30 Juni 2019, malam itu  saya dan suami mengajak Akmal untuk makan malam di luar. Salah satu warung pizza di Malang menjadi pilihan. Maunya sih dipaskan saat usia Akmal tepat dua tahun besoknya tapi ayahnya harus kerja ke luar kota. Ya hitung-hitung maksudnya sebagai perayaan kecil untuk Akmal. Hehe…

Selama makan itu kami membisikkan kata-kata semangat padanya bahwa usianya kini telah bertambah.

Alhamdulillah sekarang Akmal sudah dua tahun, ya. Sudah tambah pinter. Sudah bisa makan sendiri. Sudah bisa minum susu sendiri di gelas. Berarti sudah nggak nenen, ya. Sambil ngemil kentang goreng dia mengangguk-angguk seolah paham.

Malam itu saya berniat untuk mulai menyapihnya. Melatihnya tidak nenen yang biasa dilakukan sebagai pengantar tidur. Reaksinya? Tentu saja berontak, menangis kencang dan berteriak macam orang kesakitan.

Nenen..bundaaaa…mau nenen! Adalah kata-kata yang ia rapalkan hampir dua jam menjelang tidur.

Tidurnya gelisah, miring kanan, miring kiri. Glebak, glebuk seperti remaja yang sedang patah hati 🙁

Sesekali memaksa saya membuka baju agar segera menyusuinya. Hingga ia berada di puncak emosi, tangisnya pecah tak terbendung.

Saya tahan-tahan untuk tidak ikut terpancing emosi. Saya elus-elus punggungnya. Menggendongnya, menimang-nimang ke luar kamar. Sembari terus membisikkannya bahwa ini adalah masa dia sudah tidak nenen. 

Tapi hingga dua jam berlalu, malam semakin larut, Akmal belum juga bisa tidur. Nangisnya belum juga reda. Saya mulai lelah dan akhirnya…saya ikutan emosi. Akmal, ayo tidur! Suara saya mulai meninggi. Saya pelototin dia dan menurunkannya dari gendongan.

Untungnya suami saya segera paham. Dia sigap menggendong Akmal, menenangkannya sambil membacakannya ayat-ayat Al Qur’an. Perlahan, Akmal tidur dalam gendongan. Mungkin saking kelelahan.

Melihatnya tertidur saya seketika merasa sangat bersalah padanya.

Astagfirullah…ini kan baru malam pertama menyapih, kenapa saya sudah emosi? Maafkan bunda ya, nak.

Sembari diingatkan suami bahwa menyapih ini juga butuh proses. Wajar kan kalau rewel, lha wong dia hidup salah satunya ya dari nenen selama dua tahun ini. “Jangan emosi juga dong bun, sabar ya”. 

Sounding Sebelum Menyapih

Sebenarnya jauh-jauh hari saya sudah sounding ke Akmal kalau saat usianya sudah dua tahun artinya sudah tidak nenen lagi. Bahkan sudah saya lakukan sejak ia berusia 20 bulan. Karena saya dan suami sepakat tidak menggunakan cara dengan ‘menipu’.

Seperti mengolesi payudara dengan brotowali, balsem, atau beberapa cara yang membuat anak jadi emoh (secara tidak nyaman) untuk tidak menyusu lagi. Bahkan beberapa teman bilang bahwa HAMIL LAGI adalah cara paling ampuh menyapih anak dengan cepat. Karena dengan kehamilan (katanya), maka rasa ASI akan berubah menjadi tidak nikmat lagi, sehingga akan lebih cepat membuat anak berhenti menyusu.

Olalaaa kalau cara yang itu jelas saya tunda dulu. Hehehe…

Menyoundingnya jauh-jauh hari karena saya merasa sudah lelah menyusuinya di usia toddler begini. Jujur aja lho menyusui di usia balita entah kenapa terasa banget lebih capek.

Iya saya paham menyusui itu sebagai bentuk bonding antara ibu dan anak. Tapi setelah saya renungkan kembali kalau momen menyusui saja diwarnai dengan emosi ya di mana letak nilai bondingnya? 

Maka saya memutuskan untuk segera menyapihnya. Mungkin terdengar jahat ya karena terkesan ingin segera melepas ASI. Saya nggak mau momen menyusui jadi momen sekadar memberi ASI tanpa ada ikatan emosi.

Sounding semakin intens menjelang dua bulan sebelum masa sapih. Dan dua minggu sebelum usia Akmal dua tahun, soundingnya hampir setiap hari setiap saat.

Akmal, minggu depan sudah dua tahun lho. Kata Allah di Al Qur’an menyusu itu sampe dua tahun aja, ya. Akmal insya Allah bisa! Akmal pinter, ya. Kan sudah bisa minum dan makan sendiri. 

Karena dia belum paham konsep waktu, saya soundingnya sambil menunjukkan tanggalan di kalender. Sebenarnya saya dan suami juga masih bingung sih soal memberikan penjelasan penanda waktu ini. Adakah yang punya saran? Siapa tahu saya bisa belajar. Hehe. Sebab kami memilih tidak merayakan dengan tiup lilin dan potong kue. Yah, ini pilihan masing-masing keluarga ya.

Mengurangi Frekuensi Menyusui

Selama sounding berlangsung saya juga mengurangi frekuensi menyusu secara bertahap.

Jika pada awalnya Akmal boleh menyusu sesuka hati, nggak kenal waktu, maka sejak usia 20 bulan frekuensinya saya kurangi. Misalnya, pagi setelah mandi.

Biasanya dia udah minta nenen aja, tapi langsung saya alihkan ke makanan, mau roti, buah atau ya apalah yang ada di meja. Hehe. Begitu juga saat sore. Biasanya bisa satu sampe dua kali, saat masa sounding ini saya berusaha nggak menyusuinya. Pas malam aja menjelang dia tidur.

ajak main sampe capek biar lupa sama nenen haha

Saya pun nggak menawarinya kalau dia nggak minta. Jadi agar dia sedikit lupa ya ajak aja banyak main. Kalau saya buntu mau ngajak main apa di rumah, ya sudah ajak aja ke taman atau lapangan dekat rumah. Kalau sudah capek banget baru deh pulang, di rumah langsung tidur karena kelelahan. Hehe.

Menyiapkan Mental dan Bersikap Tega!

Sebelum benar-benar menyapih Akmal, saya tanya sana sini ke ibu-ibu yang lebih senior. Rata-rata menjawab: KUDU TEGA. Maksudnya, tidak mendramatisir proses menyapih. Sebagai yang punya ‘pabrik’ kita harus tegas kalau waktu sapih sudah tiba.

Jadi jangan sampai anak minta nenen hingga memelas kitanya jadi ikut luluh. Saya pun hari pertama begitu sih, merasa duh kasihan nih anak gelisah tidurnya.

Saya sudah bersiap memberikannya ASI saat tangisnya tidak juga reda dan emosi mulai menghampiri. Tapi kalau kita melanggar aturan nanti anaknya semacam punya celah untuk minta terus. Hehe. Jadi, ya dikuat-kuatin deh. Saya alihkan perhatiannya dengan mengelus-elus punggung, meninabobokan di dalam gendongan.

Sudah Tidak ASI, Tidurnya Gimana?

Itu adalah pertanyaan yang terus bermunculan semasa proses sounding. Akhirnya saya mengganti kebiasaan menyusu menjelang tidur dengan kegiatan membaca buku, mendongeng, main bongkar pasang bahkan senam dan lompat-lompatan. Sampai Akmal capek barulah dia benar-benar mau tidur.

salah satu ritual sebelum tidur: baca buku

Kadang kalau kami (saya dan suami) sudah sama-sama lelah kami biarkan Akmal main sendiri tapi di kamar dan ditinggal tidur duluan. Haha.. Ya gimana nungguin anaknya sampe malem masih aja on, sementara bunda ayahnya udah tinggal lima watt aja matanya.

Setelah lepas ASI, saya menggantinya dengan susu formula atau UHT. Jadi kini setiap malam selalu sedia susu atau air mineral di samping tempat tidur. Dan bersyukur sekali nafsu makan Akmal meningkat seiring lepas ASI. Dulu mah masuk lima suap aja sudah alhamdulillah, sekarang saya yang kegirangan karena dia minta makan sendiri tanpa disuruh.

Pentingnya Peran Ayah

Penting banget lah ini! Selama proses sounding dan sapih, suami juga berperan sekali. Saya sudah wanti-wanti ke suami jika saat proses sapih kami harus ‘tega’ dan siap.

Sebab menyapih tidak hanya menyiapkan mental anak tetapi juga bunda dan ayahnya. Supaya tidak ada drama, “Udahlah kasih aja (nenen) kasihan tuh dia nangis terus. Kok tega sih kamu”. Enggak dong jangan nanti nggak kelar-kelar hehe.

Saat malam pertama dan malam-malam berikutnya, suami lah yang bergantian menenangkan dan menggendong Akmal kalau dia rewel ingat nenen. Beberapa waktu terakhir ini juga Akmal mau tidur dikeloni ayahnya. Iya, saat masih menyusu ASI kan saya yang mengeloninya dan dia nggak mau tidur sama ayahnya haha.

Intinya sih selama proses menyapih, kita sebagai orangtua khususnya sang ibu juga harus menyiapkan diri dan mental. Proses menyapih bukan berarti melepas bonding sama anak tetapi mengganti bonding dengan cara yang berbeda. Semoga ceritanya bermanfaat ya 🙂

Semangat mengASIhi bunda-bunda 🙂

 

1 COMMENT

  1. wah inget jaman dulu mbak, sshnya mo nyapih anak..kadang gak tega tpi ya kudu di lakuin, tp berhubung dulu sy msh terbatas pengetahuannya hi hi maklum produk zmn dulu, ya nenen sy beri odol, duuh jht amat ya saya,,, tp Alhamdullilah bisa jg melewati masa itu selama seminggu, skrg anaknya udh remaja wk wk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here