Dulu sebelum menikah saya mulai membekali diri dengan ilmu ke-parentingan. Beberapa kali sempat mengikuti seminar atau talkshow bertema pendidikan keluarga atau pengasuhan anak. Beberapa buku bertema serupa pun saya lahap. Bahkan nggak segan pula saya bertanya atau diskusi dengan ibu-ibu senior yang sudah berkeluarga.

Eeeeh tapi saat si kecil lahir semua teori parenting yang saya pelajari sebelumnya berasa menguap entah ke mana. Haha. Beda banget buk teori sama praktik! Jujur aja sih saya berasa jetlag menjalani peran baru sebagai orangtua, -sebagai ibu- . Apalagi masa-masa awal ketika si Akmal baru lahir. Seakan dunia saya terbalik menjadi 360 derajat! Hehe. Jam tidur jadi tidak teratur, mau ke kamar mandi ditangisi, menyusui pun disambi dengan makan. Hehe. Capek sih tapi ya seru!

Membiasakan Komunikasi Sejak Kecil

Makin bertambah usianya, saya makin menikmati peran saya menjadi ibu. Rasanya menyenangkan ada teman kecil yang selalu ada di samping! Hampir setiap saat saya ajak dia ngobrol tentang apa saja! Mulai dari apa saja yang mau saya lakukan hari itu, hari ini mau masak apa, tentang tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, hewan-hewan, dan masih banyak yang lain.

Apakah lantas dia menanggapi ocehan saya? Tentu saja tidak! Haha. Namun menurut beberapa penelitian mengungkapkan, mengajak komunikasi sejak bayi itu menambah kecerdasan anak lho! Ini salah satu poin parenting yang dulu saya pelajari lalu saya terapkan sekarang. Memang dia belum bisa menanggapi dengan berkata-kata, tapi kata-kata yang kita sampaikan akan membekas di memorinya (kata ahli sih begitu ūüėĀ) .

Misalnya nih, saat saya akan pergi ke luar kota saya akan cerita soal perjalanannya seperti apa, naik apa ke sana, situasi selama di perjalanan seperti apa dan kerapkali saya bisiki dia agar happy selama perjalanan hehe. Nanti di perjalanan yang happy, ya! Nggak rewel ya!” Dan seringnya dia akan tidur selama perjalanan. Haha.

Mengenalkan Buku

Saya dan suami termasuk yang doyan baca. Meski selera bacaan kami berbeda, tapi hobi ini menjadi salah satu jembatan kami akhirnya suka satu sama lain…eaaaa #curhat. Haha. Nah, untuk itu kami juga mengenalkan Akmal pada buku sejak bayi. Pas awal-awal tentu saja dia nggak peduli, tapi makin ke sini dia makin menunjukkan ketertarikan terhadap buku. Setiap mau tidur atau bahkan bangun tidur dia¬†nunjuk-nunjuk¬†buku favoritnya yang bergambar hewan-hewan.

Mengenalkan dan Mendekatkan pada nilai-nilai Agama

Dalam pengasuhan dan pendidikan keluarga ini hal yang menjadi pondasi (menurut saya, ya). Dari hal yang kecil saja dulu. Misalnya, mengawali segala sesuatu dengan berdoa. Mau makan, tidur, bangun tidur, masuk kamar mandi hingga mau menyusui saya selalu bilang ke Akmal¬†“Berdoa dulu, ya. Bismillah…”.¬†

Apakah dalam menerapkan ilmu-ilmu parenting tersebut selalu berhasil? Oh tentu tidak ibu-ibu! Hehe. Saya akui masih banyak cela. Hiks. Memang teori selalu lebih mudah daripada praktik dan ekspektasi nggak pernah akur sama realita. Ada beberapa hal yang masih saya terus belajar hingga saat ini. Misalnya, terkait pengelolaan emosi. Kadang kalau sudah terlanjur emosi si Akmal kebagian saya omelin. Habis itu nyesel deh ūüôĀ

Padahal cerdas mengelola emosi bisa memengaruhi kepribadian anak, lho. Jadi ingat sama postingannya si Nabila, salah satu parenting blogger Indonesia, beberapa hari lalu. Dia cerita soal metode parenting orang Denmark dalam buku The Danish Way of Parenting. 

Berdasarkan buku tersebut mengungkapkan bahwa salah satu tingkat kebahagiaan orang Denmark dinilai berdasarkan pola asuh dalam keluarga yang turun temurun. Mereka menerapkan lima poin yakni, Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No Ultimatums, dan Togetherness.

Apaan tuuuh? Jujur aja sih saya juga belum baca langsung, baru baca reviewnya haha.

Kalau yang saya baca di reviewnya, poin Play menerapkan keaktifan anak dalam segala permainan dan manfaatnya ke depan. Dengan banyak bermain anak menjadi lebih berani, percaya diri dan tangguh dalam menghadapi persoalan. Lalu ada poin Authenticity, mengedepankan kejujuran dalam pengasuhan. Reframing, artinya memaknai ulang atau melihat segala sesuatu dari berbagai sisi. Emphaty, mengajarkan empati sejak dini dinilai bisa menjadikan anak lebih peka dan bahagia di masa kelak. No Ultimatums, tidak menggunakan ancaman dalam mendidik anak sebab bisa membuatnya minder. Terakhir ada Togetherness, berkumpul bersama keluarga menjadi faktor bahagia kehidupan anak dan keluarga.

Dari poin-poin tersebut rasanya saya masih banyak PR nih dalam pengasuhan anak. Misalnya saja memberikan¬†ultimatum¬†kalau anak “susah” dibilangin. Huhuhu ūüôĀ

Jadi pengen baca ini buku. Kalau buku keren begini wajib nih punya sendiri. Nah, kebetulan banget si Nabila lagi ngadain giveaway buku ini. Yuk, buibu pada ikutan!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here