Ceritaku

Normal atau Caesar, Kau Tetaplah Seorang Ibu

1 Juli 2017, seorang bayi bernama Muhammad Akmal Riadi lahir melalui persalinan caesar. Akmal, begitu panggilan putra pertama kami panggil. Alhamdulillah jagoan kecil kami lahir dalam keadaan sehat wal’afiat dengan bobot 3,3 kilogram dan panjang 51 sentimeter.

Jauh hari sebelum melahirkan, saya bertekad untuk melahirkan melalui persalinan normal. Saat itu saya ngeri membayangkan persalinan caesar. Terbayang pedihnya perut kita harus dibedah untuk mengeluarkan seorang bayi.

Segala upaya saya lakukan demi menghindari persalinan secara caesar. Berusaha menjaga pola makan. Saya juga menjaga kondisi fisik mulai dari senam hamil setiap akhir pekan, rutin jalan pagi setiap hari selama setengah jam, jongkok ngepel lantai rumah, juga menirukan gerakan-gerakan tarian yang dipandu dari channel youtube hampir setiap hari menjelang lahiran. Tujuannya hanya agar sang jabang bayi keluar dengan lancar.

Rutin mengajaknya komunikasi sejak dalam kandungan juga sudah saya lakukan. Katanya, supaya ada chemistry saat kami nanti bertemu. Segala wejangan dari Ibu juga berusaha saya kerjakan. “Jangan lupa diajak ngaji bayinya, diajak sholawat biar nanti persalinanmu lancar,” begitu pesan beliau.

Saya juga selalu menyugesti diri bahwa saya bisa melahirkan normal. Rapalan itu hampir setiap hari saya tanamkan dalam pikiran. Kurang apa lagi? Dengan segala usaha saya saat itu, saya membayangkan proses persalinan akan berjalan indah dan menyenangkan layaknya proses persalinan para artis dan mamah muda di instagram.

Hingga semua yang saya rencanakan dan usahakan itu akhirnya buyar. Impian melahirkan secara normal hanya tinggal kenangan.

Memasuki usia kehamilan minggu ke 41, sang jabang bayi tidak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan keluar. Saya sempat merasakan mulas seminggu sebelum melahirkan. Tapi itu pun hanya sehari dan tidak kontinyu. Awalnya saya tenang-tenang saja. Apalagi kontrol terakhir ke dokter kandungan kondisi saya dan janin baik-baik saja. Semua organ bayi lengkap, sehat dan saya juga merasa fit. Saya juga sempat ikut solat idul fitri. Namun, pada hari raya itu pula belum ada tanda-tanda sang jabang bayi akan lahir.

Saya mulai dihujani pertanyaan-pertanyaan dari kanan kiri. “Kok belum lahir-lahir juga?”, “Kurang gerak kali ya mbak makanya baby-nya anteng di dalam,”, “Udah dicek ke dokter? Hati2 lho nanti kalau kelamaan bayinya kenapa2”, dst… dst… dst.

Sejak awal saya sudah berusaha untuk tenang menghadapi persalinan pertama ini. Tapi pertanyaan-pertanyaan dari kanan kiri malah membuat saya menjadi was was dua kali lipat dari sebelumnya. Stress itu pasti. Tapi alhamdulillah suami selalu berusaha menenangkan dan mendukung saya.

Tepat tanggal 30 Juni saya kembali kontrol ke dokter kandungan. Seperti biasa dokter menanyakan keluhan apa yang selama ini saya alami selama masa kehamilan. Alhamdulillah selama hamil mendekati lahiran ini saya merasa sehat dan baik-baik saja. Hanya mual biasa di awal-awal bulan kehamilan.

Lalu dokter mengecek kondisi janin saya melalui USG. Dengan teliti dokter memeriksa dan mengamati dengan seksama kondisi janin saya. “Wah ini sudah lewat bulan lebih usia kandungannya. Ari-arinya juga sudah mulai mengapur,” ujar dokter kandungan.

Deg!

Sontak saya dan suami kaget. Pasalnya selama kehamilan saya tidak merasakan apa-apa. Saya juga sempat bertanya-tanya kenapa bayi dalam perut tak kunjung menunjukkan tanda-tanda.

Melihat penampakan USG tersebut, dokter pun menyarankan kepada saya tiga opsi. Segera dilahirkan, yang artinya harus melalui proses persalinan caesar, menunggu namun dokter memberi catatan risiko yang berdampak pada janin maupun ibunya. Dan opsi lainnya dirangsang dengan obat melalui infus (induksi).

Malam itu saya galau luar biasa. Tekad saya untuk melahirkan melalui proses normal masih tertancap kuat di pikiran. Saya berusaha berpikiran positif kalau saya bisa melahirkan lewat persalinan normal. Kamipun memilih supaya dilakukan proses induksi.

Malam itu juga saya segera masuk kamar bersalin. Dua bidan mengecek tekanan darah, mengukur kondisi detak jantung serta mengukur suhu tubuh.

Botol infus pertama dimulai tepat jam sebelas malam. Suster mencari-cari urat nadi saya agar tepat sasaran untuk disuntik. Sesungguhnya saya benci sekali jarum suntik. Bohong kalau disuntik itu hanya seperti digigit semut. Tentu saja lebih perih dari itu.

Tiap satu jam suster mendatangi saya untuk mengecek semuanya. Mulai dari tetesan obat infus, suhu tubuh, tekanan darah serta kondisi detak jantung. Tak lupa “cek dalam” untuk mengetahui apakah sudah terjadi pembukaan. “Belum ada pembukaan, Bu,” ujar suster setelah 2 jam infus berjalan. Saya sabar menunggu.

Hingga obat infus pertama habis, namun belum juga ada tanda. Saya tidak merasakan mulas sama sekali, pembukaan pun tidak nambah-nambah. Saya mulai gelisah. Dokter kandungan pun menawarkan induksi kedua. Saya setuju.

Induksi kedua berjalan, hampir sama dengan sebelumnya, rasa mulas tak kunjung datang, pembukaan pun mentok di pembukaan satu.

Dokter kandungan saya lantas menawarkan induksi ketiga. Tentu dengan memaparkan berbagai konsekuensi serta risikonya. Saya mulai down. Tapi suami berusaha tetap tenang. Kami pun berembug di bangsal ruang bersalin. Akhirnya keputusan persalinan caesar kami ambil. “Demi keselamatan bayi dan ibunya,” kata suami.

Air mata saya mulai menetes. Saat itulah saya merasa seperti calon ibu yang gagal. Saya tak henti menangis sebab saya tidak jadi melahirkan melalui proses normal. “Nggak ada hubungannya melahirkan normal atau caesar sama label ibu yang sempurna atau yang gagal. Melahirkan caesar pun kamu juga nanti jadi ibu,” kata suami menguatkan saya.

Saat Aqiqah Akmal, 8 Juli 2017

Proses persalinan pun berjalan cepat. Setelahnya saya merasakan pedih yang luar biasa. Rasanya mau saya copot saja anggota tubuh bagian perut ke bawah. Jadi tolong ibu-ibu ditahan celetukannya kalau melahirkan caesar itu lebih enak. Menurut saya baik caesar maupun normal, tetap sama-sama berjuang. Sebab nyawa taruhannya.

Belum lagi saya harus mendapat beberapa nyinyiran ibu-ibu yang pernah melahirkan normal. Merasa hebat seutuhnya. Saya sedih sekali. Apalagi baru-baru ini beredar video seorang ustad yang menyatakan bahwa melahirkan caesar berarti mendapat gangguan jin. Tidakkah ia merasakan bagaimana proses mengandung, melahirkan dengan cara dibedah perutnya, lalu setelahnya harus mengurus bayi mereka dalam keadaan luka yang masih perih, memberi ASI yang juga menjadi pengalaman pertama dan belum tentu berhasil di awal. Apakah itu berarti kami bukan ibu seutuhnya?

Saya pikir menjadi ibu yang “sukses”, “seutuhnya” atau apapun sederet label yang bikin pusing itu tidak hanya sekadar diukur dari bagaimana proses persalinannya.

Sebab kita sama-sama memperjuangkan hak bayi kita untuk terus hidup. Sebab inilah bentuk jihad perempuan. Menjadi seorang ibu dengan segala paketnya. Karena tugas kita sebagai ibu tidak seketika berhenti setelah si jabang bayi terlahir. Setelahnya, lebih besar, lebih berat dan jelas akan lebih bahagia jika menjalaninya dengan bahagia pula. Ini masih PR buat saya. Karena masih sering suka “gregetan” mengurus bayi, hehehe. Semoga ke depan terus menjadi pribadi dan contoh yang baik buat anak-anak. Semangat buibu!

10 Comments

  1. Baik secar maupun normal semua bayi sudah memilih jalannya sendiri. Banyak temennya kok mbak, yang penting si kecil tumbuh sehat kan sekarang

    1. Betul mbak.. yg penting bayi sehat Alhamdulillah 🙂

  2. betul sekali. Karena keduanya tetap sebuah aktivitas melahirkan dengan perjuangannya masing2.
    Terimakasih ya sudah berbagi cerita. Sangat inspiratif 🙂

    1. Sama2 🙂
      Moga2 bermanfaat yaaa

  3. Wah sama banget mbak pengalamannya.
    Uda ga usah didengerin orang yang nyinyir. Tetep semangat ya 😉

    1. Hehee iyaa mbak tosss dulu 😀

  4. Waktu ngelihat video Pak Ustad awalnya juga agak kaget, tapi Saya coba ambil sisi positifnya dimana ketika janin dibacakan ayat suci Al-Qur’an akan membawa dampak baik yang mana semua atas kuasa Allah SWT. Semoga si kecil & Ibunya Sehat selalu yaa..

    1. Iyasih mba posthink aja ya
      Aamiin..aamiin makasih doanyaa ya 🙂

  5. Saya malah salut bgt mba sama ibu yg melahirkan cesar, aku pribadi takut bgt. Jd hebat untuk ibu yg melewati persalinan cesar. Yg penting sehat ya Mba si dede dan ibunya 🙂

    1. Normal atau caesar ibu sama2 hebat mbaa! Kan surga di bawah telapak kaki ibu hehehe

Leave a Reply

Required fields are marked*