Sebuah pesan di smartphone saya masuk. Singkat dan penuh permohonan.

“Kamu pernah mastitis? Sakit banget ya ternyata. HELP!”

Begitu pesan singkat seorang teman lama yang sedang menjalani perannya sebagai ibu baru. Dulu kami teman SMP, kini telah menjalani kehidupan masing-masing. Saya di Malang, dia di Bandung. Kalau pun kami bertetangga, saya akan segera meluncur ke rumahnya, dan nggak segan menawarkan bantuan untuknya.

Saya tahu rasanya seperti apa.

Teringat kembali malam itu. Satu tahun lalu, tepat saat Akmal masih berusia tiga minggu. Malam itu seperti biasa saya menyusui Akmal menjelang tidur. Namun entah kenapa tiba-tiba badan saya menggigil, saya kedinginan. Padahal saat disentuh, tubuh saya panas sekali.

Ya Allah apa lagi ini? Batin saya ketika ujian sebelumnya-Akmal harus dirawat di NICU selama tiga hari lantaran kuning-baru saja selesai.

Awalnya saya mengindahkannya. Saya mengatur ulang posisi menyusui dengan berbaring menyamping. Sebelumnya duduk. Saya pikir ah palingan bentar aja ini menggigilnya. Namun ternyata makin malam makin parah. Ditambah sakit kepala yang berdenyut-denyut, payudara saya pun ikut nyut-nyutan, sakit sekali. Saya mulai nggak kuat melanjutkan menyusui Akmal.

Karena seluruh anggota keluarga di rumah khawatir, terpaksa malam itu saya dibawa ke UGD RSAL Surabaya. Dan Akmal saya tinggal di rumah bersama ibu, karena suami saya sedang bekerja di luar kota. Terpaksa lagi dia harus minum susu formula. Ah hati rasanya ikutan cenut-cenut. Sedih banget lah pokoknya.

Sampai di rumah sakit saya harus ngantri. Makin malam ternyata pasien makin banyak. Ya sudah pasrah lah.

Saya duduk sambil merapat kan jaket, sesekali menengok ke ruangan periksa menunggu giliran nama saya dipanggil.

Saat tiba nama saya dipanggil, dokter umum tersebut menanyakan keluhan saya, memeriksa detak jantung, dan suhu tubuh saya yang mencapai 39 derajat celcius! Pantas panas sekali. Tim kesehatan segera meminta saya untuk cek darah di laboratorium. Hasilnya leukosit alias sel darah putih saya jumlahnya berlebih. Saya nggak paham maksudnya. Tapi kata dokter itu berarti ada banyak bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Dokter hanya memberikan saya antibiotik melalui selang infus. Tidak sampai bermalam, hanya beberapa jam saja. Setelahnya saya diizinkan pulang dan diresepkan antibiotik untuk diminum di rumah, yang tentu saja aman dan tidak berpengaruh ke ASI.

Saat itu dokter umum yang memeriksa belum mendiagnosa dan memutuskan bahwa saya kena mastitis. Dokternya cuman bilang “mungkin kelelahan bu. kan habis melahirkan,”.  Karena kurang puas besoknya saya pun kembali konsultasi pada dokter anak yang pernah menangani Akmal saat dia kuning dulu. Saya baru mengetahui kalau terkena mastitis setelah payudara yang bengkak tak kunjung kempis selama dua hari. Dan sakitnnya nggak ketulungan!

Saat dilihat ciri-cirinya, dokter anak pun menyimpulkan bahwa saya memang terkena mastitis dengan gejala seperti:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38-40 derajat Celcius
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.

Waktu dijelaskan sama bu dokter, ternyata mastitis itu nggak bisa disepelekan ya. Pada kasus mastitis ini terjadi proses peradangan payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir.

Kalau ia dibiarkan maka bisa berujung mastitis berulang/kronis dan abses. Waduh apa lagi ya itu?

Yakni kondisi dimana ciri-ciri di atas yang tak kunjung menghilang selama berhari-hari. Jadi harus segera diambil tindakan bedah. Tujuannya untuk mengeluarkan cairan ASI yang terkumpul dan tidak terdistribusi ke bayi dengan sempurna. Hiks serem ya!

Mengatasi Mastitis

Beberapa cara akhirnya saya lakukan demi ‘mengusir’ mastitis ini.

  1. Mengompres payudara dengan handuk hangat setiap beberapa jam sekali.
  2. Sesering mungkin menyusui si bayi. Kalau dia menunjukkan tanda-tanda kenyang, ya diperah dulu lalu masukkan ke dalam botol. Katanya sih mastitis itu terjadi karena menumpuknya ASI yang tersumbat dan membuat payudara jadi membengkak.
  3. Pijat. Minta tolong suami atau tukang pijat deh buat mijat punggung sama leher. Kalau pun nggak ada orang kita bisa kok memijat sendiri terutama pada payudara yang bengkak. Dulu pas di RS diajarin sama bu bidan dan DSA kalau memijat payudara secara memutar dan pijat searah ke puting . Setelah dipijat rasanya lumayan banget, lebih enteng dan rileks.
  4. Hindari pake bra yang ketat atau nggak usah sama sekali deh! Ini selama di rumah aja sih hehe. Selama menyusui saya malah lebih suka pakai pakaian yang longgar termasuk bra. Rasanya lebih ‘plong’ aja hehe.
  5. Bersihkan area puting dan aerola payudara sebelum dan sesudah menyusui. Saran dokter bisa membersihkan dengan kasa yang dicelupkan air hangat. Atau dengan ASI kita sendiri, ini berfungsi sebagai antibiotik alami.
  6. Memperhatikan posisi menyusui yang benar. Ternyata di awal menyusui saya tidak memperhatikan hal ini. Posisi menyusui yang salah, yakni bayi hanya menyusu area puting saja menjadikan ASI tidak terserap dengan baik oleh bayi. Sehingga menyebabkan pembengkakan payudara.

    Macam-macam posisi menyusui.
    Sumber : mommybites.com
  7. Mandi air hangat. Seriusan ini bikin rileks.
  8. Banyak istirahat dan minum air mineral. Pertama kali melahirkan rasanya memang lelah banget ya. Dan terlalu lelah ini bisa memengaruhi produksi ASI lho. Kalau stress bisa ‘macet’. Mau nyuci baju udah lah nggak sanggup haha. Jadi serahkan sementara sama asisten rumah tangga, atau suami hehe. Kalau saya kebetulan selama beberapa bulan setelah melahirkan tinggal di rumah ibu, jadi banyak yang bantuin. Alhamdulillah.

Selama melakukan beberapa hal tersebut, kondisi payudara saya berangsur pulih. Dari sinilah saya jadi sadar betapa pentingnya lho ilmu menyusui itu! Jadi sebelum melahirkan memperbanyak ilmu soal menyusui itu penting. Dulu saya terlalu fokus mencari tahu bagaimana mengurus bayi, pernak-pernik untuk bayi dan segala hal soal ‘makhluk kecil’ yang ada dalam perut. Saya lupa pada diri sendiri. Padahal kita (ibu dan bayi, dan suami) satu kesatuan tim. Jadi ya kudu kerja sama.

Menyusui memang nggak semudah dan seindah iklan-iklan di tivi maupun foto-foto yang bersliweran di media sosial. Namun saat kita memberikan ‘cairan kehidupan’ pada anak, saat itulah kita juga ‘mentransfer’ cinta dan kasih sayang padanya. Jadi semangat menyusui buibu! 🙂

12 COMMENTS

  1. Wah baca artikel tentang Mastitis seperti ikut merasakan sakitnya. Orang Jawa bilang payudaranya metheng-metheng ya mba karena ASI yang tersumbat. Semoga ibu muda bisa mengatasi dengan tips2 yang sufah mb infokan. Artikel bermanfaat..
    😊

  2. Wah, baru kenal istilah ini.
    Alhamdulillah anak 3 nggak pernah ngalami. Kalau payudara bengkak karena terlalu banyak ASI dan nggak keminum sih iya, tapi nggak sampai membuat badan jadi demam

  3. Pernaah juga beginii jdinya dikompres pake botol isinya air hangat. Berkurang dikit aja tapi..akhirnya di pumping terus pokoknyaa… semaleman ga bs tidur nyenyak..

  4. Aduh kalo inget mastitis langsung merinding disko deh. Cakiittt. Penting banget emang belajar ilmu menyusui pas masih hamil. Banyak banget yg belum kita tau.
    Jadi inget postingan lama tentang menyusui ini di blogku..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here