Living Without ART…

“Udah istirahat sana, biar aku yang cuci piring”, ujar suami saat saya termenung melihat tumpukan cucian piring kotor sedari pagi.

Sebuah kalimat yang rasanya membuat beban agak sedikit berkurang. Bukan, bukannya saya malas cuci piring. Tapi ya memang (kadang-kadang) nggak sempat setelah seharian penuh mengurus bayi dan tetek bengek urusan domestik lainnya. Sebab di rumah saya hanya bertiga dengan suami dan anak kami yang masih berusia 8 bulan. Selain mengurus bayi, semua urusan domestik rumah kami urus sendiri, tanpa asisten rumah tangga (ART). Mulai dari memasak, bebersih rumah, mencuci pakaian, dst…dst…

Gimana rasanya?

Kalau boleh meminjam kutipan mbak Puty dan Mamamolilo ‘Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud!’. Hehehe. Urusan domestik rumah tangga memang sepele tapi kerap kali bikin senewen. Apalagi saya sebagai ibu yang di rumah saja semuanya dikerjakan sendiri. Mengurus bayi tanpa nanny ataupun ART saja kadang-kadang suka bikin pusing ditambah harus mengerjakan urusan rumah. Ibu-ibu stay-at-home pasti tau ya rasanya.

Itulah mengapa buat saya dan suami (alhamdulillah udah nyadar sejak awal haha) urusan domestik rumah tangga itu ya sebaiknya memang kerja sama, saling bahu membahu. Nggak ada yang namanya istri ya urusannya dapur-sumur-kasur sementara suami cari duit aja pulang-pulang minta dibikinin kopi sambil update berita bola atau main game. Enggak.

Urusan Domestik Tugas Berdua Dong!

Memang sih sejak awal nggak ada pembagian tugas yang terlalu terstruktur, tapi alhamdulillah suami dengan sigap mau membantu untuk urusan yang (ternyata) masih dianggap tabu ini. Misalnya, cuci piring, nyapu halaman depan, cuci baju, buang sampah, gantikan popok dan mandikan anak.

Setiap pagi kalau suami berangkat kerja agak siangan (maklum jam kerjanya fleksibel) dan waktu yang dia punya agak longgar, nggak segan untuk memandikan si Akmal. Sementara saya menyiapkan sarapan untuk kami berdua dan Akmal. Lalu masak buat makan siang dan malam. Ini aja bisa memakan waktu berjam-jam karena si bayi yang meminta perhatian terus. Kalau ditinggal sebentar ke dapur udahlah teriak-teriak minta ditemenin. Alhasil, masak simpel macem bikin sayur tumisan sama balado aja bisa molor hiks.

Sreekkk….sreekkk…serius amat bos 😆

Setelah itu biasanya sih saya ngajak main ala-ala edukatif bareng Akmal. Main sensory play, bacain dia buku, atau sekadar nyanyi-nyanyi buat dia. Kalau dia udah tidur siang saya bisa melanjutkan kerjaan yang tertunda, misalnya beberes dapur, cuci piring atau cuci baju. Tapi kalau capek yaudahlah ikutan tidur aja daripada stress. Haha. Kalau suami keluar kota, otomatis saya kerjakan sendiri semuanya.

Sanggup? ENGGAK lah. Haha. Makanya nggak semua saya kerjakan dalam satu waktu. Kalau bener-bener sendirian yaudah yang prioritas aja. Buat saya makan dan kamar bersih itu prioritas. Sebab lapar adalah sumber kemarahan. Orang kalau lapar biasanya kan uring-uringan tuh, sama saya juga. Hehe. Jadi ya masak aja dan beberes kamar, karena kami seringnya main di kamar.

Bagaimana dengan setrika? Bahkan sejak awal menikah saya jarang sekali setrika. haha. Paling-paling hanya setrika saat mau ke kondangan atau ya memang beneran mau ke acara resmi. Baju suami pun seringnya dia setrika sendiri (dasar istri pemalas haha).

(Baca: Hamil Itu Berdua)

Kalau baju Akmal? Saya lipat-lipat aja. Maklum kan ya bayi sehari ganti baju bisa 4-5 kali ganti. Kalau numpuk segunung ya dilipat aja. Baju bayi kan kecil-kecil. Capek bok! Daripada saya pegel dan ujungnya mengeluh uring-uringan karena nggak selesai-selesai setrika ya lebih baik tenaga saya pakai buat yang lain. Menulis curhatan modyarhood di blog misalnya. Hehe.

Apakah lantas suami saya marah-marah karena dia setrika sendiri? Alhamdulillah enggak. Bahkan dia sendiri kok yang sukarela untuk menyetrika baju sendiri. Kalau saya terlampau lelah tetapi baju kotor masih menumpuk, dia inisiatif untuk mencucikan baju kotor kami ataupun Akmal. Tapi kalau dua-duanya lelah yaudah baju kami laundry saja. Hehe. Intinya, suami saya nggak terlalu ambil pusing kalau urusan domestik ada yang belum kelar. Yang utama ya nemenin si bayi.

Selama kami masih bisa tidur nggak kepanasan dan kehujanan, meski lantai masih kotor nggak masalah deh. Meski cucian baju atau piring masih numpuk yaudahlah masih bisa dikerjakan nanti, yang penting kaminya bisa ketawa ngakak-ngakak bareng si bayi. Begini saja sudah mengurangi tingkat ke-stressan. Sebab anak yang bahagia orang tuanya juga harus bahagia kan.

Terkadang suka gemes sih melihat para suami yang masih berpikiran kalau semua urusan domestik di rumah ya urusannya istri. Ternyata masih jamak di kehidupan masyarakat. Padahal, Rasulullah saw sudah memberikan contoh, lho untuk urusan ini.

Aisyah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumah?”. Lalu dijawab “Beliau adalah seorang manusia biasa, membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya, menjahit kainnya dan melayani dirinya”. (HR.Ahmad)

Masya Allah keren kan! Padahal beliau bukan pengangguran, lho. Seorang aktivis dakwah, pemimpin masyarakat, pengusaha dan guru bagi murid-muridnya dari segala penjuru dunia. Tapi kalau sudah di rumah beliau bahkan nggak segan membantu pekerjaan rumah bersama istrinya. Teladan banget, ya :”)

Sebenarnya bukan berarti suami harus mengerjakan dan mengambil alih semua ya. Saya kadang-kadang juga nggak maksa suami buat mengerjakan urusan domestik kalau dia pulang kerja udah kelelahan. Ya tau diri juga sih hehe. Yang penting nggak komplain soal masakan (yang biasa-biasa aja) atau sekadar bantuin cuci piring aja udah seneng banget kok.

Asal tau sama tau dan sama rasa. Ya intinya sih ‘saling’. Karena dibalik kata kita ada kata saling itu tadi. Saling berbagi (susah-senang), saling tolong menolong, saling melengkapi.

Kalau ibu-ibu gimana? Yuk ikutan sharing tulisan #Modyarhood ini yang diinisiasi oleh mbak Puty dan Mamaolilo. Cek masing-masing blog mereka ya! Ada hadiahnya, lho. Sungguh kedua blogger tersebut tahu apa yang ibu-ibu mau. Hahaha.

 

6 COMMENTS

  1. alhamdulillah ya mbak suaminya pengertian.. niru Rasulullah saw.. smoga Allah membalas kebaikan suami mbak dengan pahala karna bantu tugas istri.. amin.. dan alhamdulillah suami saya sedikit banyak juga setipe dengan suami mbak. asal sayanya ngomong aja minta bantuin insya allah dibantu. tapi kalau nggak ngomong minta bantuin sampai kapan juga nggak bakal bergerak hehe.. salam kenal mbak

  2. Pernah, si sulung 4 tahun(TK), si bungsu 2 bulan, Bapake kuliah jadwal padat merayap..dan kami tinggal di Amerika yang tentu saja tanpa ART, tukang sayur, warteg, gojek dan lainnya..
    Dan, ternyata..seperti tetangga kiri kanan rumah petakan/cluster (di sana nyebutnya apartemen) semua bisa diurus sendiri..Tapi kenapa pas 2 tahun kemudian balik Indonesia berasa riweuh lagi yaa..:)

  3. aku juga dari dulu jarang banget nyetrika baju. paling baju kerja aja yang disetrika. nggak kuat duduk berjam-jam cuma buat nyetrika. heu. kalau suami sih biasanya bantuinnya bersihin rumah sama masak kalau dia lagi rajin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here