Inspirasiku

Sri Sedyaningrum, Pendiri Sekolah Inklusi Pertama di Surabaya

PAGI itu berjalan seperti pagi-pagi yang lain bagi Sri Sedyaningrum. Dia berkeliling sekolah, menyapa para murid dan guru. Bahkan, kepada petugas kebersihan sekolah sekalipun. “Selamat pagi, Pak Surya,” sapanya kepada salah seorang petugas kebersihan di halaman sekolah. Yang disapa menjawab. Intonasinya lambat. Terkadang, matanya tidak fokus saat diajak berbicara. “Pak Surya ini salah satu murid kami dulu,” ujar Ningrum, sapaan akrab Sri Sedyaningrum.

Ningrum menuturvkan, mantan siswanya tersebut termasuk penyandang autis. ”Pertama datang ke sini masih usia sekolah dasar. Nangis-nangis dan tidak mau lepas dari ibunya,” kenang perempuan kelahiran Madiun, 14 April 1961, tersebut. Dengan tangan terbuka, Ningrum mau menerima Surya sebagai siswanya.

Proses tumbuh kembang Surya tidak seperti anak pada umumnya. Dia sulit berkomunikasi dengan orang. ”Saat teman-temannya bernyanyi, dia hanya diam di pojokan. Asyik sendiri,” kisahnya. Namun, lambat laun Surya mengalami perubahan. Dia mulai dapat mengatur emosinya. Bahkan, kini dapat bekerja tanpa bantuan orang lain.

Surya adalah seorang di antara ratusan siswa yang bersekolah di Galuh Handayani. Sekolah itu didirikan Ningrum karena kegundahan dirinya pada 21 tahun silam.

Kala itu, ’80-an, Ningrum adalah guru. Dunia pendidikan telah menjadi rohnya. Tempat dia pertama mengajar adalah salah satu SD di Kalimas. Mayoritas siswanya adalah anak kuli pengolah kopra.

Di sekolah tersebut, Ningrum menemui banyak anak yang kekurangan gizi. Ruang kelas pun seadanya. Kondisi itu memengaruhi anak. “Mereka jadi lambat dalam menerima pelajaran,” kenangnya.

Lalu, setahun berikutnya, Ningrum mengajar di sekolah elite. Tentu situasi yang dihadapi Ningrum begitu berbeda. 180 derajat! Sebagian murid berasal dari kalangan menengah ke atas.

Namun, problem masih ada. Beberapa siswa punya masalah dalam tumbuh kembang. “Ada siswa yang sangat aktif, tetapi ada juga yang lambat sekali belajar,” kenang lulusan SPG Santa Maria Surabaya tersebut. Namun, banyak orang tua yang tidak terlalu memperhatikan anaknya. Akibatnya, mereka yang terganggu tumbuh kembangnya mendapat masalah di sekolah. Misalnya, bullying atau bahkan permintaan sekolah agar sang siswa dipindahkan ke institusi pendidikan lain.

Ningrum galau. Sebab, banyak orang tua yang malah tidak menyekolahkan anaknya lantaran si buah hati ditolak di mana-mana. “Hanya dikurung di rumah. Ini kasihan,” ungkapnya. Pada waktu itu, tekadnya hanya satu. Yakni, ingin merangkul mereka yang dianggap bermasalah di mata masyarakat.

Lantas, tepat pada 1995, Ningrum membuka sekolah dasar khusus. “Tujuannya menerima semua siswa yang ditolak di mana pun dan mendidik mereka,” ujar istri Prastiyono itu.

Sekolah dasar khusus itu awalnya dinamai Maria Montessori. Nama tersebut merujuk pada Maria Tecla Artemisia Montessori. Perempuan Italia kelahiran 1870 itu adalah ahli fisika sekaligus pendidik yang terkenal akan filosofi pendidikannya.

SD besutan Ningrum awalnya menerima sembilan siswa. Mereka datang dari beberapa siswanya dahulu. “Ada juga yang dari mulut ke mulut. Mereka datang ke saya karena putus asa mau menyekolahkan anak mereka di mana,” paparnya. Sembilan siswanya memiliki karakter yang berbeda. Mulai autis, slow learner, hiperaktif, hingga cerebral palsy.

Mereka dikumpulkan dalam satu kelas secara bersamaan. Ningrum tidak membedakan antara siswa satu dan yang lain. Menurut dia, semua anak istimewa dan tidak ada yang bodoh. “Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan. Jadi, tidak ada diskriminasi,” ungkap ibu beranak tiga tersebut. Pada saat itu, Ningrum belum mengetahui bahwa ternyata dirinya menerapkan konsep inklusif. “Yang penting, saya menyediakan akses pendidikan bagi mereka yang butuh penanganan khusus,” tuturnya.

Para siswa istimewa itu dikumpulkan dengan siswa bimbingan belajar (bimbel) yang dia dirikan sebelumnya. Sistemnya, dia memberikan pelajaran yang sama dengan siswa reguler. Namun, porsinya berbeda. “Kalau siswa slow learner, saya memberikan materi sedikit saja, tetapi banyak istirahatnya. Kalau dipaksakan, mereka malah stres,” tuturnya. Sebab, dalam menyerap materi, mereka mengalami keterlambatan. “Kalau belajar, lama sekali. Jadi, harus diulang-ulang,” katanya.

Dalam pembelajaran di kelas, dia dibantu guru-guru bimbel binaannya. “Alhamdulillah, mereka mau membantu,” ungkapnya. Guru-guru tersebut mengajar masing-masing satu siswa dan diminta untuk memilih mengajari siswa yang mana. Maksudnya bisa lebih fokus, tetapi ternyata tidak efektif. Akhirnya, sistem itu dia ubah sebaliknya. Para siswa yang memilih guru mereka. Cara tersebut dia seling-seling agar proses belajar-mengajar tidak membosankan.

Selain belajar di dalam kelas, Ningrum membawa anak didiknya untuk belajar di luar kelas. Misalnya, dengan membawa mereka ke kebun binatang, Monumen Kapal Selam, atau bahkan ke Kebun Bibit. “Sebisa mungkin membuat suasana mereka nyaman. Di kelas saja akan membuat mereka tertekan,” katanya. Pada waktu itu, konsep tersebut masih jarang diterapkan.

Rumah kontrakan menjadi tempat pertama Ningrum membuka sekolah khusus tersebut. Rumah seluas 350 meter persegi itu dia sulap menjadi sekolah mini. Di dalamnya terdapat enam ruang kelas. “Tiga ruang di lantai bawah dan tiga ruang di atas,” jelasnya. Di lantai bawah juga tersedia satu ruang mirip hall. Bagian tersebut dia gunakan sebagai pusat berkumpulnya para siswa. Dia menambahkan, rumah itu dijual murah kepadanya lantaran bekas orang yang pernah melakukan bunuh diri. “Saya ya tidak tahu sebelumnya, tahunya pas sudah menempati. Pas tahu murah, ya saya ambil. Lha wong saya ini bukan orang kaya, hanya guru,” tuturnya.

Dari yang sembilan siswa, jumlahnya terus meningkat. Dalam waktu satu tahun siswanya menjadi 72 orang. Yang datang bukan hanya siswa yang lambat belajar, tetapi juga yang memiliki problem dengan keluarga dan lingkungan.

Misalnya, ada kasus anak korban perceraian orang tua, lalu lepas dari pengawasan yang membuat anak tersebut lepas kendali. “Waktu itu dia masih di bangku sekolah dasar, tetapi sudah bergaul dengan kelompok yang tidak baik. Dia juga sudah mengenal seks bebas,” ungkapnya. Menurut dia, pihak orang tua sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. “Banyak orang tua yang memiliki masalah, tetapi tidak sadar hal itu membawa dampak buruk bagi anak mereka. Anak menjadi korban,” tuturnya. Untuk itu, pendekatan secara personal kepada orang tua juga dilakukan Ningrum dalam rangka membantu kesembuhan siswa.

Penanganan juga tidak hanya dengan guru. Ningrum merasa mendapatkan pertolongan dari Tuhan. “Ada saja yang menawarkan diri untuk bergabung dengan saya. Misalnya, dari lulusan psikologi. Ada juga yang lulusan okupasi terapi,” ungkapnya. Mereka menjadi terapis bagi anak-anak berkebutuhan khusus itu.

Seiring berjalannya waktu, rumah kontrakan di daerah Pucang semakin sesak. Ningrum lagi-lagi serasa mendapatkan bantuan dari Tuhan. Dia memperoleh rekomendasi dari wali muridnya untuk gedung sekolah yang baru. Ningrum pun memindahkannya ke kawasan Manyar. “Nama yang awalnya Maria Montessori akhirnya diubah menjadi Galuh Handayani. Supaya lebih terdengar Indonesia,” ujarnya tersenyum.

Perempuan berhobi menari itu menjelaskan, tidak ada batasan kuota dalam menampung siswa. Sebab, sistemnya semua anak diterima. “Prinsipnya tidak boleh menolak siswa. Kalaupun yang mendaftar lebih, akan dibuka kelas baru,” tegasnya. Namun, sebelumnya Ningrum melakukan assessment kepada siswa yang ingin mendaftar. “Tujuannya menentukan perlakuan yang sesuai untuk mereka. Jadi, tidak asal,” paparnya.

Dia mencontohkan, jika termasuk hiperaktif super, siswa itu akan ditangani dokter lebih dahulu. Dokter bertugas untuk menangani segi medis. “Misalnya, diberi obat supaya menurunkan emosinya,” kata Ningrum. Jika sudah agak reda emosinya, pembelajaran di sekolah dapat dilanjutkan.

Beragam cerita terukir dalam lembaran kehidupan Ningrum sejak mendirikan sekolah berkonsep inklusif. Mulai pengalaman lucu, terharu, hingga menyayat hati. “Macam-macam ceritanya. Kalau diingat, jadi suka senyum sendiri,” katanya.

Misalnya, ada siswa hiperaktif yang suka usil kepada teman dan para guru. “Bahkan, genting sampai dia pecahkan,” ujarnya, lalu tersenyum. Lalu, ada pula siswa yang mengalami penurunan IQ secara drastis. “Padahal, dia lulusan master of business administration (MBA), lantas dia dimasukkan ke college,” tuturnya.

Setelah dia telusuri, faktor masalah tersebut ada pada orang tua. Ningrum menceritakan, ada perlakuan yang amat berbeda pada siswa itu. “Kebetulan siswa saya ini anak kedua. Kakaknya selalu dipuji dan mendapat perlakuan lebih dari orang tua. Hal itu membuatnya stres,” paparnya.

Program college tersebut merupakan sekolah transisi bagi mereka yang sekolahnya putus di tengah jalan. Mereka diberi pembekalan life skill. Misalnya, memasak, menulis cerpen, menyanyi, dan yang berkaitan dengan bekal untuk mereka agar mandiri. “Alhamdulillah, banyak siswa kami yang sudah lulus dan sukses. Saya senang sekali melihatnya,” tuturnya.

Berkat konsep inklusifnya, Ningrum pernah mendapat berbagai penghargaan. Misalnya, di Tut Wuri Handayani Award pada 1996 dan dinobatkan sebagai Tokoh Inklusif Indonesia oleh Dirjen Dikdasmen Kemendikbud pada 2008. Dia mengakui tidak pernah mengenyam pendidikan khusus inklusif di perguruan tinggi. “Semuanya saya pelajari learning by doing,” katanya.

Tetapi, dia rajin mengikuti segala jenis pelatihan terkait pendidikan anak. “Saya sempat mengikuti short course dari Vancouver Island University soal disabilitas,” ungkapnya. Selama lima tahun dia mempelajari bidang itu.

Kini siswa sekolah Galuh Handayani mencapai 250 orang. Mereka berasal dari semua jenjang, mulai TK hingga college. Bukan hanya dari Surabaya, melainkan juga seluruh Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Kalimantan, dan Jakarta. “Sekali lagi, menolak siswa adalah hal yang haram. Kami merangkul semua siswa,” katanya. Ke depan, Ningrum juga ingin menjadikan sekolahnya sebagai pusat pelatihan tenaga pendidik bagi sekolah konsep inklusif.

Leave a Reply

Required fields are marked*