Edukasi

Tantangan Mendidik Generasi Millenial

Setelah menikah, profesi lama saya sebagai wartawan di salah satu media nasional harus saya tinggalkan. Sebab, saya harus hijrah ke kota tempat suami bekerja dan tentu membangun keluarga di sini (Malang). Saya pun banting setir menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar di kota yang terkenal dengan apelnya ini.

Shock culture? Itu pasti. Saya harus beradaptasi lagi dengan beberapa hal. Lingkungan baru, teman serta suasana kota yang sama sekali beda dari tempat kelahiran saya, Sidoarjo. Dan yang paling mencolok buat saya jelas profesi baru sebagai pengajar.

Ternyata bukan  hal mudah. Saya sadar, menjadi pendidik adalah tugas yang berat. Apalagi di era informasi yang cepat sekali di dapat. Dimana anak-anak mendapat informasi hanya tinggal sekali ketik di mesin pencari google, klik, lalu muncullah sejuta info yang mereka inginkan. Jadi, terkadang peran seorang guru di kelas diabaikan! (hiks )

Itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengajar (saya khusus mengajar bahasa Inggris) di kelas 9 SMP. Dan, mengajar di kelas adalah pengalaman kali pertama. Dulu, saat kuliah saya pernah mengajar, tapi ya hanya privat, one by one student. Sementara, di kelas kita harus berinteraksi dengan puluhan murid. Bisa dibayangkan dong kalau kelas yang kita hadapi adalah jenjang SD yang notabene nggak bisa dan NGGAK MAU DIEM. ūüė¶

Untuk pertama kali mengajar, kira-kira ada duapuluh pasang mata memperhatikan saya saat berdiri di depan kelas. Di awal mereka mendengar penjelasan materi yang saya sampaikan. Tapiiii, rupanya cuman bertahan 10-15 menit saudara-saudara!. Selanjutnya? Mereka (MAYORITAS) sibuk sekali dengan gadget  masing-masing. Ada yang asyik bermain game, sibuk kepo media sosial, bahkan tanpa segan foto-foto selfie bahkan mengajak teman-temannya yang lain (ADA GURU DI DEPAN MEREKA!).

kid-gadget
source: pixabay

Istighfar dalam hati dan bersikap cool saat itu adalah pilihan saya. Menegur mereka tentu saya lakukan. Tapi, rupanya teguran hanya dianggap angin lalu bagi mereka :(. Mau tak mau, saya harus tetap melanjutkan penjelasan saya soal beberapa materi. Yang cuek dengan kehadiran saya? Saat itu saya abaikan. Jujur, karena ini pengalaman pertama, saya belum menemukan caranya.

Yaa generasi yang hidup di zaman sekarang memang nggak bisa lepas dari yang namanya gadget. Bahkan beberapa orangtua sejak bayi sudah mengenalkan mereka permainan bahkan internet lewat gawai mereka. Berdasarkan beberapa penelitian, generasi yang kita kenal sebagai generasi Z ini telah menggunakan smartphone mereka selama 15 jam per minggu. WOW! Setiap hari tanpa gadget!

Memprihatinkan? Entahlah setiap orangtua tentu memiliki sudut pandang yang berbeda.  Tetapi, bagi saya kok rasanya mengerikan ya dampak gadget (yang berlebihan) buat anak. Contoh kecilnya yaa yang saya alami di atas. Pengaruhnya, jelas pada akhlak anak. Terkikisnya sopan santun, berlaku ramah pada orang rasanya mulai pudar. Bayangkan saja, setiap hari interaksi yang mereka lakukan hanya di depan gadget tanpa ada komunikasi secara aktif di dunia nyata. Kita tidak tahu seperti apakah jenis teman-teman yang mereka temui di dunia maya.

Tapi, apakah selamanya buruk? Sebenarnya juga tidak sih. Selama ada pengawasan dari orangtua dan penggunaan dalam porsi yang cukup. Sampai sekarang memang masalah internet, gadget dan tetek bengeknya untuk anak masih mendapat opini yang pro dan kontra.Jujur saja, ini tantangan buat saya sebagai pendidik, calon orangtua dan para orangtua di luar sana.

Lalu bagaimana menghadapi anak-anak generasi ini? Waktunya saya dan (barangkali) orangtua di luar sana pintar-pintar dan kreatif mengajari mereka. Semangat!

Leave a Reply

Required fields are marked*