Jadi sudah seminggu ini saya mengikuti sebuah kelas. Namanya kelas Matrikulasi. Eh kuliah lagi? Alhamdulillah kuliah di “universitas kehidupan” hehe. Ada yang pernah dengar?

Kelas ini merupakan program persiapan untuk para ibu dan calon ibu yang ingin bergabung di komunitas Ibu Profesional. Apa lagilah itu komunitas Ibu Profesional? Singkatnya, komunitas yang mewadahi para ibu maupun calon ibu untuk belajar banyak hal. Detailnya bisa cek di sini ya.

Setiap minggunya kami diberi tugas, sebutannya nice homework a.k.a NHW. Nah, minggu pertama ini kami diskusi mengenai bagaimana adab menuntut ilmu. Lalu, diminta bercerita apa sih ilmu yang ingin kamu tekuni di universitas kehidupan ini? 

Mendapat pertanyaan tersebut langsung kepikiran beberapa list apa saja yang pengen dipelajari. Pengennya lebih dari satu…eh enggak ding dua…eh banyaaaak sebenernya haha.

Tapi ibu fasilitator, ibu Neni menyarankan untuk menjalani satu dulu, nggak apa sih lebih dari itu asalkan bisa fokus dan bertanggung jawab. Baiklah akhirnya setelah saya timbang ulang saya memilih ilmu ini. Yaitu……..

Ilmu yang Ingin Ditekuni dan Alasannya 

1. Menghafal Al Qur’an

Sudah lama saya pengen menghafal Al Qur’an terutama saat melihat mulainya berjamuran anan-anak yang sudah bisa menghafal 30 juz! Masya Allah sedih saya, selama ini ke mana saja? Hiks. Hingga si kecil lahir saya ingiiiiin sekali si Akmal kelak menjadi salah satu hafidz Al Qur’an. Aamiin.

Itulah alasan terkuat saya ingin belajar lagi menghafal Al Qur’an. Agar saya bisa menjadi contoh langsung buat si kecil. Masak menginginkan anak menjadi hafidz, memintanya hafalan surat-surat Allah namun ibunya sendiri nggak hafal sama sekali. Kan sedih :(. Yaa meskipun minimal hafal juz 30 nggak apa yang penting niat dan tekad dan action kudu kuat lah ya. Bismillah.

Apalagi sudah dijanjikan sama Allah bahwa yang menghafal Al Qur’an insyaAllah akan mendapat kedudukan terbaik.

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dikatakan pula kalau kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim).

Semoga kita termasuk orangtua yang dimudahkan mendidik dan mendekatkan anak-anak pada Al Qur’an ya…Aamiin…

2. Bisnis

Selanjutnya yang kedua, saya ingin belajar bisnis. Baru-baru ini adik saya mengajak bisnis bareng di bidang sepatu kulit. Dan jujur aja saya buta sama sekali dengan dunia ini. Sementara adik saya sudah lima tahun belakangan berpengalaman dalam berdagang.

Pernah sih saat kuliah dulu jualan jilbab tapi nggak bertahan lama. Palingan hanya tiga-empat bulan haha. Padahal kalau diseriusi banyak lho yang order. Waktu itu banyak lah alasannya, soal waktu lah, kebanyakan main lah, uang labanya kepake jadi saya malah rugi hehe. Pas udah nikah saya juga mencoba bisnis di bidang buku, jualan buku reseller gitu. Lumayan juga yang order. Tapi lemahnya saya nih hangat-hangat tahi ayam! 

Dalam Islam telah dikatakan kalau sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam berdagang. Itulah saya ingin menyeriusi ilmu bisnis. Selain itu karena suatu hari saya ingin memiliki perusahaan sendiri dan membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Saya pernah menjadi karyawan kantoran di sebuah perusahaan dan yaaa ternyata qerja qeraz bagai qudha dan tidak sebanding dengan kesejahteraan karyawan. Hehe. Kelak saya ingin memiliki perusahaan sendiri yang memanusiakan manusia seperti yang dicontohkan Rasulullah. Aamiin.

3. Menulis

Salah satu aktivitas yang paling saya sukai sejak kecil adalah menulis. Seringnya sih curhatan hehe. Itulah mengapa isi blog ini hampir 95 persen isinya ya curhatan hehe. Nah, saya ingin belajar menulis lebih dalam lagi, lebih dari sekadar curhatan. Misalnya cerpen atau novel. Saya ingin menyampaikan kebaikan ‘lain’ dalam bentuk fiksi sebab orang tak suka kan digurui, maka tulisan fiksi menjadi salah satu alternatif. Kalau kata salah satu penyair Indonesia, Pramoedya Ananta Toer:

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Bagaimana Strategi Menekuni Ilmu Tersebut?

1. Menghafal Al Qur’an

Setelah subuh berusaha untuk meluangkan waktu menghafal beberapa ayat dari surat yang ingin dihafal. Lalu, diulang-ulang beberapa kali hingga hafal. Selain itu, mendengarkan audio murrotal dari HP maupun Youtube. Agar tidak lupa, saya meminta teman ngaji (forum pengajian) untuk menyimak hafalan saya.

2. Bisnis

Mulai membaca artikel, buku atau majalah mengenai dunia bisnis. Dulu mah boro-boro baca tema begini, paling seringnya baca novel hehe.

Oya, saya juga mulai suka mengikuti akun media sosial para pebisnis, kadang-kadang di medsos mereka suka sharing mengenai dunia bisnis, finansial dan sejenisnya. Selain itu saya suka diskusi dengan adik saya yang sebelumnya telah berpengalaman, menyenangkan bisa sharing sama yang punya passion di bidangnya meski dia lebih muda dari saya.

3. Menulis

Terus berlatih menulis, salah satunya melalui media blog ini. Sesekali mengikuti lomba blog, meski belum pernah menang haha :/

Selain itu saya bergabung dengan komunitas yang berhubungan dengan kepenulisan seperti komunitas emak-emak blogger dan Forum Lingkar Pena. Dari sana saya belajar dengan teman-teman yang lebih berpengalaman.

Perubahan yang Perlu Diperbaiki dalam Mencari Ilmu

  1. Menunda waktu. Aaah, ini penyakit saya banget ini 🙁 Sering mikirnya, oh masih bisa nanti ah, oh deadline nya masih lama, dan ‘oh’ yang bertele-tele itu. Padahal kalau dikerjakan tepat waktu harusnya ya bisa dan tentu lebih memudahkan. Untuk itu saya sekarang mulai mengatur waktu agar tidak menunda lagi.
  2. Mulai mencatat hal-hal penting yang ingin dikerjakan dalam proses mencari ilmu tersebut.
  3. Belajar lebih banyak lagi dengan orang lain. Tidak hanya berasal dari satu atau dua sumber.

Oke deh sekian dulu, ya. Dalam prosesnya terkadang kita merasa jenuh dan lelah saat mencari dan mempelajari sebuah ilmu. Tapi, tetap kudu semangat ya karena menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita.

Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan. -Imam Syafi’i-

*Sumber tambahan pendukung tulisan:

  1. Materi soal Adab Ilmu dari Tim Matrikulasi IIP Batch 6
  2. Keutamaan Menghafal Al Qur’an : https://rumaysho.com/2855-prioritaskan-menghafal-al-quran.html
  3. Tentang Berdagang : https://rumaysho.com/1441-9-dari-10-pintu-rizki-di-perdagangan.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here