Ceritaku

Menyusuilah dengan Keras Kepala

Dulu saya pikir menyusui itu semudah membuka baju, lalu tinggal sodorkan ASI pada bayimu. Rupanya tidak.

Pasca melahirkan secara caesar saya merasakan perih yang luar biasa. Hal itu membuat saya takut-takut memberi ASI di awal kelahiran bayi saya, Akmal. Setelah melahirkanpun saya tidak langsung dipertemukan dengannya. Kami segera dipisah di kamar yang berbeda. Siangnya kami baru bertemu setelah pagi saya melahirkan.

Perawat meminta saya agar segera memberi ASI untuk Akmal. Karena luka saya masih perih, dengan terpaksa saya menyusui Akmal sembari tertidur. Tidak ada adegan menyusui dengan baju rapi, apalagi make up yang membuatmu tampak segar layaknya iklan-iklan di televisi. Sepanjang menyusui Akmal saat itu saya cuma bisa meringis menahan pedih, ditambah terpasang kateter untuk memudahkan buang air kecil.

Hari ketiga pasca melahirkan akhirnya dokter membolehkan kami pulang. Malamnya, tiba-tiba Akmal panas tinggi. Saya cek dengan termometer suhunya mencapai 38 derajat celcius. Dia tampak lemas dan tidak berdaya. Saya, suami, bapak dan ibu panik. Karena pasca melahirkan saya tinggal sementara di rumah ibu. Segera tepat pukul 11 malam kami kembali ke rumah sakit tempat saya melahirkan.

Dokter spesialis anak (DSA) sudah tidak ada. Saya tambah panik. Saat itu yang ada hanya dokter umum, bidan, dan perawat. Bidan mengatakan (dan mengira-ngira) bahwa Akmal mengalami dehidrasi. “Susui saja bayinya sesering mungkin, Bu. Bisa jadi karena dehidrasi,” ujarnya. Kamipun kembali pulang.

Esoknya suhu Akmal agak turun meski tergolong masih hangat, sumer kalau kata orang Jawa bilang. Sayapun menuruti kata bidan untuk terus menyusui.

Tapi, entah kenapa siangnya ia panas tinggi kembali. Saya berusaha berpikiran positif apakah barangkali karena cuaca yang sedang panas dan sumuk. Saya berikan ASI kembali sambil melakukan skin-to-skin.

Menjelang sore panasnya tak kunjung turun. Meski saya berusaha tenang namun suami mulai gelisah. Akhirnya kami memutuskan membawa Akmal ke dokter spesialis anak pada malamnya.

Saat dibawa ke DSA, Akmal kembali ditimbang. Saya dan suami terkejut. Beratnya tiba-tiba turun drastis menjadi 2,9 kilogram dari berat lahir 3,3.

Lalu dokter memeriksa dengan stetoskop, mengecek suhu badannya dan mengamati seluruh tubuhnya. “Ini bayinya kuning, Bu, Pak. Saran saya lebih baik dibawa ke RS yang lebih lengkap alatnya agar segera difototerapi,” kata-kata dokter membuat saya dan suami dua kali kaget dan lemas.

Malam itu juga tepat jam 8 malam kami segera ke Rumah Sakit Islam Jemursari, Surabaya. Kami dirujuk ke DSA disana.

Awalnya kami ke UGD untuk diproses ke ruang NICU. Kami menunggu agak lama. Sembari menunggu itu Akmal harus diambil darahnya. Dua suntikan. Tangisannya membuat saya nelangsa.

Setelah proses administrasi yang agak lama, jam 12 malam Akmal masuk ruang NICU. Bidan meminta saya untuk memerah ASI sebab Akmal nyatanya harus menginap semalam untuk disinar. Saya coba memerah lebih kurang 15 menit, tapi entah kenapa ASI saya saat itu keluar hanya sedikit sekali. Tak sampai lima mili. Cuma membasahi pantat botol.

Ah saya sedih sekali kala itu. Barangkali akibat saya stress. Akhirnya, terpaksa bidan memberikan susu formula untuk Akmal. “Lebih baik ibu pulang dulu dan istirahat. Supaya ASI-nya bisa keluar banyak. Jangan stress ya, bu!” pesan bidan.

Esoknya saya dan suami kembali ke RS. Ibu membawakan saya bekal makanan banyak sekali. Mulai dari sayur, buah, lauk yang tidak hanya satu jenis, juga beberapa cemilan. “Habiskan! Supaya ASI-mu berlimpah,” kata beliau.

Jam 9 pagi saya dipertemukan Akmal setelah semalam kami berpisah. Saya diberi waktu satu jam untuk menyusuinya. Awalnya dia tampak malas-malasan, mengantuk terus dan seperti ogah-ogahan menyusu. Awalnya geregetan sih, tapi saya ingat kembali kalau ingin menyusui saya harus tenang dan tidak stress.

Hari itu rupanya dia belum diperbolehkan pulang karena ternyata bilirubinnya masih tergolong tinggi. Akhirnya sore kami kembali pulang.

Esoknya saya dan suami kembali ke RS. Alhamdulillah siangnya Akmal sudah boleh pulang. Dokter dan bidan yang merawat Akmal terus mengingatkan saya agar selalu berpikir positif dan jangan stress. Sebab akan mempengaruhi produksi ASI.

Bidan juga mengajari saya bagaimana pelekatan bayi yang benar selama menyusui. Rupanya selama di awal saya salah. Seharusnya bayi menyusu pada seluruh area aerola tidak hanya puting saja. Pantas selama di awal menyusui puting saya sudah luka dan perih. Padahal Akmal belum juga tumbuh gigi.

Sejak kejadian itu saya bertekad untuk memperbaiki kualitas ASI. Alhamdulillah saya mendapat dukungan dari suami dan keluarga. Suami tidak segan membantu pekerjaan domestik seperti mencuci popok, menyapu rumah, dan terkadang menggantikan popok. Setidaknya meringankan pekerjaan rumah agar saya tidak terlalu kelelahan. Karena kelelahan rupanya juga akan mempengaruhi produksi ASI. Ibu saya orang yang paling bawel mengingatkan untuk makan yang banyak. “Kamu tuh menyusui, makan minimal enam kali!” Hoeek saya sampai eneg dicekoki buanyak makanan.

Sejak itu pula ASI saya mulai lancar. Dan Alhamdulillah sampai rembes-rembes. seiring waktu berat badan Akmal terus bertambah secara signifikan.

Menyusui memang melelahkan. Butuh tenaga dan pikiran yang harus selalu tenang. Apalagi saat bayi mengalami growth spurt. Maunya nyusuuu terus. Sampe saya nggak bisa ngapa-ngapain selain menyusui. Belum lagi kalau payudara mengalami mastitis. Demam dan bengkak rasanya nggak enak jadi satu.

Terkadang terbersit pikiran untuk memberikan sufor saja, tapi segera saya tepis jauh-jauh. Sebab bagaimanapun ASI adalah cairan cinta yang sudah Allah sediakan untuk bayi kita. Diperlukan tekad yang kuat untuk memberikan ASI. Sudah banyak sekali artikel dan kajian soal manfaat ASI untuk bayi. Maka mengASIhilah dengan keras kepala. Apapun rintangannya.

Tidak peduli kata orang soal nada-nada sumbang yang meremehkan ASI-mu. Akan selalu ada orang-orang yang nyinyir. Itu pasti. Tapi yang terpenting adalah bayi kita. MengASIhi tidak hanya sekadar transfer “makanan”. Lebih dari itu. MengASIhi berarti juga transfer cinta, kasih sayang, bahkan karakter kita. Saya berusaha saat menyusui anak untuk berpikiran positif, berdzikir, atau bahkan mengajaknya ngobrol. Memang sih tidak mudah. Tapi, hey! Meski belum bisa ngomong dia meresponnya dengan senyuman atau gumaman.

Saat ini rasanya menyusui adalah kegiatan yang membuat saya ketagihan. Matanya yang beradu dengan mata saya seperti kekuatan buat saya untuk terus hidup. Kadang dengan murah dia beri senyuman kala menyusui. Memang di awal tidak seindah yang kita bayangkan. Tapi, bukankah ini salah satu pintu menuju surga? Allah sendiri yang menjanjikan. Jadi, semangat mengASIhi ibuibu!

8 Comments

  1. Semangat Mom, saya juga pernah galau menyusui pas cacar kemarin, Alhamdulillah sehat terus;)

    1. iya mbak meski ibu sedang sakit nggak mencegah kita untuk terus menyusui ya..fighting! 🙂

  2. menyusui itu menyenangkan banget mbak
    interaksi bayi sama bundanya itu lo bisa bikin ketagihan
    saya anak kedua sampai 3 tahun

    1. hehee beneerr mbaaak..suka senyum2 sendiri kalo pas nyusui anaknya ngajak ngobrol haha

  3. Yang bikin bonding antara ibu dan anak semakin erat memang ketika menyusui ada kontak mata, ada saling berpegang tangan, dll 🙂

    1. iya jadi makin pengen uwel-uwel anaknya kalo pas menyusui hehe

  4. mbakku saat melahirkan anak pertama udah heboh aja karena ASInya belum netes juga, tapi perlahan – lahan ASInya keluar, jadi lega ya rasanya. Semangat ASI eksklusif ya mbak 😀

    1. aamiin makasih mbak doanya smoga bisa mengASIhi sampai 2 tahun

Leave a Reply

Required fields are marked*