Selain membaca buku, menonton film adalah hal menyenangkan yang Bapak tularkan ke anak-anaknya. Saya ingat betul nonton film pertama ke bisokop adalah saat masih duduk di bangku kelas enam SD.

Nonton pertama bersama Bapak kala itu berjudul Brother Bear. Sebuah film animasi produksi Walt Disney yang dirilis pada 2003 silam. Wow udah belasan tahun yang lalu! Jujur saja kalau sekarang diminta menceritakan ulang filmnya  secara detail saya sudah lupa, samar-samar hehehe.

Intinya sih tentang seorang remaja Inuit (biasa dikenal orang-orang Eskimo) yang tetiba “dikutuk” sama leluhurnya jadi beruang. Sebab dia menumpahkan amarahnya dan membalas dendam lantaran kakaknya terbunuh oleh beruang.

Selanjutnya adalah cerita petualangan si Kenai saat menjadi beruang menemukan arti cinta, persahabatan, empati dan nilai-nilai baik yang diungkapkan dalam film berdurasi 85 menit ini.

Mengapa film ini berkesan sekali?

Sebab ini film pertama yang saya tonton di bisokop bersama Bapak. Saya pertama kali merasakan nonton film di hadapan layar sebesar 10 kali aquarium ikan di rumah.

Pertama kalinya mendengar suara dentuman dari sebuah layar yang besar. Pertama kalinya nonton harus bayar semahal itu.

Pertama kalinya merasakan atmosfer sebuah bioskop. Because there’s always first time for everything. Karena itulah berkesan banget buat saya.

Sepulang dari menonton tak henti-henti saya mengoceh soal film itu pada adik saya, ibu dan seisi rumah juga teman-teman yang saya temui.

“Filmnya keren banget!”, “Makasih ya Bapak sudah ajak aku nonton ke bioskop. Kita harus ke sana lagi lebih sering!”. Hingga berminggu-minggu setelahnya film Brother Bear itu masih saja membekas dalam ingatan, backsound dan soundtracknya pun masih terngiang-ngiang di telinga.

Sejak itu saya jadi ketagihan nonton film.

Selain film animasi, Bapak juga “meracuni” saya film bergenre action dan kolosal. Fillm-film bernuansa konspirasi, detective dan yang mengandung intrik-intrik begitu. Makanya sebelum saya kenal sama drama korea saya agak males nonton film yang mengandung menye-menye hehe.

Film Kolosal yang Menarik untuk Ditonton

Ada beberepa film kolosal yang saya suka atas rekomendasi Bapak.

Pertama, The Last Samurai. Saya nonton ini pas SMP. Film yang dibintangi aktor utama, Tom Cruise, ini berlatar sejarah Jepang tepatnya pada masa Restorasi Meiji.

Film ini tentang pemberontakan kaum Samurai terhadap pemerintahan kaisar yang ingin menjadikan Jepang menjadi lebih modern. Salah satunya dengan menghapus beberapa cara-cara tradisional Jepang dan mengadopsi nilai-nilai barat.

Jujur saja saat nonton ini saya tuh nggak paham di balik film ini ada misi apa dan goals dari sutradaranya maunya apa. Ya gimana ya anak SMP nonton film begitu ngertinya cuman “wuih keren banget ngambil gambarnya”, “wow pemandangan latar filmnya baguuus”, “yampun Tom Cruise ganteng banget siiih di situ”. Hahaha.

Cuman dari film itu saya jadi tertarik sama budaya Jepang. Salah satunya sama bahasanya. That’s why saat SMA saya ikutan kelas tambahan bahasa Jepang. Dari sebuah film menjadikan saya untuk belajar banyak hal baru, salah satunya ya budaya dan bahasa yang diungkapkan dalam film tersebut.

Film bergenre kolosal selanjutnya yang sangat membekas di memori adalah The Message. Film besutan sutradara keturunan Suriah-Amerika,  Moustapha Akkad ini mengisahkan tentang kehidupan dan perjalanan Nabi Muhammad dalam berdakwah Islam.

Film ini durasinya panjang banget. Hampir dua jam setengah lebih. Tapi duduk nonton selama itu nggak membuat saya merasa bosan, malah pengen nonton lagi dan lagi.

Bisa dibilang ini film kolosal yang wajib ditonton seluruh umat Muslim! Film yang membawa pesan kedamaian, nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya mendakwahkan Islam. Seluruh aktor, sinematografi, latar film, akting, serta jalan ceritanya saya acungi jempol. TOP BANGET pokoe! Hehehe.

Saya ingat betul nonton film The Message pakai layar tancap di komplek rumah. Karena ini film lawas banget dan saat itu saya belum lahir. Jadilah ada tetangga yang mendapat film itu dari VCD yang dia beli entah di mana.

Lalu, saat perayaan Isra’ Mi’raj warga se RT mengusulkan nonton bareng dan Bapak menawarkan untuk nobar film ini. Mulai dari anak-anak, bapak, ibu hingga mbah-mbah pada takzim nonton film yang pernah mendapat nominasi Musik Orisinal Terbaik dalam Academy Awards ke-50 ini.

Selain kedua film kolosal yang saya sebutkan di atas, sebenarnya ada banyak sekali daftar film kolosal yang saya suka. Diantaranya The Lord of The Rings, Braveheart, Red Cliff, Robin Hood, The Chronicles of Narnia : Prince Caspian, Gladiator, Troy dan masih ada beberapa deretan film kolosal lainnya yang tentu saja nggak bisa disebutkan di sini semua hehe. Nanti ini jadi blog review film dong hahaha.

Yang jelas dari beberapa judul film yang saya sebutkan di atas, hampir kesemuanya nonton sama Bapak atau atas rekomendasi Bapak.

Dari referensi film-film tersebut sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya. Bahwa hidup ini kudu diperjuangkan, jangan menyerah begitu saja, harus bertahan sama situasi sesulit apapun dan terus berusaha mencoba mencari jalan keluar. How to survive.

Selain itu akibat dari nonton film-film bergenre itu membentuk saya nggak gampang jatuh cinta sama cowok (dulu sih gitu hahaha).

Saat masih anak gadis ((saelah)) dulu ini tu menjadi indikator dalam selektif memilih kekasih hati. Hahaha konyol banget ya. Saya akan nyoba ngajak ngobrol apasih referensi filmnya. Kalau menye-menye ya sorry to say saya kok nggak tertarik. Hahaha. Karena bakalan nggak nyambung. Itu sih pikiran labil dulu.

Buat saya menonton film tak sekadar untuk hiburan, tetapi juga bagaimana film tersebut bisa membentuk dan membuka mindset terhadap sebuah isu. Film adalah media paling berpengaruh untuk sebuah propaganda. Terserah, mau propaganda bernada positif ataupun negatif. Tergantung sudut pandang si penonton.

Kalau kamu sendiri suka nonton film jenis apa?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here