Review

To Kill a Mockingbird

 Judul Buku : To Kill a Mockingbird

Penulis : Harper Lee

Penerjemah : Femmy Syahrani

Penerbit : Qanita

Halaman : 531

Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.–Atticus Finch.

Scout dan Jem Finch adalah sepasang kakak beradik yang tinggal di Maycomb, Alabama, sebuah kota kecil di bagian selatan Amerika. Mereka tinggal bersama ayahnya, Atticus Finch, seorang pengacara kondang di kota kecil tersebut. Selain itu, mereka juga tinggal bersama seorang koki berkulit hitam, Calpurnia. Calpurnia bekerja untuk Atticus Finch sejak Jem masih bayi.

Scout tidak pernah bertemu ibunya. Sebab, sejak ia dilahirkan ibunya telah meninggal. Meski begitu, Scout merasa tidak terlalu merindukan ibunya. Kasih sayang dan perhatian yang penuh dari sang ayah membuat Scout merasa tetap nyaman dalam keluarga tersebut. Ditambah, sosok Calpurnia yang bertingkah seperti ibu meski selalu bawel di mata Scout dan Jem. Walaupun Calpurnia dari kalangan kulit hitam, Atticus tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan, dia memberikan hak untuk mendidik anak-anaknya. Dan di satu sisi kedua anak Atticus patuh kepadanya.

Kehidupan Scout dan Jem bisa dibilang menyenangkan. Meskipun bukan orang paling kaya di Maycomb, tetapi keduanya hidup dalam keadaan yang cukup. Baik materi maupun kasih sayang dari ayah mereka. Di mata Scout, ayahnya adalah sosok yang penyayang. Meski sibuk sebagai pengacara, Atticus selalu menyempatkan untuk bermain bersama mereka, membacakan mereka buku serta membebaskan mereka melakukan apa saja selama masih dalam batas normal.

Layaknya anak-anak seusianya, Jem dan Scout selalu penuh imajinasi dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka tidak pernah bisa diam dan kerapkali ‘iseng’ kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, saat mereka mencoba untuk mendekatidan mengganggu  tetangga yang bernama Boo Radley. Seorang pemuda yang tidak pernah keluar rumah sama sekali. Bahkan, rumahnya saja seperti tidak berpenghuni, layaknya rumah hantu. Atau, sesekali mereka menggoda dan meledek Mrs.Dubose, seorang janda tua yang galaknya minta ampun.

Hingga suatu hari, kehidupan Jem, Scout serta ayahnya berubah drastis. Semua bermula saat Atticus menjadi pembela untuk Tom Robinson, seorang pria berkulit hitam. Tom dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih, Mayella Ewell saat dia sedang lewat rumah si Mayella. Hal ini membuat hampir seluruh warga kota membenci Atticus karena membela seorang negro. Bahkan, Jem dan Scout terkena batunya.

Di sekolah Jem dan Scout mendapat perlakuan bullying dari teman-temannya karena ayahnya yang sangat membela seorang kulit hitam. Scout, seorang gadis kecil yang tomboy awalnya bingung mengapa ayahnya begitu ‘mencintai’ orang-orang kulit hitam. Hingga ia sadar saat melihat ayahnya langsung membela Tom di meja pengadilan. Scout sadar bahwa apa yang dilakukan ayahnya semata demi mengeakkan keadilan dengan tidak membedakan apa pun latar belakang seseorang.

To Kill a Mockingbird termasuk salah satu karya yang amat klasik dari Harper Lee. Pertama kali baca buku ini, saya jatuh cinta sama sosok Atticus. Seorang ayah sekaligus pengacara sekaligus pelaku sosial dalam masyarakat yang banyak mengajarkan nilai-nilai pendidikan pada anak-anaknya. Sebuah pelajaran parenting yang dibalut dalam karya sastra ini sungguh asyik dibaca.

Pertama, nilai-nilai yang paling ditonjolkan oleh Atticus pada anak-anak mereka adalah menumbuhkan rasa toleransi, empati dan selalu menghargai sesama. Atticus tidak risih menjadikan Calpurnia sebagai pengasuh Jem dan Scout meski dari kalangan kulit hitam. Bahkan, dia membela matia-matian Tom Robinson meski hampir seluruh warga kota mencurigai dan membencinya. Atticus mengajak Scout untuk berbesar hati saat gadis kecil itu di ejek di sekolahnya.

“Ingat sepahit apapun situasinya nanti, mereka masih teman kita dan tempat ini tetap rumah kita,” (halaman 154).

Kedua, Atticus mendidik anak-anak mereka untuk gila membaca. Ya, ini salah satu yang paling saya suka. Setiap malam sebelum tidur Atticus tak pernah absen untuk membacakan cerita untuk anak-anaknya. Berkat aktivitas rutin ini, Scout tumbuh menjadi anak yang cerdas, kritis dan paling cepat membaca diantara teman-temannya di sekolah.

Ketiga, berusaha bersikap tenang meski dalam krisis adalah salah satu kelebihan Atticus. Pembelaan yang dilakukannya menyebabkan Atticus mendapat banyak cacian dan ancaman. Dia bahkan diancam akan dibunuh oleh ayah Mayella Ewell. Menurut saya, sikap ini penting ditanamkan kepada anak-anak agar mereka tidak mudah panik dan bersikap dewasa saat menghadapi masalah.

Selain Atticus, sebenarnya tokoh-tokoh lain yang diciptakan dalam karya ini cukup kuat. Masing-masing memiliki kekhasan dan membawa kesan tersendiri saat membacanya. Intinya, novel ini bagus banget! Hehe. Gaya cerita dengan sudut pandang gadis kecil yakni Scout membuat saya terkadang tersenyum geli saat membacanya.

Diceritakan dengan kocak tetapi tidak melupakan visi utama untuk menyampaikan pesan dari novel ini. Bahwa setiap manusia dilahirkan untuk tidak bersikap rasis. Bahwa rasa cinta dan empati diperlukan untuk terus menjaga rasa perbedaan tanpa memandang latar belakang mereka ❤

3 Comments

  1. Suka banget quotes yg paling atas..rupanya dari buku ini yaa

  2. Aku pikir isi novelnya serius, ternyata ada kocak”nya juga hehe.

    http://www.extraodiary.com

    1. yang bikin kocak tokoh si Scout hehe.. sudut pandang anak kecil yg lugu dan keras kepala 😀

Leave a Reply

Required fields are marked*