Home Cerita Ayah Mengantar ke Sunatan (Bagian 1)

Mengantar ke Sunatan (Bagian 1)

72

Seorang laki-laki di depan pintu dengan kedua tangannya menunjukkan masing-masing tiga dan empat jari. Saya melihatnya dan segera tahu sekarang tiba waktunya. Akmal segera saya gendong meninggalkan puluhan anak yang sedang mengantri menuju ruangan operasi, membuka pintu, dan mengulurkan kertas nomer antrian kepada seorang perempuan di dalam ruangan.

“Silakan cari dokter yang kosong, sepertinya di tengah,” kata perempuan itu sambil mengulurkan sebuah totebag kecil. Di tas mungil itu tertulis “Rumah Khitan Dr. Sony”.

Beberapa menit sebelumnya saya menunggu di sebelah lelaki yang memberi isyarat di depan pintu tadi. Akmal saya tinggal bersama ibunya di ruang tunggu kira-kira 15 meter. Saya sengaja meninggalkan Akmal di sana sambil mewarnai buku bergambar.

Akmal mewarnai buku gambar sambil menunggu giliran disunat.

Sejak dari rumah sudah saya perkirakan akan ada banyak jeritan dari para peserta sunatan dan perkiraan saya terbukti. Beberapa menit sebelumnya ada seorang anak berbadan gemuk, kira-kira umur delapan tahun, keluar ruangan dengan mata sembab. Saya mengira dialah pemilik suara lantang yang mengucapkan takbir, istighfar, “sakit banget, ya, Alloh”, “ayo cepet pulang”, dan sebagainya. Saya tidak ingin Akmal ikut mendengarnya.

Dua minggu sebelumnya, isteri saya memberi kabar tentang sunatan massal yang digelar sebuah perumahan. Kami berdua membahas beberapa hal dan membuat keputusan. Isteri lekas mendaftar dengan mengirim biodata Akmal. Dan kami mulai melakukan sounding kepada Akmal.

Saya dan isteri punya kebiasaan melakukan sounding kepada anak untuk semua hal. Tentang besok tidak boleh jajan di kantin sekolah karena sudah dibikinkan kentang goreng dari rumah, tentang besok sudah hari Senin jatah jam nonton Youtube sudah habis, atau sekadar memberinya arahan supaya di minimarket tidak meminta membeli mainan robot karena uangnya cuma cukup dipakai membeli roti tawar.

Kalau saya ingat-ingat, kami memperoleh kesuksesan terbesar melakukan sounding saat menyapihnya dua tahun lalu. Sejak dua atau tiga bulan sebelum Akmal beranjak dua tahun, saya dan isteri kerap menyampaikan kepadanya tentang batas waktu baginya boleh menyusu. Tepat pada hari ulang tahunnya yang kedua, saya mengajaknya makan pizza di sebuah kafe dekat rumah.

Saya ingat Akmal begitu gembira sore itu makan pizza sambil saya ajak menonton kokinya membolak balik dan memotong pizza. Tidak lupa saya sounding kepadanya bahwa makan pizza, yang jarang kami lakukan, adalah hidangan perpisahan yang layak bagi Akmal sebelum masa-masa di mana dia berkomitmen hanya minum susu formula.

Malamnya, menjelang tidur, ketika dia minta menyusu kepada ibunya dan kami melarangnya, Akmal menangis-tantrum-parah. Kami, ayah dan ibunya, tentu memaklumi jenis tantrum yang dilakukan oleh bocah yang akan mulai menjalani komitmen berat itu.

Beberapa hari terakhir ini, tentu saya yang paling sering membahas tentang momen sunat ini kepada Akmal. Saya sampaikan kepadanya apa itu sunat, kenapa harus sunat, siapa yang akan dia temui, apa yang akan dia rasakan dan semacamnya. Tak kecuali tentang pengalaman saya sunat.

Rasa-rasanya, semuanya sudah saya ceritakan kecuali bahwa sunat hanya sedikit sakit seperti digigit semut. Saya memang tak berniat menceritakan seperti itu karena memang rasa sakit disunat sangat berbeda dengan rasa digigit semut. Juga, penghiburan semacam itu sudah terlalu sering disampaikan dan saya yakin di sekolah atau di tempatnya menunggu giliran tadi, Akmal pernah mendengarnya entah dari siapa.

Di dalam ruangan, ada tiga bilik yang disekat kain. Tiga dokter menyunat tiga anak. Kami lekas mendudukkan Akmal di bilik tengah yang sedang kosong.

Saya membaringkan Akmal di atas ranjang dan menanyakan kepada dokter apa yang mesti saya lakukan. Dokter menjawab saya boleh memeluk Akmal. Isteri saya berdiri di ujung kepala anaknya dan sesekali merunduk untuk memintanya membaca basmallah sebelum dimulai dan banyak istighfar kalau rasa sakit muncul.

Saya melihat dokter menyuntikkan anestesi dan mencoba mengajak Akmal ngobrol. Bertanya tentang cita-citanya apa, betapa kuatnya dia yang meskipun masih kecil sudah berani disunat, dan beberapa hal lain yang membesarkan hati. Saya menghargai dialog remeh itu meskipun muncul rasa aneh karena yang menjawab beberapa pertanyaan dokter justru isteri saya.

Ketika menunggu anestesi bekerja, dokter beranjak pergi ke pasien lain. Saya melihat ekspresi wajah Akmal. Saya menanyakan rasanya dan dia menjawab sakit, tapi tidak menangis.

Sekitar 5 menit kemudian dokter datang lagi dan melanjutkan pekerjaannya. Kali ini tanpa banyak bicara. Giliran saya banyak mengajak Akmal dialog. Saya memujinya tentang betapa beraninya dia, betapa kuatnya dia, pahala yang akan dia dapatkan karena bersedia disunat, badannya yang akan menjadi cepat besar dan semakin kuat, dan semacamnya.

Saya merasa apa yang saya sampaikan sudah sedemikian banyak. Tapi sepertinya tak banyak yang bisa menghiburnya dan rasa-rasanya tubuh saya seperti mengecil sementara perasaan bersalah yang makin membesar.

Saya melihat dia mulai menangis meskipun dari rembesan air matanya yang perlahan keluar saya tahu dia berusaha keras menahannya. Saya tidak punya perbendaharaan kata-kata hiburan lagi yang bisa sekadar menguatkan dirinya kecuali mengatakan bahwa ini hari Sabtu dan Akmal boleh nonton Upin Ipin episode Ultraman Ribut sepulang dari sunat.

Ketika dokter mengatakan sunatnya sudah selesai, saya mengusap air matanya, memeluknya dan mencium keningnya. Saya ingin Akmal tahu kalau ayahnya bangga kepadanya. Isteri saya mengeluarkan celana dalam khusus untuk anak yang disunat, rupanya itu isi di dalam totebag, dan lekas saya pakaikan.

Saya lekas membopongnya mengajak keluar ruangan. Di depan pintu keluar, perempuan yang sebelumnya memberikan totebag mengulurkan bingkisan berupa tas punggung. Akmal terhibur dan mengatakan sekarang dia punya dua tas sekolah sedangkan temannya, saya lupa nama yang dia sebutkan, cuma punya satu.

Mendapat hadiah tas punggung dari panitia sunatan massal.

Ketika saya membopong keluar ruangan, saya melihat beberapa bapak dan ibu yang sedang menemani anaknya menunggu giliran memberi senyuman lebar kepada kami. Terdengar seseorang menghibur atau menantang anaknya dengan mengatakan betapa Akmal yang masih kecil sudah berani dan tidak menunjukkan tanda-tanda habis menangis. Saya ikut tersanjung dan membopong Akmal rasanya seperti membopong sebuah piala.

Di jalanan pulang Akmal makan dua es krim. Kurang lebih setelah tiga jam di rumah dan Akmal sedang menonton Upin Ipin di kamar, dia mengatakan mulai merasakan sakit. Puncaknya ketika dia akan pipis dan melihat untuk pertama kalinya ada alat klemp, kemudian mulai pipis, dia berteriak kesakitan. Jenis teriakan yang tentu bisa didengar tetangga. Saat itu saya sadar, saat sounding beberapa hari terakhir, saya lupa memberi info tentang tabung-plastik-bening-mungil yang terkunci dan beberapa hari ke depan akan menjadi teman karib dan enggan berpisah dari merpati kecil di pangkal pahanya.

To be continued …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here