Sejak jadi ibu beranak satu saya sudah jarang ke toko buku. Terakhir kali sudah lima bulan yang lalu. Itupun nggak beli buku untuk diri sendiri tapi untuk Akmal aja.

Sejak punya anak waktu untuk membaca buku rasanya kok berkurang ya (anak terus nih yang jadi kambing hitam ehehehe). Selain itu saya jadi sangat selektif memilih bacaan. Tidak setiap ada buku terbitan baru pengen baca. Palingan ya hanya sesuai kebutuhan aja.

Buku yang saya baca juga mayoritas berkutat pada parenting, self-help atau seputar agama. Buku fiksi pun hanya yang benar-benar bagus menurut saya. Terakhir baca fiksi ya novelnya Dewi Lestari yang Aroma Karsa. Dan baru nyadar itu udah tahun lalu hahaha.

Padahal saat masih single dulu semua jenis buku nggak pandang bulu saya baca. Eh, kecuali buku berbau politik sih hehehe. Paling sering sih memang baca buku yang jenisnya fiksi dan sesekali soal budaya.

Ke toko buku pun hampir seminggu bisa dua hingga tiga kali. Tidak melulu beli, hanya sekadar ingin tahu ada buku baru apa sih? Atau kalau lagi bokek saya rela baca bukunya ya di tempat. Ndlosor di bawah diantara deretan buku-buku yang dipajang. Haha. Cara ini ampuh menuntaskan rasa penasaran bagi mereka yang kehabisan budget buat beli buku.

Pernah lho dari siang sampe ashar saya ngendon aja di toko buku. Baca lembar demi lembar tahu-tahu udah hampir separuh buku aja. Kalau nggak dilihatin terus sama penjaganya barangkali saya di situ bisa sampai isya’.

Kini beli buku lebih suka online, terutama toko buku online indie. Artinya, buku-bukunya diterbitkan secara independen.

Selain karena lebih ngirit nggak perlu biaya transport ke sananya juga biaya-biaya lain-lain macam njajan atau jalan-jalannya hehe. Buku-buku yang dijual di toko buku mainstream beberapa tidak dijual di toku buku indie. Dan beberapa yang tidak dijual di toko buku mainstream itu ternyata lebih menarik minat saya.

Misalnya, buku-buku yang dijual di Mojok, Indie Book Corner, POST, dan sederet toko buku indie yang kini kian menjamur di tiap kota.

Di Malang sendiri setahu saya ada Griya Buku Pelangi. Cuman saya belum pernah sih main ke sana hehehe. Kalau ada di Malang selain itu tolong kasih tahu saya ya.

Menariknya Toko Buku Indie

Toko buku indie yang saya datangi pertama kali ada di Surabaya, yakni C20 Library. Dari namanya saja ini memang sebuah perpustakaan milik pribadi. Buku-bukunya pun sebagian besar adalah milik ownernya yang dikenal dengan nama Kathleen Azali.

Tetapi selain meminjamkan buku, ada juga beberapa yang dijual. Tak hanya buku, ada beberapa zine dan CD musik-musik indie.

Kala itu saya sedang mencari referensi untuk skripsi. Pertama kali masuk langsung disambut sama penjaganya yang super ramah.

“Mau cari buku tentang apa mbak” tanya mbak-mbak penjaga tersebut (lupa namanya hehe). Saya pun cerita tentang kepusingan mencari referensi yang mengangkat tema poskolonialisme.

“Oh mau baca Orientaslinya Edward Said? Kalau buku-buku bertema sastra, sosial budaya ada di rak sebelah kanan situ ya,” ujarnya sambil menerangkan beberapa buku-buku yang disewakan di situ.

Nggak menyangka tempat mungil yang dipenuhi buku itu menyimpan “harta karun” yang belum tentu saya temui di toko buku mayor. Selain buku-buku bertama sosbud, humaniora, sastra dan politik, ada pula buku-buku sains, teknologi, ekonomi serta desain.

“Tapi buku-buku yang masuk ke sini tetap melalui kurasi dari kami,” kata si mbak penjaga C20 Library. Oh, pantas beberapa genre bukunya punya kekhasan tersendiri.

Yang paling membuat saya betah di sini, kita bisa bertukar informasi dan diskusi soal perbukuan. Si mbak penjaga cerita banyak soal buku yang dia suka, apa saja yang menarik dan yang tidak. Setiap kali bertemu dengan mereka yang juga suka membaca, seolah percakapan tak ada habisnya. Seperti bertemu kawan lama.

Di C20 Library juga membuka ruang diskusi untuk komunitas, pegiat literasi, praktisi, pekerja kreatif, dll. Aaahh saya suka sekali tempat seperti ini!

Tak hanya diskusi soal literasi tetapi juga isu-isu sosial yang terjadi saat ini. Diskusi dunia perfilman, lokakarya, gigs mini bersama band-band lokal, pameran, festival seni dan berbagai kegiatan lainnya dikemas menarik di sini yang nggak kita temukan di toko buku mayor.

Buat saya seharusnya ke depan toko buku konsepnya sudah mengarah ke sana. Ada ruang terbuka untuk interaksi antara penjual dan pembeli. Tak hanya sekadar transaksi jual beli tetapi juga sebagai sarana diskusi. Ruang diskusi untuk semua lapisan masyarakat, pelajar, pekerja kreatif, orangtua, pendidik, bahkan bila perlu pemerintah turut serta.

Kedekatan antara pengunjung dan pemilik toko buku menjadikan toko buku itu memiliki kekuatan dan daya magnet tersendiri. Kedekatan personal yang dibangun diantara kedua belah pihak membuat toko buku indie menciptakan ruang diskusi dan memunculkan banyak gagasan baru. Itulah mengapa (mungkin) toko buku mayor mulai sepi dan beberap tumbang. #sotoybanget hahaha.

Jadi kalau kamu masih suka ke toko buku nggak? Sini kasih tahu dong kalau ke toko buku mana?

 

2 COMMENTS

  1. Aku juga suka nongkrong ditoko buku. Tapi Sekarang suka males ke toko buku karena gak ada tempat duduk.
    Coba ada toko buku yg menyediakan tempat duduk dan ada rak khusus buku yang bisa dibaca gratis gitu. Kan makin ramai tuh toko buku. Hehehe

  2. Bener juga, seandainya semua pegawai toko buku adalah para pelahap buku, tentunya mereka bisa cepat sekali menemukan buku tanpa memeriksa komputer.

    Selain itu, mereka juga memberi advis buku-buku yang layak baca sesuai minat pelanggan.

    Tapi…ya, mungkin terlalu idealis ya mengharapkan semua itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here