“Ayo Nda ceritain lagi. Baca buku yang itu, Nda,tunjuk Akmal ke salah satu buku serial Nabi Muhammad Teladanku di rak buku kesayangannya. Ini sudah buku kesekian yang kami baca bersama menjelang tidur.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Jika tidak diingatkan untuk segera tidur, barangkali Akmal akan terus meminta mengeluarkan seluruh buku dari raknya.

Tentu saja alasan lain karena saya sudah mengantuk dan pegal sekali nyerocos terus berkisah di hadapannya.

Di usianya yang ke 3,5 tahun, Akmal sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada buku. Tentu ini membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

Sejak bayi saya sudah mulai mengenalkan Akmal pada buku. Buku bantal berbahan kain adalah buku pertama yang pernah Akmal sentuh. Di dalamnya banyak gambar-gambar obyek seperti hewan, buah-buahan, dan benda-benda sekitar dengan warna-warna yang mencolok.

membaca buku sejak bayi
Waktu Akmal 6 bulan. Bukunya masih yang jenis board book, touch book, dan lebih banyak gambar.

Tak jarang juga saya bacakan padanya kisah nabi-nabi dari buku yang saya punya sejak zaman masih single. Tentu dengan bahasa yang lebih sederhana dan intonasi suara yang atraktif.

Apakah Akmal mengerti?

Pada saat itu tanggapannya cuman “oooweowe…aaaa…taaaa..taaa..daaa..bbrbhbdsg” ocehan yang hanya dipahami sama para bayi.

Meski begitu saya nggak berhenti untuk terus membacakan buku pada Akmal. Saat mau tidur, setelah berkegiatan di luar, saat sedang makan atau saat saya benar-benar lelah untuk menemaninya bermain yang membutuhkan aktivitas fisik. Membacakannya buku adalah pilihan yang tepat.

Waktu itu Akmal memang belum mengerti, bahkan membedakan mana kucing dan mana macan saja belum paham. Tapi yang ingin saya tumbuhkan adalah membiasakannya agar ia suka membaca. Memberikan pengalaman dan menumbuhkan gairah membaca secara menyenangkan.

Membiasakan anak membaca buku sejak kecil bukan supaya dia bisa cepat membaca huruf-huruf, tetapi supaya kebiasaan membaca itu menjadi kebutuhannya kelak.

Supaya nanti dia nggak alergi baca buku-buku pelajaran, baca jurnal-jurnal, baca buku-buku ilmiah atau buku-buku berbahasa selain bahasa ibu.

Akmal 17 bulan. Baca majalah Natgeo bersama Ayah.

Mungkin sebagian orang menganggap belajar bisa dari media apa saja selain buku, ya bisa jadi sih. Hanya saja belajar dari buku itu (menurut saya) menjadikan kita lebih fokus dan konsentrasi.

“Ah tapi anakku lebih senang dilihatin video di Youtube,”

Saya sadar zaman sekarang kehadiran gadget itu tak terhindarkan.

Apakah dengan mengenalkan buku lantas anak saya jadi nggak lihat gadget sama sekali? Ooh ya tentu tidak dong hehe. Akmal juga sudah dikasih screen time sejak usianya 2 tahunan.

Tapi yang saya rasakan kalau anak kita kenalkan ke buku dulu sebelum gadget akan lebih mudah memahamkan padanya ketika screen time selesai, dia nggak bingung harus ngapain. Meski waktu saya bilang “Stop! Udahan ya nontonnya” ya tentu saja dia akan ngedumel dan protes tapi buku bisa menjadi ‘penyelamat’.

Lalu gimana sih agar anak suka membaca buku?

1. Jadilah Orang Tua Pembaca

Banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk menggairahkan minat baca anak. Tetapi, tanpa contoh nyata, kita bisa kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di hadapan mereka. Kita kehilangan kepemimpinan sehingga seruan kita tidak efektif.

(Ustad Fauzil Adhim- Membuat Anak Gila Membaca)

Memberi contoh menjadi orang tua yang juga suka membaca di depan anak-anak adalah cara paling kongkrit.

Lhaya gimana pengen anaknya suka membaca tapi ayah bundanya lebih dekat lihat HP. Hmmm…ya nggak nyambung dong hehe.

“Tapi aku sibuk, nggak sempet baca buku”

Saya dalam 24 jam nggak mesti harus menyelesaikan satu buku tuntas terbaca. Minimal sehari baca beberapa halaman aja. Luangkan setiap pagi sebelum semua anggota keluarga bangun, setidaknya beberapa lembar aja dulu.

2. Membaca Nyaring, Setiap hari

Membaca nyaring (read aloud) seperti yang digaungkan oleh Jim Trelease bisa menjadi salah satu cara mempererat bonding anak dan orangtua. Saya memulai cara ini sejak Akmal baru lahir. Bacakan buku apa saja yang ada di rumah.

Saya memulainya dengan membacakan buku-buku bergambar hewan, buah-buahan, atau kisah para nabi. Memang saat dibacakan Akmal tampak tidak mendengarkan, terkadang ngoceh sendiri atau salah fokus meremas buku yang saya bacakan untuknya.

Nggak apa-apa, anggap saja itu respon baik darinya. Yang terpenting adalah intonasi suara saat kita membacakan buku untuknya.

Kalau bisa sih menyesuaikan gambarnya, gambar kucing menirukan suaranya, gambar pemandangan laut berusahalah heboh dengan menyatakan kekaguman Masya Allah indah banget ya, nak ciptaan Allah,” supaya anak lebih tertarik saat kita membacakan buku.

3. Sediakan Buku Sesuai Usia Anak

Zaman now nggak susah sih ya mencari buku bagus untuk anak-anak. Banyaaak banget malah bertebaran buku-buku mulai untuk bayi hingga remaja yang ilustrasinya sangat colourful. Mulai dari yang murmer sampai yang harganya premium.

macam-macam buku anak-anak di BBW

Kalau dari bayi bisa mengenalkan buku bantal berbahan kain, boardbook yang berbahan karton tebal, ada juga soundbook yang bisa mengeluarkan suara. Bahkan ada pula pop up book yang bukunya bisa menampilkan bentuk tiga dimensi.

Kalau saya mengenalkan buku apa saja yang cocok untuk usianya tapi tak lupa menyisipkan nilai-nilai ketauhidan pada Akmal. Buku-buku yang mengenalkannya dan mendekatkannya pada Allah.

Misal buku bergambar hewan-hewan, tak lupa mengatakan padanya “Masya Allah ini kuda ciptaan Allah, Mal. Keren ya Allah,”. Atau kisah para nabi dan sahabatnya.

Di usianya yang ke 3 tahun ini topik bacaan buku Akmal lebih variatif dan menantang.

Buku-buku ceritanya sudah memiliki konflik. Seperti buku serial 10 Karakter Hebat Anak Muslim terbitan Ziyad Books. Tujuannya untuk menanamkan value baik padanya, bagaimana mengenalkan emosi, kebiasaan merapikan mainan, menjaga kebersihan dll.

Kadang dengan antusiasnya Akmal yang gantian bercerita ke saya meski dengan kalimat yang tidak terstruktur haha!

4. Letakkan Buku di Setiap Sudut Rumah

Supaya anak lebih tertarik pada buku, letakkan buku-buku yang dekat dengan jangkauannya. Bisa ditaruh di kamar, di ruang tamu atau di mushola, asal jangan di kamar mandi sih hehehe.

Saya berusaha meluangkan waktu untuk membacakan buku padanya setiap kali mau tidur. Cukup meluangkan 10-15 menit sudah menciptakan memori lewat kisah-kisah yang ada di dalam buku.

Kalau bosan baca buku di rumah, saya kadang mengajaknya ke perpustakaan. Supaya ada suasana yang lebih fresh dan beda gitu. Ini sih alasan bundanya aja biar bisa sekalian jalan-jalan haha.

Tapi seriusan deh mengajak anak ke perpustakaan bisa jadi alternatif rekreasi murah meriah, lho. Karena di sana ketemu banyak teman-teman sebayanya yang juga baca buku, jadi bikin mereka makin semangat.

5. Apresiasi Efektif untuk Anak

“Masya Allah pinter mas Akmal baca buku. Bukunya cerita tentang apa sih nak?”

Tunjukkan dan apresiasi anak atas antusiasme mereka saat membaca buku. Bila perlu bisa jadikan ajang diskusi setelahnya.

Akmal senang sekali menceritakan ulang dengan gayanya yang aktif. Kadang sambil lompat-lompat atau menirukan gerak gerik dan suara hewan yang ada di buku.

Tak jarang kami main tebak-tebakan warna atau nama-nama sahabat Rasul yang tertulis di bukunya. Ini bisa menjadi cara variatif supaya momen membaca jadi lebih menyenangkan.

Tak ada teori yang bagus selain kita langsung mempraktikkannya. Meski saat ini Akmal belum benar-benar bisa membaca huruf, kalimat per kalimat tapi alhamdulillah menurut saya minat akan membaca buku itu sudah tumbuh.

Jadi yuk mulai dari sekarang membacakan buku ke anak agar kelak lahir generasi pembelajar dan haus akan ilmu. Dimulai dari buku 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here