Ceritaku, Inspirasiku

Pesan Cinta dari Ibu

Masa-masa hamil rasanya memang nggak enak. Kamu banyak istighfar, dzikir sama positif thinking aja. Jangan banyak mengeluh ya. Nanti pengaruh lho ke bayinya.

Ibuk berulangkali mengirim pesan-pesan senada itu lewat WhatsApp. Dan tiap kali baca pesan-pesannya, nggak tahu kenapa rasanya saya jadi lebih tenang. Maklum, ini adalah pengalaman hamil pertama saya. Mood swing kadang membuat saya lebih emosional menanggapi segala sesuatu.

Ditambah, sekarang saya tinggal jauh dari orang tua dan saudara. Apalagi kalau suami harus pergi kerja dan saya harus stay at home… alone. Kadang-kadang membuat saya nelongso. Hehehe… yang terakhir ini lebay, ya?  

Tapi, meski kami berjauhan dan saya sudah berumah tangga, Ibuk nggak pernah lupa menyapa. Tanya kabar, mengingatkan ini dan itu, atau sekadar sharing artikel parenting, rasa-rasanya seperti ada seorang motivator hebat di samping saya.

Ah, Ibuk …

Buat saya, sosok Ibuk nggak akan pernah cukup saya ceritakan di blog ini. Karena momen-momen bersama Ibuk memang nggak terhitung banyaknya. Mulai saat saya masih di dalam kandungan, saat dia mengasuh saya sedari kecil, menyekolahkan, sampai mengantar saya ke gerbang pernikahan dan seterusnya, rasa sayang Ibuk kayaknya nggak ada habis-habisnya.

Simpelnya, Ibuk adalah salah satu inspirator dalam hidup saya. Lewat sikapnya sehari-hari, banyak sekali yang dia ajarkan ke kami, keempat anaknya. Saya ingin menulis beberapa di antaranya.

  • Pemimpi dan Semangat Tinggi

Ya, Ibuk adalah orang yang banyak sekali keinginannya. Dan itu menurun ke saya. Hehehe… Dan kalau sudah punya cita-cita, dia susah sekali dihalangi.

Kalau kamu pengen sesuatu, jangan ragu! Jalan terus dan wujudkan! Karena Allah selalu mendengar kata hati hambanya.” Begitu kata Ibuk setiap kali mimpi kami, anak-anaknya, rasa-rasanya nggak bakalan deh bisa terwujud.

Saya ingat banget waktu pertama kali Ibuk bilang, “Ibuk mau bikin sekolah TK yang bakal Ibuk kelola sendiri!”

Kami sekeluarga jelas kaget, dong. Pasalnya, saat itu Ibuk sudah mengajar di salah satu TK. Ngapain lagi harus bikin sekolah? “Ya pokoknya Ibuk pengen punya sekolah sendiri. Buat investasi akhirat juga,” tegas Ibuk menggebu-gebu.

Dimulailah usaha Ibuk mewujudkan mimpinya. Dia sendiri yang keliling cari-cari kontrakan buat dijadikan gedung sekolah. Di sela-sela urusannya, Ibuk sendiri yang bikin catatan konsep sekolah impiannya. Saat-saat itu, nyaris setiap obrolan di rumah nggak jauh-jauh dari seputar sekolah yang dia gagas itu. 😀

Akhirnya tahun 2000, nggak sampai setahun sejak impian Ibuk dimulai, sekolah mini itu pun benar-benar terwujud! Ibuk mendirikan sekolah PAUD yang dia beri nama TK Cahaya Ananda. Lokasinya masih dalam komplek, nggak jauh dari rumah.

Saya melihat sendiri banyak sekali hambatan yang Ibuk lalui demi mewujudkan impiannya yang satu ini. Mulai dari menabung, mengurus perijinan sekolah yang ribet, cari-cari guru yang cocok, sampai repotnya mencari siswa baru. Kerepotan masih bertambah saat gedung sekolah mesti pindah gara-gara kontrak rumah nggak boleh diperpanjang. Fiuhhh …

Tapi Ibuk orang yang selalu optimis. Dia juga jarang sekali mengeluh. Sikapnya itu juga yang membuat saya makin berani bercita-cita.

 

  • Enerjik dan Ceria

Di usianya yang sudah lebih dari separuh abad (55 tahun), setiap hari Ibuk masih tampak bersemangat dan ceria. Maklum, guru TK kumpulnya bareng bocah-bocah melulu. Hehehe …

Kalau sudah mengajar, Ibuk ikut larut dengan tingkah polah puluhan balita. Ikut menyanyi, menari, dan bercanda dengan mereka. Nggak  jarang kalau ada di antara anak-anak itu pipis di celana, Ibuk yang repot membersihkan. Saya membayangkan kalau saya jadi Ibuk, mungkin males banget kali, ya. Hehehe …

“Ibuk nggak capek ngurusin anak orang sebanyak itu?” tanya saya suatu kali.

“Ah, enggak. Dibawa enjoy aja. Anak-anak itu lucu-lucu, Ibuk sering dibikin ketawa kok. Jadi bikin awet muda, hahaha,” jawabnya.

Dari pengalaman Ibuk bersama bocah-bocahnya, saya belajar bagaimana menikmati hidup yang kadang-kadang terasa ruwet. 🙂

  • Dermawan dan Relijius

Ibuk suka sekali memberi kepada siapa pun. Orang Jawa bilang loman, nggak pelit. Mau ke anak, suami, menantu, tetangga, bahkan orang yang nggak dia kenal, Ibuk nggak segan-segan membantu dan kasih sesuatu.

Misalnya nih, baru aja beli tas atau baju baru… eeeh malah dikasih ke orang lain. Entah ke temannya atau asisten rumah tangga yang biasanya bantu-bantu nyuci baju di rumah.

“Lho, Buk itu kan masih baru? Kok dikasih ke orang, sih?” protes saya.

“Ya justru kalau ngasih ke orang itu yang baru. Masa yang bekas?” cetus Ibuk.

Hmmm… Ibuk… Ibuk… saya cuma geleng-geleng kepala. 😀

Ibuk juga termasuk taat soal agama. Dia nggak pernah lupa mengingatkan anak-anaknya salat tepat waktu. Selain itu dia juga menuntut anak-anaknya menghafal Qur’an. “Ayo, jangan lupa ditambah hafalan Qur’an-nya. Buat bekal, lho”katanya berulang kali.

Well, She’s such a wonderful and powerful mom! I feel very blessed having her. That’s why I love her so much. Makanya, saya ingin kasih hadiah buat dia.

Rasanya handphone baru bakal jadi hadiah yang cocok buat dia. Pasalnya, selama ini handphone miliknya boleh dibilang ‘jadul’. Gimana nggak jadul kalau semua handphone yang pernah dia punya adalah lungsuran dari Bapak? 😀

“Yang penting mah masih bisa buat SMS, telpon, sama buat internetan!” katanya.

Memang sih handphone kepunyaannya masih bisa dipakai. Tapi kalau nuruti kegemaran Ibuk yang doyan banget jepret sana jepret sini di sekolah bareng bocah-bocah, kamera handphone Ibuk jelas nggak mendukung. Kan sayang kalau gambarnya ngeblur. Hehe …

Lagian kalau Ibuk punya handphone baru, siapa tahu dia jadi lebih sering nelpon. Hahaha …

Semoga kalau nanti saya ada rejeki bisa kasih hadiah kejutan buat Ibuk. Doakan, ya!

 

*PS: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia.   

Leave a Reply

Required fields are marked*