Ceritaku, Edukasi

Pentingnya Figur Ayah Bagi Anak!

Kehadiran Ayah dalam pengasuhan akan menghasilkan anak yang cerdas secara emosional, potensi lebih optimal dan bertanggungjawab – Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati.

Kalau ditanya “Apa dan kapan momen yang paling berkesan ketika bersama ayah?” . Barangkali saya akan mikir sedikit lebih lama. Pasalnya, ada banyak sekali momen indah bersama Bapak. Entah sejak saya lahir, balita, beranjak remaja bahkan hingga saya berkeluarga.

Bapak, adalah salah seorang sosok berpengaruh dalam hidup saya, selain ibu. Memori bersama Bapak sebagian terekam dalam beberapa foto di album. Sebagian lagi terangkum indah dalam cerita melalui Ibu, sisanya tergambar jelas lalu lalang dalam ingatan saya.

Suatu kali ketika saya masih usia empat atau lima tahun (saya tidak terlalu ingat), Bapak pertama kali mengajarkan saya naik sepeda. Barangkali pengalaman bersepeda tidak hanya saya yang merasakan tetapi juga jutaan anak-anak perempuan di luar sana.

Saya ingat betul waktu Bapak membelikan sepeda baru beroda empat dengan dominasi warna merah muda, warna kesukaan saya. Girangnya bukan main. Rasanya, waktu itu ingin segera saja naik sepeda itu. Padahal nggowes aja belum bisa 😀

Bapak dan saya versi bocah 😀

Hampir setiap sore Bapak nggak sungkan mengajari saya untuk bersepeda. Mulanya bertahap, hanya di sekitar depan rumah. Lalu, jaraknya bertambah dari satu gang ke gang lain.

Apa saya langsung bisa? Ya jelas nggaklah. Macam bayi yang baru bisa jalan. Bapak bertugas menuntun sepeda dari belakang, sementara saya pelan-pelan nggowes dari depan. Fiuuuhhh. Yang namanya jatuh udah berkali-kali nggak kehitung. Tapi namanya juga bocah nggak ada kata menyerah 😀

Makin sering latihan akhirnya saya makin mahir. Bapak mulai memberikan kesempatan lain ke saya, melepas roda dua bagian belakang. Alhasil saya yang udah mahir nggowes roda empat harus mulai belajar lagi dari nol. Hahaha. Bapak paling jago bikin anaknya ‘ngelap keringat’. Tapi, nggak masalah tetep aja judulnya ‘bocah’ ya tetep dilakoni asal itu kegiatan asyik nan bahagia 😀

Kegiatan asyik lainnya waktu saya masih kecil adalah main layangan. Yap! Meski saya anak perempuan tapi Bapak nggak memilah-milah mainan atau kegiatan berdasarkan gender. Selama itu menyenangkan dan nggak berlebihan hayuuk aja hehe.

Malahan dari bermain layangan ini saya jadi belajar banyak (tentunya nyadar setelah udah gede hehe). Belajar sabar nungguin angin dateng buat nerbangin layang-layang, belajar menghitung antara arah angin dan berat layang-layang, belajar pede karena saya anak perempuan yang bisa nerbangin layang-layang (nggak penting! haha)

Meski Bapak sosok yang asyik diajak ‘main’ tapi sisi ‘garang’ yang bikin anak segan juga pasti ada. Paling inget tuh waktu Bapak meminta saya untuk pakai jilbab di usia saya yang masih amat sangat belia. Kira-kira waktu itu masih kelas empat SD. Tapi, soal busana entah kenapa beliau ikut campur  (pikiran saya waktu itu).

Bahkan masih segar di ingatan saya, saat kelas enam SD, Bapak mewajibkan saya mengenakan jilbab. Di sekolah maupun main-main keluar rumah. Nggak tanggung-tanggung, beliau udah nyiapin seabrek baju seragam sekolah lengan panjang lengkap dengan jilbabnya! “Nih, besok dipakai ya. Karena kamu perempuan dan perempuan wajib pakai jilbab.”

Jujur aja waktu itu saya dongkol, kesel bin pengen banget nangis. Pasalnya, Bapak nggak nanya-nanya dulu anaknya mau apa enggak. Jadilah saya satu-satunya siswa yang pake jilbab di sekolah kala itu. Maklum, sekolah saya waktu itu bukan sekolah berbasis agama. Olokan dan berbagai pertanyaan dari teman-teman meluncur deras bak air mancur. :”D. Saya tanggapi dengan senyum kecut, kadang-kadang cemberut.

Proses ‘mau menerima’ kewajiban pake jilbab itu berlangsung lama. jujur aja saya nggak serta merta bisa nerima menjadi perempuan berjilbab (waktu ituuuu haha). Saya sering konflik batin. Kenapa perempuan harus berjilbab, kenapa sih Bapak saya cawe-cawe banget bahkan hingga soal pakaian de-es-te…de-es-te…

Baru sadar selepas SMA (telat bangeeeet haha). Saya mulai mendapat pencerahan waktu ketemu temen kuliah yang baru belajar pake jilbab tapi gombrongnya ngalah-ngalahin mukenah. Tapi, entah kenapa dia enjoy aja bahkan gaul abiiis. Haha. “Jilbab itu nggak membatasi muslimah untuk  beraktivitas dan berprestasi. Justru melindungi kita untuk bebas berekspresi,” katanya kala itu.

Sejak itu, saya berusaha belajar lagi dan mencari tahu banyak hal tentang jilbab. Dan masyallah, saya selama ini salah udah dongkol sama Bapak. Padahal, niat beliau baiiik banget melindungi anaknya dari orang-orang jahat. Bapak berusaha untuk melindungi anaknya dari siksa api neraka. Naudzubillah.

Well, sebenernya cerita soal momen bersama Bapak ini buanyaaaakk banget. Bukannya saya mau sombong, tapi keberadaan sosok ayah/bapak/papa dalam keluarga terutama buat anak itu emang penting banget!

Menurut salah seorang praktisi psikologi anak, Elly Risman, Indonesia kini mendapat julukan fatherless country alias negara minim peran ayah. Kata beliau absennya peran ayah dalam pola asuh anak dapat mempengaruhi masalah perilaku sosial maupun emosi pada anak.

Peran ayah hanya sebagai ‘mesin ATM’ alias hanya yang bertugas kebagian cari nafkah dan memberikan fasilitas secara material. Sebenarnya, prinsip ini sudah mulai harus dikikis dari sekarang. Karena mengasuh anak harusnya memang berdua, yakni memerlukan hadirnya sosok ayah dan ibu. Tapi menurut bu Elly, sosok ayah tidak hadir secara emosional maupun spiritual dalam waktu yang cukup untuk anak.

Nggak heran saat ini beredar banyaaaak banget berita-berita kriminal yang melibatkan pelaku si anak. Misalnya, anak di usia belasan tahun sudah pakai narkoba, terlibat kejahatan seksual, bahkan berani merampok.

Berdasarkan penelitian dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, sebanyak 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia, dan depresi. Hal itu disebabkan salah satunya karena minimnya peran ayah dalam kehidupan anak.

Saya menyadari peran Bapak dalam keluarga amat penting. Barangkali, tanpa beliau saya tetap anak perempuan cengeng yang nggak bisa dan nggak mau berjuang buat hidup. Dari Bapak saya belajar bahwa hidup ini nggak instan, semua melalui proses. Dan, pesan yang selalu saya ingat dari Bapak “Kita ini punya Allah, nggak usah khawatir soal rejeki dan sebagainya. Intinya, jangan lupakan Allah,”. Ah, terimakasih saja pun tak cukup untuk Bapak :”)

10 Comments

  1. Yup, setuju, bapak jg punya peran penting dlm parenting. Kalau menurutku penyeimbang. Gaya parenting aku lbh ke rasa sayang, perhatian, sopan santun, dsbh. Sementara suami gaya parentingnya lebih ke arah ngelatih si kecil lebih berani, gk cengeng, dsbg.
    Tengkiu udh sharing ceritanya ya mbk, 🙂

    1. Betul mba.. Suami juga punya peran besar ngasuh anak…bikin anak jadi lbh pede ya😊

  2. Hastira

    betul aku merasakannya, bapakku memang kaku banget jadi gak bsia dekat denganku, dunianya hanay ilmu dan buku saja. aku merasa bapakku gak sayang dg aku, setelah dewasa aku baru tahu kaalu beliau menyayangi dg caranya. Mungkin pengalaman beliau yang gak dekat dg aayhnay juga krn sesautu hal. Untungnay suamiku sekarang dekat dg anak2

    1. Iya mba tiap Bapak punya caranya sendiri ya buat nyalurin kasih sayangnya 😊

  3. Saya sudah tidak punya Ayah sejak 5 tahun, tapi masih ada seorang mama yang bisa memberikan kasih sayang terbaiknya… Tapi satu wejangan yang saya inget dari ayah saya adalah : hidup jujur dan displin 🙂

    1. turut berduka ya mbak 🙁 . meski telah tiada yg penting nilai2 hidup dari beliau tetap melekat ya 🙂

  4. Setuju mba, baik Ayah maupun Ibu memiliki peran yang sama pentingnya dalam perkembangan anak-anaknya

    1. betul mba…saling menyeimbangi yaa 🙂

  5. Figur seorng ayah sgt lsh pnting…

  6. Seneng baca tulisan ini, kenangan yang indah bersama bapak ya mbak.
    Saya dulu mulai pakai Jilbab saat kelas 2 SMA. Bukannya dapat dukungan, malah dapat tentangan keras dari ortu, terutama bapak. Untuk menyiasati baju seragam sekolah supaya tetap bisa dipakai, saya manfaatkan uang tabungan untuk membeli kain putih. Saya tambal bagian lengannya agar jadi panjang. 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*