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kata dokter Wawan, agar tumbuh kembang si kecil tumbuh optimal, diperlukan stimulasi antara orangtua dan anak. Tujuannya, untuk memaksimalkan kemampuan motorik halus, motorik kasar, bicara-bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Maksudnya apa saja sih keempat aspek tersebut?

  • Motorik halus: kemampuan anak dalam mengembangkan keterampilan yang membutuhkan otot-otot kecil dan melibatkan berbagai fungsi indera. Misalnya, mengambil makanan di depannya, mencoret-coret kertas, menulis, dll.
  • Motorik kasar: kemampuan anak mengembangkan aktivitas fisik. Seperti, tengkurap, duduk, berdiri, berlari, berjalan, naik turun-tangga, dll
Mengajaknya ke taman bermain dan bermain ayunan salah satu cara mengasah motorik kasarnya.
  • Bicara-bahasa: kemampuan anak memahami berbagai informasi yang didapat dari lingkungannya. Anak belajar mengekspresikan ide dan keinginannya secara verbal melalui kata-kata.
  • Sosialisasi-kemandirian: kemampuan anak dalam berinterkasi sosial dengan lingkungannya dan belajar aktivitas mandiri. Misalnya, bertemu orang baru, makan sendiri, memakai baju sendiri, dll.

    Mengenalkan pada hewan termasuk salah satu cara mengasah aspek personal sosialnya. Akmal belajar peduli terhadap lingkungan sekitar.

Menurut beliau keempat aspek ini sebaiknya saling terkait dan saling membutuhkan.

Lantas bagaimana merangsang keempat aspek tersebut?

Sebenarnya ada banyak kegiatan bareng anak yang bisa mengoptimalkan aspek motorik halus, kasar, bahasa dan sosialisasi mereka. Tinggal kita sebagai orangtua yang harus KREATIF! Kadang-kadang saya masih suka ngiri sih sama orangtua lain yang bisa membelikan anaknya mainan bermerek yang tampak sungguh sophisticated :/

Tapi faktanya si Akmal seringkali hanya tertarik sebentar saat dibelikan mainan baru dari toko. Sisanya dia malah lebih tertarik sama perkakas di rumah. Misalnya sapu, panci penggorengan, garpu, sendok, gelas, kunci, bahkan galon sekalipun haha. Kalau pun mau berlangsung lama main mainan yang dibelikan ayah bundanya ya harus ditemani.

Dari situ saya membenarkan pernyataan dokter Wawan, bahwa sebenarnya yang dibutuhkan mereka adalah kehadiran orangtuanya untuk aktif dalam berinteraksi dengan mereka. Sekalipun cuma main ci luk ba. Jadi sekarang kalau mau beli mainan ya kudu selektif. Alih-alih beli mainan baru setiap minggu, saya mending memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah untuk merangsang motorik Akmal.

Nah, beberapa kegiatan di bawah ini adalah aktivitas sederhana tapi tetap seru dari rumah untuk merangsang motorik anak yang tentu murah meriah hehee #penting :

1. Practical Life Skills

Siapa nih yang suka sebel kalau anak kita ikutan ngerecokin kerjaan di rumah? Bundanya lagi masak eh si Akmal ikutan sibuk mainin panci, sutil, dan perkakas dapur lainnya. Bundanya lagi nyapu dia juga ikutan nyapu meski jadinya nggak bersih-bersih juga. Lain waktu saat saya beberes buku atau mainannya yang ada malah diberantakin lagi hehe.

Dulu saya sebel banget kalau Akmal “rusuh” begitu. Lalu ketemu sama metodenya Maria Montessori yang membuyarkan¬†mindset¬†saya soal ini. Menurutnya, anak-anak pun memiliki rasa ingin dihargai atas aktivitas yang mereka lakukan.

“bantuin” bunda ngupas telur puyuh xD

Kita kerap menganggap remeh bahwa yang dilakukan anak-anak itu sesuatu yang nggak jelas. Padahal dari aktivitas tersebut mereka belajar, berproses dan menyerap ilmu dari lingkungan sekitar. “Setiap aktivitas yang dilakukan anak itu PASTI BERMAKNA” begitu kata Maria Montessori.

Jadi, sekarang saya berupaya untuk lebih luwes saat Akmal ikut terjun langsung “membantu” bundanya hehe. Saya anggap dia sedang belajar sambil bermain. Toh, ini bisa dijadikan salah satu kegiatan menstimulus motorik halus dan kasarnya. Beberapa¬†practical life skills¬†yang kerap kami lakukan bersama diantaranya:

  • Menyapu: bukan maksudnya menjadikan dia jadi seorang asisten rumah tangga, ya. Tujuannya, untuk melatih dirinya kelak agar mandiri. Setidaknya itu keterampilan hidup dasar yang wajib bisa dilakukan baik anak perempuan maupun laki-laki. Menyapu, membereskan tempat tidur, mengelap lantai adalah tugas bersama keluarga di rumah. Selain itu tentu saja melatih koordinasi tangan, kaki, mata serta motorik halus dan kasarnya. Kegiatan ini nggak perlu menguras “kocek”, karena ya pembiasaan sehari-hari di rumah.
  • Mengupas buah dan sayur:¬†Anak-anak lebih mudah menangkap konsep dengan menggunakan benda tiga dimensi atau dua dimensi daripada hal abstrak. Contoh, untuk mengenalkan nama buah-buahan, akan mudah diingat ketika disertai dengan benda konkret tersebut (buah). Maka dari itu saya ajak Akmal mengupas sayur atau buah saat sibuk di dapur. Misalnya, mengupas buah kelengkeng, pisang atau sayur kangkung. Manfaatnya, latihan koordinasi mata, mengasah indera penciuman, melatih motorik halus. Sejauh ini mengupas buah adalah kegiatan favorit Akmal.
  • Membereskan mainan:¬†Sejujurnya ini masih PR buat saya. Satu waktu dia mau mengikuti saya memasukkan mainan dan buku-buku pada tempatnya tapi lain waktu dia masih sering meninggalkan mainannya. Yaiyalaaah buuk masih 1 tahun 5 bulan hehe. Tapi saya terus memberikan pembiasaan setiap kali habis bermain dan baca buku untuk membereskannya.

2. Bermain Kelapa Parut

Permainan ini gampang banget. Suka masak yang mengandung santan? Nah, kelapa parutnya jangan dibuang dulu. Dibersihkan, dijemur lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Kalau sudah sodorin deh ke anaknya. Saya berikan contoh dulu ke anaknya dengan memindahkan kelapa parut dari satu wadah ke wadah lainnya. Videonya bisa dilihat di sini ya.

Aktivitas menuang dan bermain sensori ini banyak sekali manfaatnya. Akmal belajar tekstur kelapa, baunya, belajar koordinasi tangan dan mata saat memindahkan kelapa, belajar konsentrasi, dan belajar supaya nggak “jijikan” hehe. Supaya lebih menarik, kelapanya bisa diberi pewarna makanan ya.

3. Membaca Buku

Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Kegiatan sama anak yang nggak banyak menguras tenaga tapi maunya tetep edukatif? Ya baca buku! Sejak bayi saya sudah mengenalkan buku ke Akmal. Jenisnya yang buku bantal. Lalu perlahan meningkat baca board book yang ada teksturnya, warna-warna yang mencolok dan beberapa majalah bergambar.

Akmal 17 bulan. Baca majalah Natgeo bersama Ayah.

Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa membacakan buku ke anak membantu mengoptimalkan perkembangan bahasa anak. Apalagi jika membacakan bukunya sambil berkespresi, menggunakan gerakan yang mengundang tawa si anak hehe. Aktivitas baca buku selalu jadi favorit di keluarga kami.

4. Tarik Stik dan Selotip

Bahannya mudah, hanya selotip, stik es krim dan white board. Caranya pun gampang. Stik es krim ditempel di white board dengan selotip. Nanti minta anaknya untuk menarik stik di papan satu per satu. Perlu dicontohkan sebelum bermain. Aktivitas ini bisa merangsang motorik halusnya, melatih konsentrasi dan sabar serta melatih koordinasi mata dan tangan. Ada videonya di sini ya.

5. Makan Sendiri

Sejak usia 9 bulan Akmal sudah menunjukkan ketertarikan untuk mengambil makanan yang ada di tangan orang. Sejak itu saya sesekali membiarkannya memegang makanan (finger food) sendiri. Ukurannya tentu disesuaikan tangan mungilnya. Selain itu tidak semua makanan, biasanya buah-buahan seperti pisang, kentang atau tempe tahu hehe.

Aktivitas makan sendiri ini banyak juga lho manfaatnya. Anak belajar memegang sendiri makananya, belajar mandiri, belajar tekstur, bau serta rasa dari sebuah makanan. Di usianya yang ke 17 bulan kini Akmal sudah bisa makan apa saja yang juga dimakan bunda dan ayahnya, kecuali yang pedas dan terlalu asam.

Dia paling suka nyemil gitu. Untuk camilan anak saya berikan ia buah-buahan atau camilan homemade seperti kentang goreng, mac cheese, kolak pisang atau puding. Kadang juga biskuit. Nah, salah satu camilan favoritnya saat ini adalah cookies dari Monde Boromon.

Kenapa Monde Boromon?

Akmal suka sekali sama biskuit satu ini. Termasuk bundanya hehe karena ikutan nyicipin. Bentuknya yang mungil memudahkan Akmal untuk mengambil dan memasukkannya ke dalam mulut. Selain itu gampang banget  meleleh saat kena air liur. Pas banget untuk melatih motorik yang ada di lidah dan mulut anak. Dari aktivitas nyemil cookies satu ini aja Akmal belajar banyak, yakni eksplor rasa, bentuk, serta tekstur.

Monde Boromon juga mengandung sari pati kentang, madu dan DHA. Nah, yang terpenting ini tu nggak mengandung GLUTEN. Buat anak yang alergian insyaallah biskuit ini aman dikonsumsi. Kemasannya juga kecil-kecil jadi bisa buat bekal jalan-jalan hehe.

Di mana mendapatkan Monde Boromon? Bunda-bunda tinggal meluncur aja ke supermarket terdekat atau kalau males keluar tinggal klik ke Monde Mart aja. Harganya pun terjangkau. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 12.500. Dalam satu kotaknya ini berisi 6 bungkus kecil. Sekalian mborong yang banyak buuuun biar nggak rebutan sama kakaknya atau malah bundanya (?) haha.

Oiya kalau bosan di rumah saya sesekali mengajak Akmal ke taman bermain dekat rumah atau perpustakaan. Sebenarnya ada banyak sekali lho bun aktivitas seru dari rumah yang bisa dilakukan bersama anak-anak untuk merangsang motorik mereka.

Kalau bunda-ayah aktivitas di rumah yang paling favorit ngapain nih?

 

20 COMMENTS

  1. Anak2 saya juga suka Boromon, rasanya yang enak, manisnya pun pas dimulut anak2. Seru ya mom anak2 bisa belajar sambil bermain, melatih gerak motorik anak dengan kegiatan sedehana dirumah.

  2. wkwkwkw, kadang jadi orang inrovert yangs enang ngendon di rumah kayak saya malah bikin hidup lebih aman ya, saya jadi jarang banget menerima ucapan basa basi yang basi tentang tumbuh kembang anak.
    Daripada rempong dengan ucapan orang lain, mending kita ciptaka stimulasi motorik yang sederhana sendiri ya.
    Ngemil Boromon bisa juga sebagai cara meng stimulasi motorik anak, saya selalu ngakak kalau liat si bayi saya semangat banget merogoh butiran Boromon dari kemasannya lalu di masukan ke mulutnya ūüôā

  3. Jadi sebetulnya merangsang motorik gak sulit juga ya, Mbak. Bisa dilakukan dari kegiatan sehari-hari. Ngemil Boromon ini juga bisa melatok motorik anak. Udha gitu enak pula makanannya ūüôā

  4. dede akmal baca rabbit hole juga yah, lucuk lihat expresinya di foto-foto ini, gemesin banget.. boromon emang favorit yang mbak untuk anak-anak selain mudah di temukan di supermarket, rasanya juga enak dan ternyata bisa dijadikan alat bantu anak juga yah untuk belajar..

  5. Boromon Ini biskuit favorit anakku banget mbak termasuk aku hahah. Rasanya enak dan manisnya pas. Cocok banget deh buat anak-anak. Apalagi ukurannya yang mudah dipegang anak2, rekomendasi banget buat para ibu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here