Beberapa waktu lalu saya “ditampar” oleh tulisan di sebuah artikel mengenai fenomena ibu-ibu zaman now yang menyusui sambil main gadget. Istilah populernya brexting, gabungan dari breastfeeding dan texting. Di artikel tersebut intinya nyindir aktivitas menyusui yang disambi dengan main gadget.

Padahal menyusui adalah momen membentuk bonding ibu dan anak. Sementara saya malah mengabaikannya sejak awal Akmal lahir. Dulu sih tekadnya saat Akmal masih dalam kandungan akan menyusui seperti yang dihimbau sama artikel-artikel parenting itu. Kalau menyusui itu ya menatap lekat mata anak, mengajaknya menyanyi, mengobrol, melantunkan doa-doa atau sekadar mengajaknya bercanda.

Eh ndilalah ekspektasi nggak melulu sejalan sama realita ya huhu alesan aja nih. Sebenarnya saya aja yang nggak kuat tekadnya. Semua bayangan “manis” soal menyusui bubar jalan lantaran saya lebih asyik berselancar dengan gadget. Saya lebih memilih ngobrol dengan teman-teman di Whatssap group, browsing sana sini, scroll-scroll media sosial, sok-sokan ngedraft di blog, bahkan beberapa kali nonton Youtube!

Beberapa kali saya kepergok Ibu kala menyusui Akmal sambil main gadget. Bolak balik beliau mengingatkan bahkan sempat mengomel panjang lebar soal bahayanya menyusui sambil main HP. Dan yah tentu saja saat itu hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri, saya IYA-IYA aja tapi mata tetap lekat ke HP. Astagfirullah…maafkan aku Ibuuu 🙁

Saya tahu kalau menyusui sambil main HP itu ya banyak banget dampak buruknya. Tapi kok tetep aja dilakuin sih? Ya dengan alasan-alasan pembenaran semacam; kan ini sambil nulis blog dikit lagi deadline, kan sambil scroll medsos biar nggak ketinggalan berita, sambil ini sambil itu…

Ngaku aja deh kadang-kadang merasa kalau aktivitas menyusui itu terasa lamaaa banget. Tidur miring lama menyebabkan tangan sebelah kesemutan, masuk angin karena baju bagian depan kebuka sedikit, pernah bengkak karena mastitis, ngantuk tapi belum mau tidur karena banyak yang harus dikerjakan makanya gadget menjadi salah satu pelarian. Hmmm…

Baca juga ya: Pengalaman Mastitis dan Pentingnya Ilmu Menyusui

Hingga artikel itu pelan-pelan mengubah kebiasaan saya selama proses menyusui. Saya pelan-pelan menaruh gadget saat menyusui. Rasanya sangat berat di awal tapi demi menciptakan bonding yang lebih kuat dengan anak, saya harus singkirkan HP sejenak. Saya tatap lekat-lekat mata anak saya. Saya perhatikan caranya menyedot ASI.

Saya ajak dia mengobrol, menanyakan kabar atau apa saja yang dia lakukan hari ini. Meski hanya dijawab dengan gumaman atau tatapan balasan, rasanya itu sudah menenangkan. Sesekali Akmal memberikan saya senyuman kecil. Ia menatap mata bundanya dengan cinta saat saya lantunkan dzikir atau sekadar doa sederhana “semoga jadi anak shalih ya, berakhlak baik, cerdas, nurut sama ayah bunda,”. 

Mendekapnya lebih erat saat menyusui membuat saya lebih merasa terkoneksi dan hadir untuknya. Sangat beda saat saya menyusui disambi main gadget. Dulu yang terjadi diantara kami hanya sebuah “transaksi”, tidak ada koneksi, tidak ada apresiasi. Hanya kontak fisik, tidak ada kontak secara emosional. Seharusnya saya menyadari ini sedari awal dan tidak mengabaikannya saat momen menyusui.

Di akhir artikel itu ada satu hal lain yang makin bikin saya tertohok. Bahwa ibunda Imam Syafi’i melakukan ritual sebelum menyusui. Beliau mengawalinya dengan berwudhu, lalu mengucapkan basmalah dan melantunkan doa-doa untuk anaknya yang kelak di kemudian hari menjadi seorang ulama besar. Lha saya pengen anak jadi seorang hafidz Qur’an tapi hafalan segitu-gitu aja. Momen menyusui malah diisi nonton Youtubenya Raditya Dika!

Baca: Menyusuilah dengan Keras Kepala

WOY! Ayok sadar diri woy. Manusia mah sukanya gitu, ditampar dulu baru kapok 🙁 Bismillah semoga konsisten dengan “Gerakan Taruh Gadget Saat Menyusui”. Doakan saya ya. Inget-inget aja kalau ini momen nggak cuman menciptakan keterikatan sama anak tapi lebih dari itu, balasannya SURGA! Insyallah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here