Saat ngubek-ngubek foto lama di laptop saya menemukan folder summit Mahameru. Ingatan saya terlempar ke enam tahun lalu. Kali pertama saya mendaki gunung. Nggak main-main dong mendakinya langsung ke gunung Semeru. Sungguh sebuah kesoktahuan yang tidak patut dicontoh.

Di folder itu ada salah satu foto saat saya duduk di atas puncak Mahameru. Wajah saya super kuyu tapi tetap berusaha tersenyum di depan kamera.

Tiba-tiba saja rindu naik gunung menyeruak dalam dada. Ah, apa kabar Mahameru? Semacam gagal move on padahal ya udah enam tahun lalu hehehe. Dan sedikit banyak sudah lupa cerita detailnya.

Yang saya ingat betul menuju puncak Mahameru adalah sebuah perjalanan panjang dan menantang.

Selamat Datang di Ranu Pani

Empat jam sebelum tiba di Ranu Kumbolo, saya dan teman-teman pendaki lain harus jalan kaki selangkah demi selangkah yang bermula di Ranu Pani. Di sini titik kumpul para pendaki untuk berurusan dengan administrasi dan registrasi

Ranu Kumbolo sehabis subuh

Kami nggak berlama-lama di sini. Hanya mengurus surat-surat, mampir ngopi di warung penduduk desa sebentar lalu memulai perjalanan agar tidak terlalu malam sampenya.

Sepanjang perjalanan di sisi kanan kami dikelilingi petak-petak sawah yang ditanami sayur kubis, kentang dan bawang prey. Kebetulan berangkat pagi jadi udara terasa masih sejuk dan bersih. Ah, langsung berasa relaxing. Di sini juga beberapa penduduk buka warung buat para pendaki yang mau istirahat sejenak. Bahkan beberapa juga menyediakan homestay.

Karena saya baru pertama kali banget, perjalanan kami dilakukan santai saja. Jalannya kadang naik kadang turun. Satu jam pertama jalan udah berasa banget sih ngos-ngosan. Bahkan dua jam setelah jalan saya sempat jatuh terperosok ke lubang gitu. Gegara udah lelah sih hehe. Tapi tetep harus semangat! Dan buat yang mau mendaki sebelumnya memang kudu olahraga dulu! Saya seminggu sebelumnya udah nyempetin jalan kaki dan jogging tiap hari.

Jalan kaki selama kurang lebih empat jam untuk mencapai Ranu Kumbolo membutuhkan tenaga yang ekstra. Saya beberapa kali minta berhenti sama teman pendaki yang jadi leader. Tapi katanya malahan jangan terlalu sering berhenti nanti akan cepat lelah. Alhasil, kita berhenti di pos-pos tertentu yang sudah disediakan. Ya berhenti sih sesekali numpang minum doang hehe.

Bermalam di Ranu Kumbolo

Saat teman saya berteriak “Ayok semangat di depan tuh udah kelihatan Ranu Kumbolo!”

Wah saya yang udah lesu merasa capek banget pengen pulang eh langsung bangkit semangat lagi. Yeay! Si anak mager ini akhirnya bisa juga sampai di danau yang ketinggiannya mencapai 2.389 mdpl ini.

Nggak lama dari situ saya langsung disambut sama danau yang dikelilingi sama pepohonan, bukit-bukit dan tenda-tenda para pendaki yang sudah lebih dulu tiba. Sebelum hari beranjak dingin dan terlalu malam kami segera bahu membahu mendirikan tenda. Kalau saya sih bagian yang bikin indomie aja haha karena nggak paham sama urusan tenda hehe.

Sekarang para pendaki ini sudah pada berkeluarga haha

Menjelang tengah malam, dinginnya sungguh ampun-ampunan! DINGIN BANGET MASYA ALLAH! Sampe gemeteran kaki tangan saya. Tidur jadinya nggak nyenyak banget untungnya sih temen bawa sleeping bag jadi relatif lebih hangat lah. Pas ke sini masih single sih coba kalau udah bareng suami lumayan ada yang bisa dipeluk hahaha.

Menuju Puncak Mahameru

Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Kami melewati Oro-oro ombo sebuah padang rumput dan tanaman verbena yang luas banget. Treknya biasa aja, relatif landai.

 

Lima jam perjalanan menuju Kalimati. WOW kan! Saya merasa bangga bisa jalan kaki sejauh ini hahaha.

Perjalanan dilanjutkan malamnya. Kami memutuskan mendaki ke puncak Mahameru saat jam 10 malam. Tujuannya supaya bisa sampai di puncak subuh. Karena kalau sudah di atas jam 7 pagi tidak boleh ada yang mendaki dikarenakan asap belerang yang keluar dari gunung Semeru sangat berbahaya.

Trek menuju puncak nggak ada yang landai. Jangan harap deh. Menanjak teruuuuss sampai puncak. Sepanjang jalan ke atas nggak ada tumbuh-tumbuhan. Gersang, penuh pasir dan kerikil. Baru separuh perjalananan saya sudah ingin turun dan kembali pulang membayangkan kasur springbed di kosan.

Super melelahkan Yallah. Tapi teman-teman seperjalanan terus menyemangati saya. “Kamu insyallah bisa! Insyallah masih kuat. Yuk jalan lagi itu di depan lagi kita sampai!”. Saya nggak sendiri. Ada banyak pendaki lain dari berbagai kota bahkan mancanegara yang berbondong-bondong menanjak ke puncak. Ada yang menyemangati, ada yang menawarkan minum, ada yang nyapa meski nggak kenal. Rasanya di gunung semua jadi teman.

Perkiraan subuh sampai puncak ternyata meleset. Waktunya jadi mundur hampir sejam karena saya jalannya udah lambat banget di akhir-akhir. Pas subuh sayup-sayup saya mendengar adzan. Nggak tahu deh padahal kan udah hampir separuh puncak bagaimana bisa mendengar adzan itu saya nggak paham.

belum sampe puncak tapi udah lemes haha

Tapi saat mendengar adzan subuh itu saya langsung terharu dan mau nangis. Saya merasa begitu kecil. Nggak ada apa-apanya. Gitu masih aja suka sombong dan merasa hebat.

Tepat pukul 7 saya sampai puncak Mahameru. Alhamdulillah. Saya berkali-kali mengucap takbir dan hamdalah. Beberapa teman pendaki segera mengambil posisi untuk berswafoto ria. Saya memilih duduk selonjoran dan memerhatikan keadaan sekitar. Ada yang diam aja berdiri, ada yang berfoto-foto bahkan ada yang menyempatkan salat di puncak. Masya Allah.

Tidak lupa Allah di manapun berada. Masya Allah.

 

Bersama perempuan-perempuan tangguh.
Oya saya saltum nih pake celana olahraga dan sepatu jogging huhuhu jangan ditiru ya!

Ada banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari pelajaran panjang dan melelahkan menuju puncak Mahameru ini. Bagaimana bertahan hidup, menguji kesabaran dan iman, belajar perhitungan untuk hal apapun, dan persiapan yang matang dalam melakukan apapun.

Meski sudah enam tahun berlalu, tapi saya nggak akan pernah lupa sama momen naik gunung ini. Ah, Mahameru saya rindu.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here