Jika suatu saat masa kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian di masa itu. (Muhammad Al Fatih (Penakluk Konstantinopel)

Sedih nggak sih saat melihat masjid-masjid megah bertebaran eh tapi sepi peminat dan aktivitas. Nggak usah jauh-jauh deh, masjid dekat rumah saya yang muat 200an orang saja hanya ramai saat bulan Ramadhan. Itu pun saat momen berbuka dan salat tarawih saja. Selebihnya ya hanya kegiatan salat lima waktu. Tapi ya gitu nggak pernah penuh safnya. Paling banter hanya tiga saf untuk yang laki-laki.

Bagaimana dengan kegiatan remajanya? Huhu sedih banget sepi aktivitas juga. Bahkan remaja masjidnya sudah hampir punah kalau boleh saya bilang. Pada ke mana yaa? Zaman saya remaja dulu, sekitar tahun 2005-an lumayan lah masih ada remaja masjid. Setiap bulan ada saja aktivitas keagamaan maupun keremajaan yang kami selenggarakan. Ada kajian rutin setiap minggu dengan tema yang beragam. Selain kajian kita juga punya kegiatan sejenis ekstrakurikuler seperti menulis, nasyid, olahraga bareng, dan segudang kegiatan positif lainnya. Intinya, memakmurkan masjid gitu. Kadang-kadang rindu deh masa-masa itu. Hehe.

Berawal dari kegundahan itulah saya nggak pengen deh anak saya kelak jauh dari kehidupan masjid. Padahal zaman Rasulullah masjid adalah pusat kegiatan, pusat peradaban. Masjid bukan sekadar tempat salat aja, tetapi juga tempat curhat bersama Rasulullah dan para sahabat (bukan gosip, ya!), diskusi, saling silaturahmi dan kegiatan positif lainnya. Bahkan nggak segan dulu Rasulullah mengajak cucu-cucunya untuk salat di masjid sejak kecil.

Apakah beliau merasa terganggu? Tentu enggak dong. Malahan saat cucu beliau naik ke punggung saat ruku’ beliau nggak marah, lho. Beliau malahan membiarkan mereka hingga puas bermain. Masya Allah, ya, kalah lah ilmu parenting zaman now hehe.

Untuk itu saya dan suami ingin sekali mengenalkan Akmal pada masjid sejak kecil. Tapi ya memang sih kenyataannya banyak orang yang belum bisa ‘menerima’ kalau anak-anak ikutan salat di masjid. Anak-anak dianggap pengganggu kekhusyukan salat jamaah.

Pertama Kali Akmal ke Masjid

Sebelum usianya genap satu tahun, sejak bayi sesekali saya mengajak Akmal mengikuti kajian di masjid. Waktu itu kerjaannya masih nyusu-tidur-nyusu-tidur begitu seterusnya. Kalau pun nangis tinggal ditimang-timang nanti diam lagi hehe.

Nah, ternyata setelah dia bisa mulai jalan, mengajaknya ke masjid perlu trik yang jitu, tenaga dan kesabaran ekstra. Hehe. Misalnya saat pertama kali saya ajak salat tarawih bulan Ramadhan lalu. Dari rumah sejak siang sudah saya sounding ke anaknya kalau nanti malam kita akan salat di masjid. Saya ceritakan saja ke dia salat tarawih itu berapa rakaat, suasana di sana seperti apa, hal-hal yang boleh dan nggak boleh dilakukan di masjid, dan seterusnya. Saya sampai berulang membisikkan ke Akmal “nanti di masjid pinter, ya. nggak rewel, ya anak shalih.” Hehe. Apakah dia mengerti? Ya tentu tidak buibu. Butuh waktu dan jam terbang yang banyak.

Saat rakaat pertama salat tarawih masih aman. Si Akmal tidur sejak dalam perjalanan menuju masjid hehe. Eh pas rakaat kedua dia nangis jejeritan dong. Rupanya dia terkaget karena suara speaker sang imam yang kelewat kenceng. Saya gendong lah Akmal. Diam? Enggak ternyata haha. Yaudah saya mengalah, saya susui dia hingga terlelap. Otomatis jadi nggak ikut beberapa rakaat. Nggak apa deh daripada mengganggu jamaah yang lain, pikir saya. Alhamdulillah setelah disusui dia tidur hingga salat berakhir.

Di lain waktu, saya mengajaknya i’tikaf pada malam-malam terakhir Ramadhan. Jelas lebih repot daripada zaman dulu single (yaiyalah!). Semua perlengkapan dia saya bawa, mulai dari mainan, buku, camilan dan pakaian. Ya tapi tetep sih nggak bisa sepenuhnya salat dengan khusyuk keseluruhan hehe. Adakalanya dia bosan jadi saya harus menemaninya bermain atau jeda untuk menyusuinya.

Lalu, beberapa bulan terakhir ini ayahnya mengajak Akmal untuk salat harian jamaah di masjid dekat rumah. Awalnya sih hanya duduk-duduk dekat saf ayahnya. Eh lama kelamaan semakin sering diajak dia mulai ‘pede’ jalan ke sana kemari melewati saf orang lain. Haha. Sesekali menarik sarung ayahnya atau bahkan sarung orang lain. Waduh.

Akhirnya kami (saya dan suami) sepakat mengajaknya ke masjid dengan bersyarat :

1. Mengajak di saat Jamaahnya Sepi

Maksudnya agar tidak terlalu mengganggu. Jadi suami mengajaknya saat salat dhuhur atau ashar saja. Karena kalau magrib atau isya’ biasanya ramai jamaah. Selain itu, -suami cerita-, pilih saf yang agak belakang karena pengalaman beberapa hari yang lalu si Akmal hampir saja jalan mendekati mimbar imam. Bikin ayahnya dag dig dug! Hehehe.

2. Sounding dari Rumah

Sebelum berangkat dibisikin dulu anaknya hehe. Supaya bersikap baik di masjid. Iya sih mereka belum bisa ngomong, tapi nggak ada salahnya komunikasi sejak kecil. Kalau ini sih memang nggak bisa sekali dua kali, setiap saat buk! Hehe.

3. Didampingi

Maksudnya si Akmal nggak dilepas sendirian saat semuanya salat berjamaah. Jadi gantian gitu menjaganya. Suami duluan baru saya. Memang sih anak-anak seusia Akmal belum baik dalam masalah kontrol. Jadi sebenarnya tetap perlu diawasi.

Selama dikenalkan ke masjid ini, respon Akmal saat mendengar adzan atau melewati masjid, otomatis langsung menirukan gerakan takbiratul ihram. Atau saat saya salat di rumah dia mengikuti gerakan tersebut dan ikutan sujud bersama. Saya merasa amazed sendiri, lho. Maafkan kalau berlebihan hehe. Ternyata sebegitu penirunya anak-anak, ya.

Mengenalkan anak pada masjid memang susah-susah gampang, ya. Apalagi anak saya baru setahun. Nggak tahu deh nanti kalau sudah agak besar, semoga lebih mudah dalam berkomunikasinya. Harapannya sih pengenalan pada masjid sejak kecil agar tumbuh kecintaannya dan kesadarannya akan salat wajib di masjid dan segala aktivitasnya di sana. Apalagi perintahNya laki-laki kan kudu salat di masjid. Jadi, yuk semangat membekali anak-anak kita dengan bekal agama termasuk pengenalan ke masjid ini!

om, tante, kaka-kaka yuuuk salat ke masjid! 😀

Buibu mengajak anak ke masjid usia berapa?

6 COMMENTS

  1. Saya masih belum sering nih ngajak anak ke mesjid. Paling mampir buat salat aja kalau lagi di jalan. Kemarin pas lebaran saya ajak salat ied eh dianya nangis kejer mungkin karena nggak biasa

  2. kedua aankku memang termasuk anak yang anteng jd kalau dibawa ke mesjid , dari rumah sdh dibilangin ya di sana mereka gak rewel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here